Diberdayakan oleh Blogger.

Manusia-Manusia Malam Seribu Bulan

Oleh Achmad Faqih Mahfudz

“Malam Lailatul Qadar tidak pernah lewat dalam hidupku setiap Ramadan. Masih mau ikut dengan aku? Menunggu yang spektakuler, Ramadan tahun ini Monumen Nasional itu akan merunduk, malam lebih indah dari seribu bulan itu terwujud dalam lentur menara bingkai emas itu. Aku akan memperoleh Lailatul Qadar Ramadan tahun ini. Ini merupakan pengalaman keagamaanku yang luar biasa. Anugerah Lailatul Qadar terwujud di lapangan Monas.”
 
Ungkapan tersebut terlontar dari bibir Ibnu, salah seorang tokoh dalam cerpen “Malam Seribu Bulan” karya Hamsad Rangkuti. Ibnu, lelaki penjual obat di pasar itu, meyakinkan tokoh aku yang juga narator cerpen tersebut tentang keyakinannya bahwa Lailatul Qadar adalah sebuah malam ketika Monumen Nasional merunduk, dan siapapun yang dianugerahi malam tersebut dapat mengambil emas sebanyak mungkin di pucuknya.
 
“Tahun ini Monas akan merunduk di depanku. Aku akan mengikis kepingan emasnya sampai serbuknya sepanci penuh,” ucapnya lagi kepada tokoh aku, meyakinkan.
 
Entah mendapat ilham dari mana, Ibnu pun benar-benar begadang dan menunggui malam Lailatul Qadar itu di Monas di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Syahdan, Ibnu benar-benar mendapatkan apa yang dikatakannya. Sepanci penuh serbuk emas di pucuk Monas berhasil ia dapatkan di malam yang diyakininya itu sebagai malam Lailatul Qadar. Singkat cerita, ketika shalat Idul Fitri, bertemulah Ibnu dengan tokoh aku, ia ceritakan segala apa yang dialaminya berikut apa yang didapatkan di malam itu. Si aku yang sejak awal tak percaya masih saja tak percaya akan apa yang dikatakan tukang obat jalanan itu.
 
Bibir bolehlah menyangkal, namun hati manusia siapa yang tahu. Dalam perjalanan ke rumah seusai shalat ied, tokoh aku masih saja gelisah dan kepikiran dengan apa yang dikatakan Ibnu. Kegelisahan yang menghunjam itu pun mencapai puncaknya ketika Ibnu benar-benar datang ke rumahnya, membawa segenggam serbuk emas untuknya. Bukannya menerima dengan bahagia bagian emas yang dijanjikan Ibnu kepadanya itu, aku justru panik dan buru-buru bergegas ke Monas.
 
Aku berangkat ke Monas untuk melihat dan membuktikan apa yang dikatakan Ibnu atau justru ingin mengikis emas seperti apa yang dikatakan Ibnu, entahlah, tak ada kepastian. Hamsad membiarkan hikayat dua manusia ini menggantung begitu saja di akhir cerita, seolah ingin memberikan secelah renung bagi pembaca.
 
Cerpen ”Malam Seribu Bulan” karya Hamsad Rangkuti yang terkumpul dalam buku kumpulan cerpen Panggilan Rasul (Kepustakaan Populer Gramedia, 2010) ini menyuguhkan sebuah potret manusia dan keberagamaannya. Bahwa bagi sebagian manusia, agama masih saja diukur dengan kemilau benda-benda. Emas, misalnya. Hingga malam Lailatul Qadar yang diabadikan al-Qur’an sebagai malam yang lebih agung dari malam-malam seribu bulan pun menjadi sekadar malam pesugihan atau malam untuk mendapatkan harta kekayaan yang diidam-idamkan.
 
Dalam pemahaman umum yang sering kali diceramahkan para mubalig atau khotib Jum’at di masjid-masjid, Lailatul Qadar adalah sebuah malam yang berada di bulan Ramadan. Ia berada di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Dalam beberapa riwayat disebutkan, dunia akan terasa tenang, tenteram, dan damai apabila malam ini datang. Di malam itu, konon Allah benar-benar menumpahkan ampunan, rida, dan akan mengabulkan doa-doa apapun yang dimunajatkan hamba-hamba-Nya. Tak heran kemudian apabila banyak orang menunggu malam ini; merindukan dan mengharap-harap agar “mendapatkan” malam ini. Mereka menitip harapan pada malam ini, baik harapan yang ukhrawi berupa keselamatan kelak di alam setelah kematian, lebih-lebih harapan duniawi sebagaimana digambarkan Hamsad Rangkuti pada tokoh Ibnu dan aku dalam cerpen tersebut.
 
Dalam cakrawala tasawuf, Lailatul Qadar adalah melubernya cahaya spiritual seseorang, yaitu ketika tabung cahaya rohani telah kebak dengan nilai-nilai dan tajalli (manifestasi) keilahian sehingga dapat dipastikan, bahwa dari ujung rambut hingga ujung kaki orang beruntung itu berhiaskan dengan napas hadirat-Nya.
 
Dari pemahaman ini, dapat diketahui bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar malam terkabulnya doa-doa, melainkan malam menyatunya Tuhan dan hamba dalam sebuah getaran rasa rohani yang tak berhingga. Ketika yang-Ilahi telah mewujud dan menubuh dalam diri seseorang, saat itulah ia mendapatkan Lailatul Qadar. Ketika nilai-nilai keilahan telah mengejawantah dalam perangai seseorang, maka pada momen itulah ia berada di dalam sebuah ruang dan waktu yang lebih berharga sekaligus lebih betapa nilainya daripada malam-malam lain dalam seribu bulan.
 
Ibn ‘Arabi, sufi sekaligus filsuf agung itu, dalam kitabnya, Tafsir Ibn ‘Arabi, memaknai seribu dalam frasa “seribu bulan” bukan sekadar hitungan jumlah, melainkan sebagai puncak capaian tertinggi dari sebuah karunia. Artinya, momen ketika seorang manusia mengalami penyatuan diri dengan yang-Ilahi itu sebagai momen tak berhingga sekaligus karunia yang tak tepermanai.
 
Bagaimana tidak, martabat kemanusiaan sekaligus kehambaan seseorang yang semula imanen tiba-tiba menjadi transenden di momen ini. Luberan cahaya dari tabung rohani mengguyur diri seseorang tersebut sehingga laku dan perangainya semata-mata laku dan perangai keilahian. Manusia yang semula seolah entitas profan beralih menjadi entitas sakral karena gerak dan diamnya telah tersinari pancaran keilahan.
 
Ketika luberan cahaya rohani itu sudah menjelma perangai dari seseorang, maka ia tak akan melakukan apapun tanpa nilai-nilai keilahian. Ia akan melakukan segalanya dengan cinta dan kasih sayang. Ketika cinta dan kasih sayang yang merupakan pancaran ilahi ini sudah menjadi laku kesehariannya, saat itulah keberagamaan seseorang menemukan hakikatnya, menemukan kesejatiannya, menemukan Lailatul Qadar-nya. Saat-saat begitu, tak akan ada lagi seseorang yang mencari kekayaan dalam agama maupun dengan agama sebagaimana Ibnu dan tokoh aku dalam cerita “Malam Seribu Bulan” karya Hamsad Rangkuti di atas, tak akan ada lagi orang yang meremehkan dan merendahkan orang lain atas nama agama, bahkan tak akan ada lagi orang yang merasa bahwa keberagamaan dan spiritualitasnya lebih unggul dari yang lain.
 
Maka dengan cerita “Malam Seribu Bulan”, Hamsad menelanjangi keberagamaan kita habis-habisan. Sikap kita yang masih memposisikan agama sebagai jalan untuk mendapatkan harta atau apapun yang bersifat duniawi dikritiknya dalam wujud Ibnu dan tokoh aku. Hamsad menyindir cara kita dalam beragama yang masih di wilayah wadah, tidak—sampai—pada isi.
 
Lailatul Qadar bukan malam tempat seseorang mendulang peruntungan harta atau apapun yang bersifat bendawi, bukan pula sekadar malam yang bertabur pahala hingga mampu mengantar siapa saja ke surga; lebih dari sekadar itu, Lailatul Qadar adalah sebuah suasana rohani ketika antara manusia dan Tuhannya menyatu dalam getaran yang sama, yakni getaran dari melubernya cahaya rohani dari tabung cahaya yang kebak akan cinta dan kasih sayang sebagai hakikat utama dari dimensi keilahian.
 
Ketika seseorang telah mendapatkan Lailatul Qadar, ia akan melihat segala-galanya dengan tatapan cinta dan kasih sayang, karena dirinya telah menjadi manifestasi yang-Ilahi di muka bumi. Jangankan kepada sesama manusia; pada tumbuhan, hewan, dan pada tiap-tiap ciptaan di semesta raya ini ia akan senantiasa bersikap indah penuh cinta dan kasih sayang. Tak akan ada lagi kekerasan, tak aka nada lagi eksploitasi dan perusakan alam, karena ia telah memperoleh karunia Lailatul Qadar.
 
Semoga kita, lebih-lebih kau dan aku, menjadi manusia-manusia malam seribu bulan. Manusia-manusia yang meraih agama sebagai hulu keindahan dari segenap tindakan; manusia-manusia beragama yang mendapat luberan cahaya keilahian berupa cinta dan kasih sayang: seberkas cahaya yang kemudian termanifestasi dalam perangai keseharian, demi terwujudnya harmoni kemanusiaan di tengah-tengah perhelatan akbar bernama kehidupan. 

 Achmad Faqih Mahfudz, penyair, tinggal di Yogyakarta.

TAWANAN

Oleh: Achmad Faqih Mahfudz

Hari-hari berlalu
Nabi-nabi berlalu
Tuhan datang dan pergi
Di padang-padang diri ini

Impian dan kenyataan
Bertempur dalam diam
Berebut kekuasaan
Alam khayal tanah jajahan

Betapa malang betapa malam
Diri terkungkung keinginan
Tak terungkap oleh kiasan
Meledak diri di lubuk diam

Dukaku lebih duka dari duka para utusan
Yunus tertawan perut ikan
Jiwa tertawan keinginan
Diri sekarat menempuh jalan
Memanggul mayat alam ciptaan

Telah cukup hari, telah cukup hari
Telah cukup nabi-nabi
Mengantar bercawan-cawan anggur ke diri ini
Mengajak mabuk bersama di taman surgawi
Sebagaimana Hafiz, Rumi, juga Sana'i
Berdansa dengan musik ilahi

Tapi surga hanyalah dukacita
Bagi ia yang jatuh cinta
Kekasihlah wajah damba
Hilang dia hilang dunia
Hilang segala-gala

PELAJARAN BERHARGA DARI SEEKOR KUCING PELIHARAAN

Ataka dan Kucingnya Lagi Tidur
Suatu waktu di hari Jum'at, bertepatan dengan hari dimana istri saya boleh pulang dari rumah sakit setelah lima hari opname akibat typus, dalam perjalanan menuju rumah sakit saya menemukan dua ekor anak kucing merayap-rayap di tengah jalan raya. Masih sangat kecil kedua anak kucing itu. Yang satu berwarna orange putih, satunya berwarna hitam abu-abu. Entah bagaimana kedua anak kucing itu bisa berada di tengah jalan. Karena khawatir dilindas kendaraan, keduanya saya pungut dan saya bawa pulang.
 
Merawat anak kucing yang masih bayi, tentu sangat sulit melakukannya. Apalagi mereka masih perlu ASIK alias Air Susu Ibunya Kucing. Karena tak mungkin mencari induknya, jadilah saya sebagai orang tua asuh bagi kucing-kucing balita itu. Setiap pagi mereka saya buatkan susu, dikasih makan pindang. Tidak lupa juga setiap pagi dan sore dilap dengan kain yang diberi dettol mengingat anak saya sering megang-megang mereka berdua.
 
Hari demi hari, kedua kucing itu makin bertambah besar. Namun sayang, kucing yang berwarna hitam abu-abu pergi entah kemana. Tinggallah kucing berwarna orange sendirian yang menjadi teman hiburan saya sekeluarga. Terutama anak saya yang begitu menyayanginya. Kucing orange itu jinaknya menggemaskan. Kalau saya jalan-jalan pagi hari dia ikut di belakang. Kalau saya lari, dia ikut lari mengejar. Kegemarannya yang lain adalah menangkap tikus di dapur.
 
Satu lagi yang membuat saya sekeluarga sangat sayang kepada itu kucing; bila dia berak atau kencing, keduanya dilakukan di kamar mandi tepat di lubang comberan. Setiap hari dia tak pernah pergi kemana-mana. Malam hari ikut tidur di kamar bersama-sama. Bila malam-malam kami bangun untuk kencing, dia pun ikut pergi ke kamar mandi dan lalu kencing. Di siang hari, kerjanya hanya tidur dan ikut duduk di samping saya, istri saya atau anak saya kalau sedang belajar mengaji. Kami memberinya kalung rantai kecil berwarna kuning sebagai tanda bahwa kami sangat terhibur olehnya.
 
Kucing itu, benar-benar menunjukkan pengabdiannya kepada keluarga saya dengan tingkah polahnya yang lucu dan menggemaskan serta ketangkasannya mengusir tikus. Maka tak heran kalau istri saya selalu membelikannya ikan pindang yang memang secara khusus diberikan untuk dia. Dan sesekali, dia pun dapat jatah minum susu sachet yang dibuat dalam mangkok kecil. Bila kebetulan saya memancing, dia pun ikut menunggui saya di pinggir sungai dan terlihat betapa girangnya dia saat mata kail saya berhasil disambar ikan. Bila yang nyangkut di kail hanyalah ikan-ikan kecil, saya memberikannya dan dia menyantapnya dengan begitu lahap.
 
Memperhatikan kucing itu, saya berpikir betapa mewahnya apa yang didapatkan kucing saya itu. Dia tidak bekerja apa-apa selain hanya mengabdi kepada tuannya dengan tingkahnya yang membuat kami terhibur melihatnya. Tapi apa yang dia peroleh? Jatah pindang setiap hari dan juga susu. Untuk mendapatkan pindang, dia tak perlu mengais-ngais di pasar. Untuk minum susu, dia tak perlu susah-susah mendapatkannya sebab kami dengan senang hati akan memberikannya sebagai balasan atas pengabdian yang dia lakukan.
 
Sampai di sini, saya akhirnya memahami jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya; kenapa ada orang yang rejekinya selalu lancar meski dia tidak bekerja (bekerja seperti pada umumnya) dan sehari-hari hidupnya hanya digunakan untuk mengabdi kepada Tuhan dan melayani masyarakat. Maha benar Allah yang berfirman dalam hadis qudsi-Nya, "Wahai dunia, mengabdilah kepada orang-orang yang mengabdi kepada-Ku."
 
Kucing atau anjing saja rejekinya ditanggung habis-habisan selama dia mengabdi pada tuannya, apalagi kita manusia yang sudah pasti rejeki kita akan ditanggung  oleh Tuhan bila kita benar-benar tulus mengabdi kepada-Nya. Mari dan semoga saya, kita semua tidak putus asa dan selalu tulus mengabdi kepada-Nya. 

Terima kasih kucingku. Kau adalah salah satu ayat-ayat Allah yang telah membuatku memahami arti sebuah pengabdian.
 
Salam meonnngggg. Semoga bermanfaat.

Kebumen, 13 Juni 2016

BERDOA UNTUK BISA MEMBELI ROKOK

Saya masih ingat dengan pernyataan Cak Kuswaidi Syafiie pada tanggal 17 April 2016 lalu. Beliau berkata bahwa harta yang paling berkah menurut kacamata tashawwuf salah satunya yang diperoleh dengan jalan tawakkal kepada Allah tanpa harus bekerja dan dipergunakan untuk mengabdi kepada-Nya. Apakah mungkin memperoleh harta tanpa harus bekerja? Sangat mungkin. Sebab bagi Allah, untuk memberikan harta kepada hamba-Nya, baik melalui perantara kerja atau tidak sama sekali, keduanya sama-sama mudah bagi-Nya. Kemudian harta berkah yang kedua adalah harta yang diperoleh dengan cara bekerja dan kemudian digunakan untuk mengabdi kepada-Nya.
 
Untuk bisa mendapatkan harta dengan cara yang pertama, tentu diperlukan kualitas tawakkal, keimanan, kesucian hati dan pengabdian yang total kepada-Nya. Seseorang bila sudah sampai pada tahap ini, maka berlakulah baginya firman Allah sebagaimana termaktud dalam hadis qudsi, "Wahai dunia, mengabdilah kamu kepada orang-orang yang sepenuhnya mengabdi kepada-Ku."
 
Terkait dengan masalah rejeki, maqam saya tentu saja masih berkutat di level kedua, yakni bekerja meski sayangnya rejeki yang diperoleh tidak sepenuhnya buat mengabdi kepada-Nya. 

Namun ada kejadian menarik hari ini yang saya alami sendiri terkait dengan betapa mudahnya bagi Allah untuk memberikan rejekinya kepada saya meski saya tak bekerja apa-apa selain hanya berdoa.
 
Sejak kemarin, saya nyaris tak punya uang sama sekali untuk membeli rokok. Bila tidak punya uang, saya pantang meminta uang kepada istri kalau untuk digunakan buat beli rokok. Bagi saya, lebih baik hutang rokok dulu daripada harus minta kepadanya. Kalau saya dapat uang, maka 60% saya berikan kepada dia, sedangkan 40%-nya buat biaya bensin, pulsa dan rokok.
 
Nah, dari kemarin anggaran buat beli rokok sudah habis. Jelas saja saya bingung hingga rokok pun saya irit-irit. Kalau biasanya saya pakai rokok filter, maka sejak menipisnya anggaran itu terpaksa saya pakai rokok kretek. Di saat seperti itu, istri saya cerita kalau dia dapat bayaran ini dan itu dari sekolah. Namun saya tetap tak mau meminta kepadanya kalau untuk beli rokok. Urusan rokok adalah urusan saya dan saya tak mau merecokinya.
 
Dalam kondisi seperti itu, apa jalan keluar yang bisa saya lakukan? 

Saya mencoba untuk tidak berhutang, tapi berdoa. Ya, berdoa sesering mungkin dari kemarin dengan doa yang benar-benar saya baca secara vulgar kepada Tuhan dengan suara pelan. Kepada-Nya saya meminta agar diberikan uang untuk membeli rokok...heheee. Geli juga saya kalau mengingat doa ini. Sebab sebagian kalangan menuding rokok itu haram dan ada juga yang bilang makruh. Lha saya kok malah berani-beraninya minta uang buat beli rokok sama Tuhan. Yowiss...bhen.
 
Apa yang terjadi kemudian....? Duh....Gusti! Terima kasih sekali karena Engkau pun akhirnya memberi saya uang buat beli rokok. 

Ceritanya, sore tadi saya datang ke panti asuhan tempat saya biasa mengajari ngaji anak-anak di sana. Seperti biasa, meski pemilik panti itu adalah seorang penguasaha kaya yang memiliki toko emas, toko pakaian, toko hp dan klontong, namun saya tak menerima gaji bulanan sepeserpun. Sudah lima tahunan saya ngajar ngaji di sana. Mungkin orang berkata saya konyol karena tak meminta gaji padahal pemilik pantinya baru bangun rumah miliaran rupiah. Yowiss...konyol ya konyol....ora urusan.
 
Selesai ngaji bersama anak-anak dan sedikit cerita-cerita bersama mereka, kok tiba-tiba malah ada seseorang yang mendekati saya dan bersalaman dengan saya. Saya kira dia mau salaman biasa, tapi ternyata ada amplop yang terselip di tangannya. Ini untuk bapak, katanya. Saya diam sejenak dan kemudian mengucapkan terima kasih kepadanya. Saya tak sempat ngobrol banyak dengan dia sebab anak-anak riuh meminta jatah buka puasa karena adzan maghrib sudah tiba.
 
Terima kasih ya Allah. Akhirnya saya bisa membeli rokok lagi....      

Kebumen, 10 Juni 2016

ATAKA DAN DOA-DOANYA

Ataka Berdoa
Usai mengikut jalan-jalan sehat, Ataka enggan diajak pulang. Rupanya dia termakan promosi kupon berhadiah yang disediakan oleh panitia.
 
"Yah, apa Ata bisa dapat hadiah?" tanyanya penuh harap. Saya bingung menjawabnya karena kalau tidak dapat hadiah dia pasti minta hadiah pada saya meski paling banter hadiah yang diminta hanya es krim.
 
Kemudian saya berkata, "Kamu berdoa saja kepada Allah dalam hati, semoga kamu dapat hadiah." Dan betapa girangnya dia karena setelah itu dia benar-benar dapat hadiah. Baju koko lengkap dengan celana dan pecinya.
 
"Nah, benar kan. Allah senang kalau kita meminta kepada-Nya. Dia pasti akan mengabulkan," jawab saya.
 
"Berarti kalau Ata minta terus, pasti Allah kasih terus?"
 
"Tidak. Allah akan kasih pelan-pelan biar tidak cepat habis. Kadang dikasihnya sekarang, kadang besok, kadang satu tahun lagi. Kadang berapa tahun lagi." Dia diam. Entah apakah dia paham.
 
Beberapa hari berikutnya, saat ikut lomba mewarnai, saya kembali mengingatkan, "Kalau mau dapat bingkisan, jangan lupa berdoa." Saya lihat dia seperti berkomat-kamit. Saat pengumuman, dia pun dapat hadiah hiburan berupa mangkok warna hijau dengan motif daun.
 
"Yah, doanya Ata dikabulkan. Tapi hadiahnya kok mangkok ya. Padahal Ata tadi berdoanya minta piala," katanya.
 
"Allah tidak ijinkan kamu dapat piala. Allah cuma ijinkan kamu dapat mangkok. Sebabnya mangkok itu mungkin yang kamu butuhkan."
 
"Nggak kok. Ata nggak butuh mangkok."
 
"Sebentar lagi kan puasa. Kalau kamu mau beli bubur atau es buat buka puasa enaknya kan ditaruh di mangkok."
 
"O...iya. Ata lupa."
 
Dan hari tadi, listrik di rumah padam sampai menjelang isya. Ataka gusar karena rencananya sehabis maghrib dia ingin menulis surat kepada sepupunya dan juga simbah puterinya di Madura. Dia terobsesi ingin punya sahabat pena seperti halnya dalam episode Upin-Ipin kesayangannya.
 
"Duuuh....ini tukang pln-nya gimana sih. Listrik kok dimatikannya lama sekali. Apa lupa paling ya nggak dinyalain?" gerutunya.
 
"Gimana kalau berdoa semoga listriknya bisa cepat menyala," kata saya.
 
"O..iya benar," katanya sambil kembali mulutnya berkomat-kamit. Dan benar saja, kurang dari tiga menit kemudian listrik menyala. Dia girang bukan main sambil melompat-lompat. Saya tersenyum dan kemudian teringat kata-kata Cak Kuswaidi Syafi'ie tentang pentingnya mendoktrin anak dengan masalah-masalah ketuhanan sejak dini.

Kebumen, 9 Juni 2016

MASJID YANG RAMAI DAN MASJID YANG SEPI

http://ichef.bbci.co.uk/news/ws/660/amz/worldservice/live/assets/images/2015/06/26/150626125505_masjid_640x360_afp.jpg
Di sebuah desa, ada dua bangunan masjid. Namanya Masjid Baiturrahman dan Masjid Baiturrahim. Meski kedua masjid itu letaknya berdekatan, namun suasana kedua masjid tersebut sangatlah berbeda, terutama di kala masuk waktu shalat. Di Masjid Baiturrahman, suasana cenderung sepi usai adzan dikumandangkan. Para jamaahnya duduk berdzikir dengan suara pelan. Sebaliknya di Masjid Baiturrahim suasana terdengar ramai. Usai adzan, muadzdzinnya membaca pujia-pujian melalui pengeras suara, diikuti oleh jamaah yang sedang menunggu iqamah di belakangnya.
 
Bunyi puji-pujian dari pengeras suara Masjid Baiturrahim terdengar jelas ke Masjid Baiturrahman. Bahkan puji-pujian itu masih terdengar saat shalat sudah ditegakkan di Masjid Baiturrahman. Suara puji-pujian itu dibaca sembari menunggu datangnya jamaah. Namun hal itu rupanya dianggap sebagai gangguan oleh salah seorang takmir Masjid Baiturrahman.
 
"Itu orang-orang di Masjid Baiturrahim maunya apa sih. Puji-pujiannya bikin ganggu kita di sini yang sedang shalat. Mbok nggak usah pakai pengeras suara kan bisa," kata si takmir dengan muka masam.
 
Karena merasa selalu terganggu, suatu ketika si takmir bermaksud mengadukan masalah itu. Tapi dia tidak tahu hendak mengadukan persoalan tersebut kepada siapa.
 
Suatu hari, datanglah seorang lelaki tua ke Masjid Baiturrahman menjelang shalat Dhuhur. Sembari menunggu iqamah, lelaki ini membaca puji-pujian dengan suara yang sedikit dikeraskan. Melihat hal itu, si takmir Masjid Baiturrahman makin jengkel dibuatnya. Sehabis shalat, si takmir itu pun menegur lelaki tua tersebut.
 
"Hai, Pak. Di sini kalau mau puji-pujian atau dzikiran, sebaiknya dibaca pelan-pelan saja."
 
"Loh. Memangnya kenapa?"
 
"Mengganggu. Tadi bapak kan lihat, di sebelah bapak ada jamaah yang lagi shalat sunnah. Kalau bapak puji-pujiannya dikeraskan, itu kan mengganggu kekhusyukan jamaah yang shalat sunnah itu."
 
"Oh, jadi kamu yakin jamaah yang shalat tadi tidak akan khusyuk dengan dzikir yang saya baca?"
 
"Pasti."
 
"Bagaimana kalau dia justru semakin khusyuk. Semakin ingat pada Allah."
 
"Tidak mungkin. Kalau bapak mau dzikiran dengan suara keras seperti tadi, ya sana di Masjid Baiturrahim."
 
"Baiklah kalau begitu. Saya minta maaf sebelumnya. Tapi, bolehkah saya menceritakan sesuatu kepada Anda?"
 
"Mau cerita apa?" tanya si takmir dengan ketus.
 
"Konon, ada orang datang berkunjung ke rumah alm. Mbah Hamid Pasuruan bersama beberapa orang tamu lainnya. Kepada para tamunya itu, Mbah Hamid berkata kalau shalat itu cobalah baca surat-surat Al-Qur'an yang panjang-panjang ayatnya. Kemudian seorang tamu dari Madura membatin, bagaimana kalau tidak hafal surat-suratan yang panjang itu. Setelah membatin seperti itu, Mbah Hamid kemudian menjawab, "Kalau tidak hafal, pegang Al-Qur'an." Tamu yang dari Madura itu terkejut karena Mbah Hamid dapat membaca pikirannya. Dia kemudian membatin lagi, masak shalat sambil pegang Al-Qur'an, bukankah kata fiqih itu bisa batal. Selesai membantin seperti itu, Mbah Hamid kembali menjawab, "Memegang Al-Qur'an dalam shalat bila benar-benar diniatkan untuk Allah tidak menjadikan shalatnya batal." Nah, begitulah ceritanya mas takmir," kata lelaki tua tersebut.
 
"Cerita itu apa hubungannya dengan saran saya tadi?"
 
"Begini, mas. Kalau Anda shalat dan kemudian Anda merasa terganggu dengan dzikiran yang dibaca dari masjid sebelah, berarti Anda tidak khusyuk dong. Suara dzikir kok malah membuat shalat Anda tidak khusyuk, itu bagaimana bisa? Pasti semua itu terjadi karena dasarnya Anda tidak suka pada orang dzikiran pakai pengeras suara. Jangan fokus pada pengeras suaranya, tapi fokuslah pada apa yang dibacanya. Kalau fokus pada pengeras suaranya, apalagi didasari oleh rasa tidak suka, maka dzikir pun jadi salah dalam pandangan Anda. Harusnya suara dzikir itu makin membuat Anda tambah khusyuk. Bukan sebaliknya."
 
"Nggak bisa seperti itu, Pak. Anda ini mengada-ada saja."
 
"Begini saja. Kalau seseorang benar-benar khusyuk hatinya saat shalat, jangankan suara dzikiran dari pengeras suara, suara orang nyanyi pun akan membuat shalat Anda makin khusyuk, hati Anda makin ingat kepada Allah."
 
"Ah, omong kosong. Itu tidak mungkin."

"Kenapa tidak mungkin!? Mungkin saja. Bagi orang yang hatinya suci dan khusyuk, apa pun yang dilihat dan didengarnya akan menjadi sesuatu yang transenden, yang akan membawanya makin dekat dengan Allah. Kalau misalnya Anda shalat, lalu terdengar suara orang sedang menyanyi, maka katakan saja dalam hatimu, "Ya Allah, suara-suara itu bukankah dari Engkau juga sumber muasalnya?. Mulut-mulut manusia tak akan mampu memperdengarkan suara-suaranya seandainya Engkau tidak menghendaki itu terjadi. Bunyi-bunyian bisa terdengar hanya karena Engkau memperkenankan. Dan karena iradah-Mu juga, sesuatu yang tak punya mulut dan kita sangka tak bisa berbicara, justru kelak akan lantang menuturkan segala-galannya."

"Apa mungkin yang tak memiliki mulut bisa berkata?"
 
"Jangan bodoh. Tuhan telah tegaskan, "alyauma nakhtimu 'alá afwáhihim wa tukallimuná aydíhim wa tasyhadu arjuluhum bimá kánú yaksibún." Karena itu mas takmir, jangankan suara dzikiran dari pengeras suara di masjid sebelah, kalau hati Anda benar-benar khusyuk saat shalat, musik dangdut pun yang Anda dengar tetap dapat membuat Anda khusyuk. Alam semesta ini sunyi dan baru terdengar suara-suara karena iradah Allah semata. Karena itu mas takmir, mari belajar menghayati apa yang kita lihat dan kita dengarkan sebaik mungkin agar kita tidak mudah marah, mangkel dan kesal kepada sesuatu yang sayangnya sesuatu itu ternyata tidak kita pahami dengan baik-baik."
 
Si takmir terdiam seperti mencermati ucapan lelaki tua tadi. 

Sementara suara dzikir dari masjid sebelah, kini sudah tidak terdengar lagi. 
 

Kebumen, 9 Juni 2016

LELAKI FAKIR DAN USTADZ TERKENAL

http://cdn.klimg.com/dream.co.id/resources/news/2015/02/27/10824/664xauto-kisah-rasulullah-memandang-para-bangsawan-150227b.jpg
Ada seorang ustadz yang sangat popular. Hampir setiap hari wajahnya selalu muncul di televisi. Terkadang dia tampil sebagai penceramah dan di waktu berikutnya dia tampil sebagai bintang iklan suatu produk. Dari dua pekerjaannya itu, dia memperoleh bayaran yang sangat besar. Tak heran kalau rumah, kendaraan dan perabotan rumahnya serba terlihat lux dan mewah.

Suatu waktu sang ustadz mendatangi seorang lelaki fakir untuk menyerahkan santunan kepadanya. Sesampainya di rumah lelaki fakir yang biasa dikunjunginya itu, sang ustadz melihat kalau lelaki itu sedang melaksanakan shalat di teras rumahnya dengan selembar sajadah yang digelar di atas lantai tanah. Selesai shalat, sang ustadz menyerahkan santunannya dan tidak lupa dia memberikan nasihat kepada lelaki itu.
 
"Bapak. Beribadah itu memang wajib. Tapi jangan lupa juga untuk bekerja ya. Masak dari dulu-dulu saya lihat bapak belum ada perubahan. Hati-hati lo, pak. Sebab kefakiran itu dapat menjerumuskan kepada kekafiran. Begitu kata Nabi."
 
Selesai berkata demikian, si lelaki itu pun menjawab. "Aku percaya dengan apa yang dikatakan Nabi. Tapi aku akan bertanya kepadamu; apakah setiap kefakiran yang dialami seseorang dapat menjerumuskannya kepada kekafiran?"
 
"Tentu saja, Pak. Orang kalau fakir dapat dengan mudah melepas imannya. Bahkan dia rela menukar imannya dengan harga yang murah. Bahkan mereka menukar imannya hanya dengan sekardus mie instan dan sekarung beras. Sudah banyak buktinya yang begitu."
 
"Apa karena itu alasannya kau terlihat begitu sibuk bekerja. Jadi penceramah, jadi bintang iklan, jadi bintang tamu acara-acara talkshow murahan dan ikut-ikutan bertindak konyol dalam acara itu?"
 
"Saya bekerja agar saya tidak fakir sehingga saya selamat dari kekafiran."
 
"Kalau begitu, sabda Nabi yang kau ucapkan tadi hanya pantas bagi orang-orang sepertimu. Nak, telah bertahun-tahun aku melatih diri agar hatiku selalu menjadi 'tempat' bagi Allah semata. Selama bertahun-tahun aku hidup fakir seperti ini. Tetapi dalam hatiku, aku tak pernah kehilangan Allah dan tak terpikir untuk menukar-Nya dengan apa pun. Kalau kau khawatir kefakiran dapat membuat imanmu lepas, bekerjalah semau-maumu. Tetapi kalau kau yakin hatimu akan selalu terpaut kepada Allah meski dalam kondisi fakir sekalipun, kau tentu akan mensyukuri keadaan itu. Ingat, nak. Kalau seseorang sudah berhasil 'mendapatkan' Allah, hakikatnya ia mendapatkan segala-galanya, dunia dan seisinya. Sebaliknya, kalau orang hanya mendapatkan dunia dan seisinya, tapi gagal mendapatkan Allah, maka apa yang sesungguhnya dia dapatkan? Bukankah dunia dan seisinya ini hanyalah fatamorgana semata? Bila kau memberiku santunan hanya karena aku fakir dan kau khawatir aku akan jatuh pada kekafiran, maka ambil kembali santunanmu itu. Dan anggaplah itu pemberianku untukmu. Sebab saat ini, akulah yang justru mengkhawatirkanmu."


Kebumen, 8 Juni 2016