Diberdayakan oleh Blogger.

TAUBATAN NESSU-HA

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeo6XVmyMXhDT9ZGnbnz24KHEttxawmS7eC13Qw7uts3JP_oiCrfiXguPLfAEtfEW_eYri_UVQ71PLci0-0z-I6IwnI2RWOu0xAnRQ-P70Cvpzcfu7-7CMnjOtdOxcRrBKxxmmAf9BKE2l/s1600/kartun+berdoa+untuk+dirinya+dan+kedua+orang+tuanya.jpg
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
 
Diserunya orang-orang yang beriman agar bertaubat dalam ayat di atas tentu bukan tanpa maksud. Setidaknya kita bisa bertanya, kenapa dalam ayat tersebut Tuhan hanya menyeru orang yang beriman untuk bertaubat? Bukankah yang paling pantas untuk bertaubat adalah mereka yang tidak beriman, yang sudah pasti ketidakberimanan mereka merupakan sebuah dosa dan dapat menjadi alasan yang sangat tepat untuk bertubat?
 
Menurut Imam Ghazali, hakikat taubat adalah kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari jalan yang jauh menuju jalan yang dekat. Karena itu, taubat mencakup ilmu pengetahuan, perilaku, amal.
 
Ada dua hal kata Al-Ghazali yang menghantarkan seseorang untuk bertaubat. Pertama, mengenal dosa sebagai suatu dosa. Kesadaran ini akan menyebabkan seseorang menyadari bahwa tindakannya berbuat dosa merupakan suatu kesalahan kepada Tuhan dan karenanya dia harus meminta maaf kepada-Nya.
 
Kedua, keinginan bertaubat bukanlah keinginan yang muncul dengan sendirinya pada manusia. Sebab Tuhanlah 'pencipta' taubat dan sekaligus penggerak sebab-sebab terjadinya taubat itu sendiri yakni adanya keimanan kepada-Nya. Hemat penulis, dengan kesadaran seperti ini, maka ketika di dalam hati kita muncul keinginan untuk bertaubat, maka keinginan itu harus disadari sebagai keinginan yang tidak bersifat otonom atau murni berasal dari diri kita sebagai manusia. Tapi sebaliknya, itu semua merupakan kehendak Tuhan yang menginginkan agar kita kembali ke jalan yang benar.
 
Dengan demikian, maka akan terasa sekali di sini betapa kasih sayang Tuhan begitu luar biasa besarnya pada manusia. Dia seakan mengingatkan manusia untuk segera insaf dengan dimunculkannya keinginan bertaubat dalam diri mereka. Bila kita menyadarinya seperti itu, tentu tak akan ada perasaan sebutir debupun dalam jiwa bahwa kita jauh lebih suci dan terampuni dari orang lain karena selalu bertaubat setiap saat. Mosok rajin taubat tapi kok masih songong, kok masih nessuan sama orang lain!? Berarti taubatan nessuha dong. Bukan nasuha...nye'
 
Lalu kenapa hanya orang beriman yang diseru dalam ayat di atas?
 
Bila kita kembalikan lagi pada pendapat Al-Ghazali, mungkin kita akan mendapatkan gambarannya. Mengapa Allah menyeru orang yang beriman untuk bertaubat? Salah satu alasannya adalah karena sebab-sebab yang memunculkan keinginan bertaubat itu haruslah keimanan. Bila masih ada iman yang mantap dalam hati seseorang, maka taubat yang dilakukan orang itu akan selalu dilandasi oleh kesungguhan yang tercermin dalam sikapnya yang penuh harap (raja’) dan sekaligus takut (khauf) kepada-Nya.
 
Paduan antara kedua sifat yang melandasi taubat ini akan memberikan implikasi atau pengaruh yang luar biasa dalam jiwa. Bertaubat yang dilandasi oleh harapan yang besar untuk memperoleh ampunan-Nya akan membuat yang bersangkutan tidak putus asa untuk selalu memohon ampun kepada-Nya. Sebaliknya, taubat yang dilandasi oleh rasa takut kepada-Nya akan membentuk satu sikap pertahanan dan kewaspadaan diri agar yang bersangkutan tidak kembali lagi terjatuh pada dosa-dosa yang sama.
 
Cuma masalahnya, saat saya bertaubat (beristighfar), hati saya rasanya hambar dari dekapan rasa takut dan penuh harap semacam itu. Keadaan ini sudah pasti karena iman saya yang masih belum mantap. Duh Gusti! Astaghfirullooooh....!

HIDUP ITU TURNAMEN ABADI

https://www.pixoto.com/images-photography/news-and-events/world-events/lomba-lari-5772749444218880.jpg
Dalam suatu kesempatan mengikuti acara darling-an (tadarus keliling) yang waktu itu dilaksanakan di Asrama Garawiksa, seperti biasa, Romo Kiai Edi Mulyono memberikan kulsum alias kuliah sepertinya sepuluh menit dengan menyitir beberapa ayat dalam Al-Qur'an. Kamis malam, 11 Februari 2016 lalu, beliau membahas surat Al-Hadid ayat 21-24.
 
Tentu banyak hal yang dibahas saat itu. Tetapi sepertinya saya tertarik untuk memahami idiom perlombaan sebagaimana menjadi frasa awal pada ayat 21. Di sana Allah berfirman, "Berlomba-lombalah kamu kepada -mendapatkan- ampunan Allah yang luasnya seluas langit dan bumi...." 

Sependek pengetahuan penulis, dalam Al-Qur'an setidaknya terdapat 7 ayat yang berisi idiom lomba/perlombaan, yakni dalam surat Al-Baqarah: 148, Al-Maidah: 48, Yusuf: 17 & 25, Yasin: 66, Al-Hadid: 21 dan Al-Muthaffifin: 26. Enam di antaranya menggunakan kalimat yang berakar pada kata sabaqa, sementara satu menggunakan kalimat yang berakar pada kata tanafasa. Keduanya diterjemahkan sebagai berlomba-lomba/berlomba-lombalah dan seterusnya.
 
Apakah antara sabaqa dan tanafasa merupakan dua kata yang mengandung murádif atau sinonim? Kalau melihat dari hasil terjemahnya, sangat tampak bahwa keduanya memang seperti dua kata yang bersinonim. Namun dalam kajian hermeneutika kontemporer, terutama melalui kajian linguistik disebutkan, bahwa tidak ada sinonimitas dalam Al-Qur’an. Menganggap ada sinonimitas dalam Al-Qur’an sama saja dengan membuka peluang bagi terjadinya reduksi terhadap konsep-konsep yang terkandung dalam setiap term-term kunci dalam Al-Qur’an.
 
Tak percaya..!? Tanya saja Muhammad Syahrur. Dia salah satu pemikir controversial asal Syiria yang tidak setuju bahwa kata-kata seperti Al-Kitab, Al-Furqan dan Al-Dzikr adalah sinonim dari Al-Qur’an. Bagi Syahrur, Al-Kitab, Al-Furqan dan Al-Dzikr adalah term-term yang mengandung konsep sendiri-sendiri. Demikian halnya dengan Al-Qur’an. Tapi, selama ini kita sudah terlanjur memahami bahwa Al-Kitab itu ya maksudnya Al-Qur’an, begitu juga dengan term Al-Furqan, Al-Dzikr. Tapi sudahlah, kita kembali saja pada soal perlombaan tadi.
 
Pertama, hidup ini sesungguhnya merupakan arena tempat manusia berlomba-lomba. Dari keenam ayat di atas, setidaknya ada tiga poin penting berkaitan dengan perintah berlomba-lomba, yaitu berlomba melakukan kebaikan, berlomba memperoleh ampunan Tuhan dan berlomba menggapai surga-Nya. Menariknya, ketiganya saling berkaitan erat sebagai suatu aktivitas yang harus dilakukan manusia untuk memperoleh ridha dan pertolongan-Nya.
 
Ibnu Katsir memahami ayat beromba-lombalah dalam kebaikan pada surat Al-Maidah: 48 misalnya sebagai perintah agar manusia bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan kepada Tuhan dengan mengikuti semua aturan (syariat) yang tertera dalam Al-Qur’an. Titik tekannya di sini ada pada keberadaan Al-Qur’an yang telah mengganti dan menyempurnakan syariat-syariat sebelumnya. Jadi, maksud berlomba dalam kebaikan di sini adalah kebaikan-kebaikan yang didasarkan pada semangat dan spirit moral Al-Qur’an.
 
Sementara At-Thabari menjelaskan bahwa perintah berlomba dalam kebaikan sebagaimana tertera pada surat Al-Maidah di atas akan tercermin dengan cara membiasakan diri secara konsisten melakukan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan dalam Al-Qur’an (biidmánil ‘amali bimá fí kitábikum alladzí anzalahú ilá nabiyyikum). Gagasan At-Thabari ini, hemat saya, lebih menekankan pada metode akan terwujudnya perlombaan itu sendiri. Sementara Ibnu Katsir pada gagasan tentang dari mana konsep kebaikan itu harus diperoleh.
 
Kedua, perintah agar manusia berlomba dalam kebaikan secara tidak langsung juga memberi peluang pada kita untuk memahami tentang gagasan-gagasan mengenai kebaikan itu sendiri. Kata al-khairat (jamak dari khair) pada petikan ayat yang berbunyi fastabiqu al-khairat jelas mengindikasikan betapa sesungguhnya ada banyak jenis kebaikan di dunia ini yang tersebar dimana saja serta bisa kita pelajari substansi pesan moralnya dan kemudian kita jadikan sebagai inspirasi untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan kita sendiri.
 
Dugaan saya, mungkin inilah alasannya kenapa dalam surat Al-Maidah ayat 48 itu, sebelum Allah berfirman fastabiqu al-khairat, Dia lebih dulu menegaskan, ‘untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang,’ (lukullin ja’alna minkum syir’atan wa minhaja). Wallahu A’lam, saya hanya menduga-duga saja, bukan menafsir atau menta’wil. Namun bila dugaan saya bisa diterima, maka sesungguhnya kedua kalimat dalam satu ayat itu (likullin ja’alna….hingga… fastabiqu al-khairat) dapat dijadikan sebagai penguat terhadap gagasan akan pentingnya saling melakukan proses pembelajaran dan dialektika dengan siapa saja di dunia ini sehingga pada akhirnya akan tercipta apa yang oleh Bassam Tibbi disebut sebagai moralitas internasional, suatu parameter teoritis yang awalnya digunakan untuk mengatasi konflik peradaban antara Islam dan Barat.
 
Ketiga, luasnya gagasan-gagasan tentang kebaikan juga sebanding dengan luasnya pengampunan Tuhan sebagaimana tersirat dalam surat Al-Hadid ayat 21. Di dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan agar manusia berlomba mendapatkan ampunannya (maghfiratin). Di situ Allah menggunakan frasa maghfiratin yang merupakan bentuk kalimat isim. Dalam studi Ulumul Qur’an disebutkan bahwa kaidah isim mengandung pengertian sebagai tetapnya sesuatu atau berlangsungnya sesuatu secara terus-menerus. 
 
Implikasi dari kata maghfirah yang berbentuk isim menegaskan betapa ampunan Allah akan selalu ada dan terbuka sampai kapan pun pada manusia selama mereka belum sakarat, dunia belum kiamat serta mereka tidak terjerumus dalam kemusyrikan. Maka berlomba-lombalah dalam menggapai pintu ampunan Tuhanmu, karena pintu ampunan-Nya selalu terbuka terus menerus sepanjang waktu. Sih!
   
Kebumen, 16 Februari 2016.
 

  

Aku, Kamu, Kita dan Syiah...

Coba pikirkan. Saat ke hadapan orang-orang yang bernaung di bawah bendera Sunni, Pendekar Khilafah dan Ahlul Cingkrang disodorkan kata Syiah, apa kira-kira yang terletup di benak mereka? Banyak letupan tentu, mulai dari 'mereka bukan Islam, rayap agama, musuh yang harus dibasmi' dan masih banyak lagi letupan-letupan lain yang intinya menempatkan si Syiah sebagai yang tidak baik. Demon. Dan itulah prejudice.
 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7qGfUsRUeASP6btq17TWNodk1EFcF2t_I0blOyDc1zzDsUHM3C7cCFgT6qRH4cvAVb0WDpPHmvLc68YHmbDv2oXuO_4cjJZklPJffqrxDUaaq3E9d22Mr9goCV3Gza4KQEP2pdla40n1i/s1600-h/1Bedaween.jpg
Gampangnya, prejudice itu adalah gambaran-gambaran kesimpulan yang sudah diambil seseorang saat melihat/menilai sesuatu jauh sebelum dia meneliti tentang sesuatu itu dengan detil. Dan seandainya diteliti dengan detil, sangat mungkin ada banyak hal yang tidak sepenuhnya sama dengan kesimpulan awal yang dia buat.
 
Sama seperti ketika orang mendengar kata Syiah tadi. Yang muncul pertama kali di benak mereka adalah, mereka bukan Islam, harus ditumpas, harus dibenci sampai ke akar-akarnya dan seterusnya. Prejudice awal yang dibangun bahwa Syiah bukan Islam tentu menegaskan satu kenyataan bahwa yang bersangkutan memandang Syiah hanya dari sisi ideologisnya semata. Wajar saja begitu. Apalagi sikap alergi akan Syiah sudah dibangun mulai dari kegiatan-kegiatan intelektual beserta produk-produknya. Termasuk dalam wacana hukum Islam.
 
Contoh.  Saat Abdul Wahhab Khalaf dalam 'Ilmu Ushúli al-Fiqhi menguraikan tentang rukun ijma', beliau mengajukan untuk semata mempertimbangkan para mujtahid Haramain, Iraq, Hijaz, Alul Bait dan Ahlussunnah. Lalu menutupnya dengan kalimat Dúna Mujtahidi al-Syí'ah. Efeknya sungguh luar biasa. Karena kitab tersebut dipelajari secara suntuk di pesantren, tak ayal para kalangan pesantren yang nota bene Ahlussunnah seperti merasa terteror saat kata Syiah disebutkan.
 
Bolehlah Syiah dipandang demikian dari kacamata ideologisnya. Tapi Syiah apakah hanya memiliki sisi ideologi untuk diteliti? Tentu tidak. Syiah itu sebuah organisme yang hidup. Kita bisa mempelajari banyak aspek dari mereka seperti bagaimana cara mereka sekarang berpolitik, cara mereka berekonomi,  cara mereka belajar dan sebagainya. Dan untuk yang saya sebutkan terakhir ini saya sungguh kagum pada Syiah. Konon, salah satu kebijakan dalam dunia pendidikan yang diterapkan di Iran adalah melarang para pelajar mengutip buku apabila pengarangnya sudah mati. Alasan mereka simpel. Kalau ada kesalahan, kita tidak bisa melakukan konfirmasi.
 
Sepintas kebijakan itu terdengar konyol. Kalau tak boleh mengutip buku karena pengarangnya sudah mati, berarti di sana banyak sekali buku-buku terbuang percuma. Bagus tuh seandainya pergi kesana untuk jadi tukang rongsok kertas. Tapi selain terkesan konyol, saya justru melihat bahwa di balik kebijakan itu mungkin ada semacam harapan agar para pelajar di sana tidak terlalu bergantung pada pemikiran tokoh-tokoh sebelumnya yang sudah mati sehingga mereka tergerak untuk mencipta penemuan dan pemikiran yang baru. Selain itu, disarankannya untuk hanya menggunakan referensi buku yang penulisnya masih hidup mungkin agar dengan demikian para pelajar dapat selalu bertukar pikiran, saling melakukan koreksi, saling bertukar wacana dengan si pengarang sehingga buku itu dapat selalu menemukan pengkayaan demi pengkayaan pemahaman yang bisa terjadi akibat terciptanya suasana dialogis yang terus menerus. Itu sih dugaan saya. 
 
Intinya, ada banyak sisi dari Syiah yang bisa kita pelajari selain hanya memandangnya dari aspek ideologi mereka. Dan tidak menutup kemungkinan dengan mempelajari sisi-sisi Syiah lainnya, kita justru bisa mendapatkan ilmu, pengalaman dan inspirasi positif dari mereka yang bakal berguna untuk kita. Dan itu bisa terjadi kalau kita tidak menyimpulkan tentang Syiah hanya berdasarkan prejudice belaka. Siapa tahu kan..!?
 
Kesadaran-kesadaran seperti ini saya rasa penting kita miliki. Setidaknya dengan begitu hati kita tidak hanya terisi oleh semata-mata kebencian demi kebencian. Saya terkesan ketika istri mendiang Gus Dur ditanya oleh Andy dalam acara Kick Andy; "Lebih senang mana, menjadi istri Gus Dur sebagai presiden, sebagai ulama, sebagai kiai atau apa?"
 
"Mau Gus Dur presiden, ulama, kiai atau orang biasa, saya selalu senang menjadi istrinya Gus Dur."
 
Dari jawaban itu mungkinkah kita bisa membuat analog yang hampir sama? Setidaknya kita bisa berkata misalnya, "Mau ada Syiah, Khawarij, Mu'tazilah, Sunni, saya akan selalu senang bila kita bisa hidup tenang berdampingan, saling mempelajari dan memahami untuk menguatkan dunia kemanusiaan."
 
Terus, kalau saya berbicara begini kamu akan menyebut saya sebagai Syiah? Ya, monggo. Tak tahlilan sik, nyong.
 
Kebumen, 13 Februari 2016   

Menemukan Allah

Oleh. Kuswaidi Syafi'ie
 
http://uc.blogdetik.com/981/98178/files/2010/11/allah_b1-300x225.gif
"Aku mencarimu oh Tuanku
di seluruh alam raya.
Sementara di rumahku
Engkau senantiasa bertahta."

Puisi di atas digubah oleh Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) yang kemudian banyak dijadikan referensi oleh sufi-sufi setelah beliau. Baris-baris kalimat puitik itu menggambarkan tentang berlangsungnya pencarian spiritual yang dilakukan oleh mereka yang telah mengerti dan merasakan apa arti dari suatu dahaga ruhani.

Kesadaran tentang sangkan paran, tentang asal-usul sekaligus akhir dari segala sesuatu yang dalam terminologi keislaman dikenal dengan sebutan Allah, akan senantiasa menggerakkan siapa saja untuk melangkahkan kaki-kaki spiritualnya menuju "alamat" yang paling sakral tersebut.

Lewat sejumlah ritual yang telah dipaketkan oleh Allah SWT melalui sekian banyak ajaran yang diturunkan kepada nabi utusan terakhir, Nabi Muhammad SAW, orang-orang beriman senantiasa menyusuri berbagai macam kemungkinan untuk bisa semakin gamblang merasakan kedekatan dengan hadiratNya.

Mereka tidak hanya menggunakan hati yang merupakan antena spiritual untuk merasakan kehadiranNya lewat segala sesuatu, akan tetapi juga memfungsikan akal pikiran untuk merenungi peran-peran yang dimainkan oleh Allah SWT melalui apapun yang dikehendakiNya. Mereka mencari keagunganNya di langit, di bintang-gemintang, di rembulan, di mega-mega, di gunung-gunung, di sungai-sungai, di luas samudra raya, di mana-mana.

Karena seluruh makhluk yang bertebaran di alam semesta ini telah dipinjami wujud oleh hadiratNya, maka mustahil Allah SWT tidak memiliki sejumlah peran pada semua itu, seberapapun kadar dan prosentasinya. Dengan karunia ruhani yang dihidangkan oleh hadiratNya, melalui ketajaman mata batin (bashirah) orang-orang beriman itu pertama-tama akan menyaksikan energi-energi sekaligus perbuatan-perbuatanNya (af'alullah) pada apapun yang dipergoki, termasuk padi diri mereka sendiri.

Pada saat mereka mendapatkan tajallil af'al itu, tirai alam semesta akan tersingkap seketika. Ia tidak akan menjadi hijab lagi bagi mereka. Pada waktu yang bersamaan itu pula mereka akan merasakan puncak kenikmatan dari rasa tawakkal yang begitu anggun dan mempesona. Kenapa demikian?

Secara sufistik, jawabannya saya kira merupakan suatu kepastian. Yakni ketika semua energi dan tindakan sudah disadari dan dirasakan bahwa sumbernya tidak lain adalah Allah SWT semata, orang-orang beriman itu akan betul-betul menyadari bahwa menciptakan rencana di luar rencanaNya, melambungkan kehendak yang tidak seirama dengan kehendakNya, memilih tujuan yang tidak sealur dengan tujuanNya, sesungguhnya sama saja dengan menabuh gendrang kesia-siaan, bahkan pengingkaran.

Itulah sebabnya tawakkal kemudian menjadi satu-satunya pilihan yang niscaya bagi mereka. Sayup-sayup tapi pasti, seakan terdengar sepotong sabda Nabi Muhammad SAW oleh pendengaran batin mereka: "Jaffatil aqlamu wa thuwiyatish shuhuf/ Pena-pena yang menulis segala takdir telah kering dan buku-buku yang mencatat takdir-takdir itu telah dilipat."

Tawakkal dalam konteks ini bukan terutama dibangun di atas fondasi keyakinan terhadap hadiratNya, akan tetapi sepenuhnya meluncur dari suatu kesaksian (musyahadah) terhadap kemahakuasanNya yang tunggal tapi sekaligus menyebar ke seluruh partikel yang ada di seluruh jagat raya. Dan posisi kesaksian itu jauh berada di atas posisi keyakinan. Pada keyakinan itu masih terbentang adanya jarak. Sedangkan pada kesaksian jarak itu telah luruh dan lumat.

Ketika kesaksian spiritual itu bertahta di atas puncak bukit ruhani seseorang, dia akan menyaksikan sifat-sifat Allah SWT itu jauh lebih gamblang dan nyata dibandingkan dengan makhluk apapun yang paling empirik di dunia ini. Kenapa demikian?

Di hadapan bashirah seseorang yang telah tersucikan dari segala kabut kedunguan, dari lumpur dosa-dosa dan dari debu-debu kefanaan, alam semesta ini sungguh sangat temaram sebagaimana lisutnya bayang-bayang. Sementara sifat-sifat Allah SWT yang merupakan pangkal dari tindakan-tindakanNya jadi senantiasa bertahta dan beribu-ribu kali lipat jadi lebih memukau ketimbang apapun yang paling indah dari jibunan makhluk-makhluk yang begitu artifisial dan akan musnah oleh waktu ini.

Sekarang kaidah ketauhidan itu berubah menjadi terbalik: kalau dulu pada awal mula mempelajari ilmu ketuhanan dalam wacana keislaman ada adegium yang mengungkapkan bahwa adanya alam ini menunjukkan adanya Allah SWT. Kini lalu menjadi pernyataan bahwa adanya Allahlah yang menunjukkan adanya alam. Bahkan orang-orang makrifat dengan nada sedikit menyindir melontarkan selajur pertanyaan: sejak kapan Allah SWT itu menjadi samar sehingga dibutuhkan adanya makhluk untuk menunjuk kepada kemahaberadaanNya?

Sungguh sangat beruntung orang-orang makrifat yang merasa tidak terpisah sejenakpun dengan Allah SWT. Dengan demikian mereka berarti mendapatkan puncak segala kenikmatan sekaligus keindahan. Suatu kebahagiaan yang senantiasa bersemayam di kesunyian dan kesucian hati yang dalam puisi di atas disimbolkan dengan idiom tumah. Kenikmatan hakiki seperti itu tidak mungkin mereka tukar dengan apapun. Wallahu a'lamu bish-shawab.

SAJAK ANAK-ANAK PALESTINA, AFGHANISTAN, IRAK, LIBIYA DAN SYIRIA KEPADA IBUNYA SEBELUM MEREGANG NYAWA

ibu, di antara sisa serbuk mesiu, selongsong peluru dan pecahan-pecahan bom
yang nancap di daging tubuh anak-anakmu, aku tulis sajak ini untukmu. langit kehilangan biru, tergerus asap dan debu, mengepulkan mimpi buruk pada hari-hari
kita penuh kutuk.

ibu, seperti juga engkau, aku takut mendengar detak jam, bunyi tik-taknya seperti suara senapan yang dikokang, dentuman bom, lontaran rudal dan ranjau-ranjau yang ditabur dimana-mana, meruntuhkan kamar tempat kita bercanda, menghafal ayat dan doa shalat.

ibu, di antara puing reruntuhan kota-kota, kulihat air matamu tak kunjung mengering, deras mengalir di sela-sela potongan tubuh, jemari tangan bayi mungil, helai rambut yang tercabut dan sisa darah di atas aspal.

ibu, aku yang satu-satunya kau miliki, oleh perang yang aneh dipaksa pergi. meninggalkanmu berkubang air mata, membiarkanmu menggigil sendirian tanpa rumah dan perlindungan. kemana, kemana engkau akan pergi? ibu. dimana, dimana aku menemukanmu dikala rindu?

MENABUNG SAMPAH DI SUNGAI...

http://blogs.swa-jkt.com/swa/11245/files/2014/03/V10sO.jpg
Pernahkah kita membayangkan, suatu hari nanti, saat anak-anak cucu kita minta diceritakan perihal sungai, tiba-tiba kita kehilangan bahan untuk bercerita? Sungai yang sewaktu kecil dulu pernah menjadi tempat kita mandi bersama teman, memancing ikan dan bersenda gurau sambil menyelam, tiba-tiba sekarang tinggal kenangan.

Dulu, kita masih bisa menyaksikan air sungai yang semerawang. Ikan-ikan yang berenang di dalamnya seakan nampak jelas di pelupuk mata. Tetapi keadaan begitu cepat berubah. Secepat berubahnya usia kita yang makin tua. Sungai yang semula jernih kemudian berubah menjadi kumuh, ladah. Airnya hitam, pekat dan bau. Yang berenang bukan lagi gerombolan ikan yang sedang berkejaran berebut lumut dan ganggang. Tapi sampah. Sampah yang bertumpuk.

Di tepiannya, tak ada lagi gelak tawa kanak-kanak sebagaimana masa-masa kecil kita dulu. Tak ada pemancing yang menikmati desiran angin di atas gumuk-gumuk batu, di bawah pohon yang rindang, sambil sesekali mencerling ke dalam sungai untuk melihat apakah umpan kailnya di sambar ikan. Yang tertinggal dari kenangan kita akan sungai saat ini dan masa depan nanti barangkali hanyalah kesunyian. Selebihnya, kesedihan.

Saat ini, cerita perihal sungai di seantero nusantara memiliki tema yang hampir sama. Kumuh, penuh sampah dan juga limbah. Jangankan manusia yang sudi mendekatinya, bahkan ikan-ikan pun seperti enggan dan memilih untuk menjauh. Entah kemana. Anak-anak lebih senang bermain di dalam kamar bersama gadget canggihnya. Ketika mereka diajak berjalan-jalan di tepian sungai, dengan cepat mereka menutup rapat lubang hidungnya dengan ekspresi wajah yang menunjukkan rasa jijik begitu rupa. Hueekkk....cuih.

Dimanakah kita bisa menemukan sungai yang benar-benar menyenangkan untuk disinggahi? Mungkin di sebagian daerah, masih ada sungai-sungai yang bersih. Ya, di sebagian daerah yang jauh, di pedalaman-pedalaman hutan lebat yang tidak memungkinkan bagi kita menyambanginya setiap saat. Kalaupun kita menikmatinya, hal itu terkadang hanya sebatas lewat tayangan televisi yang begitu sebentar karena durasi. Setelah itu, kita hanya bisa mengelus dada karena sungai di sebelah rumah kita sudah teramat sulit dinikmati keindahannya akibat kita timbun dengan berbagai macam sampah.

Coba lihat sungai-sungai di Jakarta. Ribuan jenis sampah setiap hari dibuang ke dalam sungai. Sungai seakan menjadi tempat sampah alami dan tanpa perasaan bersalah mereka membuang plastik, pampers, bahkan bangkai-bangkai kursi dan lemari ke dalamnya. Akibatnya? Tentu sudah dapat kita duga. Saat musim hujan tiba, sampah menggunung menutupi saluran, dan banjir pun menghantam kampung hunian.

Siapa yang salah? Kompleks. Sempitnya hunian, sempitnya lahan dan mungkin terbatasnya kantong-kantong pembuangan sampah menjadi alasan yang selalu bisa dikemukakan berulang-ulang. Karena itu, serahkan masalah ini kepada semua pihak yang memang harus bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan di daerah Jakarta.

Tapi bagaimana dengan sungai yang ada di dekat rumah kita? Tak usah jauh-jauh, sungai di sebelah rumah saya misalnya saat ini sudah kotor dengan sampah. Padahal lahan rumah-rumah penduduk begitu luas dan tidak sepadat perkampungan Jakarta. Kalau pun mau, mereka sebenarnya bisa membuat kantong sampah sendiri dengan membuang jurang khusus dekat halaman rumah. Untuk sampah-sampah plastik, sebaiknya dibakar. Sementara untuk sampah non-plastik, lebih baik dikubur dekat pohon-pohon yang kita dambakan hasilnya sebagaimana yang saya lakukan selama ini.

Bagi anda yang hidup di kampung-kampung dengan lahan yang luas dan berdekatan dengan sungai, tak ada alasan bagi anda untuk membuang sampah ke dalam sungai. Sungai adalah sungai. Di sana ikan-ikan melangsungkan haknya untuk hidup, dari sana kita bisa mengairi ladang-ladang serta karenanya mata air di sumur kita bisa terus terjaga kelestariannya.

Mari sedikit mengenang. Konon, peradaban-peradaban besar lahir dari riak dan jernihnya aliran sungai yang terjaga. Sungai Nil melahirkan peradaban Mesir, sungai Gangga dengan peradaban Indianya, sungai Tigris melahirkan peradaban Mesopotamia. Demikian juga dengan sungai Eufrat. Di Indonesia, kita juga mengenal sungai Begawan Solo yang pernah ramai sebagai sarana transportasi sungai sejak kejayaan Majapahit.

Bagaimana dengan sungai di dekat rumah kita? Tak perlu bermimpi muluk-muluk bahwa suatu ketika akan lahir peradaban besar dari sungai-sungai sebelah rumah kita. Yang terpenting untuk dilakukan adalah jaga sungai kita dengan baik. Hentikan kebiasaan membuang sampah ke dalam sungai, membuang limbah dan meracuninya sehingga banyak biota yang mati percuma. Bila sungai terjaga, anda akan tenang, bahagia. Dan perasaan itulah yang akan membantu anda sehingga mampu memunculkan ide-ide segar sebagai bibit dari tumbuhnya peradaban besar.

Membuang sampah di sungai sama dengan menabung sampah di sana. Dan suatu ketika tabungan itu akan membengkak, membesar dan hasilnya akan kembali kepada anda dan anak cucu anda dalam wujud yang lain. Banjir.      

PAK HARY TANOESOEDIBJO DAN PAK CHAIRUL TANJUNG. SEBAGAIMANA ANDA MENGINGINKAN ANAK ANDA MENJADI ANAK YANG BAIK, MAKA BEGITU PUN HALNYA DENGAN KAMI



(Sekalian juga buat Kak Seto, Lembaga Sensor Film dan Komisi Perlindungan Anak)
 
http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/2014/05/1398923569925784032.jpg?t=o&v=760
Selamat siang, Pak Hary dan Pak Tanjung. Semoga hari-hari Anda berdua selalu diberkahi Tuhan. Perkenalkan, nama saya Salman Rusydie Anwar. Saya berasal dari Kabupaten Sumenep Madura dan saat ini tinggal di Kebumen bersama seorang istri dan seorang anak.
 
Seandainya Pak Hary dan Pak Tanjung membaca surat ini (harapan saya demikian), mungkin akan terlintas sebuah pertanyaan dibenak bapak-bapak; mengapa saya menulis surat ini untuk bapak?
 
Karena itu, saya tegaskan terlebih dahulu bahwa surat ini adalah surat pribadi saya. Tidak ada muatan politis apa pun terkait dengan ditulisnya surat ini. Apalagi saya ini hanya sekadar seorang guru ngaji dan peternak ayam kampung. Namun saya merasa perlu menulis uneg-uneg saya sekaligus merasa perlu untuk diketahui oleh bapak berdua. Biar runtut, saya akan utarakan satu persatu.
 
Pertama untuk Pak Hary Tanoe dulu. Pak Hary, sebagai bos MNC GROUP, saya memberikan apresiasi terhadap beberapa tayangan, khususnya di MNC TV, dimana stasiun televisi milik Anda itu menayangkan acara yang sangat digemari oleh anak saya dan mungkin juga oleh seluruh anak-anak seusia anak saya. Acara itu adalah kartun IPIN-UPIN dan PADA JAMAN DAHULU.
 
Sedemikian 'gila' dan gemarnya anak saya pada acara tersebut sampai-sampai anak saya selalu menirukan gaya bicaranya UPIN-IPIN saat berbicara. Sepulang sekolah, dia akan langsung menyalakan tivi dan saluran yang dituju tak lain adalah MNC TV.
 
Seperti hari ini Pak Hary, Senin 02 November 2015. Anak saya pulang sekolah jam 10:30. Setelah ganti baju, dia pun langsung duduk di depan tivi dan memilih saluran MNC TV. Karena jam segitu acara IPIN-UPIN belum mulai, anak saya pun setia menunggu. Saluran MNC TV tetap tak diganti karena takut ketinggalan pembukaan UPIN-IPIN yang diawali dengan lagu-lagu yang dia suka.
 
HANYA SAJA PAK HARY, saya terkejut ketika ikut menemani anak saya menunggu dimulainya acara kesukaannya itu. Saya mencatat, dalam waktu kira-kira setengah jam, di MNC TV, ya, di MNC TV, tiba-tiba ditampilkan pula adegan dari sebuah jadwal acara yang bertajuk FIGHT FIGHTER yang tayang pada jam 22:30 setiap hari. Dalam waktu setengah jam itu, saya mencatat setidaknya ada dua kali MNC TV menayangkan cuplikan adegan yang sangat....sangat sarat kekerasan itu.
 
Melihat cuplikan acara tersebut, anak saya melongo, melihat semua adegan itu tanpa berkedip. Anda tahu Pak Hary, apa kira-kira yang terlintas di dalam benak anak saya dan juga anak-anak lainnya? Tak perlu saya ulas panjang lebar karena saya yakin Anda juga sudah memahaminya.
 
Atas alasan itulah Pak Hary saya mengirim surat ini kepada Anda. Saya tahu Anda sekarang sedang fokus mengurus partai yang Anda dirikan. PERINDO. Partai Persatuan Indonesia. Dengan membaca kepanjangan dari nama partai yang Anda dirikan, saya mencoba menyimpulkan bahwa Anda akan berusaha memperjuangkan utuhnya persatuan di Indonesia, utuhnya NKRI, utuhnya rasa Nasionalisme dari rakyat Indonesia yang begitu plural ini. Untuk hal ini saya angkat topi pada Anda. Anda bisa mengkampanyekan ide-ide Anda dengan mudah tentunya lewat media yang Anda miliki. MNC GROUP.
 
TETAPI PAK HARY. Maaf-maaf saja, menurut saya, Anda sepertinya teledor dan lalai pada satu hal. Sebagai CEO MNC GROUP, tidak seharusnya Anda membiarkan tayangan-tayangan yang sangat SARAT KEKERASAN semacam FIGHT FIGHTER itu dibiarkan tayang di media Anda. BAGAIMANA MUNGKIN ANDA AKAN MENGUPAYAKAN TEGAKNYA PERSATUAN BILA BIBIT-BIBIT KEKERASAN DISEMAI SEDEMIKIAN MASSIFNYA DI BENAK GENARASI BANGSA INI. DI BENAK ANAK-ANAK YANG MASIH SUCI, BAIK HATI DAN PIKIRANNYA.
 
Saya tahu, Anda tidak mungkin ikut mengurusi apa saja program acara yang akan tayang di media Anda. Tetapi Anda memiliki wewenang untuk membuat kebijakan dan ketentuan tentang tayangan seperti apa yang pantas dan tidak pantas ditonton oleh rakyat Indonesia yang Anda cita-citakan selalu bersatu sebagaimana tersirat pada nama partai Anda.
 
Oleh sebab itu Pak Hary, TOLONG HENTIKAN TAYANGAN YANG PENUH KEKERASAN SEPERTI FIGHT FIGHTER ITU. Apakah tim di MNC GROUP sedemikian MUMETNYA sehingga tidak bisa mengimpor mana tayangan yang pantas dan tidak pantas untuk ditayangkan di negeri ini. Di antara para tim MNC GROUP itu, pasti ada yang juga sudah punya anak. Demikian halnya dengan Anda Pak Hary. 

Sebagai sesama orang tua, bukankah kita memiliki harapan yang sama terhadap anak-anak kita. Kita berharap anak-anak kita menjadi anak yang baik, santun, mampu menyelesaikan masalah dengan bijak, tidak bersikap kasar dan tidak menyukai tindakan kekerasan. Tetapi, kenapa harapan kita yang luhur itu justru dinodai dan dirusak dengan tayangan-tayangan yang SANGAT TIDAK MENDIDIK seperti itu, Pak. Kenapa?
 
Pak Hary. Sebagaimana Anda menginginkan anak-anak Anda menjadi anak yang santun, tidak suka kekerasan, maka seperti itulah harapan saya dan jutaan orang tua lainnya. Saya menunggu bagaimana sikap Anda setelah mengetahui dan membaca surat saya ini, Pak Hary. Bila Anda benar-benar ingin berjuang mewujudkan persatuan dimana salah satu sendi utamanya adalah hilangnya benih-benih kekerasan sejak mulai dalam pikiran, maka tak perlu muluk-muluk menebar janji. Mulailah dari 'diri' Anda sendiri. Hapus tayangan FIGHT FIGHTER dari tayangan stasiun televisi Anda.
 
Kemudian yang kedua untuk Anda Pak Chaerul Tanjung. Untuk acara-acara di TRANS 7 saya akui memang jempol. Terutama untuk beberapa acaranya yang memang pas ditonton anak-anak seperti Laptop si Unyil, Si Bolang dan beberapa acara anak lainnya. Tapi beda dengan TRANS TV. Ada satu acara yang selama satu bulan ini saya mengamatinya Pak. Acara itu berjudul "KATAKAN PUTUS"
http://assets.kompasiana.com/statics/files/14005638951927387081.jpg

 

Apa bapak sudah menonton acara itu? Apa manfaatnya? Apa nilai pendidikannya?
 
Dalam pandangan saya, pak, acara itu sama sekali tidak mendidik. Dikatakan menghibur pun tidak. Terlihat jelas dalam acara itu pertengkaran dua muda-mudi yang awalnya memiliki hubungan dan saling mencintai tapi kemudian putus karena salah satu pasangannya selingkuh. Satu pihak pasti sakit hati, pasti menderita. Lalu bagaimana mungkin sebuah penderitaan dipertontonkan untuk kemudian dikemas agar menjadi hiburan?
 
Pak Chairul. Saya adalah seorang laki-laki. Seandainya saya selingkuh dan kemudian saya didamprat oleh pasangan saya di depan banyak orang, sungguh betapa malunya saya. Saya tahu bahwa saya salah, saya aib. Tetapi, tidak seorang pun bukan yang bersedia dan menerima bila kesalahan atau aibnya dibeberkan kepada banyak orang? Maka saya dapat memahami kenapa dalam acara "KATAKAN PUTUS" itu si cowok demikian marah saat disergap oleh ceweknya, apalagi bawa kamera-kamera segala.
 
Selama acara itu berlangsung, mungkin si cowok masih bisa menahan luapan emosinya karena barangkali merasa malu. Tetapi apa yang akan terjadi sesudah acara itu, sungguh tak ada yang tahu. Sangat mungkin si cowok melakukan tindakan-tindakan yang lebih kejam lagi lantaran mereka tidak terima kesalahan dan aibnya dipublis secara nasional.
 
Karena itu Pak Chairul, tolonglah dikoreksi lagi acara-acara seperti itu. Mungkin dari pihak TRANS MEDIA akan mencibir usulan saya ini. Mungkin mereka juga akan berdalih, bahwa acara seperti itu sangat disukai masyarakat. Kalau pun benar, tapi apakah setiap yang disukai sudah pasti bernilai baik? Kalau pertimbangannya hanya pada faktor disukai atau tidak disukai, tanpa mempertimbangkan dampak-dampak lainnya, maka silahkan saja sekalian menayangkan film-film porno karena pasti banyak yang suka.
 
Tidak pak. Urusan asmara itu sangatlah privat. Tetek bengek persoalan yang menimpa mereka yang lagi kasmaran adalah urusan mereka berdua. Bila ada aibnya, biarlah mereka berdua yang mengetahui tanpa harus dipertontonkan pada orang lain. Tapi yang bersangkutan mau kok masalah asmaranya dipublikasikan di tivi. Mungkin seperti ini alasan pembenaran tim-tim Anda.
 
Tapi saya jawab. Mereka mau karena media Anda memberikan fasilitas. Seandainya tak ada fasilitas, mereka tentu akan menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri. Tanpa direcoki oleh kepentingan-kepentingan pihak lain.
 
Untuk terakhir kalinya, saya mohon maaf Pak Hary dan Pak Chaerul atas ditulisnya surat ini. Saya hanya merindukan tontonan yang benar-benar menarik, sesuai dengan ketokohan dan perjuangan Anda untuk baiknya masa depan bangsa dan generasi republik ini.
 
Salam........