Diberdayakan oleh Blogger.

Indonesia Darurat Mengaji

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmYqXyR0tw2qN3XiiyiRkDzC7AZCfXD7lQJsK5ZZdUla-SdbJQfxaKu0Q1VRSAuHLMIag9RIi_8tiJCYVxeQ9pfpTJg5gM_Ydxv_nfKjNYqn8F-ns_CJlOpfdNyl-HiYYRq_I2aPwmF5U/s1600/mengaji+3.jpg
Terdengar sangat manis ungkapan Muhaimin Iskandar mengenai gerakan Nusantara Mengaji yang diharapkan dapat membuat Bangsa Indonesia bebas dari segala persoalan yang menderanya. Sebagai sebuah ikhtiar, gerakan tersebut boleh saja kita amini meskipun dalam tataran praksisnya masalah yang dihadapi bangsa ini tak akan selesai hanya dengan dibacakan Al-Qur’an di seluruh Nusantara tercinta.
 
Kita tahu bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci, petunjuk dan pedoman hidup utama umat Islam di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Karena itu, idealnya seluruh umat Islam seharusnya bisa membaca kitab sucinya sendiri dan syukur-syukur bisa memahami dan mengamalkannya dalam laku hidup sehari-hari. Namun kalau mau jujur, banyak di antara umat Islam Indonesia yang tidak bisa membaca kitab sucinya sendiri.
 
Anehnya, belum banyak survei dilakukan demi mengetahui berapa persen dari umat Islam Indonesia yang tidak bisa membaca Al-Qur’an apalagi hingga level fasih membaca dan memahaminya. Ini masih belum termasuk orang-orang yang mengamalkannya, yang kemungkinan besar jumlahnya jauh lebih sedikit dari mereka yang mahir membacanya.
 
Dengan demikian, di luar sifatnya sebagai sebuah ikhtiar, gerakan Nusantara Mengaji menurut hemat penulis masih sangat dilematis. Satu sisi gerakan ini diharapkan dapat mengatasi persoalan bangsa, namun di sisi lain masalah kemampuan umat Islam dalam membaca kitab sucinya sendiri seakan tak terdedah sama sekali. Kalaupun gerakan Nusantara Mengaji ini berhasil diselenggarakan, bukankah yang terlibat hanya sedikit persen saja dari jumlah keseluruhan umat Islam di Nusantara? Dan mereka yang terlibat pasti hanya orang-orang yang sudah bisa atau mahir membaca Al-Qur’an.
 
Di tahun 2009 silam, penulis pernah mengikuti tes kemampuan membaca Al-Qur’an sebagai salah satu syarat kelulusan pendidikan jenjang S1 di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Ironisnya, tidak sedikit mahasiswa/i yang tidak mampu membaca Al-Qur’an meskipun mereka merupakan mahasiswa pada fakultas yang memiliki konsen besar terhadap ilmu-ilmu dasar agama Islam, dan sebagian dari mereka mengambil jurusan tafsir wa al-hadits. Fenomena ini jelas mengharukan dan sekaligus menyedihkan karena mahasiswa/i yang kuliah pada jurusan tersebut justru tidak bisa membaca materi utama yang mereka pelajari.
 
Gerakan Nusantara Mengaji jelas bukan program sepele. Apalagi ruang lingkupnya yang berskala nasional. Bagi sebagian kaum Muslimin, gerakan ini tentu saja akan disambut dengan antusiasme tinggi, terutama karena mereka merasa bakal mendapatkan apa yang oleh Gus Dur disebut sebagai ‘kompensasi psikologis’. Dan gerakan Nusantara Mengaji ini sepertinya berhasil menjanjikan kompensasi tersebut sehingga bisa disambut dengan hangat tanpa banyak kritik. 
 
Sebelum kita berharap terlalu banyak akan hasil dari gerakan Nusantara Mengaji ini, ada baiknya kita renungkan peristiwa menjelang wafatnya Nabi Muhammad Saw. Konon, menjelang wafatnya, Nabi Saw bertanya kepada Malaikat Jibril apakah malaikat penyampai wahyu tersebut masih berkenan turun ke bumi selepas kepergian Nabi menghadap Allah SWT. Jibril menjawab bahwa beliau akan turun sebanyak sepuluh kali, namun bukan dalam rangka membawa sesuatu, melainkan untuk mencabut sesuatu yang sekaligus menjadi pertanda akan makin dekatnya hari kiamat.
 
Salah satu hal yang akan dicabut adalah huruf-huruf Al-Qur’an. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kata-kata dicabutnya huruf Al-Qur’an. Sebagian mengatakan bahwa hal itu sebagai bahasa kiasan untuk menggambarkan keadaan dimana Al-Qur’an sudah jarang dibaca dan dipelajari. Sebagian yang lain mengatakan bahwa kelak huruf Al-Qur’an memang akan dicabut sehingga mushaf-mushaf hanya berisi halaman-halaman kosong belaka.
 
Atas dasar kisah tersebut, kita memang tidak bisa berasumsi bahwa gerakan Nusantara Mengaji dapat dimaknai sebagai upaya memperlambat ketentuan Allah akan datangnya hari kiamat. Tetapi gerakan Nusantara Mengaji justru di tengah-tengah banyaknya umat Islam yang tidak pandai mengaji menjadi semacam fenomena yang pantas membuat kita mengelus dada. Di masa-masa mendatang, barangkali penting juga menggagas gerakan Nusantara Belajar Mengaji sebelum gerakan Nusantara Mengaji, bukan?
 
Mengapa gagasan Nusantara Belajar Mengaji -hemat penulis- jauh lebih penting dari pada gerakan Nusantara Mengaji? Ada beberapa alasan, antara lain:
 
Pertama, terkait dengan Al-Qur’an, umat Islam Indonesia tampaknya akan semakin kehilangan lahirnya generasi-generasi “Utrujah”. Sebagian mungkin paham apa arti “Utrujah”. Istilah ini lahir dari lisan (hadis) yang mulia Nabi Muhammad Saw ketika beliau memberikan gambaran bahwa umat Islam yang membaca Al-Qur’an layaknya dia seperti buah Utrujah; buah yang memiliki keharuman memikat dengan cita rasa nikmat berlumur lezat.
 
Terkait hadis ini tak seorang pun yang berani menyangkal keshahihannya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan tak ketinggalan juga Imam Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi pada bagian Kitab Fadha’il al-Qur’an.
 
Masalahnya, bagaimana mungkin umat Islam akan membaca Al-Qur’an, kitab sucinya sendiri dan petunjuk Tuhannya, yang memungkinkan mereka terhimpun dalam generasi Utrujah tadi kalau mereka memang tidak bisa membacanya dengan fasih? Kita bisa mengukur kepada diri sendiri. Tatkala kita tidak lancar atau justru tidak bisa membaca Al-Qur’ang misalnya, maka yang terjadi selanjutnya adalah rasa malas membaca, jenuh dan bosan. Hal ini sangat masuk akal, sebab untuk apa membaca sesuatu yang kita sendiri tidak bisa atau tidak lancar membacanya. Buang-buang waktu. Begitulah keputusannya.
 
Lalu, yang lancar dan fasih membaca Al-Qur’an apakah ada jaminan mereka akan istiqamah membacanya, minimal satu juz dalam satu hari? Ya, tidak ada jaminan juga. Cuma kalau ini masalahnya sudah lain, karena sudah berhubungan dengan kesadaran, kecintaan dan mungkin juga hidayah. Gerakan Nusantara Mengaji barangkali lebih tepat untuk masalah ini, yakni untuk ‘menghardik’ kesadaran mereka yang sudah fasih mengaji tapi malah jarang mengaji.  
 

Kedua, gerakan Nusantara Mengaji pada dasarnya bukan gerakan baru di nusantara ini. Pesantren-pesantren di nusantara yang masih peduli dan perhatian terhadap kemampuan santrinya dalam membaca Al-Qur’an dengan benar, tak pernah sepi dari kegiatan tadarusan setiap saat. 
Lalu kenapa saya sebut ‘pesantren yang masih peduli dan perhatian’ yang memungkinkan munculnya tudingan bahwa dengan demikian ada pesantren yang tidak peduli dan tidak perhatian?.
 
Eitt… jangan salah sangka dulu. Meski lulusan pesantren sekalipun, tidak sedikit di antara mereka yang tidak lancar membaca Al-Qur’an. Saya punya banyak teman lulusan pesantren dan banyak di antara mereka yang tidak lancar baca Al-Qur’annya. Kalau mau, NU, Muhammadiyah, atau Kemenag sekalipun boleh melakukan survei ke pondok-pondok pesantren demi mengetahui adanya fakta bahwa santri sekalipun tak ada jaminan baca Al-Qur’annya fasih. Karena tidak fasih, akhirnya mereka jarang membaca Al-Qur’an selepas lulus dari pesantren. Satu lagi generasi Utrujah gugur selepas mereka lulus dari tempat yang seharusnya banyak menyemai lahirnya generasi tersebut.
 
Kemudian bagaimana dengan lulusan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, baik swasta atau negeri? Mengutip pernyataan KH. Hadidul Fahmi (Banyumas) yang mengatakan bahwa di Indonesia, lulusan MTs dan MA atau MTsN atau MAN, hanya 25% yang bisa membaca Al-Qur’an dengan fasih. Sementara 75% lainnya ada dua kemungkinan; bisa membaca tapi tidak fasih atau bahkan tidak bisa membaca sama sekali.
 
Barangkali kemudian ada yang berkomentar; “Tak bisa membaca Al-Qur’an tidak apa-apa, yang penting kelakuannya Qur’ani. Daripada fasih membaca Al-Qur’an tapi kelakuannya bejat, hayo pilih mana?”
 
Perbandingan seperti ini seakan-akan terlihat benar meskipun mengandung reduksi yang sangat fatal. Sebab dengan demikian, kita akan dengan mudah menyimpulkan bahwa tidak bisa membaca Al-Qur’an tidak apa-apa yang penting kelakuannya tidak bejat. Itu artinya, kita tidak perlu lagi belajar membaca Al-Qur’an, dan cukup baca buku-buku terjemah dan ulasan mengenai ayat-ayat Qur’an saja kalau begitu. Lalu, anjuran Nabi untuk belajar dan mengajar membaca Al-Qur’an, ujaran beliau tentang keutamaan membaca Al-Qur’an yang demikian banyak dalam hadis-hadisnya bahkan perintah Allah sendiri agar kita membaca Al-Qur’an sebagaimana salah satunya dalam surat Al-Muzammil itu mau dikemanakan? Diabaikan? Dilupakan? Dihapus?.
 
Melihat fakta-fakta sebagaimana saya uraikan di atas, saya jadi bertanya-tanya; Gerakan Nusantara Mengaji ini proyek atau apa? Sangat disayangkan kalau ini proyek karena gerakannya terlihat tanggung. Justru akan jauh lebih hebat menurut saya kalau proyek ini dinamai Gerakan Nusantara Belajar Mengaji dulu, baru kemudian Nusantara Mengaji.
 
Saya membayangkan, dengan menggagas gerakan Nusantara Belajar Mengaji, setidaknya banyak hal yang bisa dilakukan dan bahkan bisa melebihi sibuknya menyiapkan gerakan Nusantara Mengaji. Mungkin mushalla, langgar atau masjid-masjid yang semula sepi akan menjadi ramai dengan adanya orang-orang yang belajar mengaji. Sekolah-sekolah yang berasaskan Islam barangkali akan memasukkan kegiatan belajar mengaji sebagai materi tambahan eskul sehingga murid-muridnya yang notabene beragama Islam tidak hanya diajari main drum band. Para kiai di pesantren-pesantren lebih memiliki banyak waktu untuk duduk khusyuk menyimak santrinya yang belajar membaca Al-Qur’an ketimbang runtang-runtung diseret-seret para politisi. Ah….khayalan saya sungguh terlalu.
 
Syukur-syukur umat Islam yang kaya raya di nusantara ini kemudian bersatu dan menjadi founding untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan umat Islam yang sedang mengajar atau belajar mengaji. Apakah penting? Penting. Tahun 2015 lalu, di Panti Asuhan Amanah tempat saya mengajar mengaji anak-anak yatim dan dhuafa, diselenggarakan kegiatan belajar mengaji bagi para orang tua. Waktu itu ada sekitar 30-an orang yang ikut dengan usia rata-rata berkisar 50-an. Mereka datang dengan menenteng buku Iqro’ dan antusias belajar huruf-huruf Qur’an mulai dari A, Ba, Ta dan seterusnya. Saya senang melihat mereka yang dari tidak bisa mengaji sama sekali kemudian menjadi bisa mengaji. Setelah lulus, mereka diberi hadiah Al-Qur’an yang ada terjemahnya. Al-Qur’an itu dibeli dananya dari mana? Patungan sesama guru ngaji, bro. Itu dia kenapa saya katakan umat Islam yang kaya se-Nusantara harus bersatu dan menjadi donatur untuk acara beginian. Masak kita kalah sama saudara yang dari Kristiani?
 
Eeee….jangan bilang guru ngaji itu harus mau berkorban ilmu juga hartanya lho. Ini persoalan umat, jadi harus ditanggung bersama. Lagi pula, anak saya masih butuh susu dan saya tak menerima biaya buat beli susu itu di tempat saya mengajar mengaji. Tertarik..!? Mari hidupkan dilingkungan Anda semangat Nusantara Belajar Mengaji.  

Kebumen, 09 Mei 2016

Jahiliyah; Periode atau Watak?

http://figures.boundless.com/24955/full/plate8cx.jpe
Seringkali kita mendengar -biasanya melalui mimbar khutbah atau ceramah, kata-kata seperti, “Mari bersyukur kepada Tuhan yang telah mengeluarkan kita dari alam jahiliyah menuju alam islamiyah, alam yang penuh dengan cahaya keimanan.” Dan jamaah pun tertunduk. Sebagian mengangguk-angguk.

Pernyataan seperti itu sejatinya tak banyak menjelaskan fakta apa pun yang tersimpan di balik kata-kata ‘alam jahiliyah’. Setidaknya kita bisa bertanya; apa alam jahiliyah itu dan apa alam islamiyah? kapan terjadinya situasi jahiliyah dan apakah ia seketika menghilang dengan datangnya islam?

Selama ini, kita memahami bahwa zaman jahiliyah sangatlah identik dengan masyarakat Arab pra-Islam yang doyan menyembah berhala, penjudi, pemabuk dan senang perang, terutama atas nama klan. Bahkan ia dipahami sebagai zaman kebodohan, yang barangkali pengertian tersebut diambil dari akar kata yang membentuk istilah jahiliyah itu sendiri, yaitu jahl.

Tetapi, menisbatkan kata jahiliyah pada masyarakat Arab pra-Islam dan memaknainya sebagai masyarakat yang hidup dalam kebodohan, tentu merupakan kekeliruan besar. Bila yang dimaksud kebodohan di situ adalah kebodohan dalam mengenal Allah atau bertauhid, mungkin argumen itu bisa diterima. Tapi tidak dengan lainnya.

Meski demikian, istilah tersebut tidak bisa dibatasi hanya pada keadaan masyarakat Arab Mekkah sebelum datangnya Nabi Muhammad. Sebab sebagian pendapat mengatakan bahwa zaman jahiliyah itu juga terjadi antara periode Nabi Adam sampai Nabi Nuh dan kemudian antara Nabi Isa sampai Nabi Muhammad Saw. Bila demikian, masa-masa transisi sejak wafatnya seorang nabi hingga lahirnya nabi berikutnya kemungkinan di masa-masa itu bisa juga terjadi zaman jahiliyah. 

Mengartikan istilah jahiliyah sebagai kebodohan secara tidak langsung telah menjadikan istilah tersebut berdiri sebagai lawan dari istilah ilmiyah. Kebodohan vs Pengetahuan. Dan kurang tepat apabila kita memahami kebodohan dalam istilah jahiliyah itu sebagai kebodohan sebagaimana yang kita bayangkan seperti kurang intelek, tidak kreatif dan semacamnya.

Terhadap masalah ini, para ilmuwan sebenarnya telah dengan tegas menepis adanya anggapan bahwa masyarakat Arab ketika itu adalah masyarakat yang bodoh, kurang intelek dan tidak kreatif sehingga mereka sering kita sebut sebagai masyarakat jahiliyah. Bukti betapa inteleknya masyarakat Arab waktu itu tercermin salah satunya dari tantangan yang diberikan Allah agar mereka membuat satu ayat yang serupa atau mirip dengan Al-Qur’an seandainya mereka ragu bahwa Al-Qur’an itu firman Allah, melainkan ciptaan Muhammad.

Hingga saat ini, tidak seorang pun dari pakar bahasa Arab paling super sekalipun yang mampu membuat ayat sebagaimana Al-Qur’an. Bila demikian, tantangan yang diberikan Allah kepada masyarakat Arab waktu itu bukanlah tantangan yang asal dilontarkan. Allah menantang mereka karena mereka merasa sangat pandai dalam ilmu bahasa dan sastra (kenyataannya memang demikian) meskipun kemampuan yang mereka miliki pada akhirnya tidak juga mampu menandingi keagungan bahasa atau firman Allah SWT. Bahkan hingga hari ini.

Sejarah mencatat bahwa masyarakat Arab ketika itu begitu piawai membuat syair, di samping berdagang. Bahkan setiap tahun selalu ada festival yang mereka sebut sebagai Festival Okadz, sejenis pekan raya atau pasar malam yang di dalamnya tidak hanya berlangsung transaksi jual beli semata. Dalam festival itu, semua penyair datang. Mereka mengadu karya sastra dan membacakannya di depan publik. Syair terbaik akan dipilih dan kemudian digantung di sisi Ka’bah.

Lalu, bagaimana kita memahami istilah jahiliyah? Apakah istilah itu berhubungan dengan tempo, zaman atau ia sesungguhnya merupakan watak, karakter dari sebuah kepribadian manusia dan akan selalu ada sepanjang sejarah hidup manusia?

Dalam Al-Qur’an, terdapat beberapa ayat yang secara tegas menyebut kata-kata jahiliyah. Pertama, dalam surat Al-Ahzab ayat 33, Allah berfirman agar para wanita (istri-istri Nabi) tidak berhias sebagaimana wanita-wanita jahiliyah. Setelah larangan itu kemudian Allah mengikutinya dengan perintah shalat. Dalam konteks ayat tersebut, Allah mempertentangkan tingkah laku wanita jahiliyah yang suka berhias dengan shalat, zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya.

Bila demikian ayat itu berkata, menurut hemat saya, jahiliyah itu bukan lagi soal tempo, waktu atau zaman tertentu. Ia bisa muncul dimana saja, kapan saja sebagai sebuah watak, karakter. Ayat tersebut hanya merespon kebiasaan masyarakat di zaman Arab pra-Islam, dan kebiasaan itu tidak otomatis terkubur hanya dengan datangnya Islam.

Masalahnya kemudian adalah, ayat di atas seringkali disitir oleh sebagian kalangan yang begitu getol menyuarakan pentingnya berbusana ‘sesuai’ syariat Islam dan membenturkannya dengan kebiasaan wanita jahiliyah dalam berhias tanpa mempertimbangkan informasi sejarah tentang bagaimana sebenarnya wanita Arab pra-Islam dulu berbusana sehingga disifati sebagai wanita-wanita jahiliyah. Akibatnya, muncul gerakan-gerakan yang lancang menuding bahwa cara berkerudung khas wanita Indonesia tempo dulu sebagaimana berkerudungnya ibu Shinta Nuriyah misalnya, sebagai kerudung yang tidak Islami, berkerudungnya Hughes sebagai kerudungnya ala jahiliyah karena ada benjolan mirip punuk unta sebagaimana sebuah hadis Nabi berkata demikian. Dan sebagai gantinya, dimunculkanlah busana yang menurut mereka ‘Islami’ dalam bentuk hijab, kerudung lebar plus cadar.

Salahkah pakaian seperti itu? Tentu saja tidak salah. Yang salah barangkali adalah ketika tidak ada upaya untuk mengkaji lebih dalam tentang kebiasaan wanita Arab tempo dulu dalam berhias sebagaimana disinggung oleh ayat ‘jangan berhias dan berperilaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu.’ Akibatnya kemudian tidak ada criteria yang jelas, yang bisa dipaparkan tentang berhiasnya wanita jahiliyah itu seperti apa, tingkah mereka seperti apa dan seterusnya. Karena tidak ada criteria yang jelas, maka siapa pun bisa dengan seenaknya memberikan statemen membabi buta.

“Pokoknya pakaian wanita yang selain hijab, tidak berjilbab, tidak bercadar, tidak memanjangkan baju hingga menutup kedua kakinya adalah gaya pakaiannya wanita jahiliyah, minimal bertingkap seperti wanita jahiliyah.” Yang begini ini kan parah. Apalagi bagi muslimah di Papua yang setiap hari bisa keluar-masuk hutan, gunung demi mencari sagu. Atau bagi muslimah pedesaan yang biasa ikut menanam padi di sawah. Mosok cadaran, hijaban, dengan baju lebar yang menutup kedua kaki?   

Uraian Fuad Hashem tentang kebiasaan dan perilaku wanita Arab pra-Islam barangkali dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan untuk memahami kebiasaan mereka sehingga Islam kemudian melarang istri-istri Nabi mengikutinya. Konon, para wanita Arab pra-Islam dinilai melalui fisiknya, mulai dari rambut, pipi, kelopak mata dan bibir. Selain itu, mereka juga dinilai dengan caranya berdandan. Mereka mengenakan wewangian dan selalu membawanya di dalam saku setiap kali pergi. Wewangian menyebar dengan lewatnya seorang wanita.

Tak cukup sampai di situ, mereka juga mengenakan pakain dengan asesoris yang mencolok. Pakaian mereka panjang menyapu-nyapu tanah, sangat longgar, bagian depan terbelah tetapi ada kancing di bagian leher. Sehelai selendang melilit di pinggang. Cadarnya dibuat dari tenunan tipis lagi jarang, terkait pada lingkaran di kepala, dirias dengan mata uang dan jalinan mutiara dan menggantung sampai kaki.

Bila mereka berasal dari keluarga bangsawan, pakaian yang dikenakan bukan dari sembarang bahan; baju sutera, linen dengan warna yang mereka sebut ‘lembayung raja’, warna yang diperoleh dari kelenjar kista kecil yang terdapat di dekat kepala kerang murex, dicampur air dan dibasahkan ke linen. Bila terkena sinar matahari warnanya berubah menjadi lembayung merah cerah dan ini biasanya dikenakan oleh mereka yang berasal dari bangsawan dan hartawan. Bahkan semua perhiasan paling mahal yang dimiliki mereka jalin dengan seutas benang sutera dan jadikan sebagai asesoris yang menempel di pakaian mereka, menjuntai-juntai dan mereka kenakan kemana saja mereka pergi. Entah ke pasar dan lebih-lebih ke tempat-tempat dimana mereka menyembah berhala.

Maka menurut saya (maaf, bukan manafsirkan) tak heran kalau ayat 33 dalam surat Al-Ahzab itu Allah mempertentangkan cara berhias dan perilaku wanita jahiliyah itu dengan perintah shalat yang tak memerlukan semua perhiasan macam itu. Cukup menutupi aurat dengan sempurna.

Kedua, dalam surat Al-Fath ayat 26, Allah juga berfirman, “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Tak jauh berbeda dengan surat Al-Ahzab, dalam surat Al-Fath ini Allah juga mempertentangkan kesombongan (kesombongan jahiliyah) dengan ketenangan. Bila demikian, seperti apakah sesungguhnya kesombongan jahiliyah itu?

Ignaz Goldzhiher, salah satu pemikir yang banyak mengkaji Al-Qur’an, menaruh perhatian salah satunya pada istilah jahiliyah ini. Menurutnya, jahiliyah bukanlah lawan kata dari ilmiyah, ‘ilm (kepintaran, kepandaian) melainkan sebagai sikap kejiwaan dan watak yang tidak dengan sendirinya mati hanya oleh datangnya Islam. Perwujudannya antara lain dengan adanya sikap congkak, sombong, arogan dan membangga-banggakan klan, suku, dan kelompok mereka. Kemudian juga semangat balas dendam, semangat kasar dan kejam kepada orang atau klan lain yang tak sepaham dengannya yang semuanya mereka tuangkan dengan semangat perang tak berkesudahan demi menunjukkan bahwa mereka yang terbaik, terkuat.

“Kalau tak kami temukan klan musuh, kami perangi saja tetangga dan sahabat, supaya nafsu perang kami jadi reda.” Begitu bunyi sebuah syair Arab kuno. Dengan pemahaman seperti itu, saya yakin bahwa sampai saat ini tidak ada jaminan kalau kita telah benar-benar dikeluarkan dari ‘alam’ jahiliyah, karena jahiliyah itu sendiri bukan soal tempat, zaman, melainkan watak atau karakter kejiwaan seseorang atau golongan.

Pertanyaannya kemudian; apakah saat ini ada orang-orang yang begitu membangga-banggakan klan atau kelompoknya sendiri, yang tercermin dari kebiasaan mereka memerangi klan atau kelompok lain dengan cara menjelek-jelekkan dan menghinanya dengan sedemikian keras dan kasarnya? Ada tidak? Kebiasaan seperti itu, jahiliyahkah atau islamiyahkah?.

Mari renungkan, teman!

TAUBATAN NESSU-HA

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeo6XVmyMXhDT9ZGnbnz24KHEttxawmS7eC13Qw7uts3JP_oiCrfiXguPLfAEtfEW_eYri_UVQ71PLci0-0z-I6IwnI2RWOu0xAnRQ-P70Cvpzcfu7-7CMnjOtdOxcRrBKxxmmAf9BKE2l/s1600/kartun+berdoa+untuk+dirinya+dan+kedua+orang+tuanya.jpg
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
 
Diserunya orang-orang yang beriman agar bertaubat dalam ayat di atas tentu bukan tanpa maksud. Setidaknya kita bisa bertanya, kenapa dalam ayat tersebut Tuhan hanya menyeru orang yang beriman untuk bertaubat? Bukankah yang paling pantas untuk bertaubat adalah mereka yang tidak beriman, yang sudah pasti ketidakberimanan mereka merupakan sebuah dosa dan dapat menjadi alasan yang sangat tepat untuk bertubat?
 
Menurut Imam Ghazali, hakikat taubat adalah kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari jalan yang jauh menuju jalan yang dekat. Karena itu, taubat mencakup ilmu pengetahuan, perilaku, amal.
 
Ada dua hal kata Al-Ghazali yang menghantarkan seseorang untuk bertaubat. Pertama, mengenal dosa sebagai suatu dosa. Kesadaran ini akan menyebabkan seseorang menyadari bahwa tindakannya berbuat dosa merupakan suatu kesalahan kepada Tuhan dan karenanya dia harus meminta maaf kepada-Nya.
 
Kedua, keinginan bertaubat bukanlah keinginan yang muncul dengan sendirinya pada manusia. Sebab Tuhanlah 'pencipta' taubat dan sekaligus penggerak sebab-sebab terjadinya taubat itu sendiri yakni adanya keimanan kepada-Nya. Hemat penulis, dengan kesadaran seperti ini, maka ketika di dalam hati kita muncul keinginan untuk bertaubat, maka keinginan itu harus disadari sebagai keinginan yang tidak bersifat otonom atau murni berasal dari diri kita sebagai manusia. Tapi sebaliknya, itu semua merupakan kehendak Tuhan yang menginginkan agar kita kembali ke jalan yang benar.
 
Dengan demikian, maka akan terasa sekali di sini betapa kasih sayang Tuhan begitu luar biasa besarnya pada manusia. Dia seakan mengingatkan manusia untuk segera insaf dengan dimunculkannya keinginan bertaubat dalam diri mereka. Bila kita menyadarinya seperti itu, tentu tak akan ada perasaan sebutir debupun dalam jiwa bahwa kita jauh lebih suci dan terampuni dari orang lain karena selalu bertaubat setiap saat. Mosok rajin taubat tapi kok masih songong, kok masih nessuan sama orang lain!? Berarti taubatan nessuha dong. Bukan nasuha...nye'
 
Lalu kenapa hanya orang beriman yang diseru dalam ayat di atas?
 
Bila kita kembalikan lagi pada pendapat Al-Ghazali, mungkin kita akan mendapatkan gambarannya. Mengapa Allah menyeru orang yang beriman untuk bertaubat? Salah satu alasannya adalah karena sebab-sebab yang memunculkan keinginan bertaubat itu haruslah keimanan. Bila masih ada iman yang mantap dalam hati seseorang, maka taubat yang dilakukan orang itu akan selalu dilandasi oleh kesungguhan yang tercermin dalam sikapnya yang penuh harap (raja’) dan sekaligus takut (khauf) kepada-Nya.
 
Paduan antara kedua sifat yang melandasi taubat ini akan memberikan implikasi atau pengaruh yang luar biasa dalam jiwa. Bertaubat yang dilandasi oleh harapan yang besar untuk memperoleh ampunan-Nya akan membuat yang bersangkutan tidak putus asa untuk selalu memohon ampun kepada-Nya. Sebaliknya, taubat yang dilandasi oleh rasa takut kepada-Nya akan membentuk satu sikap pertahanan dan kewaspadaan diri agar yang bersangkutan tidak kembali lagi terjatuh pada dosa-dosa yang sama.
 
Cuma masalahnya, saat saya bertaubat (beristighfar), hati saya rasanya hambar dari dekapan rasa takut dan penuh harap semacam itu. Keadaan ini sudah pasti karena iman saya yang masih belum mantap. Duh Gusti! Astaghfirullooooh....!

HIDUP ITU TURNAMEN ABADI

https://www.pixoto.com/images-photography/news-and-events/world-events/lomba-lari-5772749444218880.jpg
Dalam suatu kesempatan mengikuti acara darling-an (tadarus keliling) yang waktu itu dilaksanakan di Asrama Garawiksa, seperti biasa, Romo Kiai Edi Mulyono memberikan kulsum alias kuliah sepertinya sepuluh menit dengan menyitir beberapa ayat dalam Al-Qur'an. Kamis malam, 11 Februari 2016 lalu, beliau membahas surat Al-Hadid ayat 21-24.
 
Tentu banyak hal yang dibahas saat itu. Tetapi sepertinya saya tertarik untuk memahami idiom perlombaan sebagaimana menjadi frasa awal pada ayat 21. Di sana Allah berfirman, "Berlomba-lombalah kamu kepada -mendapatkan- ampunan Allah yang luasnya seluas langit dan bumi...." 

Sependek pengetahuan penulis, dalam Al-Qur'an setidaknya terdapat 7 ayat yang berisi idiom lomba/perlombaan, yakni dalam surat Al-Baqarah: 148, Al-Maidah: 48, Yusuf: 17 & 25, Yasin: 66, Al-Hadid: 21 dan Al-Muthaffifin: 26. Enam di antaranya menggunakan kalimat yang berakar pada kata sabaqa, sementara satu menggunakan kalimat yang berakar pada kata tanafasa. Keduanya diterjemahkan sebagai berlomba-lomba/berlomba-lombalah dan seterusnya.
 
Apakah antara sabaqa dan tanafasa merupakan dua kata yang mengandung murádif atau sinonim? Kalau melihat dari hasil terjemahnya, sangat tampak bahwa keduanya memang seperti dua kata yang bersinonim. Namun dalam kajian hermeneutika kontemporer, terutama melalui kajian linguistik disebutkan, bahwa tidak ada sinonimitas dalam Al-Qur’an. Menganggap ada sinonimitas dalam Al-Qur’an sama saja dengan membuka peluang bagi terjadinya reduksi terhadap konsep-konsep yang terkandung dalam setiap term-term kunci dalam Al-Qur’an.
 
Tak percaya..!? Tanya saja Muhammad Syahrur. Dia salah satu pemikir controversial asal Syiria yang tidak setuju bahwa kata-kata seperti Al-Kitab, Al-Furqan dan Al-Dzikr adalah sinonim dari Al-Qur’an. Bagi Syahrur, Al-Kitab, Al-Furqan dan Al-Dzikr adalah term-term yang mengandung konsep sendiri-sendiri. Demikian halnya dengan Al-Qur’an. Tapi, selama ini kita sudah terlanjur memahami bahwa Al-Kitab itu ya maksudnya Al-Qur’an, begitu juga dengan term Al-Furqan, Al-Dzikr. Tapi sudahlah, kita kembali saja pada soal perlombaan tadi.
 
Pertama, hidup ini sesungguhnya merupakan arena tempat manusia berlomba-lomba. Dari keenam ayat di atas, setidaknya ada tiga poin penting berkaitan dengan perintah berlomba-lomba, yaitu berlomba melakukan kebaikan, berlomba memperoleh ampunan Tuhan dan berlomba menggapai surga-Nya. Menariknya, ketiganya saling berkaitan erat sebagai suatu aktivitas yang harus dilakukan manusia untuk memperoleh ridha dan pertolongan-Nya.
 
Ibnu Katsir memahami ayat beromba-lombalah dalam kebaikan pada surat Al-Maidah: 48 misalnya sebagai perintah agar manusia bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan kepada Tuhan dengan mengikuti semua aturan (syariat) yang tertera dalam Al-Qur’an. Titik tekannya di sini ada pada keberadaan Al-Qur’an yang telah mengganti dan menyempurnakan syariat-syariat sebelumnya. Jadi, maksud berlomba dalam kebaikan di sini adalah kebaikan-kebaikan yang didasarkan pada semangat dan spirit moral Al-Qur’an.
 
Sementara At-Thabari menjelaskan bahwa perintah berlomba dalam kebaikan sebagaimana tertera pada surat Al-Maidah di atas akan tercermin dengan cara membiasakan diri secara konsisten melakukan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan dalam Al-Qur’an (biidmánil ‘amali bimá fí kitábikum alladzí anzalahú ilá nabiyyikum). Gagasan At-Thabari ini, hemat saya, lebih menekankan pada metode akan terwujudnya perlombaan itu sendiri. Sementara Ibnu Katsir pada gagasan tentang dari mana konsep kebaikan itu harus diperoleh.
 
Kedua, perintah agar manusia berlomba dalam kebaikan secara tidak langsung juga memberi peluang pada kita untuk memahami tentang gagasan-gagasan mengenai kebaikan itu sendiri. Kata al-khairat (jamak dari khair) pada petikan ayat yang berbunyi fastabiqu al-khairat jelas mengindikasikan betapa sesungguhnya ada banyak jenis kebaikan di dunia ini yang tersebar dimana saja serta bisa kita pelajari substansi pesan moralnya dan kemudian kita jadikan sebagai inspirasi untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan kita sendiri.
 
Dugaan saya, mungkin inilah alasannya kenapa dalam surat Al-Maidah ayat 48 itu, sebelum Allah berfirman fastabiqu al-khairat, Dia lebih dulu menegaskan, ‘untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang,’ (lukullin ja’alna minkum syir’atan wa minhaja). Wallahu A’lam, saya hanya menduga-duga saja, bukan menafsir atau menta’wil. Namun bila dugaan saya bisa diterima, maka sesungguhnya kedua kalimat dalam satu ayat itu (likullin ja’alna….hingga… fastabiqu al-khairat) dapat dijadikan sebagai penguat terhadap gagasan akan pentingnya saling melakukan proses pembelajaran dan dialektika dengan siapa saja di dunia ini sehingga pada akhirnya akan tercipta apa yang oleh Bassam Tibbi disebut sebagai moralitas internasional, suatu parameter teoritis yang awalnya digunakan untuk mengatasi konflik peradaban antara Islam dan Barat.
 
Ketiga, luasnya gagasan-gagasan tentang kebaikan juga sebanding dengan luasnya pengampunan Tuhan sebagaimana tersirat dalam surat Al-Hadid ayat 21. Di dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan agar manusia berlomba mendapatkan ampunannya (maghfiratin). Di situ Allah menggunakan frasa maghfiratin yang merupakan bentuk kalimat isim. Dalam studi Ulumul Qur’an disebutkan bahwa kaidah isim mengandung pengertian sebagai tetapnya sesuatu atau berlangsungnya sesuatu secara terus-menerus. 
 
Implikasi dari kata maghfirah yang berbentuk isim menegaskan betapa ampunan Allah akan selalu ada dan terbuka sampai kapan pun pada manusia selama mereka belum sakarat, dunia belum kiamat serta mereka tidak terjerumus dalam kemusyrikan. Maka berlomba-lombalah dalam menggapai pintu ampunan Tuhanmu, karena pintu ampunan-Nya selalu terbuka terus menerus sepanjang waktu. Sih!
   
Kebumen, 16 Februari 2016.
 

  

Aku, Kamu, Kita dan Syiah...

Coba pikirkan. Saat ke hadapan orang-orang yang bernaung di bawah bendera Sunni, Pendekar Khilafah dan Ahlul Cingkrang disodorkan kata Syiah, apa kira-kira yang terletup di benak mereka? Banyak letupan tentu, mulai dari 'mereka bukan Islam, rayap agama, musuh yang harus dibasmi' dan masih banyak lagi letupan-letupan lain yang intinya menempatkan si Syiah sebagai yang tidak baik. Demon. Dan itulah prejudice.
 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7qGfUsRUeASP6btq17TWNodk1EFcF2t_I0blOyDc1zzDsUHM3C7cCFgT6qRH4cvAVb0WDpPHmvLc68YHmbDv2oXuO_4cjJZklPJffqrxDUaaq3E9d22Mr9goCV3Gza4KQEP2pdla40n1i/s1600-h/1Bedaween.jpg
Gampangnya, prejudice itu adalah gambaran-gambaran kesimpulan yang sudah diambil seseorang saat melihat/menilai sesuatu jauh sebelum dia meneliti tentang sesuatu itu dengan detil. Dan seandainya diteliti dengan detil, sangat mungkin ada banyak hal yang tidak sepenuhnya sama dengan kesimpulan awal yang dia buat.
 
Sama seperti ketika orang mendengar kata Syiah tadi. Yang muncul pertama kali di benak mereka adalah, mereka bukan Islam, harus ditumpas, harus dibenci sampai ke akar-akarnya dan seterusnya. Prejudice awal yang dibangun bahwa Syiah bukan Islam tentu menegaskan satu kenyataan bahwa yang bersangkutan memandang Syiah hanya dari sisi ideologisnya semata. Wajar saja begitu. Apalagi sikap alergi akan Syiah sudah dibangun mulai dari kegiatan-kegiatan intelektual beserta produk-produknya. Termasuk dalam wacana hukum Islam.
 
Contoh.  Saat Abdul Wahhab Khalaf dalam 'Ilmu Ushúli al-Fiqhi menguraikan tentang rukun ijma', beliau mengajukan untuk semata mempertimbangkan para mujtahid Haramain, Iraq, Hijaz, Alul Bait dan Ahlussunnah. Lalu menutupnya dengan kalimat Dúna Mujtahidi al-Syí'ah. Efeknya sungguh luar biasa. Karena kitab tersebut dipelajari secara suntuk di pesantren, tak ayal para kalangan pesantren yang nota bene Ahlussunnah seperti merasa terteror saat kata Syiah disebutkan.
 
Bolehlah Syiah dipandang demikian dari kacamata ideologisnya. Tapi Syiah apakah hanya memiliki sisi ideologi untuk diteliti? Tentu tidak. Syiah itu sebuah organisme yang hidup. Kita bisa mempelajari banyak aspek dari mereka seperti bagaimana cara mereka sekarang berpolitik, cara mereka berekonomi,  cara mereka belajar dan sebagainya. Dan untuk yang saya sebutkan terakhir ini saya sungguh kagum pada Syiah. Konon, salah satu kebijakan dalam dunia pendidikan yang diterapkan di Iran adalah melarang para pelajar mengutip buku apabila pengarangnya sudah mati. Alasan mereka simpel. Kalau ada kesalahan, kita tidak bisa melakukan konfirmasi.
 
Sepintas kebijakan itu terdengar konyol. Kalau tak boleh mengutip buku karena pengarangnya sudah mati, berarti di sana banyak sekali buku-buku terbuang percuma. Bagus tuh seandainya pergi kesana untuk jadi tukang rongsok kertas. Tapi selain terkesan konyol, saya justru melihat bahwa di balik kebijakan itu mungkin ada semacam harapan agar para pelajar di sana tidak terlalu bergantung pada pemikiran tokoh-tokoh sebelumnya yang sudah mati sehingga mereka tergerak untuk mencipta penemuan dan pemikiran yang baru. Selain itu, disarankannya untuk hanya menggunakan referensi buku yang penulisnya masih hidup mungkin agar dengan demikian para pelajar dapat selalu bertukar pikiran, saling melakukan koreksi, saling bertukar wacana dengan si pengarang sehingga buku itu dapat selalu menemukan pengkayaan demi pengkayaan pemahaman yang bisa terjadi akibat terciptanya suasana dialogis yang terus menerus. Itu sih dugaan saya. 
 
Intinya, ada banyak sisi dari Syiah yang bisa kita pelajari selain hanya memandangnya dari aspek ideologi mereka. Dan tidak menutup kemungkinan dengan mempelajari sisi-sisi Syiah lainnya, kita justru bisa mendapatkan ilmu, pengalaman dan inspirasi positif dari mereka yang bakal berguna untuk kita. Dan itu bisa terjadi kalau kita tidak menyimpulkan tentang Syiah hanya berdasarkan prejudice belaka. Siapa tahu kan..!?
 
Kesadaran-kesadaran seperti ini saya rasa penting kita miliki. Setidaknya dengan begitu hati kita tidak hanya terisi oleh semata-mata kebencian demi kebencian. Saya terkesan ketika istri mendiang Gus Dur ditanya oleh Andy dalam acara Kick Andy; "Lebih senang mana, menjadi istri Gus Dur sebagai presiden, sebagai ulama, sebagai kiai atau apa?"
 
"Mau Gus Dur presiden, ulama, kiai atau orang biasa, saya selalu senang menjadi istrinya Gus Dur."
 
Dari jawaban itu mungkinkah kita bisa membuat analog yang hampir sama? Setidaknya kita bisa berkata misalnya, "Mau ada Syiah, Khawarij, Mu'tazilah, Sunni, saya akan selalu senang bila kita bisa hidup tenang berdampingan, saling mempelajari dan memahami untuk menguatkan dunia kemanusiaan."
 
Terus, kalau saya berbicara begini kamu akan menyebut saya sebagai Syiah? Ya, monggo. Tak tahlilan sik, nyong.
 
Kebumen, 13 Februari 2016   

Menemukan Allah

Oleh. Kuswaidi Syafi'ie
 
http://uc.blogdetik.com/981/98178/files/2010/11/allah_b1-300x225.gif
"Aku mencarimu oh Tuanku
di seluruh alam raya.
Sementara di rumahku
Engkau senantiasa bertahta."

Puisi di atas digubah oleh Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) yang kemudian banyak dijadikan referensi oleh sufi-sufi setelah beliau. Baris-baris kalimat puitik itu menggambarkan tentang berlangsungnya pencarian spiritual yang dilakukan oleh mereka yang telah mengerti dan merasakan apa arti dari suatu dahaga ruhani.

Kesadaran tentang sangkan paran, tentang asal-usul sekaligus akhir dari segala sesuatu yang dalam terminologi keislaman dikenal dengan sebutan Allah, akan senantiasa menggerakkan siapa saja untuk melangkahkan kaki-kaki spiritualnya menuju "alamat" yang paling sakral tersebut.

Lewat sejumlah ritual yang telah dipaketkan oleh Allah SWT melalui sekian banyak ajaran yang diturunkan kepada nabi utusan terakhir, Nabi Muhammad SAW, orang-orang beriman senantiasa menyusuri berbagai macam kemungkinan untuk bisa semakin gamblang merasakan kedekatan dengan hadiratNya.

Mereka tidak hanya menggunakan hati yang merupakan antena spiritual untuk merasakan kehadiranNya lewat segala sesuatu, akan tetapi juga memfungsikan akal pikiran untuk merenungi peran-peran yang dimainkan oleh Allah SWT melalui apapun yang dikehendakiNya. Mereka mencari keagunganNya di langit, di bintang-gemintang, di rembulan, di mega-mega, di gunung-gunung, di sungai-sungai, di luas samudra raya, di mana-mana.

Karena seluruh makhluk yang bertebaran di alam semesta ini telah dipinjami wujud oleh hadiratNya, maka mustahil Allah SWT tidak memiliki sejumlah peran pada semua itu, seberapapun kadar dan prosentasinya. Dengan karunia ruhani yang dihidangkan oleh hadiratNya, melalui ketajaman mata batin (bashirah) orang-orang beriman itu pertama-tama akan menyaksikan energi-energi sekaligus perbuatan-perbuatanNya (af'alullah) pada apapun yang dipergoki, termasuk padi diri mereka sendiri.

Pada saat mereka mendapatkan tajallil af'al itu, tirai alam semesta akan tersingkap seketika. Ia tidak akan menjadi hijab lagi bagi mereka. Pada waktu yang bersamaan itu pula mereka akan merasakan puncak kenikmatan dari rasa tawakkal yang begitu anggun dan mempesona. Kenapa demikian?

Secara sufistik, jawabannya saya kira merupakan suatu kepastian. Yakni ketika semua energi dan tindakan sudah disadari dan dirasakan bahwa sumbernya tidak lain adalah Allah SWT semata, orang-orang beriman itu akan betul-betul menyadari bahwa menciptakan rencana di luar rencanaNya, melambungkan kehendak yang tidak seirama dengan kehendakNya, memilih tujuan yang tidak sealur dengan tujuanNya, sesungguhnya sama saja dengan menabuh gendrang kesia-siaan, bahkan pengingkaran.

Itulah sebabnya tawakkal kemudian menjadi satu-satunya pilihan yang niscaya bagi mereka. Sayup-sayup tapi pasti, seakan terdengar sepotong sabda Nabi Muhammad SAW oleh pendengaran batin mereka: "Jaffatil aqlamu wa thuwiyatish shuhuf/ Pena-pena yang menulis segala takdir telah kering dan buku-buku yang mencatat takdir-takdir itu telah dilipat."

Tawakkal dalam konteks ini bukan terutama dibangun di atas fondasi keyakinan terhadap hadiratNya, akan tetapi sepenuhnya meluncur dari suatu kesaksian (musyahadah) terhadap kemahakuasanNya yang tunggal tapi sekaligus menyebar ke seluruh partikel yang ada di seluruh jagat raya. Dan posisi kesaksian itu jauh berada di atas posisi keyakinan. Pada keyakinan itu masih terbentang adanya jarak. Sedangkan pada kesaksian jarak itu telah luruh dan lumat.

Ketika kesaksian spiritual itu bertahta di atas puncak bukit ruhani seseorang, dia akan menyaksikan sifat-sifat Allah SWT itu jauh lebih gamblang dan nyata dibandingkan dengan makhluk apapun yang paling empirik di dunia ini. Kenapa demikian?

Di hadapan bashirah seseorang yang telah tersucikan dari segala kabut kedunguan, dari lumpur dosa-dosa dan dari debu-debu kefanaan, alam semesta ini sungguh sangat temaram sebagaimana lisutnya bayang-bayang. Sementara sifat-sifat Allah SWT yang merupakan pangkal dari tindakan-tindakanNya jadi senantiasa bertahta dan beribu-ribu kali lipat jadi lebih memukau ketimbang apapun yang paling indah dari jibunan makhluk-makhluk yang begitu artifisial dan akan musnah oleh waktu ini.

Sekarang kaidah ketauhidan itu berubah menjadi terbalik: kalau dulu pada awal mula mempelajari ilmu ketuhanan dalam wacana keislaman ada adegium yang mengungkapkan bahwa adanya alam ini menunjukkan adanya Allah SWT. Kini lalu menjadi pernyataan bahwa adanya Allahlah yang menunjukkan adanya alam. Bahkan orang-orang makrifat dengan nada sedikit menyindir melontarkan selajur pertanyaan: sejak kapan Allah SWT itu menjadi samar sehingga dibutuhkan adanya makhluk untuk menunjuk kepada kemahaberadaanNya?

Sungguh sangat beruntung orang-orang makrifat yang merasa tidak terpisah sejenakpun dengan Allah SWT. Dengan demikian mereka berarti mendapatkan puncak segala kenikmatan sekaligus keindahan. Suatu kebahagiaan yang senantiasa bersemayam di kesunyian dan kesucian hati yang dalam puisi di atas disimbolkan dengan idiom tumah. Kenikmatan hakiki seperti itu tidak mungkin mereka tukar dengan apapun. Wallahu a'lamu bish-shawab.

Ini Ternyata Rahasia Makan Kala Lapar dan Berhenti Sebelum Kenyang

http://blog.awalbros.com/wp-content/uploads/2014/12/makan.jpg
Siapapun pasti sudah mafhum dengan hadis di atas. Bahkan tak sedikit yang hafal di luar kepala. Namun biar begitu, tak ada jaminan penghafal hadis tersebut sekaligus dapat mempraktekkan apa isinya. Termasuk saya sendiri yang pasti. So, kenapa harus makan di saat lapar? Sementara dunia medis menyarankan agar kita makan dengan penuh keteraturan. Pagi, siang, malam, meski pun perut sebenarnya tidak lapar-lapar banget.
 
Setelah mencoba merenung-renungkan keberadaan hadis tersebut bak ulama hadis beneran, saya memahami bahwa setidaknya ada dua pelajaran penting yang terkandung di dalam hadis tersebut.
 
Pertama, makan di saat perut benar-benar lapar barangkali dimaksudkan agar nafsu kita tidak neko-neko, tidak ribet dan tidak merepotkan untuk hanya soal makanan. Kita mungkin pernah mengalami situasi dimana kita benar-benar lapar. Di saat seperti itu, makan nasi dengan garam saja rasanya sudah nikmat dan lahap. Tak ada sebutir nasipun yang kita biarkan tersisa dan semuanya kita telan dengan penuh kegembiraan.
 
Beda soal kalau kita mau makan di saat perut tidak benar-benar lapar. Karena tidak benar-benar lapar, tentu selera makan kita biasa-biasa saja. Nah, dalam situasi seperti itu kita pun berpikir, "Enaknya makan pakai lauk apa ya, sayur apa ya, sambel apa ya dst..." Kita pun sibuk memikirkan menu yang enak. Biar mahal sekalipun tak masalah, yang penting selera makan jadi tergugah.
 
Kondisi seperti ini jelas berbeda dengan ketika kita mau makan di saat perut memang merasa lapar. Tak perlu berpikir macam-macam sebenarnya andaikan kita mau. Cukup ada nasi, garam dan sebungkus kerupuk saja sebetulnya sudah cukup dan kita bisa makan dengan lahap. Lapar sih. Jadi, makanlah ketika perut benar-benar lapar.
 
Kedua, kalau makan di saat perut merasa lapar bertujuan agar nafsu tidak macem-macem, berhenti sebelum kenyang justru bertujuan untuk mengekang nafsu agar terhindar dari kecenderungan melampiaskan. Berhenti sebelum kenyang sangatlah pararel dengan makan ketika lapar.
 
Bisa dirasakan apa yang terjadi dalam benak kita di saat kita makan ketika perut merasa lapar. Yang pasti adalah keinginan untuk makan banyak dan melebihi porsi biasanya to, yang semua itu ditujukan untuk menghilangkan rasa lapar. Tetapi Nabi menyarankan agar berhenti sebelum kenyang dimana hal itu bertujuan agar kita terhindar dari sikap melampiaskan.
 
Karena itulah kemudian ada puasa yang maknanya 'al-imsak', yakni kemampuan menahan disaat terbukanya peluang untuk melampiaskan. Syariatnya memang mengatakan bahwa puasa itu adalah menahan diri dari makan, minum, merokok dan melakukan hubungan suami-istri di siang hari.
 
Namun hakikatnya, puasa tak hanya berhubungan dengan soal makan, minum, rokok dan seks. Anda tidak korupsi disaat terbuka kesempatan untuk korup, itu juga puasa. Anda tidak colak-colek tubuh perempuan saat lagi berdesak-desakan di pasar padahal kesempatan itu terbuka lebar, itu juga puasa.
 
Dalam mendidik umatnya agar memiliki sikap pengendalian diri yang kuat terdahap godaan hawa nafsu, Nabi mengajarkannya mulai dari hal-hal paling kecil. Salah satunya adalah makanlah dikala lapar dan berhenti sebelum kenyang.        

Spirit Super Jlebb Di Balik Gemuruh Qurban; Sebuah Renungan Pribadi

Motong Binatang Qurban
Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Idul Qurban merupakan peristiwa yang memiliki akar historis begitu panjang, bahkan beberapa abad sebelum kahadiran Rasulullah Muhammad Saw. Cikal bakal dari disyariatkannya qurban ini diperantarai oleh turunnya perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim melalui mimpinya, dimana Allah meminta beliau untuk menyembelih buah hati yang paling dia cintai, yakni Nabi Ismail As.
 
Tentang peristiwa ini, Allah SWT merekamnya dalam surat Al-Shaffat ayat 102; “Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
 
Banyak pendapat yang dikemukakan oleh para ulama terkait dengan apa makna dari dialog antara seorang ayah dan anak sebagaimana dilansir oleh ayat di atas. Sebagian kalangan berpendapat, bahwa dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail itu mencerminkan kematangan ruhani dua orang hamba dimana kepatuhan dan ketaatannya kepada Tuhan tidak bisa lagi dihalang-halangi oleh pertimbangan apa pun. Termasuk pertimbangan kasih sayang seorang ayah pada puteranya.
 
Nabi Ibrahim, betapapun ia teramat menyayangi puteranya, namun secara jujur dan tegas tetap menyampaikan apa yang diperintahkan Allah untuk dilakukan terhadap Ismail. Sikap yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim sungguh merupakan sikap yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh kalangan manusia manapun saat ini.
 
Begitu juga dengan Nabi Ismail. Tanpa digelayuti keraguan sedikitpun, beliau justru ‘menantang’ ayahnya untuk tidak ragu dan segera melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepadanya. Bahkan Nabi Ismail membesarkan hati Nabi Ibrahim dengan mengatakan bahwa dia akan sabar menerima kenyataan akan perintah Allah yang sangat tidak mudah untuk diwujudkan, terutama oleh manusia dengan ketaatan dan kepatuhan yang sangat rapuh sebagaimana kita.
 
Sementara itu, para ulama sufi memandang bahwa diperintahkannya Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya, selain merupakan dasar disyariatkannya ibadah qurban, peristiwa itu juga dipahami sebagai sebuah teguran Allah yang sangat keras kepada Nabi Ibrahim. Tentu ada alasan mendasar mengapa Allah SWT memberikan teguran sedemikian kerasnya kepada Nabi Ibrahim berupa perintah menyembelih (mengurbankan) puteranya. Dan alasan inilah yang penting kita renungkan pada saat Idul Qurban.
 
Melalui Al-Qur’an kita mengetahui, bahwa kelahiran Nabi Ismail merupakan sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Ibrahim. Hingga usia beliau sudah udzur, Allah SWT tak juga memberinya seorang putera. Baru kemudian sesudah memperistri Hajar, Allah memberinya keturunan, yakni lahirnya Nabi Ismail.
 
Betapa senangnya hati Nabi Ibrahim menyambut kelahiran Ismail yang begitu lama dia nantikan. Setiap saat, perhatiannya selalu tercurah kepada Ismail. Layaknya seorang ayah, Nabi Ibrahim pun memberikan cinta dan kasih sayangnya pada buah hatinya itu. Akan tetapi, dalam kapasitasnya sebagai seorang nabi dan rasul, sesungguhnya sangatlah terlarang bagi Ibrahim untuk membagi rasa cinta dan perhatiannya kepada selain Allah.
 
Dalam diskursus sufistik dikatakan bahwa Allah SWT sangat cemburu melihat para kekasihnya menaruh perhatian ‘lebih’ kepada segala sesuatu selain diri-Nya, sebagaimana perhatian Nabi Ibrahim kepada Ismail. Karena itulah Allah menyatakan kecemburuan-Nya pada Nabi Ibrahim melalui dua peristiwa. Pertama, ketika turun perintah untuk meninggalkan Ismail dan Hajar di tanah padang yang sepi dan tandus, dan yang kedua dengan turunnya perintah qurban itu sendiri.
 
Melalui peristiwa Nabi Ibrahim tersebut kita bisa mengambil pelajaran, bahwa untuk mencapai prestasi ruhani-spiritual yang gemilang, kita mesti belajar memalingkan hati kita dari apa pun selain Allah. Termasuk binatang ternak yang karenanya harus diqurbankan, atau harta benda yang wajib dizakati. Mengabaikan perintah qurban maupun zakat bagi yang mampu, sama halnya dengan mengundang kecemburuan Allah pada kita, dimana tidak ada jaminan kita akan sanggup menerima teguran akibat kecemburuan-Nya.
 
Tak ada seorangpun yang cemburunya melebihi Allah. Bahkan karena sifat cemburu-Nya itu, Allah haramkan semua perbuatan buruk dan perbuatan jahat. Begitulah Nabi Saw menegaskan dalam sabdanya. Wallahu A’lam.

Ustadz-Ustadz Yang Saya Cintai Serta Perihal Jenis Kelamin Pancasila

Hati saya sungguh gembira dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setelah Ustadz Felix yang berfatwa bahwa membela nasionalisme itu tidak penting, lalu Ustadz Abu Jibril yang mengatakan semua orang yang membela Pancasila akan binasa, maka sekarang bertambahlah satu lagi sosok Ustadz yang masuk dalam daftar para ustadz yang wajib saya cintai sepenuh hati. Dialah Ustadz Shiddiq Al-Jawi yang kemarin hari berfatwa tentang haramnya menghormat pada bendera Merah Putih.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/e/e2/Garuda_Pancasila,_Coat_Arms_of_Indonesia.jpg


Anda semua tidak perlu bertanya lagi perihal kadar cinta saya pada mereka. Meminjam bahasanya Bang Haji Rhoma Irama, "Tiada ibarat sebagai ungkapan" untuk melukiskan seberapa besar dan dalamnya rasa cinta saya kepada tiga manusia itu, yang dikirim langsung oleh Tuhan untuk mengingatkan saya terutama.
 
Saya akui, mereka bertiga adalah manusia-manusia pilihan yang memiliki keberanian total untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit akibatnya buat mereka. Dibanding mereka, keberanian saya justru tak ada apa-apanya. Ibaratnya, saya ini seekor kuman yang sedang berhadapan dengan tiga naga sakti dari negeri kahyangan. Saya tentu harus menghormat dan memuliakannya untuk bisa dilirik, apalagi bisa disapa oleh ketiganya.
Mohon maaf. Saya tidak sedang mengincar apa-apa dari mereka dengan mengatakan betapa saya teramat mencintai ketiga manusia suci itu. Setidaknya saya sudah baca istighfar, baca shalawat, baca tahlil, baca yasin dan kemudian istikharah sebelum memutuskan apakah saya harus mengutarakan cinta saya pada mereka atau tidak.
 
Saya berdoa, "Ya Tuhan. Berilah pertanda baik bila keputusan saya untuk mencintai tiga manusia mulia itu memang baik. Dan begitu pun sebaliknya." Itulah doa saya. Hasilnya.., sungguh seperti yang saya dambakan. Seekor kerbau putih datang dalam mimpi saya. Dalam lenguhannya saya seperti mendengar suara, "Bagus. Lanjutkan cintamu."
 
Sebelumnya saya merasa heran dan ragu, kenapa yang datang dalam mimpi saya malah kerbau? Bukannya unta? Bukankah unta itu lebih islami daripada kerbau? Beruntung saya teringat dengan sebuah nama; Kiai Slamet. Maka hilanglah keraguan saya seketika dan barulah saya yakin dengan mimpi saya dan kemudian saya utarakan rasa cinta saya pada ketiga ustadz itu, meski baru sebatas tulisan ini.
 
Tentu saya tak hanya mengandalkan mimpi semata untuk mengutarakan alasan saya dalam mencintai ketiganya. Jauh sebelumnya saya sudah mempelajari mereka bertiga melalui kepustakaan-kepustakaan, kamus-kamus dan beberapa informasi yang saya percayai. Dari beberapa informasi itu, saya menemukan dua alasan kenapa mereka bertiga layak saya jadikan sebagai bagian dari daftar orang-orang yang pantas saya cintai setelah kedua orangtua saya, istri dan anak.
 
Pertama, Anda harus tahu bahwa baik Ustadz Felix, Ustadz Abu Jibril dan Ustadz Shiddiq adalah sosok-sosok manusia yang memiliki rasa cinta begitu gemuruh terhadap 'islam'. Totalitas dan kemurnian cinta mereka kepada 'islam' tak bisa ditandingi oleh kemurnian apapun di dunia ini. Termasuk emas murni sekalipun.
 
Mereka bertiga sedemikian heroiknya dalam menjaga kemurnian 'islam' sehingga apa pun yang tidak benar-benar bernafaskan islam akan mereka lawan sampai titik darah penghabisan. Contoh, karena Pancasila tak mencerminkan 'islam' maka Abu Jibril dengan tangkas dan meyakinkan mengatakan bahwa siapa yang membela Pancasila maka dia akan binasa.
 
Saya berpikir, mungkin Pancasila perlu ditentukan dulu jenis kelaminnya sebelum kita sepakat untuk memberinya cerminan 'islam'. Kalau jenis kelaminnya lelaki, dia harus dipakaikan jubah, surban dan diberi jenggot sedikit. Tapi kalau perempuan, tentu harus diberi hijab, jilbab dan cadar. Entahlah, ini hanya pikiran dangkal, bodoh dan ngawurnya saya saja. Tapi yang jelas, hanya orang-orang yang sudah diberi tahu catatan Allah mengenai rahasia seluk-beluk nasib manusia sajalah yang berani mengatakan apakah pembela Pancasila itu celaka atau tidak. Abu Jibril salah satunya. Karena itulah saya mencintai dia.
 
Kedua, setuju-tidak setuju Anda harus tahu ketiga manusia mulia itu sesungguhnya adalah orang-orang yang paling besar rasa cintanya -tidak hanya kepada 'islam', melainkan juga kepada Bangsa Indonesia. Mereka bertiga adalah orang-orang yang tingkat kedekatannya kepada Tuhan sudah tak lagi disekat oleh apa pun. Mereka begitu karib dengan Tuhan.
 
Mungkin karena kedekatannya itulah Tuhan memberikan informasi tentang apa yang salah dari negeri ini dan Tuhan sekaligus memilih mereka untuk mengingatkan bangsa ini dan kita semua. Siapa tahu kan. Siapa tahu misalnya Tuhan berkata kepada Felix, "Lix, sampaikan bahwa membela nasionalisme itu nggak ada dasarnya, tapi membela khilafah jelas pahalanya."
 
Atau siapa tahu juga Tuhan berkata pada Shiddiq, "Diq, katakan bahwa menghormat pada bendera itu haram." Dan puncaknya Tuhan pun berkata pada Abu Jibril, "Bril, peringatkan orang-orang Indonesia, siapa yang membela Pancasila, maka mereka akan binasa." Untuk Abu Jibril saya katakan puncak karena dia adalah bapaknya (moyangnya) Jibril kayaknya. Entah Jibril malaikat Jibril atau Gabriel Batistuta yang kalau dilafal Arabkan tentu bukan lagi Gabriel, melainkan Jibril.
 
Saya berbaik sangka saja pada mereka bahwa mereka mengeluarkan fatwa demikian tidak lain karena mereka begitu cinta dan sayangnya pada Indonesia. Dan rasa sayang mereka pada bangsa ini tidak muncul dari kehendak mereka sendiri, melainkan memang diperintahkan langsung oleh Tuhan sehingga fatwa-fatwa mereka bertiga tak perlu diragukan lagi kesahihannya.
 
Sampai di sini, Anda pasti sudah bisa memahami, kenapa saya begitu mencintai ketiga manusia tokcer dunia-barzakh-makhsyar-akhirat ini.
Selain itu, saya selalu memendam keinginan untuk kapan kiranya saya bisa mengundang mereka bertiga ke rumah saya yang penuh rayapan itu. Lalu mengajak mereka makan jagung bakar malam-malam, menghirup kopi hangat campur jahe bakar sambil memandang ke atas langit yang penuh bintang bertaburan.
 
Saya ingin sekali berbicara banyak dengan mereka sambil menatap wajah mereka yang begitu bercahaya yang sekaligus tergambar peta-peta surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Bila keinginan saya terkabul, saya ingin sekali mengungkapkan perasaan saya;
 
"Buka baju batik, sorban dan jubahmu, kekasih. Keluarlah sejenak dari barisan jemaahmu, yang barangkali karena teriakan gempita dan elu-elu merekalah engkau tegak berdiri bak satu-satunya orang suci. Kenakan pakaian kesederhanaan sebagaimana Abu Bakar yang mengenakan kain bersulam daun kurma usai seluruh rekeningnya ia serahkan untuk Islam semuanya. Berkunjunglah ke pelosok-pelosok kampung yang kumuh, dan bawakan kami yang kelaparan ini makanan-makanan yang ada di rumahmu sebagaimana Umar bergerilya malam-malam, memikul sendiri gandum di pundaknya demi mengetahui rakyatnya yang kelaparan. Kibarkan bendera kasih sayangmu. Terbangkan burung-burung kerendahhatianmu. Bela kami tanpa harus meremehkan hasil perjuangan yang sudah dibayar dengan niat suci, darah dan air mata oleh para orang tua kami yang karena jasanya engkau bisa terus berdzikir di negeri ini. Temukan Islam bukan sekadar pada jemaahmu yang begitu runduk di hadapanmu. Tapi juga di sini, di rumah-rumah yang barangkali penghuninya tak seagama dengan agamamu. Bila tauhidmu tegak, kekasih. Bila syahadatmu nyalang dalam pandangan, niscaya kau akan tahu bahwa mereka yang tak seiman denganmu, semuanya tercipta bukan dari tanganmu yang gemar menenteng tasbih itu, melainkan dari 'Tangan' Tuhanmu juga. Lalu bagaimana mungkin, engkau yang selalu mensucikan nama-Nya setiap saat, justru berniat memberangus mereka dengan kata jihad dan tegaknya syariat mutlak."   
 
Kalau Anda protes, "Masak pada orang yang dicintai berkata begitu..!?" Maka saya tegaskan disini, bahwa meskipun saya mencintai ketiga Ustadz itu, namun saya tak harus selalu membenarkan pendapat mereka, bukan. Selama mereka masih hidup menetap di wilayah kemanusiawian mereka, mereka bertiga tetap berpeluang besar untuk salah dan harus bersedia pula untuk dipersalahkan. Kecuali mereka sudah mendeklarasikan diri bahwa misalnya mereka sudah diangkat derajatnya oleh Tuhan menjadi malaikat. Tapi apa iya...!?
 
Entahlah. Saya ini fakir, bodoh, kurus-kerempeng. Jadi mohon maaf saja kalau saya menulis begini ini. Terutama kepada ketiga ustadz yang saya cintai ini. Saya mohon maaf banget pokoknya. Semoga Anda bertiga masuk surga bersama saya sekeluarga. Amin
 

Puasa dan Kebangkitan Kaum Hawa

Suatu ketika, tepatnya di bulan Februari lalu, penulis bersua dengan salah seorang teman yang saat ini sedang menekuni usaha penerbitan buku di Yogyakarta. Dalam pertemuan itu, dia berbicara panjang lebar mengenai seluk beluk dunia perbukuan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiLdXPnqrtXZWQXqSbT96D7TxF4wljMwdH9RcfFV1Fv-6Ksn2PGU4DJpwuzz79B4Slwj8uOWmnFVlXJH5qHTHEvvUs5HMXIj7xv3p2iWhYeHrzA93VttnMO9BalAa1vFSx0TnZBx9ZTvsA/s1600/wanita+shalat.jpg

Dari berbagai macam hal yang diutarakan, ada satu pernyataan menarik yang masih penulis ingat hingga saat ini. Menurutnya, di antara buku-buku agama yang dia terbitkan, kebanyakan buku-buku yang secara khusus ditujukan kepada kaum perempuan jauh lebih laris dibanding buku-buku yang ditujukan kepada kaum laki-laki.
 
Salah satu contoh misalnya buku berjudul Menjadi Muslimah Sejati yang dari judulnya saja sudah sangat jelas ditujukan kepada kaum wanita. Ada juga buku berjudul Menjadi Muslim Sejati yang juga sangat jelas ditujukan kepada kaum laki-laki. Di pasaran, ternyata buku Menjadi Muslimah Sejati jauh lebih laris dibanding buku yang satunya meskipun diterbitkan oleh penerbit yang sama.
 
Berangkat dari fakta ini, teman penulis tersebut berkesimpulan bahwa ternyata kaum wanita memiliki antusiasme tinggi untuk menjadi lebih baik ‘dibanding’ kaum laki-laki.  Salah satunya dilihat dari semangat mereka untuk belajar dengan cara membeli buku.
 
Meskipun kesimpulan ini bersifat subjektif dan tidak bisa digeneralisir, namun berangkat dari fakta tersebut, setidaknya di satu sisi ada kebanggaan tersendiri yang harus disyukuri oleh kaum wanita meskipun pada sisi yang lain ada juga stigma kurang menyenangkan terhadap kaum wanita terkait kebiasaan-kebiasaan negative yang mereka perbuat.
 
Namun bila dihubungkan dengan fakta-fakta lainnya, tampaknya anggapan teman di atas ada benarnya juga. Sebut saja misalnya dengan adanya acara-acara di bulan Ramadhan tahun ini seperti acara kultum menjelang buka puasa (takjilan), kultum shubuh dan sebagainya.
 
Bila kita menghadiri masjid-masjid, baik yang ada di kota maupun di desa-desa, terasa sekali bahwa seringkali peserta yang paling banyak memenuhi masjid atau mushalla adalah kaum ibu atau kaum perempuan. Mereka, baik tua ataupun muda, begitu antusias mengikuti jalannya acara. Sementara kaum laki-laki seringkali terlihat hanya beberapa orang saja.
 
Tanpa bermaksud menyepelekan kaum laki-laki, penulis di sini hanya ingin menegaskan bahwa puasa sepertinya dan sewajarnya harus menjadi momentum kebangkitan bagi kaum hawa. Di tengah kesibukan mereka menyiapkan segala sesuatu berkaitan dengan kebutuhan puasa, mereka masih antusias mengikuti program Ramadhan yang diadakan oleh para pengurus masjid dan mushalla di tempat mereka berada.
 
Fenomena seperti ini barangkali jarang diapresiasi. Tapi setidaknya, ada beberapa catatan penting yang harus dipahami bersama terutama oleh kita sebagai sesama kaum wanita. Pertama, puasa memang tidak ada hubungannya dengan kemalasan. Justru sebaliknya, puasa harus menjadi pemicu dan pemacu diri untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 
Namun seringkali ada kesalahan pandangan terhadap kaum wanita terutama dengan datangnya bulan puasa. Anehnya, kesalahan pandangan seperti ini kerap dilontarkan oleh para pendakwah yang notabene berasal dari kaum laki-laki. Mereka berpandangan bahwa puasa acapkali menumbuhkan nafsu konsumerisme dimana sasaran dari pelaku konsumtif ini lebih banyak dialamatkan kepada kaum wanita.
 
Tapi perlu digarisbawahi, bahwa meningkatnya sikap konsumtif di bulan puasa sebenarnya merupakan persoalan individual yang bisa dilakukan oleh tiap-tiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Tentu sangat tidak adil apabila sikap konsumerisme yang dinilai negative itu hanya ditimpakan kepada kaum wanita (istri) sementara kaum laki-laki (suami) ikut menikmati di dalamnya.
 
Akan lebih bijak apabila kaum laki-laki (suami) memberikan pengarahan yang tepat kepada kaum wanita (istri) tentang bagaimana seharusnya menekan nafsu konsumerisme di kala kita sedang menjalankan ibadah puasa.
 
Kedua, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa tidak banyak yang mengapresiasi antusiasme kaum wanita dalam mengikuti berbagai macam acara yang dilakukan selama bulan puasa. Untuk itu, sebagai sesama kaum wanita, penulis merasa perlu untuk memberikan penghargaan kepada kaum ibu, kaum wanita yang tetap survive mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang tentu saja sangat positif manfaatnya bagi mereka.
 
Bila kita mengacu kepada firman Allah SWT berkaitan dengan puasa, maka sudah jelas Allah menyatakan di dalam Al-Qur’an bahwa tujuan utama dari puasa adalah untuk meraih derajat takwa di sisi-Nya. Sementara ketakwaan itu ada di dalam hati; Al-Taqwá há huná…Al-Taqwá há huná, kata Nabi Saw sambil menunjuk ke dada beliau.
 
Artinya, hakikat ketakwaan itu hanya diketahui oleh Allah dan yang bersangkutan. Jelasnya, ketakwaan itu tidak bisa dipamerkan. Bila kita melakukan puasa, menghadiri majlis taklim dan mengerjakan ibadah-ibadah lainnya, itu hanya salah satu cara atau upaya yang bisa kita lakukan demi meraih ketakwaan itu sendiri.
 
Akan tetapi, cara mendapatkan ketakwaan di bulan puasa tidak hanya diperoleh dari puasa semata. Seorang perempuan atau seorang istri yang menyiapkan buka dan sahur untuk keluarganya dengan hati yang tulus dan ikhlas, hal itu juga dapat bernilai sebagai ibadah yang sangat mungkin dapat menyempurnakan pahala puasanya.
 
Oleh sebab itu, kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi kepada kaum wanita yang di bulan puasa ini masih begitu bersemangat mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan di tengah-tengah kesibukan mereka menyiapkan keperluan puasa untuk keluarganya.

Tulisan ini sudah dipublikasikan di harian Suara Merdeka, Juni 2015.

Lebaran di Awal Puasa

Sebenarnya hakikat lebaran sudah terkandung sejak awal kita berpuasa. Dan sebagaimana diyakini khalayak umum, bahwa lebaran selalu dipahami sebagai ajang silaturrahim serta kesempatan untuk saling meminta maaf dan sekaligus saling memaafkan. Dalam Islam, sikap saling memaafkan dipandang sebagai salah satu sikap terpuji, bahkan Allah SWT mengkatagorikannya sebagai salah satu sikap yang disukai oleh-Nya (QS. 5:13).
http://imm.ftumj.ac.id/wp-content/uploads/2014/03/011.jpg


Dalam konteks pertobatan misalnya disebutkan sebuah ketentuan, bahwa Allah SWT tidak akan memaafkan dosa hamba-Nya yang telah melakukan kesalahan kepada orang lain selama dia tidak memintaa maaf terlebih dahulu kepada orang tersebut.
 
Hal ini mengindikasikan betapa meminta maaf kepada sesama, baik atas kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja merupakan penentu bagi diperolehnya pengampunan Allah atas kita. Namun demikian, memberikan maaf terhadap orang yang meminta maaf juga dinilai sebagai perbuatan mulia mengingat memaafkan adalah cara terbaik demi tegaknya silaturrahim yang merupakan hal tak terpisahkan dari peristiwa lebaran.
 
Ibnu Husain As-Sulami (937-1021 M), seorang ulama sufi kelahiran Khurasan, Iran, pernah mengisahkan peristiwa menggetarkan berkaitan dengan pemaafan terhadap seorang pembunuh di masa Khalifah Umar bin Khattab ra.
 
Konon ada laki-laki datang mengadukan seorang pemuda akibat kasus pembunuhan. Setelah Umar bertanya kebenarannya, si pemuda itu membenarkan bahwa dia memang telah membunuh ayah laki-laki yang melaporkan dirinya itu. Berdasarkan hukum yang berlaku, maka si pemuda harus dibunuh (qishash).
 
Namun sebelum qishash dilaksanakan, si pemuda meminta tempo tiga hari kepada Umar demi memenuhi amanah yang telah dia terima sebelumnya. Umar pun menerima permintaan pemuda tersebut dengan syarat dia harus mengajukan orang lain sebagai jaminan. Konsekuensinya, bila si pemuda tidak datang pada saat akan qishash, maka orang yang menjadi jaminan itulah yang harus diqishash.
 
Dengan acak si pemuda itu akhirnya menunjuk Abu Dzar. Shahabat Nabi Saw yang mulia itu tidak menolak dijadikan jaminan meskipun harus menanggung resiko dibunuh manakala si pemuda itu ingkar janji.
 
Ketika hari pelaksanaan qishash tiba, si pemuda itu datang seraya berkata bahwa dia tidak mungkin ingkar janji atas hukuman yang akan ditimpakan kepada dirinya. Dia beralasan bahwa dirinya tidak ingin masyarakat menilai betapa tidak ada yang bisa dipercaya lagi dalam Islam.
Mendengar perkataan pemuda itu, Abu Dzar pun memberikan komentar bahwa dia tidak keberatan saat pemuda itu menunjuknya sebagai jaminan karena dia tidak ingin masyarakat menilai betapa tidak ada lagi kasih sayang dalam Islam.
 
Mendengar pernyataan kedua orang ini, lelaki yang melaporkan pemuda itu akhirnya mencabut semua tuntutannya kepada Umar. Dia melakukan itu dengan alasan karena dia tidak ingin masyarakat menilai betapa tidak ada lagi rasa memaafkan di dalam Islam.
 
Peristiwa di atas mengajarkan tiga hal penting, yakni tentang perlunya memenuhi janji dan menunaikan amanah, bersikap ramah dan kasih sayang serta saling memaafkan kepada sesama. Dan ibadah puasa sejatinya adalah fase mewujudkan ketiganya.
 
Inti dari ajaran puasa tidak hanya berorientasi pada kemampuan menahan dari makan dan minum. Akan tetapi pelaku puasa (sháim) juga harus mampu menahan diri untuk tidak berkhianat, tidak berbohong, tidak bersikap kasar, tidak sombong dan selalu bersikap pemaaf kepada siapa saja.
Apabila puasa dipahami seperti itu, maka kita tidak perlu menunggu lebaran untuk meminta maaf dan memaafkan serta tidak perlu menunggu Ramadhan untuk bersikap ramah, santun dan peduli kepada sesama. Sebab hakikat puasa bisa diwujudkan kapan saja dan dimana saja. Wallahu A’lam.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir Batin.

Sumenep, 12-07-2015 (01:25)        

Hamdalah

Oleh Kuswaidi Syafi'ie
http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2014/02/kartun-muslimah-perempuan-terima-kasih.jpg
Nilai pujian seseorang terhadap sesuatu sesungguhnya berpulang kepada dirinya sendiri. Dengan pujian itu ia sebenarnya ingin menyatakan: "Saksikanlah penglihatanku yang tajam sehingga bisa dengan gamblang mengungkap keindahanmu yang mungkin tak tersentuh oleh penglihatan orang lain".

Secara verbal, setiap pujian berarti mengangkat derajat yang dipuji. Akan tetapi secara substansial adanya keluhuran dan keindahan itu menjadi terungkapkan dan tersiar oleh kejelian dia yang memuji. Yang terpuji itu senantiasa berada di sana, pada posisinya semula, tidak bertambah atau berkurang derajatnya hanya karena ada atau tidak adanya pujian. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah pujian yang jujur dan apa adanya, bukan yang dusta dan gombal yang hanya ingin menyenangkan yang dipuji.

Ada empat macam pujian dalam diskursus keislaman. Pertama, pujian dari Allah SWT kepada diriNya sendiri. Tindakan ini dilakukan oleh hadiratNya di samping untuk memperkenalkan diri kepada orang-orang beriman, juga untuk memastikan bahwa tidak ada satu nuktah pun ketidaksempurnaan yang melekat pada dzatNya.

Keterpujian Allah SWT itu absolut. Dan pujian yang dilontarkan sendiri kepada diriNya pun absolut pula. Tidak ada seutas celah pun pada diri dan segenap tindakanNya yang dihuni oleh kekurangan. Tak ada proses penyempurnaan pada diriNya. Di dalamNya segala sesuatu telah rampung dan purna.

Maka dengan demikian, pujian Allah SWT kepada diriNya itu merupakan suatu keniscayaan. Bahkan andaikan Allah SWT tidak mencipta sebiji dzarrahpun, senandung pujian yang azali itu akan senantiasa dikumandangkan bagi diriNya di luar segala suasana, bahasa dan kenisbian seluruh makhluk.

Hanya Allah SWT semata yang sanggup memuji diriNya sendiri sebagaimana semestinya Dia dipuji. Seluruh ummat beriman, termasuk di dalamnya jejeran para nabi dan wali sekalipun, tidak ada yang memiliki kesanggupan untuk memuji Allah SWT sebagaimana yang memang seharusnya Dia dipuji. "La uhshi tsanaan 'alayk. Anta kama atsnayta 'alayk/ Tidak sanggup aku menghinggakan pujian kepadaMu oh Tuhanku. Engkau adalah sebagaimana yang Kau puji pada diriMu," ungkap makhluk paling mulia yang merupakan tuan dunia dan akhirat sekaligus, Nabi Muhammad SAW, dalam salah satu keluh-kesah spiritualnya di hadapan Allah SWT.

Kedua, pujian Allah SWT kepada hamba-hamba pilihanNya. Pujian ini sebenarnya merupakan derivasi dari substansi pujian yang pertama di atas. Orang-orang saleh dan para pecinta hakiki yang menempuh lorong-lorong keilahian dalam pemahaman empirisnya secara vertikal dan horisontal dari kalangan para nabi dan wali senantiasa menampilkan nilai-nilai dan sifat-sifat Allah SWT dalam perjalanan hidup mereka. Mereka berperan sebagai cermin bening bagi hadiratNya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Karena itu, ketika Yang Mahasempurna memuji perangai dan perilaku mereka, secara tidak langsung Dia sesungguhnya memuji diriNya sendiri. Sebab, nilai-nilai, sifat-sifat dan tindakan-tindakan keterpujian mereka sesungguhnya tidak lain merupakan "perpanjangan tangan" dari segenap keterpujianNya. Tentang pujian terhadap nabi terkasih, Muhammad SAW, Allah SWT mengungkapkan: "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung," (QS. Nun: 4).

Ketiga, pujian makhluk terhadap Allah SWT. Tindakan makhluk yang berupa pujian ini sebenarnya hanyalah sekedar meniru terhadap pujian yang telah terlebih dahulu diteladankanNya. Bahkan secara sufistik, seluruh kebaikan yang diamalkan oleh orang-orang beriman tak lebih dari tindakan meniru terhadap perilaku-perilakuNya semata. Sebab, Allah SWT adalah sumber primer dari seluruh kebaikan, juga guru paling empresif bagi setiap orang beriman, baik secara langsung maupun tidak.

Seluruh makhluk, baik yang berakal maupun tidak, dari mulai yang paling kecil hingga yang terbesar, yang kasat mata maupun yang gaib, yang bertebaran di segenap penjuru alam raya: semua itu senantiasa memuji Allah SWT dengan bahasa masing-masing yang tidak sepenuhnya bisa dicerna oleh kapasitas pemahaman kebanyakan manusia.

Keempat, pujian makhluk terhadap makhluk lain. Inilah yang paling nisbi di antara sekian pujian yang telah didedahkan di atas. Penglihatan mata kepala manusia menemukan rupa, warna dan bentuk. Ketidaksanggupan manusia untuk menembus ketiga dimensi itu hanya akan mengantarkannya pada penilaian lahiriah belaka, ada yang dipandangnya terpuji, ada pula yang dipandangnya bangsat. Padahal di antara keduanya bisa saja secara hakiki berkebalikan. Bukankah Abu Jahal memandang bangsat Nabi Muhammad SAW, betapapun sungguh terpuji dia?

Pujian manusia yang dilahirkan oleh keterbatasan itu sebenarnya mengandaikan adanya suatu isyarat dan perintah: dinding-dinding rupa, warna dan bentuk itu mesti dijibol dan ditrabas agar manusia sanggup menumukan hakikat segaka sesuatu. Lalu menjadi gamblang di hadapan penglihatannya yang sudah terasah bahwa setiap keindahan yang bersemayam di jagat semesta ini tak lain merupakan pantulan dari segenap keindahanNya jua. Wallahu a'lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Email: kuswaidisyafiie@ymail.com. HP. 081804209760. Tulisan ini sudah dipublikasikan di Sindo Jogja. Dipublis di blog ini atas ijin penulisnya.