Diberdayakan oleh Blogger.

DUA KACAMATA TAKMIR

Suatu malam, seorang takmir masjid yang setiap saat menggunakan kacamata syariah melihat kedatangan seorang wanita bercelana pendek dan berkaos oblong tipis memasuki halaman masjid dan menuju kamar mandi. Wajahnya penuh riasan kosmetik. Bibirnya merah dalam balutan lipstik. Wanita itu sedang dalam perjalanan menuju lokalisasi tempatnya bekerja. "Mas, takmir ganteng. Numpang kamar mandi ya. Kebelet pipis banget nih," pamitnya. Melihat wanita yang biasa mangkal di lokalisasi yang tak jauh dari masjid itu, si takmir buru-buru mengunci pintu kamar mandi dan menghadang wanita itu sambil berkacak pinggang. "Kurang ajar. Pergi cari kamar mandi lain. Wanita pendosa. Wanita penuh maksiat. Neraka tempatmu. Itu kamar mandi untuk orang-orang yang mau ibadah, bukan untuk orang yang mau melakukan maksiat." Wanita itu gemetar dan pergi ketakutan.

Kemudian wanita itu datang ke sebuah mushalla, yang takmirnya menggunakan kacamata iradah berbingkai akhlak. Kepada si takmir, wanita itu mengutarakan maksudnya seperti saat datang ke masjid tadi. Si takmir kemudian membuka kunci pintu kamar mandinya dan buru-buru masuk ke dalam mushalla lalu bersimpuh sambil mengangkat kedua tangannya, "Ya, Allah! Wanita itu sesungguhnya adalah ayat-ayat-Mu juga. Dia telah dikucilkan dan dilecehkan sedemikian rupa. Rasa-rasanya, pintu-pintu kebaikan telah ditutup oleh anggapan dan tuduhan-tuduhan. Kalau bukan ke hadapan pintu-Mu, pintu mana lagi yang mau menerimanya. Dan apa susahnya bagi-Mu ya Allah untuk memberinya hidayah dan memanggilnya agar segera kembali ke jalan yang Kau ridhai. Tolong, jadikan air di rumah-Mu yang dia gunakan itu sebagai obat yang membuatnya sadar kembali. " Setelah itu, si takmir keluar bersamaan dengan keluarnya wanita itu dari kamar mandi. "Terima kasih, Mas takmir," katanya dengan suara manja. Si takmir membalas dan membiarkan wanita itu pergi dengan iringan doa-doa dalam hatinya. "Semoga engkau diberi hidayah, semoga engkau diampuni."

Cerita ini dibuat sebagai simpulan dari salah satu materi diskusi Cak Kuswaidi Syafiie bersama kelompok kajian pemuda Muhammadiyah Gombong.

Kebumen, 31 Mei 2016

Indonesia Darurat Mengaji

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmYqXyR0tw2qN3XiiyiRkDzC7AZCfXD7lQJsK5ZZdUla-SdbJQfxaKu0Q1VRSAuHLMIag9RIi_8tiJCYVxeQ9pfpTJg5gM_Ydxv_nfKjNYqn8F-ns_CJlOpfdNyl-HiYYRq_I2aPwmF5U/s1600/mengaji+3.jpg
Terdengar sangat manis ungkapan Muhaimin Iskandar mengenai gerakan Nusantara Mengaji yang diharapkan dapat membuat Bangsa Indonesia bebas dari segala persoalan yang menderanya. Sebagai sebuah ikhtiar, gerakan tersebut boleh saja kita amini meskipun dalam tataran praksisnya masalah yang dihadapi bangsa ini tak akan selesai hanya dengan dibacakan Al-Qur’an di seluruh Nusantara tercinta.
 
Kita tahu bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci, petunjuk dan pedoman hidup utama umat Islam di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Karena itu, idealnya seluruh umat Islam seharusnya bisa membaca kitab sucinya sendiri dan syukur-syukur bisa memahami dan mengamalkannya dalam laku hidup sehari-hari. Namun kalau mau jujur, banyak di antara umat Islam Indonesia yang tidak bisa membaca kitab sucinya sendiri.
 
Anehnya, belum banyak survei dilakukan demi mengetahui berapa persen dari umat Islam Indonesia yang tidak bisa membaca Al-Qur’an apalagi hingga level fasih membaca dan memahaminya. Ini masih belum termasuk orang-orang yang mengamalkannya, yang kemungkinan besar jumlahnya jauh lebih sedikit dari mereka yang mahir membacanya.
 
Dengan demikian, di luar sifatnya sebagai sebuah ikhtiar, gerakan Nusantara Mengaji menurut hemat penulis masih sangat dilematis. Satu sisi gerakan ini diharapkan dapat mengatasi persoalan bangsa, namun di sisi lain masalah kemampuan umat Islam dalam membaca kitab sucinya sendiri seakan tak terdedah sama sekali. Kalaupun gerakan Nusantara Mengaji ini berhasil diselenggarakan, bukankah yang terlibat hanya sedikit persen saja dari jumlah keseluruhan umat Islam di Nusantara? Dan mereka yang terlibat pasti hanya orang-orang yang sudah bisa atau mahir membaca Al-Qur’an.
 
Di tahun 2009 silam, penulis pernah mengikuti tes kemampuan membaca Al-Qur’an sebagai salah satu syarat kelulusan pendidikan jenjang S1 di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Ironisnya, tidak sedikit mahasiswa/i yang tidak mampu membaca Al-Qur’an meskipun mereka merupakan mahasiswa pada fakultas yang memiliki konsen besar terhadap ilmu-ilmu dasar agama Islam, dan sebagian dari mereka mengambil jurusan tafsir wa al-hadits. Fenomena ini jelas mengharukan dan sekaligus menyedihkan karena mahasiswa/i yang kuliah pada jurusan tersebut justru tidak bisa membaca materi utama yang mereka pelajari.
 
Gerakan Nusantara Mengaji jelas bukan program sepele. Apalagi ruang lingkupnya yang berskala nasional. Bagi sebagian kaum Muslimin, gerakan ini tentu saja akan disambut dengan antusiasme tinggi, terutama karena mereka merasa bakal mendapatkan apa yang oleh Gus Dur disebut sebagai ‘kompensasi psikologis’. Dan gerakan Nusantara Mengaji ini sepertinya berhasil menjanjikan kompensasi tersebut sehingga bisa disambut dengan hangat tanpa banyak kritik. 
 
Sebelum kita berharap terlalu banyak akan hasil dari gerakan Nusantara Mengaji ini, ada baiknya kita renungkan peristiwa menjelang wafatnya Nabi Muhammad Saw. Konon, menjelang wafatnya, Nabi Saw bertanya kepada Malaikat Jibril apakah malaikat penyampai wahyu tersebut masih berkenan turun ke bumi selepas kepergian Nabi menghadap Allah SWT. Jibril menjawab bahwa beliau akan turun sebanyak sepuluh kali, namun bukan dalam rangka membawa sesuatu, melainkan untuk mencabut sesuatu yang sekaligus menjadi pertanda akan makin dekatnya hari kiamat.
 
Salah satu hal yang akan dicabut adalah huruf-huruf Al-Qur’an. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kata-kata dicabutnya huruf Al-Qur’an. Sebagian mengatakan bahwa hal itu sebagai bahasa kiasan untuk menggambarkan keadaan dimana Al-Qur’an sudah jarang dibaca dan dipelajari. Sebagian yang lain mengatakan bahwa kelak huruf Al-Qur’an memang akan dicabut sehingga mushaf-mushaf hanya berisi halaman-halaman kosong belaka.
 
Atas dasar kisah tersebut, kita memang tidak bisa berasumsi bahwa gerakan Nusantara Mengaji dapat dimaknai sebagai upaya memperlambat ketentuan Allah akan datangnya hari kiamat. Tetapi gerakan Nusantara Mengaji justru di tengah-tengah banyaknya umat Islam yang tidak pandai mengaji menjadi semacam fenomena yang pantas membuat kita mengelus dada. Di masa-masa mendatang, barangkali penting juga menggagas gerakan Nusantara Belajar Mengaji sebelum gerakan Nusantara Mengaji, bukan?
 
Mengapa gagasan Nusantara Belajar Mengaji -hemat penulis- jauh lebih penting dari pada gerakan Nusantara Mengaji? Ada beberapa alasan, antara lain:
 
Pertama, terkait dengan Al-Qur’an, umat Islam Indonesia tampaknya akan semakin kehilangan lahirnya generasi-generasi “Utrujah”. Sebagian mungkin paham apa arti “Utrujah”. Istilah ini lahir dari lisan (hadis) yang mulia Nabi Muhammad Saw ketika beliau memberikan gambaran bahwa umat Islam yang membaca Al-Qur’an layaknya dia seperti buah Utrujah; buah yang memiliki keharuman memikat dengan cita rasa nikmat berlumur lezat.
 
Terkait hadis ini tak seorang pun yang berani menyangkal keshahihannya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan tak ketinggalan juga Imam Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi pada bagian Kitab Fadha’il al-Qur’an.
 
Masalahnya, bagaimana mungkin umat Islam akan membaca Al-Qur’an, kitab sucinya sendiri dan petunjuk Tuhannya, yang memungkinkan mereka terhimpun dalam generasi Utrujah tadi kalau mereka memang tidak bisa membacanya dengan fasih? Kita bisa mengukur kepada diri sendiri. Tatkala kita tidak lancar atau justru tidak bisa membaca Al-Qur’ang misalnya, maka yang terjadi selanjutnya adalah rasa malas membaca, jenuh dan bosan. Hal ini sangat masuk akal, sebab untuk apa membaca sesuatu yang kita sendiri tidak bisa atau tidak lancar membacanya. Buang-buang waktu. Begitulah keputusannya.
 
Lalu, yang lancar dan fasih membaca Al-Qur’an apakah ada jaminan mereka akan istiqamah membacanya, minimal satu juz dalam satu hari? Ya, tidak ada jaminan juga. Cuma kalau ini masalahnya sudah lain, karena sudah berhubungan dengan kesadaran, kecintaan dan mungkin juga hidayah. Gerakan Nusantara Mengaji barangkali lebih tepat untuk masalah ini, yakni untuk ‘menghardik’ kesadaran mereka yang sudah fasih mengaji tapi malah jarang mengaji.  
 

Kedua, gerakan Nusantara Mengaji pada dasarnya bukan gerakan baru di nusantara ini. Pesantren-pesantren di nusantara yang masih peduli dan perhatian terhadap kemampuan santrinya dalam membaca Al-Qur’an dengan benar, tak pernah sepi dari kegiatan tadarusan setiap saat. 
Lalu kenapa saya sebut ‘pesantren yang masih peduli dan perhatian’ yang memungkinkan munculnya tudingan bahwa dengan demikian ada pesantren yang tidak peduli dan tidak perhatian?.
 
Eitt… jangan salah sangka dulu. Meski lulusan pesantren sekalipun, tidak sedikit di antara mereka yang tidak lancar membaca Al-Qur’an. Saya punya banyak teman lulusan pesantren dan banyak di antara mereka yang tidak lancar baca Al-Qur’annya. Kalau mau, NU, Muhammadiyah, atau Kemenag sekalipun boleh melakukan survei ke pondok-pondok pesantren demi mengetahui adanya fakta bahwa santri sekalipun tak ada jaminan baca Al-Qur’annya fasih. Karena tidak fasih, akhirnya mereka jarang membaca Al-Qur’an selepas lulus dari pesantren. Satu lagi generasi Utrujah gugur selepas mereka lulus dari tempat yang seharusnya banyak menyemai lahirnya generasi tersebut.
 
Kemudian bagaimana dengan lulusan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, baik swasta atau negeri? Mengutip pernyataan KH. Hadidul Fahmi (Banyumas) yang mengatakan bahwa di Indonesia, lulusan MTs dan MA atau MTsN atau MAN, hanya 25% yang bisa membaca Al-Qur’an dengan fasih. Sementara 75% lainnya ada dua kemungkinan; bisa membaca tapi tidak fasih atau bahkan tidak bisa membaca sama sekali.
 
Barangkali kemudian ada yang berkomentar; “Tak bisa membaca Al-Qur’an tidak apa-apa, yang penting kelakuannya Qur’ani. Daripada fasih membaca Al-Qur’an tapi kelakuannya bejat, hayo pilih mana?”
 
Perbandingan seperti ini seakan-akan terlihat benar meskipun mengandung reduksi yang sangat fatal. Sebab dengan demikian, kita akan dengan mudah menyimpulkan bahwa tidak bisa membaca Al-Qur’an tidak apa-apa yang penting kelakuannya tidak bejat. Itu artinya, kita tidak perlu lagi belajar membaca Al-Qur’an, dan cukup baca buku-buku terjemah dan ulasan mengenai ayat-ayat Qur’an saja kalau begitu. Lalu, anjuran Nabi untuk belajar dan mengajar membaca Al-Qur’an, ujaran beliau tentang keutamaan membaca Al-Qur’an yang demikian banyak dalam hadis-hadisnya bahkan perintah Allah sendiri agar kita membaca Al-Qur’an sebagaimana salah satunya dalam surat Al-Muzammil itu mau dikemanakan? Diabaikan? Dilupakan? Dihapus?.
 
Melihat fakta-fakta sebagaimana saya uraikan di atas, saya jadi bertanya-tanya; Gerakan Nusantara Mengaji ini proyek atau apa? Sangat disayangkan kalau ini proyek karena gerakannya terlihat tanggung. Justru akan jauh lebih hebat menurut saya kalau proyek ini dinamai Gerakan Nusantara Belajar Mengaji dulu, baru kemudian Nusantara Mengaji.
 
Saya membayangkan, dengan menggagas gerakan Nusantara Belajar Mengaji, setidaknya banyak hal yang bisa dilakukan dan bahkan bisa melebihi sibuknya menyiapkan gerakan Nusantara Mengaji. Mungkin mushalla, langgar atau masjid-masjid yang semula sepi akan menjadi ramai dengan adanya orang-orang yang belajar mengaji. Sekolah-sekolah yang berasaskan Islam barangkali akan memasukkan kegiatan belajar mengaji sebagai materi tambahan eskul sehingga murid-muridnya yang notabene beragama Islam tidak hanya diajari main drum band. Para kiai di pesantren-pesantren lebih memiliki banyak waktu untuk duduk khusyuk menyimak santrinya yang belajar membaca Al-Qur’an ketimbang runtang-runtung diseret-seret para politisi. Ah….khayalan saya sungguh terlalu.
 
Syukur-syukur umat Islam yang kaya raya di nusantara ini kemudian bersatu dan menjadi founding untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan umat Islam yang sedang mengajar atau belajar mengaji. Apakah penting? Penting. Tahun 2015 lalu, di Panti Asuhan Amanah tempat saya mengajar mengaji anak-anak yatim dan dhuafa, diselenggarakan kegiatan belajar mengaji bagi para orang tua. Waktu itu ada sekitar 30-an orang yang ikut dengan usia rata-rata berkisar 50-an. Mereka datang dengan menenteng buku Iqro’ dan antusias belajar huruf-huruf Qur’an mulai dari A, Ba, Ta dan seterusnya. Saya senang melihat mereka yang dari tidak bisa mengaji sama sekali kemudian menjadi bisa mengaji. Setelah lulus, mereka diberi hadiah Al-Qur’an yang ada terjemahnya. Al-Qur’an itu dibeli dananya dari mana? Patungan sesama guru ngaji, bro. Itu dia kenapa saya katakan umat Islam yang kaya se-Nusantara harus bersatu dan menjadi donatur untuk acara beginian. Masak kita kalah sama saudara yang dari Kristiani?
 
Eeee….jangan bilang guru ngaji itu harus mau berkorban ilmu juga hartanya lho. Ini persoalan umat, jadi harus ditanggung bersama. Lagi pula, anak saya masih butuh susu dan saya tak menerima biaya buat beli susu itu di tempat saya mengajar mengaji. Tertarik..!? Mari hidupkan dilingkungan Anda semangat Nusantara Belajar Mengaji.  

Kebumen, 09 Mei 2016

MAALIKI YAUMIDDIN DAN NASIB AYAM-AYAM SAYA

Kalimat yang sudah pasti kita baca sebanyak 17 kali sehari-semalam dalam shalat itu sudah populer dengan terjemahannya sebagai "Yang Menguasai Hari Pembalasan". Dan hari pembalasan itu (yaum al-hisab) bagi sebagian orang dipahami sebagai 'yang nanti', bukan yang sekarang. Entah yang dimaksud 'yang nanti' itu menyangkut peristiwa di barzakh, mahsyar, surga-neraka dan seterusnya.
https://pixabay.com/static/uploads/photo/2013/07/13/12/08/rooster-159254_960_720.png

Lalu, apakah seseorang yang melakukan kebaikan atau keburukan itu harus menunggu 'nanti' untuk mendapatkan balasannya? Al-Biqa'i mengatakan, tidaklah demikian. Sebab, balasan itu sejatinya sudah diberikan sesaat setelah kebaikan atau keburukan itu dikerjakan. Hanya saja ada balasan yang ditampakkan sehingga bisa dirasakan oleh pelakunya, dan ada juga yang tidak ditampakkan sehingga tidak dirasa.
 
Nabi Saw bersabda, "Apabila seseorang melakukan dosa, maka diteteskan ke dalam hatinya satu titik hitam." Nah, satu titik hitam ini adalah wujud balasan itu yang barangkali merupakan balasan tersamar sehingga banyak orang tak sadar dan tak merasakannya. Dengan demikian, tidak ada istilah penundaan balasan yang akan diberikan Tuhan kepada pelaku kebaikan atau keburukan. Sekali berbuat baik, di saat itulah Tuhan membalas. Begitu juga sebaliknya.
 
Andai pembalasan Tuhan itu semuanya ditampakkan langsung sehingga bisa dirasakan wujudnya, mana ada orang berbuat dosa. Sekali sedekah seribu rupiah, lalu sedetik kemudian seratus ribu nongol dari lubang hidung. Sekali ngerasani keburukan orang lain, eh....tiba-tiba bibir keseleo dan kram.
 
Bahwa balasan itu tak pernah ditunda, baik cepat atau pun lambat, saya telah benar-benar mengalaminya. Dan kasusnya berkenaan dengan jamaah ayam-ayam saya.
 
Ceritanya, saya punya beberapa ekor ayam. Di antaranya enam ayam jago yang sudah besar-besar dengan bulu-bulu yang memukau serta empat ayam betina dengan kualitas super. Sedang beberapa ayam lainnya hanyalah sebatas ayam-ayam supporter. Mereka semua sehat-sehat dan siap memberikan banyak manfaat. Di saat yang bersamaan, ada juga tetangga saya yang memiliki banyak ayam. Hanya saja, ayam-ayam mereka mati mendadak. Si pemilik itu pun bercerita pada saya akan ayam-ayamnya yang mati mendadak itu.
 
"Kalau ayam-ayam saya, tak pernah sekalipun terkena penyakit. Apalagi mati mendadak," ucap saya mengomentari. Dan inilah pangkal masalahnya. Sungguh ucapan saya itu tak mencerminkan ketawadhu'an yang seharusnya, melainkan sejenis kesombongan yang mengundang binasa. Terbukti, keesokan harinya ayam jago dan betina yang saya eman-eman itu pun pada terkapar tanpa nyawa, mengalami kematian mendadak yang tak terduga.
 
Ya, Tuhan. Balasanmu memang tak pernah mengalami delay. Semoga saja mati satu netas seribu.

Kebumen, 6 Mei 2016

Substansi Kefakiran

Oleh Kuswaidi Syafiie

Hadits yang seringkali dikutip oleh para penceramah dalam berbagai pengajian mengenai kefakiran adalah bahwa kondisi pas-pasan dakam kehidupan itu akan senantiasa  menjerumuskan mereka yang mengalaminya pada jurang kelam kekafiran. "Kada al-faqru an yakuna kufran," begitulah sabda Baginda Rasulullah SAW.

Konotasi kefakiran pada hadits di atas tentu saja mengacu pada situasi keterdesakan seseorang secara ekonomi sehingga dia merasa terhimpit dan digebuk oleh kegetiran dalam kenyataan hidupnya sendiri. Dengan kadar dan frekuensi keimanan yang pas-pasan, getirnya kehidupan itu dikhawatirkan menggiring orang tersebut pada ambrolnya nilai-nilai religiusitas yang bersemayam dalam batinnya dan kemudian diganti dengan munculnya benih-benih kekafiran. Na'udzu billahi min dzalik!

Akan tetapi tentu saja kefakiran itu tidak serta-merta menjadi destruktif terhadap setiap tingkatan keimanan semua orang. Seseorang yang keimanannya telah sanggup mengantarkan pada kedudukan dan kesadaran spiritual tentang sankan paraning dumadi, mengenai asal-usul dan akhir dari segala sesuatu, termasuk juga dirinya, ia tidak akan tersentuh oleh destruksi kefakiran.

Malah yang seringkali terjadi justru sebaliknya: kefakiran itu lalu menjadi penegas terhadap kecemerlangan spiritualitasnya. Dengan kefakiran tersebut, dia justru akan dengan pasti mengalami dan merasakan kenikmatan transendental dari sebuah ayat keagungannpNya yang menyatakan: "Ya ayyuhan nas antumul fuqara ilallah/ Wahai manusia, kalian semua sungguh faqir (sangat butuh) kepada Allah," (QS. Fathir: 15).

Ketika kesadaran tentang awal dan akhir itu berkelindan secara solid dengan substansi kefakiran dalam diri seseorang, dia akan betul-betul mengenal siapa sesungguhnya dirinya. Akan menjadi begitu tampak di hadapan penglihatan batinnya bahwa dia sendiri, juga seluruh partikel yang mengapung dan bertebaran di segenap alam raya, ternyata "hanyalah" sebuah nuktah yang disebulkan oleh hadiratNya atas nama cinta dan kasih sayang yang senantiasa membahana.

Tidak boleh tidak, di saat kesadaran transendental itu membuncah, siapa pun yang telah mengalaminya akan memahami sekaligus merasakan bahwa kefakiran itu merupakan sesuatu yang akan senantiasa inheren pada sekuruh makhluk. Tidak akan pernah sejenak pun makhluk-makhluk terbebaskan dari cengkraman kefakiran, baik hal itu disadari maupun tidak.

Dalam konteks dan wacana sufisme, arti dan substansi kefakiran itu berkonotasi pada adanya dua pemaknaan. Yang pertama adalah kefakiran yang dipahami sebagai rasa butuh yang terus-menerus dan tak mengenal jeda kepada Allah SWT. Alasannya saya kira sudah jelas: seluruh makhluk tidak akan ada yang bisa eksis tanpa ditopang oleh pertolonganNya.

Sedangkan yang kedua adalah kefakiran yang dipahami dan dirasakan secara spiritual bahwa tidak tidak ada apapun yang betul-betul dimiliki oleh makhluk. Bahkan diri mereka sendiri, hidup dan mati mereka, sehat dan sakit mereka, muda dan tua mereka, jaga dan tidur mereka, dunia dan akhirat mereka: semua itu sama sekali bukanlah milik mereka, tapi milik Allah SWT semata.

Karena manusia merupakan makhluk yang paling mulia sebagaimana yang diisyaratkan oleh firmanNya, "Demi telah kumuliakan anak-cucu keturunan Adam," (QS. Al-Isra: 70), maka dimensi dan substansi kefakiran manusia menjadi lebih sempurna dan lebih mulia dibandingkan dengan kefakiran yang bersemayam pada makhluk-makhluk yang lain.

Jelas kemudian merupakan sesuatu pasti bahwa makin kuat kefakiran atau rasa butuh seseorang kepada Allah SWT, maka dia menjadi semakin mulia dan terhormat di hadapan hadiratNya. Hal itu tidak lain merupakan sebuah cerminan cemerlang dari kesadaran hakiki seseorang tentang kedudukan Allah SWT sebagai prima kausa di satu sisi, dan kedudukan dirinya sendiri sebagai efek semata dari kehendakNya pada sisi yang lain.

Dalam kitab Sirr al-Asrar fi Kasyf al-Anwar yang digubah Imam Ahmad al-Ghazali (wafat pada 520 H), ada tiga jenjang kefakiran yang mesti ditempuh secara spiritual oleh orang-orang beriman. Pertama, faqr al-dzat. Yaitu pengakuan mengenai adanya rasa butuh terhadap kemahaesaanNya dalam memberikan pertolongan terhadap seluruh makhluk. Dalam hal ini, baik orang beriman maupun orang yang kufur akan sama-sama menyeru Allah SWT ketika mereka merasa terdesak menghadapi kondisi getir yang menggocoh mereka.

Kedua, faqr al-shifat. Yaitu kefakiran yang dirasakan dan dialami para wali. Ketika dengan karunia Allah SWT mereka terbebaskan dari berbagai belenggu dunia ini dan jebakan akhirat nanti, lalu mereka sampai pada alam tauhid yang murni, maka semua sifat yang semula dinisbatkan kepada mereka seperti tamak, syahwat, menggebu terhadap pangkat dan kekuasaan: semua itu lenyap dari diri mereka.

Mereka laksana burung yang tidak sanggup terbang karena sayapnya tergunting habis. Mareka lalu merasa sangat membutuhkan sifat-sifat kemuliaan yang dikirim dari arah hadirat Allah SWT agar bisa melesat terbang menuju "alamatNya".

Ketiga, faqr al-af'al. Yaitu kefakiran yang disandang oleh para nabi. Pada setiap mau melakukan tindakan dan mengambil keputusan, mereka senantiasa membutuhkan izin Allah SWT terlebih dahulu. Andaikan izin itu tak ada, mereka tidak akan pernah lancang untuk melakukan sesuatu atau mengambil keputusan apapun.

Sungguh, itulah kehidupan rabbani yang amat cemerlang dan menawan. Wallahu a'lamu bish-shawab.


Kuswaidi Syafiie, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Rona Manusia

“Aku memahami seluruh nafasmu kekasih, mana yang hitam dan mana yang putih, lalu kuhitung-hitung pengkhianatan itu, tapi tak selesai juga,” (Tri Astoto Kodarie, "Hujan Meminang Badai," 1989).

Saya percaya, bahwa di setiap detik waktu yang kita punya, selalu ada kemungkinan kekecewaan yang akan kita rasakan. Sumber dan pelakunya bisa bermacam-macam. Dari mulai benda hingga manusia. Apa yang tampak kelihatan baik, tak sepenuhnya bisa dipercaya, dan apa yang tampak kelihatan buruk, tak seharusnya dicerca begitu rupa. Maka, bersikap sewajarnya namun juga kritis dan selalu waspada dapat menjadi pilihan terbaik sebelum kita terjebak pada dua masalah; kecewa dan buruk sangka.
 
Di samping dapat menjadi sumber kebaikan dan keburukan, manusia adalah segugus realitas yang juga dapat menjadi sumber kekecewaan dan sekaligus sumber buruk sangka. Dalam waktu yang bersamaan, manusia bisa tampak kelihatan baik sebelum kemudian terlihat begitu buruk. Dengan demikian, baik dan buruk, mengecewakan-membahagiakan merupakan dua potensi yang seluruhnya ‘mengumpul’ dalam diri setiap manusia.
 
Maka, tak usah kecewa ketika sesuatu yang sebelumnya terlihat baik kemudian berubah menjadi terlihat buruk. Dan tak perlu buruk sangka pada sesuatu yang terlihat jelek karena selalu ada peluang baginya untuk kembali menjadi baik. Itulah dunia. Itulah dialektika, yang dengannya kita tahu bahwa memang tak ada yang benar-benar ajeg-abadi dalam kehidupan ini.
 
Ketika saya memberikan jutaan pujian bagi seseorang karena sikapnya yang menyenangkan, maka bisa saja saya kehilangan kewaspadaan karena saya hanya melihat satu sisi dari bagian hidupnya saja. Tapi ketika saya begitu marah pada seseorang terhadap kelakuannya yang mengecewakan, itu tandanya saya masih belum mampu melihat secara total bahwa pada diri setiap orang itu memang telah melekat potensi-potensi keburukan yang bisa muncul kapan saja.
 
Pada setiap realitas, selalu ada pertentangan yang tak usai-usai. Termasuk dalam diri kita, setiap manusia. Dalam pertentangan itu, yang penting disoroti bukanlah apa yang dominan terlihat. Sebab yang dominan terlihat itu akan sangat mungkin dikubur oleh kenyataan-kenyataan lain sesudahnya.
 
Mungkin ada benarnya yang dikatakan Vernunft, bahwa melakukan identifikasi dengan adil merupakan cara yang tepat untuk memahami sebuah realitas, termasuk di dalamnya adalah manusia itu sendiri. Dan barangkali dengan identifikasi itulah kita dapat membuat semacam sintesis bahwa apa pun yang tampak dari setiap manusia, entah kebaikan atau keburukannya, keduanya sama-sama memiliki batasannya sendiri-sendiri.
 
Karenanya, saat manusia terlihat baik, jangan tergoda untuk mendewakannya karena kita tidak mengerti keburukan apa yang dia miliki yang akan menjadi pembatas bagi kebaikannya. Sebaliknya, saat manusia terlihat buruk, jangan terpancing untuk menistakannya sebab kita tidak tahu kebaikan apa yang dia miliki yang kelak akan menjadi pembatas bagi keburukannya.
 
Cintai yang kamu cintai, sekedarnya. Karena bisa jadi besok kau membencinya. Bencilah yang kamu benci sekedarnya juga. Siapa tahu besok kau mencintainya. Begitu kata Nabi. 

Kebumen, 15 April 2016

Cerita Bersama Anak (Bagian 1)

Ataka dan Najwa
Hampir semua buku cerita sudah saya bacakan untuk Aunillah.  Belum lagi cerita-cerita dadakan yang saya karang sendiri dengan tema-tema yang beragam. Mulai dari tema pohon, hewan, kendaraan, pesawat dan sebagainya. Cerita dadakan biasanya saya sampaikan kalau sebelumnya tidak sempat menyiapkan cerita baru untuknya.
 
Dan seperti biasa, tadi malam selepas Isya kami, Ataka, Najwa dan istri saya duduk-duduk di teras. Aunillah menyebut kegiatan itu sebagai kegiatan bersantai-santai sambil makan bersama. Setelah acara makan malam selesai, dia pun kembali meminta saya bercerita. Sayangnya saya tak memiliki persiapan bahan cerita.
 
Sebagai alternatifnya, saya ambil Al-Qur'an terjemahan dan mulai membaca ta'awwudz, basmalah hingga hamdalah. Saya bacakan terjemahnya dan saya rangkai-rangkai dengan cerita-cerita yang memungkinkan untuk dia pahami. Saat sampai pada bahasan tentang hamdalah, saya jelaskan kepada anak saya bahwa kita harus selalu banyak berterima kasih kepada Allah.
 
"Kenapa?" tanyanya sambil menikmati camilannya.
 
"Karena Allah-lah yang memberi kita banyak rizki. Salah satunya camilan yang kamu makan itu," jawab saya.
 
Sejenak saya lihat dia terdiam. Lalu kemudian meluncurlah dari mulutnya;
 
"Ohh, maksudnya begini ya. Misalnya ini Ata lagi makan camilan yaa. Nah, terus yang ngasih camilannya itu sebenarnya Allah? Cuma lewat bakul (penjual)?"
 
"Betul."
 
"Berarti kalau besok Ata dibelikan baju tentara sama tante Esti, itu yang ngasih juga Allah, cuma lewat Tante?" tanyanya lagi.
 
"Iya. Memang begitu?"
 
"Terus, sama bakulnya, sama Tante Esti, apa juga bilang terima kasih?"
 
"Ya, harus."
 
"Laa, kenapa harus berterima kasih. Kan yang ngasih Allah?"
 
"Soalnya tante Esti dan bakulnya itu sudah bantuin menyampaikan kiriman Allah sama Ata."
 
"Oohh."
 
"Menurut Ata, berterima kasih kepada Allah itu bagaimana caranya?"
 
"Ya, baca alhamdulillahi rabbil alamin. Terus shalat, terus ngaji, berdoa sama bantuin memadamkan api kalau ada orang yang rumahnya kebakaran."
 
Saya terdiam sebentar mendengar jawaban-jawabannya. Dalam hati saya berdoa, "Ya, Allah, jadikanlah dia anak yang shalih dan selalu memahami, menyadari dan mengetahui kehadiran-Mu dalam setiap peristiwa hidupnya kelak. Amin." 

Kebumen, 4 April 2016.

Jahiliyah; Periode atau Watak?

http://figures.boundless.com/24955/full/plate8cx.jpe
Seringkali kita mendengar -biasanya melalui mimbar khutbah atau ceramah, kata-kata seperti, “Mari bersyukur kepada Tuhan yang telah mengeluarkan kita dari alam jahiliyah menuju alam islamiyah, alam yang penuh dengan cahaya keimanan.” Dan jamaah pun tertunduk. Sebagian mengangguk-angguk.

Pernyataan seperti itu sejatinya tak banyak menjelaskan fakta apa pun yang tersimpan di balik kata-kata ‘alam jahiliyah’. Setidaknya kita bisa bertanya; apa alam jahiliyah itu dan apa alam islamiyah? kapan terjadinya situasi jahiliyah dan apakah ia seketika menghilang dengan datangnya islam?

Selama ini, kita memahami bahwa zaman jahiliyah sangatlah identik dengan masyarakat Arab pra-Islam yang doyan menyembah berhala, penjudi, pemabuk dan senang perang, terutama atas nama klan. Bahkan ia dipahami sebagai zaman kebodohan, yang barangkali pengertian tersebut diambil dari akar kata yang membentuk istilah jahiliyah itu sendiri, yaitu jahl.

Tetapi, menisbatkan kata jahiliyah pada masyarakat Arab pra-Islam dan memaknainya sebagai masyarakat yang hidup dalam kebodohan, tentu merupakan kekeliruan besar. Bila yang dimaksud kebodohan di situ adalah kebodohan dalam mengenal Allah atau bertauhid, mungkin argumen itu bisa diterima. Tapi tidak dengan lainnya.

Meski demikian, istilah tersebut tidak bisa dibatasi hanya pada keadaan masyarakat Arab Mekkah sebelum datangnya Nabi Muhammad. Sebab sebagian pendapat mengatakan bahwa zaman jahiliyah itu juga terjadi antara periode Nabi Adam sampai Nabi Nuh dan kemudian antara Nabi Isa sampai Nabi Muhammad Saw. Bila demikian, masa-masa transisi sejak wafatnya seorang nabi hingga lahirnya nabi berikutnya kemungkinan di masa-masa itu bisa juga terjadi zaman jahiliyah. 

Mengartikan istilah jahiliyah sebagai kebodohan secara tidak langsung telah menjadikan istilah tersebut berdiri sebagai lawan dari istilah ilmiyah. Kebodohan vs Pengetahuan. Dan kurang tepat apabila kita memahami kebodohan dalam istilah jahiliyah itu sebagai kebodohan sebagaimana yang kita bayangkan seperti kurang intelek, tidak kreatif dan semacamnya.

Terhadap masalah ini, para ilmuwan sebenarnya telah dengan tegas menepis adanya anggapan bahwa masyarakat Arab ketika itu adalah masyarakat yang bodoh, kurang intelek dan tidak kreatif sehingga mereka sering kita sebut sebagai masyarakat jahiliyah. Bukti betapa inteleknya masyarakat Arab waktu itu tercermin salah satunya dari tantangan yang diberikan Allah agar mereka membuat satu ayat yang serupa atau mirip dengan Al-Qur’an seandainya mereka ragu bahwa Al-Qur’an itu firman Allah, melainkan ciptaan Muhammad.

Hingga saat ini, tidak seorang pun dari pakar bahasa Arab paling super sekalipun yang mampu membuat ayat sebagaimana Al-Qur’an. Bila demikian, tantangan yang diberikan Allah kepada masyarakat Arab waktu itu bukanlah tantangan yang asal dilontarkan. Allah menantang mereka karena mereka merasa sangat pandai dalam ilmu bahasa dan sastra (kenyataannya memang demikian) meskipun kemampuan yang mereka miliki pada akhirnya tidak juga mampu menandingi keagungan bahasa atau firman Allah SWT. Bahkan hingga hari ini.

Sejarah mencatat bahwa masyarakat Arab ketika itu begitu piawai membuat syair, di samping berdagang. Bahkan setiap tahun selalu ada festival yang mereka sebut sebagai Festival Okadz, sejenis pekan raya atau pasar malam yang di dalamnya tidak hanya berlangsung transaksi jual beli semata. Dalam festival itu, semua penyair datang. Mereka mengadu karya sastra dan membacakannya di depan publik. Syair terbaik akan dipilih dan kemudian digantung di sisi Ka’bah.

Lalu, bagaimana kita memahami istilah jahiliyah? Apakah istilah itu berhubungan dengan tempo, zaman atau ia sesungguhnya merupakan watak, karakter dari sebuah kepribadian manusia dan akan selalu ada sepanjang sejarah hidup manusia?

Dalam Al-Qur’an, terdapat beberapa ayat yang secara tegas menyebut kata-kata jahiliyah. Pertama, dalam surat Al-Ahzab ayat 33, Allah berfirman agar para wanita (istri-istri Nabi) tidak berhias sebagaimana wanita-wanita jahiliyah. Setelah larangan itu kemudian Allah mengikutinya dengan perintah shalat. Dalam konteks ayat tersebut, Allah mempertentangkan tingkah laku wanita jahiliyah yang suka berhias dengan shalat, zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya.

Bila demikian ayat itu berkata, menurut hemat saya, jahiliyah itu bukan lagi soal tempo, waktu atau zaman tertentu. Ia bisa muncul dimana saja, kapan saja sebagai sebuah watak, karakter. Ayat tersebut hanya merespon kebiasaan masyarakat di zaman Arab pra-Islam, dan kebiasaan itu tidak otomatis terkubur hanya dengan datangnya Islam.

Masalahnya kemudian adalah, ayat di atas seringkali disitir oleh sebagian kalangan yang begitu getol menyuarakan pentingnya berbusana ‘sesuai’ syariat Islam dan membenturkannya dengan kebiasaan wanita jahiliyah dalam berhias tanpa mempertimbangkan informasi sejarah tentang bagaimana sebenarnya wanita Arab pra-Islam dulu berbusana sehingga disifati sebagai wanita-wanita jahiliyah. Akibatnya, muncul gerakan-gerakan yang lancang menuding bahwa cara berkerudung khas wanita Indonesia tempo dulu sebagaimana berkerudungnya ibu Shinta Nuriyah misalnya, sebagai kerudung yang tidak Islami, berkerudungnya Hughes sebagai kerudungnya ala jahiliyah karena ada benjolan mirip punuk unta sebagaimana sebuah hadis Nabi berkata demikian. Dan sebagai gantinya, dimunculkanlah busana yang menurut mereka ‘Islami’ dalam bentuk hijab, kerudung lebar plus cadar.

Salahkah pakaian seperti itu? Tentu saja tidak salah. Yang salah barangkali adalah ketika tidak ada upaya untuk mengkaji lebih dalam tentang kebiasaan wanita Arab tempo dulu dalam berhias sebagaimana disinggung oleh ayat ‘jangan berhias dan berperilaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu.’ Akibatnya kemudian tidak ada criteria yang jelas, yang bisa dipaparkan tentang berhiasnya wanita jahiliyah itu seperti apa, tingkah mereka seperti apa dan seterusnya. Karena tidak ada criteria yang jelas, maka siapa pun bisa dengan seenaknya memberikan statemen membabi buta.

“Pokoknya pakaian wanita yang selain hijab, tidak berjilbab, tidak bercadar, tidak memanjangkan baju hingga menutup kedua kakinya adalah gaya pakaiannya wanita jahiliyah, minimal bertingkap seperti wanita jahiliyah.” Yang begini ini kan parah. Apalagi bagi muslimah di Papua yang setiap hari bisa keluar-masuk hutan, gunung demi mencari sagu. Atau bagi muslimah pedesaan yang biasa ikut menanam padi di sawah. Mosok cadaran, hijaban, dengan baju lebar yang menutup kedua kaki?   

Uraian Fuad Hashem tentang kebiasaan dan perilaku wanita Arab pra-Islam barangkali dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan untuk memahami kebiasaan mereka sehingga Islam kemudian melarang istri-istri Nabi mengikutinya. Konon, para wanita Arab pra-Islam dinilai melalui fisiknya, mulai dari rambut, pipi, kelopak mata dan bibir. Selain itu, mereka juga dinilai dengan caranya berdandan. Mereka mengenakan wewangian dan selalu membawanya di dalam saku setiap kali pergi. Wewangian menyebar dengan lewatnya seorang wanita.

Tak cukup sampai di situ, mereka juga mengenakan pakain dengan asesoris yang mencolok. Pakaian mereka panjang menyapu-nyapu tanah, sangat longgar, bagian depan terbelah tetapi ada kancing di bagian leher. Sehelai selendang melilit di pinggang. Cadarnya dibuat dari tenunan tipis lagi jarang, terkait pada lingkaran di kepala, dirias dengan mata uang dan jalinan mutiara dan menggantung sampai kaki.

Bila mereka berasal dari keluarga bangsawan, pakaian yang dikenakan bukan dari sembarang bahan; baju sutera, linen dengan warna yang mereka sebut ‘lembayung raja’, warna yang diperoleh dari kelenjar kista kecil yang terdapat di dekat kepala kerang murex, dicampur air dan dibasahkan ke linen. Bila terkena sinar matahari warnanya berubah menjadi lembayung merah cerah dan ini biasanya dikenakan oleh mereka yang berasal dari bangsawan dan hartawan. Bahkan semua perhiasan paling mahal yang dimiliki mereka jalin dengan seutas benang sutera dan jadikan sebagai asesoris yang menempel di pakaian mereka, menjuntai-juntai dan mereka kenakan kemana saja mereka pergi. Entah ke pasar dan lebih-lebih ke tempat-tempat dimana mereka menyembah berhala.

Maka menurut saya (maaf, bukan manafsirkan) tak heran kalau ayat 33 dalam surat Al-Ahzab itu Allah mempertentangkan cara berhias dan perilaku wanita jahiliyah itu dengan perintah shalat yang tak memerlukan semua perhiasan macam itu. Cukup menutupi aurat dengan sempurna.

Kedua, dalam surat Al-Fath ayat 26, Allah juga berfirman, “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Tak jauh berbeda dengan surat Al-Ahzab, dalam surat Al-Fath ini Allah juga mempertentangkan kesombongan (kesombongan jahiliyah) dengan ketenangan. Bila demikian, seperti apakah sesungguhnya kesombongan jahiliyah itu?

Ignaz Goldzhiher, salah satu pemikir yang banyak mengkaji Al-Qur’an, menaruh perhatian salah satunya pada istilah jahiliyah ini. Menurutnya, jahiliyah bukanlah lawan kata dari ilmiyah, ‘ilm (kepintaran, kepandaian) melainkan sebagai sikap kejiwaan dan watak yang tidak dengan sendirinya mati hanya oleh datangnya Islam. Perwujudannya antara lain dengan adanya sikap congkak, sombong, arogan dan membangga-banggakan klan, suku, dan kelompok mereka. Kemudian juga semangat balas dendam, semangat kasar dan kejam kepada orang atau klan lain yang tak sepaham dengannya yang semuanya mereka tuangkan dengan semangat perang tak berkesudahan demi menunjukkan bahwa mereka yang terbaik, terkuat.

“Kalau tak kami temukan klan musuh, kami perangi saja tetangga dan sahabat, supaya nafsu perang kami jadi reda.” Begitu bunyi sebuah syair Arab kuno. Dengan pemahaman seperti itu, saya yakin bahwa sampai saat ini tidak ada jaminan kalau kita telah benar-benar dikeluarkan dari ‘alam’ jahiliyah, karena jahiliyah itu sendiri bukan soal tempat, zaman, melainkan watak atau karakter kejiwaan seseorang atau golongan.

Pertanyaannya kemudian; apakah saat ini ada orang-orang yang begitu membangga-banggakan klan atau kelompoknya sendiri, yang tercermin dari kebiasaan mereka memerangi klan atau kelompok lain dengan cara menjelek-jelekkan dan menghinanya dengan sedemikian keras dan kasarnya? Ada tidak? Kebiasaan seperti itu, jahiliyahkah atau islamiyahkah?.

Mari renungkan, teman!