Diberdayakan oleh Blogger.

Antara Kiai Ali dan Saadah

https://sintayudisia.files.wordpress.com/2013/01/karikatur-kita1.jpg
Seperti Ramadhan sebelum-sebelumnya, Kiai Ali menyambut gembira datangnya Ramadhan tahun ini. Berbagai persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari, seperti rajin olah raga jalan pagi, dan terutama minum ramuan-ramuan tradisional yang berkhasiat menjaga stamina tubuh. Semua itu dilakukan karena biasanya ketika memasuki Ramadhan aktivitas Kiai Ali semakin bertambah padat. Ia harus mengimami shalat taraweh, menghatamkan Al-Qur’an dan beberapa kitab bersama hampir dua ratus orang santri-santrinya.

            Dan khusus Ramadhan tahun ini Kiai Ali berencana akan membuat agenda kegiatan baru yang akan dilakukan bersama santri-santrinya itu.

            “Ramadhan tahun ini, tidak ada seorangpun yang boleh pulang kecuali setelah idul fitri. Itu artinya, selama bulan puasa kalian semua harus di pesantren.”

            Demikianlah pengumuman yang baru disampaikan oleh Kiai Ali sehabis mengimami shalat isya’ malam itu. Dan pengumuman itu sontak membuat semua santri terkejut. Mereka tidak menyangka akan ada peraturan baru seperti itu. Biasanya, lima belas hari sebelum idul fitri, aktivitas pesantren sudah mulai diliburkan dan para santri dengan gembira akan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Tetapi pengumuman yang baru saja disampaikan oleh Kiai Ali sungguh berada di luar dugaan para santri.

            Bermacam-macam tanggapan mulai bermunculan di benak santri. Mereka benar-benar tidak menduga Kiai Ali membuat ketentuan baru yang bagi mereka sungguh tidak diharapkan. Bagaimana mungkin selama bulan Ramadhan mereka harus berada di pesantren. Bukankah bagi santri menjalankan ibadah puasa bersama keluarga jauh lebih mengesankan?

            “Ini tidak adil,” bisik Sami’un kepada Zhairi di sampingnya.

            “Ya. Benar. Ini ketentuan yang tidak adil,” tanggap Zhairi, “masak kita sebulan penuh harus berpuasa disini. Bisa stress kita?”

            Sekalipun kedua santri ini sangat keberatan dengan perintah baru Kiai Ali, tetapi sebagaimana santri-santri lainnya, keduanya tetap tidak memiliki keberanian untuk membantah. Keduanya tahu dengan siapa berhadapan. Di pesantren, tak ada yang berani membantah kata-kata Kiai Ali. Ia sangat dihormati dan tak satupun santri yang tidak merasa segan berhadapan dengan beliau.

            Sami’un menghela nafas. Terasa ada yang mengganjal di dadanya. Diantara para santri lainnya, dialah yang merasa paling dirugikan dengan ketentuan baru itu. Bagaimana tidak, jauh-jauh hari ia sudah membuat rencana yang akan dilakukan bersama keluarga saat pulang di bulan puasa tahun ini. Apalagi sudah hampir lima tahun ia tidak pulang kampung dan rencananya Ramadhan tahun ini ia baru akan pulang. Tetapi, apa yang baru saja disampaikan Kiai Ali itu membuatnya lemas namun juga geram. Ahh..payah. Gagal sudah rencanaku. Gerutu Sami’un dalam hati.

            “Nah, saya yakin kalian semua akan senang dan saya jamin kalian juga akan mendapatkan banyak pengalaman baru pada Ramadhan tahun ini. Sebab saya akan membuat sebuah kegiatan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.”

            Suara Kiai Ali dari tempat imam seperti jarum yang menusuk-nusuk perasaan Sami’un. Ia hanya tertunduk. Namun hatinya penuh gemuruh. Ada keinginan untuk mengutarakan keberatannya dengan keputusan itu, namun lagi-lagi ia tak berani. Terlalu kuat kharisma kiainya itu untuk dibantah sebagaimana terlalu tajam sorot kedua matanya untuk ditatap. Maka tak heran kalau setiap santri yang berbicara dengan beliau akan tertunduk-tunduk bagai ilalang layu kekurangan air.

            Sampai semua santri bubar dan kembali ke bilik pondok masing-masing, Sami’un masih tetap tertunduk di atas sajadahnya. Pikirannya masih terus dihantui oleh pernyataan yang baru saja disampaikan Kiai Ali. Pernyataan itu, benar-benar telah mengubur impiannya untuk pulang kampung. Menuntaskan segala dendam kerinduannya kepada keluarga setalah lima tahun lamanya tak bersua. Namun di balik itu semua, ada alasan lain bagi Sami’un yang membuatnya benar-benar keberatan dengan perintah Kiai Ali.

Ya, Ramadhan tahun ini dia sudah berjanji untuk menemui Sa’adah. Perempuan sekampung yang sedang belajar di Kairo. Ramadhan tahun ini Sa’adah mendapatkan libur panjang. Melalui media facebook, perempuan itu mengutarakan keinginannya untuk bertemu Sami’un. Betapa girang hati Sami’un mendengar keinginan perempuan yang selama ini diidam-idamkan itu.

“Sejak berangkat ke Kairo, sudah hampir tujuh tahun aku tidak bertemu dengan dia,” kata Sami’un dengan suara berat. Dan Zhairi hanya mengangguk-angguk mendengarkan.

“Jadi itu alasannya kamu memutuskan untuk tidak pulang selama lima tahun?”

Sami’un mengangguk. “Salah satunya. Dan kau tahu kan, apa yang sudah kucapai selama ini? Aku salah seorang santri yang oleh Kiai Ali disebut-sebut sebagai santri paling mahir baca kitab kuning. Aku kan, yang sering dipercaya menggantikan beliau kalau sedang berhalangan memberi pengajian. Dan aku berusaha keras untuk itu. Aku mati-matian belajar untuk bisa baca kitab agar aku bisa mengimbangi kecerdasaan Sa’adah.”

“Untuk apa?”

“Ah..kau ini bodoh sekali. Ya jelas, agar aku tidak malu seandainya ngobrol dengan dia. Kau tahu, kan, dia sekolah di Kairo. Pasti baca kitabnya jago. Terus apa yang harus aku perbuat jika dia ingin menjajal kemampuan baca kitabku. Setidaknya, meski aku tidak sekolah di Kairo, aku masih bisa menjawab tantangannya.”

Zhairi hanya senyum-senyum. “Ah, kamu terlalu berlebihan. Iya kalau dia sampai mengujimu. Kalau tidak? Atau jangan-jangan kamu naksir dia, ya?”

“Ah, sudahlah. Tak perlu dibahas. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya agar rencana Kiai Ali tidak jadi terlaksana.”

“Kau apa-apaan. Bagaimana mungkin. Memangnya kamu berani mengajukan keberatanmu sama Pak Kiai?”

Mendengar pertanyaan Zhairi, Sami’un kembali terdiam. Apalagi pada saat itu juga Junaidi, teman sekamarnya memanggil-manggil dan mengajaknya makan. Dengan langkah gontai Sami’un berjalan keluar dari dalam masjid. Baginya, pernyataan Kiai Ali barusan benar-benar membuatnya kehilangan semangat. Ia bahkan tidak bisa menikmati makan malamnya meski perutnya terasa lapar. Setelah makan, Sami’un hanya tiduran di depan kamar pondoknya. Pikirannya selalu tertuju pada Sa’adah. Ah, seperti apa gadis yang sejak dulu selalu menghiasi mimpi-mimpinya itu sekarang?

Dan kenangan itu pun kembali terlontar ke dalam benak Sami’un. Ia tak akan pernah lupa betapa dulu ia sangat mengagumi Sa’adah. Sejak SMP, perempuan itu selalu mencuri perhatiannya. Sikapnya yang lembut dan dewasa membuat Sami’un selalu berpikir bahwa perempuan seperti itulah yang pantas mendampingi hidupnya kelak. Dulu ia sendiri sendiri merasa heran. Mengapa di usianya yang masih belia ia sudah berpikir tentang kehidupan rumah tangga. Namun akhirnya ia sendiri tahu alasannya. Semua karena kesempurnaan Sa’adah itu di matanya.

            Lembar demi lembar kenangan terus berlesatan memenuhi benak Sami’un. Dan kenangan yang paling tidak bisa ia lupakan adalah ketika sekolah mengadakan liburan bersama ke sebuah pantai. Entah jodoh atau kebetulan, di dalam bis, Sa’adah duduk bersebelahan dengan dirinya. Ini kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pikir Sami’un waktu itu. Maka sepanjang perjalanan, di saat teman-temannya yang lain sibuk melihat-lihat pemandangan di luar, Sami’un justru asyik berbagi cerita dengan Sa’adah. Perempuan yang telah membuat hidupnya terasa berwarna.

            “Kemana kau akan melanjutkan setelah lulus nanti?” tanya Sa’adah sambil mulutnya mengunyah permen sehingga bibirnya yang selalu bergerak-gerak itu membuat Sami’un tertarik untuk terus melihatnya.

            “Ke pesantren,” jawab Sami’un sambil tetap mencuri-curi pandang agar terus dapat melihat bibir Sa’adah di sampingnya.

            “Ke pesantren? Kok sama?” 

            “Benarkah. Kau juga ke pesantren. Pesantren mana?” tanya Sami’un dengan girangnya. Dia berharap Sa’adah akan dikirim ke pesantren yang sama dengan pesantrennya tempat ia mondok nanti.

            “Kiai Muhammadun.”

            “Kamu?”

            Sami’un membuang nafas setelah mendengar jawaban Sa’adah barusan. Ada rasa kecewa di hatinya. Namun Sami’un berusaha untuk menyembunyikan perasaan itu. Sami’un tidak ingin Sa’adah mengetahui kalau dia kecewa. Lebih-lebih ia tidak ingin Sa’adah mengetahui kalau diam-diam ia menaruh hati padanya. Biarlah perasaan itu ia pendam. Pikir Sami’un. Ada waktu tersendiri yang lebih tepat untuk mengutarakan perasaannya pada perempuan itu. Begitulah hibur Sami’un pada dirinya. Tetapi sebenarnya ia tidak berani. Sama seperti Faki teman sebangkunya.

Sa’adah...Sa’adah. Andai saja kita bisa sekolah di pesantren yang sama, tentu aku memiliki waktu yang cukup untuk selalu melihatmu.

            “Heh...melamun. Sudah sampai nih.”

Sami’un tergeragap. Lengan kanannya terasa sakit. Namun ia segera menyadari bahwa ternyata Sa’adah baru saja mencubitnya. Sambil senyum-senyum Sami’un bergegas untuk turun dari dalam bis.

“Ingat ya. Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

“Nanti aku akan memberitahumu.”

Perasaan kecewa yang dialami Sami’un makin lengkap saja. Di pantai, ia berusaha agar bisa selalu dekat dengan Sa’adah. Tetapi perempuan itu malah asyik bersama teman-teman perempuan yang lain. Maka untuk mengobati rasa kecewanya ia ikut masuk ke laut. Setelah merasa lelah bermain air bersama teman-temannya, Sami’un memutuskan untuk menyendiri. Sengaja ia memilih tempat yang agak jauh dari rombongan agar ia bisa leluasa mengingat kembali peristiwa yang dialaminya bersama Sa’adah di dalam bis tadi. Tetapi tak lama berselang Sami’un akhirnya dikejutkan oleh suara Sa’adah.

Rupa-rupanya, Sa’adah tadi melihat ketika ia mendatangi tempat itu. Di bawah sebatang pohon bakau yang jarang-jarang daunnya, keduanya kembali terlibat dalam sebuah percakapan yang membuat Sami’un kembali terbuai. Meskipun Sami’un belum berani mengutarakan perasaannya, tetapi kedatangan Sa’adah menemuinya di saat seperti itu bagai sebuah pertanda bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Begitu yang terlintas dalam benak Sami’un.

Maka meluncurlah obrolan-obrolan ringan dari mulut Sami’un yang tak pernah lelah mengumbar senyum di hadapan Sa’adah. Saat kehabisan bahan untuk diceritakan, Sami’un mencoba untuk sedikit bersikap romantis.

“Kalau kamu lihat bentangan laut di depan kita ini, -kata Sami’un memulai cerita romantisnya- maka gemuruhnya seperti perasaan seseorang ketika sedang jatuh cinta atau sedang rindu pada orang lain.”

Meski Sa’adah menanggapinya dengan sikap biasa-biasa saja namun selalu ada tafsiran-tafsiran baru dalam benak Sami’un yang membuatnya semakin yakin bahwa gadis di sampingnya ini juga menaruh hati padanya. Dan tafsiran-tafsiran itulah yang selalu membuat Sami’un tak henti-hentinya mengumbar senyum. Bersemangat memberikan cerita. Ia ingin menumpahkan kegirangannya, perasaannya kepada gadis yang begitu ia kagumi.

“Heh, senyam-senyum sendirian. Dengar tidak sih. Tuh dipanggil Romo Kiai,” suara Zhairi membuyarkan lamunan Sami’un. Di ujung deretan pondok yang ditempati, ia melihat Kiai Ali berdiri, melambaikan tangan padanya. Dengan langkah penuh hormat dan tersipu, Sami’un pergi mendekat.

“Mi’un. Kamu tidak keberatan kalau besok nemani Chairil?” tanya Kiai Ali.

“Saya mbah Kiai. Memang Gus Chairil hendak pergi kemana?”

“Begini, -Kiai Ali kemudian bercerita kalau puteranya yang bernama Chairil itu sudah waktunya untuk menikah. Sudah banyak calon yang ditawarkan, namun semuanya ditolak oleh Chairil. Menurut Chairil, hanya ada satu orang yang membuatnya benar-benar tertarik. Tetapi ia tidak tahu seperti apa keluarganya.

“Nah, aku minta tolong kamu nemani Chairil untuk melihat lebih dekat seperti apa keluarganya. Atau mungkin keluargamu bisa menjelaskan seperti apa kedua orangtua perempuan yang disukai Chairil itu. Kamu tidak keberatan, kan?”

“Sama sekali tidak, Kiai.”

“Oh..ya. Kalau tidak salah nama kampungnya sama dengan nama kampungmu lho. Ya. Benar. Nama perempuan itu...Sa’adah. Ya, Sa’adah. Sekarang dia sekolah di Kairo dan katanya Chairil pernah ketemu dia disana.”

Seperti dentuman dinamit, perkataan Kiai Ali bagi Sami’un seperti melengkapkan kehancuran perasaannya. Dan malam itu, ia langsung berkemas untuk segera hengkang dari pesantren dan berniat meminta ayah-ibunya melamar Sa’adah malam itu juga. Sami’un tak peduli, demi Sa’adah, ia siap berhadapan dengan siapa saja. Termasuk Kiai Ali yang selama ini sangat dia segani.

Minggu Pagi, 2013

Peret Kandung

http://i1345.photobucket.com/albums/p673/humorbendol/ibu_hamil_zps5fceedee.jpg
Arnami, inilah saat yang pernah aku tunggu-tunggu. Melihatmu dalam balutan baju harian sedang duduk khusyuk menghadap ke arah barat. Menjalani sebuah upacara yang konon oleh ayah, ibu, kakek, dan nenekmu dianggap begitu sakral dan mulia. Mungkin karena kesakralannya itulah, sampai-sampai mereka tak pernah menemukan kata selesai membicarakannya. Hampir setiap malam. Saat kita semua berkumpul di teras depan.

            “Pokoknya, upacara ini harus dilakukan. Harus. ”

            Begitulah ucap nenek dengan penuh keyakinan. Aku hanya diam pasrah. Menerima keinginannya yang tak mungkin lagi bisa dibantah. Lagi pula, katamu, tak ada salahnya memberi kesempatan pada orangtua kita itu untuk mengungkapkan kebahagiaan mereka tentangmu. Juga tentang janin yang sekarang bersarang dalam rahimmu.

            “Kau tak perlu khawatir soal biaya, Badri,” hibur kakekmu juga waktu itu.

            Ya, inilah alasan sebenarnya, kenapa diawal-awal aku pernah menolak rencana mereka. Kau tahu kan, untuk upacara semacam ini banyak hal yang mesti harus kita beli. Dan aku pikir saat itu, akan lebih baik jika tabunganku yang tidak seberapa digunakan untuk biaya persalinanmu. Menyambut bayi kita yang pasti lucu. Seperti kamu.

            “Pakdemu akan nyumbang dua ayam putih untuk Rebba. Sementara beras, telur dan bumbu dapur lainnya ditanggung oleh bibinya Arnami.”

            Aku tertegun. Ada rasa malu yang menyelinap dan seketika perasaan itu terbaca juga oleh nenekmu.      

“Tak apa-apa, Badri. Tak perlu sungkan menerima pemberian orang. Itu sudah rejeki anakmu. Nah, kalau aku, kakekmu, bapak dan ibunya Arnami, akan menanggung semua sisa biaya upacara ini. Alhamdulillah kami ada sedikit rejeki.”

Terus terang, Arnami, meski ada perasaan malu, tapi aku juga tak bisa menyembunyikan secuil kebahagiaan yang tiba-tiba ikut lebur dalam kegembiraan yang membuncahi wajah-wajah mereka, orangtua kita. Namun sayang, ibu dan bapakku sendiri tak mungkin datang, ikut merayakan upacara yang sudah lama ditunggu-tunggu keluarga besarmu ini. Atau mungkin saja sebaliknya. Mereka datang, namun kita sendiri tidak merasakan.

Tapi sudahlah. Lebih baik berdoalah untuk kebahagiaan mereka di alam sana. Sekarang yang terpenting adalah dirimu dan calon bayi kita yang makin bertumbuh dan tak lama lagi akan lahir melengkapi hidupmu.

Sekarang dapat kurasakan, Arnami, kebahagiaan yang juga memendar-mendar di raut wajahmu. Binar kedua matamu seperti menyorotkan satu harapan yang sangat besar. Harapan yang barangkali selalu engkau sematkan pada janin kita, bersama lantunan doa-doa panjangmu di setiap malam yang dingin. Sepi.

Dan aku tak ragu lagi untuk mengakui, betapa aku teramat bahagia karena telah memutuskan untuk memilihmu dan menjadikanmu sebagai tempat peraduan paling tepat untuk anak-anakku. Penerus riwayat hidupku. Aku pun yakin engkau pasti berpikir sama sepertiku.

Bukankah begitu, sayang?

Ah, kenapa aku jadi melankolis begini? Tapi biarlah. Mungkin ini adalah akibat dari kebahagiaan yang tak bisa lebih lama lagi kusimpan-simpan.

“Selain itu, anggap saja ini tanda syukur kamu pada Yang Maha Kuasa. Kau sudah menunggu kehamilan istrimu ini begitu lama, kan. Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar, Badri. Sudahlah, kita tetap adakan upacara Pérét Kandung ini,” kata nenekmu meyakinkan.

Aku pun hanya bisa mengangguk. Tak bisa lagi menolak.

Dan akhirnya, seperti sekarang inilah yang aku rasakan, Arnami. Kebahagiaan dan keharuan yang teramat mendalam. Mungkinkah perasaan ini merupakan wujud nyata dari kesakralan upacara Pérét Kandung-mu? Entahlah. Aku hanya bisa menghayatinya. Perlahan-lahan.

//

Saat Nyi Asromo, calon dukun persalinanmu kelak, mulai menutupkan kain putih dari atas kepala hingga pundakmu, aku merasakan aura kesucianmu. Engkau seperti diselubungi oleh semacam kebeningan yang kudus. Engkau terlihat bersih. Putih. Suci.

Aku jadi ingat yang dikatakan ayahmu di suatu malam dulu, “Saat Pérét Kandung, si calon ibu akan ditutupi kain putih. Itu pertanda wanita hamil itu mulia, bersih, suci. Seperti kain putih yang menutupinya.”

Ya, perlahan aku mulai percaya akan kata-kata ayahmu. Arnami, betapa beruntungnya dirimu menjadi seorang wanita mengandung yang sekarang sedang menjalani upacara Pérét Kandung. Engkau dimuliakan, disucikan. Dan kain putih itu seperti menyiratkan sebuah pesan berarti bahwa engkau memang pantas diperlakukan demikian. Atau mungkin itukah sebabnya, Arnami, kenapa Nabi menjamin pahala syahid bagi wanita yang ditakdir tiada saat berjuang melahirkan buah hatinya. Ya, mungkin karena mereka suci, mulia. Seperti yang aku lihat sekarang pada dirimu yang berselubung kain putih itu. Aku rasa, ini benar-benar sakral, Arnami.

Lalu bagaimana dengan pendapatmu? Apa yang kamu rasakan?

Lihat, perlahan Nyi Asromo mulai mengangkat gayung. Gayung yang terbuat dari batok kelapa yang isinya dibiarkan utuh. Putih. Aih, putih lagi. Aku rasa ini seperti sebuah penegasan bahwa wanita mengandung sepertimu memang benar-benar mulia dan pantas disucikan.

Adakah makna lain selain itu, Arnami? Aku ingat lagi apa yang dikatakan nenek saat menyambung perkataan ayahmu malam itu, “Harus pake gayung dari kelapa. Biarkan isinya tetap utuh. Kau tahu, Badri, itu mengandung harapan agar janinmu tumbuh laksana pohon kelapa. Lurus dan kukuh. Semoga anakmupun kelak lurus dan kukuh pendirian sehingga menjadi orang yang suci, bersih, putih hatinya seperti daging kelapa.”

“Selain itu, Badri,” kata kakek menimpali, “gagang gayung itu harus dibuat dari ranting pohon beringin sebesar ibu jari dan panjangnya kira-kira selengan. Ya, selengan. Tapi daun-daunnya tidak boleh dicabut. Itu juga mengandung harapan agar anakmu kelak jadi manusia yang bisa melindungi banyak orang. Seperti pohon beringin itu. Bisa membuat teduh orang yang kepanasan.”

Terus terang, Arnami, aku tak bisa lagi menahan kegembiraan yang terasa makin lengkap. Satu lagi aku merasakan kesakralan dari upacara Pérét Kandungmu ini. Aduh, betapa senangnya janin kita itu, ya. Dia seperti tak putus-putus menerima anugerah berupa harapan-harapan yang baik. Bukan hanya dari kita dan keluarga kita. Tapi dari benda-benda yang sepintas lalu seperti tak mengandung makna apa-apa.

Aku bahagia, Arnami. Bahkan teramat bahagia. Lalu bagaimana denganmu? Aku yakin kau pun tak kalah bahagianya. Iya, kan?

Tapi tunggu. Kenapa sedari tadi kau hanya diam saja, Arnami. Menundukkan kepala seperti sedang menyimpan suatu duka? Ah, mungkin kau tak ingin terlalu mengungkapkan kebahagiaanmu secara berlebihan. Aku tahu itu. Kau memang pendiam. Tak apa, Arnami. Itu memang sifatmu. Aku memaklumi.

Perlahan, Nyi Asromo mencidukkan gayung dari batok kelapa itu ke dalam Kelmo’ yang berisi air penuh bunga. Bunga tujuh rupa yang dibeli dari tujuh tempat yang tak sama. “Langit lapis tujuh, Badri. Bumi juga lapis tujuh. Anakmu harus mandi air bunga tujuh rupa dengan air dari tujuh sumur yang berbeda. Itu semua agar keelokan, kesejukan dan keharuman budi anakmu kelak menyebar ke seluruh semesta.” Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, Arnami, saat nenekmu menafsir sedemikian rupa.

Arnami, aku lihat tangan Nyi Asromo gemetaran saat dia mengangkat gayung penuh air bunga itu dari dalam Kelmo’. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tapi sesaat kemudian, kedua mata perempuan tua itu rapat terpejam. Bibirnya bergerak-gerak seperti sedang merapal suatu mantera. Begitu magis kurasa. Dia terlihat seperti seorang resi yang sedang memasuki kesunyatan alam nirwana. Kupikir ini lebih dari sekadar sakral, Arnami. Ya, lebih dari sekadar sakral.

Kau seakan tersentak saat Nyi Asromo menyiramkan air bunga ke atas tubuhmu yang berbalut kain putih itu. Apakah air itu terasa lebih dingin dari air yang ada di kamar mandi kita, Arnami? Mungkin begitu. Tapi jangan lupa, seperti perintah nenekmu, elus-eluslah perutmu saat air bunga tujuh rupa itu mulai membasahi tubuhmu, membasahi perutmu.

Jangan lupa pula untuk berkata kepada janin kita, “Sejuklah. Sejuklah seperti sejuknya air sumur. Sejukkan hati orangtuamu. Sejukkan hati sesama manusia.” Ya, bukankah seperti itu yang diajarkan nenekmu dulu? Aku yakin kau masih mengingatnya, Arnami.

//

Lihat juga itu, Arnami. Ternyata bukan hanya Nyi Asromo yang memandikanmu dengan air bunga tujuh rupa itu. Melainkan semua. Semua saudara dan tetangga kita yang ikut hadir menyaksikan upacara Pérét Kandung-mu, mereka semua turut pula memandaikanmu. Aku lihat betapa gembiranya wajah mereka.

            Lidahku tiba-tiba kelu menyaksikan semua itu. Tak ada ungkapan apapun yang bisa kuucapkan untuk menyatakan kebahagiaanku yang berlapis-lapis. Mungkin sampai lapis tujuh. Sekarang, aku juga merasakan tentang dirimu yang utuh, Arnami. Engkau bukan lagi sosok wanita yang menjadi istriku, calon ibu anakku, seorang perempuan yang sedang mengandung. Bukan. Kau sudah melampaui semua itu. Kau utuh, dan karena keutuhanmu itulah kau diperlakukan dengan begitu hormatnya.

            Seandainya bukan karena keutuhanmu, Arnami, tak mungkin mereka dengan bangga akan berebut gayung batok kelapa untuk bisa memandikanmu. Menyirami tubuhmu dengan bunga tujuh rupa.

            “Jika bunga yang berhasil kuciduk kebayakan mawar, berarti anakmu perempuan, Arnami,” seru mereka.

            “Haa...tapi lihat, yang banyak kau dapatkan malah bunga melati. Berarti anakmu laki-laki,” timpal yang lain.

            “Siur....siur....siuuurrr,” teriak mereka sambil tertawa-tawa.

            Lelaki atau perempuan, bagiku sama saja. Tapi dulu kau pernah bilang kalau kau ingin anak pertamamu yang lahir itu laki-laki. “Anak laki-laki bisa diandalkan,” ucapmu memberi alasan. Aku hanya tersenyum tanpa komentar.

//

Hampir semua orang yang hadir sudah sama-sama memperoleh bagiannya memandikanmu, Arnami. Dan wajahmu terlihat pucat. Bibirmu gemetar. Kau tampak seperti kedinginan. Namun senyummu yang tiba-tiba mengembang dan hangat itu seperti hendak menyampaikan rasa terima kasihmu pada mereka.

            “Mana Nyiur Gaddhing. Bawa kemari,” pinta Nyi Asromo saat melepas kain putih yang menyelubungi tubuhmu. Kakek yang sedari tadi memegang kelapa berwarna kuning itu langsung mendekat dan menyerahkannya pada perempuan tua itu.

            Aku lihat Nyi Asromo kembali memejamkan kedua matanya. Bibirnya juga bergerak-gerak. Membaca doa, mantera atau entah apa. Kelapa berwarna kuning keemasan itu dielus-elusnya seperti seorang ibu sedang mengelus kepala bayi. Setelah selesai, dia lalu menancapkan biting lidi yang pada ujung atasnya sudah ditancapi bunga kantil yang berwarna kuning semerbak. Awalnya aku tak mengerti, Arnami, arti semua itu, seandainya tidak kuingat lagi apa yang pernah dikatakan nenek padamu.

            “Nanti sehabis kamu mandi, Nyai dukun akan menyerahkan Nyiur Gaddhing yang sudah ditancapi bunga kantil. Ingat, kamu terima kelapa kuning itu dengan hati-hati, ya. Lalu gendong seperti halnya seorang ibu menggendong bayi.”

            “Ya, benar,” timpal kakek, “tapi awas lho. Jangan sampai.....”

            “Huss, jangan dilanjutkan,” potong nenek dengan raut wajah seperti orang sedang ketakutan.

            Aku penasaran waktu itu, Arnami. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan kakek dan kenapa nenek justru melarang dia melanjutkan ucapannya. Namun sekarang aku baru mengetahuinya. Ya, saat Nyi Asromo berbisik di telinga kananmu.

            “Gendong Nyiur Gaddhing ini dengan hati-hati, ya, Nak. Bunga kantil ini juga harus tetap menghadap ke atas, jangan sampai berubah arah agar posisi janinmu juga tidak berubah. Ya, seperti itu. Benar...benar. Nah, sekarang jalan ke kamarmu dengan hati-hati. Jangan sampai kelapa ini terjatuh. Nanti bisa-bisa kamu keguguran dan janinmu tak bisa tertolong.”

            Aku tersentak mendengar perkataan Nyi Asromo itu, Arnami. Dan kaupun terlihat seperti orang yang gugup. Tapi aku rasa, tak ada salahnya kau ikuti saja perintah calon dukun persalinanmu itu. Ini demi keselamatanmu. Demi calon buah cinta kita yang sudah kita tunggu sekian lama.

            Tak terasa, aku senyum-senyum sendiri saat melihatmu melangkah sambil menggendong kelapa kuning itu, Arnami. Kau benar-benar terlihat pantas menjadi seorang ibu. Caramu menggendong buah kelapa itu sudah tidak menampakkan rasa canggung sama sekali. Sama seperti para ibu yang menggendong bayinya.

Saat kau melangkah meninggalkan halaman menuju kamar, Arnami, sanak saudara dan keluarga besar kita ikut berjalan mengiringi di belakangmu. Dengan tubuh basah tertutup pakaian yang kau gunakan saat mandi tadi, juga sisa-sisa bunga yang menempel di rambutmu, kau seperti seorang puteri raja yang baru saja dimandikan oleh para inang pengasuhnya.

Apa kau tidak merasakan itu, Arnami? Bagiku, ini benar-benar luar biasa. Aku bahkan sempat berpikir, tak ada satupun tempat di dunia ini yang memperlakukan wanita mengandung sepertimu dengan perlakuan begitu mulia seperti ini. Aku yakin tak ada, Arnami. Hanya di sini. Ya, hanya di sini. Di negeri ini.

Coba kau perhatikan. Kau berjalan ke kamar, menggendong Nyiur Gaddhing berwarna kuning keemasan, sambil diiringi oleh sanak familimu. Kau benar-benar seperti tuan puteri yang diiringi oleh para dayangnya.

Sesampainya di dalam kamar, dengan dibimbing oleh Nyi Asromo yang ramah dan penyabar, kau diminta meletakkan Nyiur Gaddhing itu di atas kasur. Persis di samping nampan besar yang berisi Jhajan Ghenna’, Dhemar Kambhang, beras dan telur mentah, juga sepotong bajumu dan bajuku.

“Letakkan Nyiur Gaddhing itu pelan-pelan, Nak. Bayangkan kau seperti sedang meletakkan bayi untuk ditidurkan. Ya...seperti itu. Sekarang, elus-eluslah dan ucapkan dalam hati semua harapanmu pada bayi yang ada di dalam perutmu itu.”

Kali ini, aku saksikan semua yang kau lakukan, Arnami. Kau pejamkan kedua matamu. Begitu khusyuk rupanya kau mengucapkan harapan-harapanmu pada bayi kita yang makin membesar di dalam rahimmu itu. Sematkanlah pada bayi kita semua harapan-harapan baikmu, istriku. Semuanya. Jangan ada yang tersisa.

Tiba-tiba, aku merasakan waktu mendadak hening. Semua sanak familimu yang ikut masuk ke dalam kamar kita itu pun jadi terdiam. Raut wajahmu, juga seketika menjadi murung. Perlahan-lahan, tubuhmu bergetar bersama tangismu yang pecah mengabarkan keharuan pada seisi kamar.

“Andai saja,” katamu dengan suara tertahan, “Andai saja, Mas Badri masih hidup....”

          

Madura, 24 Oktober 2013.

Cerpen ini terpilih sebagai juara ke-2 dalam lomba Tulis Nusantara Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia 2013

Tenong

http://202.67.224.136/pdimage/14/5341914_p1290982.jpg
Malam demi malam bagai hanya serpihan kesedihan. Dan semua itu bersijingkat dengan bulir-bulir air mata yang terus menghujan. Mengguyur sudut-sudut relung hati Munah yang selalu terjerumus dalam ketidakpastian. Yah, ketidakpastian yang runcing, yang siap menusuk bahkan merobek kebahagiaan yang selama ini masih terasa sebatas impian.
 
“Malam ini Kakakmu, Musahru, bakal lalamaran. Sebagai adiknya, kau harus pergi ke sana. Lekaslah berkemas, Munah. Sebelum hari terlalu malam.”
 
Munah yang kering kurus itu hanya melenguh. Seperti lenguhan kerbau yang terlunta-lunta di hamparan sawah-sawah kering tiada lumpur dan rumputan. Oh, tidak. Dia melenguh bukan karena tak taat suami. Dua puluh lima tahun yang lalu, saat Rahwan membawanya ke hadapan penghulu, tak satupun lenguhan ia keluarkan dari bibirnya yang kering dan hitam. Lahir batin ia mengikrarkan diri untuk hanya bersetia kepada suaminya. Yang kini menganugerahkan dua puteri dengan tiga orang putera sesudahnya.
 
Hanya saja untuk malam ini, atau bahkan mungkin untuk malam-malam berikutnya, Munah merasa perlu untuk melenguh. Bukan sekadar mengeluh. Keluhan itu dalam hati tempatnya. Sedang hatinya sudah terlalu keropos untuk menampung keluhan demi keluhan yang datang bertubi dan hanya bisa ia simpan rapat dalam hati. Itu sebabnya ia butuh melenguh agar suaminya benar-benar mengerti kalau dirinya sedang terperangkap jaring-jaring kegundahan.
 
“Sedari tadi kau hanya diam, Munah. Bicaralah. Kau punya mulut, bukan?”
 
Dari luar, kesiur angin menampar dinding gubuk berlapis koran. Dingin yang menelusup diantara celah-celahnya sampai juga di wajah tirus Munah. Bagi Munah,  elusan dingin angin itu tak ubahnya usapan tangan-tangan kesedihan yang makin menguliti nganga duka yang terlalu pongah untuk hengkang dari hatinya.
 
Di bawah cahaya lampu neon yang redup, Munah menatap Rahwan. Sebuah tatapan yang dipaksakan untuk memastikan bahwa ia masih sanggup melihat dan mendengar perintah suaminya. Hanya mendengar. Tak lebih. Sebab untuk menjawab dan mengatakan apa yang dia alami, rasanya masih terlalu sulit dan berat.
 
Kelima anaknya sudah terlelap. Mungkin terlalu lelah untuk ikut merasakan gondola kesedihan yang menindih hari-hari mereka. Dan untuk kedua kalinya, Munah kembali melenguh. Hmmm... Berharap Rahwan akan bertanya mengapa ia berbuat begitu. Tetapi seperti yang sudah ia duga, lelaki itu seakan memang dicipta untuk hanya menjalani dua tugas saja. Memberinya perintah dan membuntinginya. Selebihnya, diam.
 
Rahwan yang dahulu perkasa, yang dia impikan sanggup merubah hidupnya menjadi bahagia, ternyata tidak lebih dari lelaki pesakitan yang menghabiskan hari-harinya dalam balutan khayal yang kosong. Setiap hari, ia bergumul dengan angka-angka. Mengotak-atiknya menjadi rumus-rumus yang tak pernah berhasil memecahkan masalah apapun dalam keluarganya.
 
Munah melihat ke luar rumah. Dan malam semakin pekat. Ia yakin kalau kakaknya pasti akan bertanya-tanya mengapa sampai selarut ini dia tak juga muncul. Setidaknya datang untuk memberikan ucapan selamat atas puteri kakaknya yang sudah mendapatkan calon pendamping. Tentu. Tentu kakaknya sudah sangat matang mempertimbangkan lelaki macam apa yang pantas mendampingi keponakannya itu.
 
Maka seketika, terkuaklah lembar-lembar masa lalunya. Masa-masa dimana Musahru dengan begitu keras melarangnya berhubungan dengan Rahwan. Tetapi rasa cintanya kepada pemuda itu sudah terlalu mengakar kuat dan dalam. Melampaui segala kekhawatiran yang dirasakan oleh kakaknya. Yang disadari Munah ketika itu adalah ia sudah terlanjur mencintai Rahwan sebagaimana juga Rahwan mencintai dirinya. Dan Munah percaya, bahwa cinta adalah kekuatan terbesar yang dapat menjadikan seseorang sanggup bertahan. Yah, dulu dirinya begitu bangga dengan cintanya. Dengan kekokohan perasaannya, meski saat ini bangunan cinta itu perlahan pudar. Berguguran bersama bulir-bulir air mata kesedihannya.
 
“Munah. Ingat. Cuma orang bodoh yang mempercayakan kelangsungan dan kebahagiaan hidupnya pada kata cinta saja. Dan aku percaya kau tidak terlalu bodoh untuk berbuat seperti itu. Pikirkanlah, Munah. Aku tahu siapa itu Rahwan. Dan aku lebih tahu apa yang terbaik buatmu sebagai adikku,” kata-kata Musahru kembali terngiang.
 
Angin malam terus menderu. Menggempur dinding gubuk berlapis koran yang using itu. Untuk kedua kalinya Munah menatap kelima wajah anaknya yang terlelap. Lalu berganti menatap Rahwan yang terus sibuk mengotak-atik angka, merenungkannya meski tak pernah sampai pada kesimpulan yang nyata.
 
Di bawah sorot lampu yang rasanya makin temaram, Munah teringat kembali akan almarhum Eppak-Embuk-nya. Dua sosok yang tak berdaya saat ia meminta mereka untuk menerima Rahwan menjadi suaminya. Andai saja dulu ia mau sedikit mendengar nasehat kakaknya. Andai saja waktu itu ia mematuhi petuah kedua orangtuanya, mungkin ia akan selamat dari rumitnya hidup yang tak disangka.
 
Tetapi tidak. Ini bukan waktu yang tepat untuk mengeluh. Keluhan hanya akan memperpanjang penderitaan. Dan tak diragukan lagi, orang yang telah membuatnya menderita selama ini adalah suaminya sendiri. Rahwan. Dialah lelaki yang sudah mengubur mimpi kebahagiaannya hingga yang tersisa hanyalah tangis ratap kesedihan.
 
“Dasar perempuan laknat. Tak menggubris perintah suami. Tahukah kau, Munah. Istri sepertimu bakal hangus tergerus api neraka. Buktikan saja ucapanku nanti. Dan ingat, jangan salahkan aku kalau Kak Musahru murka karena kau tak datang ke acaranya. Aku sudah menyuruhmu. Berkali-kali. Dan kau hanya diam saja sedari tadi.”
 
Ini kata-kata ancaman yang kesekian kalinya Munah dengar. Awalnya ia merasa ngeri dan khawatir bila harus membayangkan kulitnya akan meleleh bagai lilin saat api neraka datang menyerang. Tetapi ia sudah terlalu sering menjalani hidup di bawah ancaman, di bawah gertakan, juga rasa sakit yang tak tertanggungkan. Karena itu, Munah merasa kalau dirinya sekarang ini bukan lagi Munah seperti dua puluh lima tahun yang lalu. Saat ini, yang ia takuti bukan lagi gertakan Rahwan. Tetapi raibnya Tenong yang selama dua puluh lima tahun ia jaga dengan penuh kesetiaan.
 
“Kak Musahru akan lebih murka lagi jika aku datang tak membawa Tenong itu.”
 
“Bahh! Apa gunanya kamu ungkit-ungkit masalah Tenong itu lagi, hah. Tenong itu masa lalu. Dan aku sangat membencinya.”
 
“Kamu bukan membencinya, Mas. Tapi kamu membutuhkannya dan sekarang kamu telah menghabiskannya. Kamu telah menjualnya. Itu satu-satunya warisan berharga untuk aku.”
 
Rahwan menatap tajam ke arah Munah. Sebuah tatapan ketersindiran. Sementara Munah pun melakukan hal serupa. Bagi Munah, yang harus ia lakukan sekarang ini adalah keberanian untuk tegak mendongak. Biar dengan begitu Rahwan jadi tahu bahwa ia bukan lagi perempuan yang mudah ditundukkan seperti dulu-dulu.
 
“Ahaa. Luar biasa. Kau mempersoalkan Tenong itu lagi rupanya. Ternyata benda itu begitu berharganya buatmu. Ahh, ini pertanda bagus. Akan aku lihat, berapa angka untuk benda terkutuk itu. Kali ini aku pasti akan berhasil. Kau tenang saja, Munah. Tenong itu akan kubeli lagi. Tenang saja. Malam ini aku pasti akan menang, dapat banyak uang. Asal kau tahu, mungkin Tenong-mu itu tak bakal muat menampung uang-uang yang akan aku dapatkan.”
 
Sambil terkekeh-kekeh, Rahwan membuka kembali buku kecil tebal yang penuh dengan gambar dan angka-angka yang sedari tadi tergeletak di depannya. Munah tahu, buku terkutuk itulah yang selama ini telah memikat perhatian suaminya sehingga ia lebih senang bergulat dengan alam khayal daripada menyaksikan keadaan keluarganya. Dan buku itu pula yang membuat lelaki itu sibuk mencipta rumus-rumus kosong yang semakin menyorongnya ke dalam kegelapan. Deretan angka telah banyak dia tuliskan. Namun sama sekali tak mampu merangkum jumlah kesedihan yang makin menyengsarakan. Angka yang penuh teka-teki itu, bagai pusaran kegelapan yang menjadikan kebahagiaan hidupnya raib bersama benda-benda berharga di rumahnya. Termasuk Tenong itu.
 
“Padahal itu satu-satunya peninggalan Embuk. Sebelum meninggal, dia pernah memintaku agar tidak menjual benda itu. Tapi apa yang sudah kamu lakukan, Mas? Kamu telah menjualnya tanpa sepengetahuanku. Kamu telah menggunakan uang hasil menjual Tenong itu untuk memburu angka-angka sialan itu.”
 
“Eh, jangan banyak mulut. Lihat, sudah aku dapatkan angkanya. Sudahlah, kalau kamu memang tidak mau pergi ke rumah Kak Musahru, sebaiknya kamu tenang saja disini. Tunggu rumah. Jaga anak-anak. Aku mau keluar sebentar.”
 
Munah hanya bisa memandangi kepergian Rahwan dengan dada yang bergemuruh. Ia marah. Pasti. Sebab perempuan mana yang sanggup hidup dengan lelaki yang hanya bisa memberinya perintah dan amarah. Malam terus beranjak. Angin yang dingin leluasa masuk lewat pintu rumah yang dibiarkan Munah tetap terbuka begitu saja. Sendirian Munah tercenung. Ingin sebenarnya ia datang ke acara lalamaran puteri Kakaknya. Tetapi ia tak mungkin melakukan itu. Tak mungkin ia datang dengan tangan kosong, tanpa membawa Tenong dan segala macam isinya sebagai persembahan.
 
Biarpun Musahru adalah kakak kandungnya sendiri, namun sudah menjadi hal yang tak boleh dilanggar, bahwa setiap yang datang pada sebuah hajatan harus membawa sesuatu sebagai pemberian. Tapi apa yang bisa ia bawa malam ini? Tak ada. Dan ia tak mungkin memaksakan diri untuk datang tanpa menyunggi Tenong kalau tidak ingin menerima cibiran sinis orang-orang.
 
Munah menatap ke dalam lemari, tempat semula Tenong itu tersembunyi. Kosong. Yang tersisa hanyalah tumpukan kertas penuh angka sialan ciptaan suaminya. Bersusun-susun menjadi semacam kitab paling durjana. Perlahan Munah bangkit. Mendekati lemari. Merogoh tumpukan kertas dengan tangan gemetar.
 
Diliputi pikiran yang kalut, ia bawa kertas-kertas itu ke dapur.
 
Tepat di depan tungku yang masih menyisakan sedikit keredip api bara di dalamnya, satu persatu kertas itu ia masukkan. Apipun terpercik dengan perlahan. Lalu kertas demi kertas berikutnya menyusul, menambah kobaran api yang terus mengunggun. Lidah api yang merah, menyambar-nyambar tak tentu arah. Bersamaan dengan datangnya angin yang menderu, lidah api itu bergerak ke satu arah tertentu. Ya, tak salah lagi. Dinding dapur berlapis koran usang itu pun menjadi sasaran empuk lidah api yang mengamuk. Perlahan, namun pasti, tubuh api makin membesar. Terus membesar. Membubung dan terus membubung. Malam lengang. Sementara semua orang di rumah Musahru, sedang asyik menikmati hiburan kerawitan.
 
Munah terpaku di depan api yang begitu cepat membubung. Sempat terlintas untuk berteriak. Minta pertolongan. Tapi percuma saja ia kira. Bukankah selama ini ia kerap sekali melakukan itu. Namun teriakannya hanya membawa pada kebuntuan demi kebuntuan. Setenang mungkin Munah mendekati kelima anaknya. Ditatapnya anak-anak yang terlelap itu. Begitu tenang. Tak terusik keadaan. Munah tersenyum. Ia merasa bahwa dirinya telah berhasil menjadikan mereka berlima sebagai manusia-manusia tanpa ketakutan. Sama seperti dirinya malam ini. Perlahan, Munah ikut rebah di antara mereka. Memeluk erat tubuh mereka, sebelum akhirnya lidah api yang menggunung membuat mereka sempurna jadi terkepung.
 
Dari kejauhan, pada waktu yang hampir bersamaan, Rahwan datang dengan hati girang. Bersama empat orang kawannya, ia datang menjinjing Tenong. Seperti yang sudah ia janjikan, Tenong itu pasti akan bisa dibelinya kembali. Angka Tenong yang dibelinya pada seorang bandar benar-benar memberinya kemenangan. Semula, Rahwan mengajak keempat temannya untuk sekadar berpesta di rumahnya yang sederhana. Tapi..
 
“Heh. Ada kebakaran. Tapi... bukankah itu rumahmu?” kata seorang temannya. Rahwan yang terkejut segera saja lari melompat meski usahanya sudah jelas sangat terlambat. Di depan unggun api yang menggulung rumahnya, Rahwan terngungun. Tubuhnya gemetar. Tak dijumpainya Munah dan kelima anaknya di sekitaran. Bahkan tak seorangpun tetangganya yang tampak datang untuk menolong. Tak butuh waktu lama bagi si lidah api untuk melalap habis rumah kecil dengan dinding bambu berlapis koran usang itu. Dan dalam hitungan detik, nyala api itupun mulai mengecil, namun masih sanggup menerangi enam sosok hitam kaku yang berpeluk erat dalam balutan bara yang masih mengepul. Rahwan limbung. Tenong di tangannya jatuh melayang.
 
Percayalah, Tenong itu memang tak akan bisa menampung uang yang Rahwan menangkan. Melainkan sebagai wadah mengemasi sisa abu jasad Munah dan kelima anaknya yang terlambat untuk ditolong.

Cerpen ini dipublikasikan di Majalah Arena 2014.

Inokashira

http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2013/04/16/bsakura9.jpg
Aku masih menggenggam erat selembar kertas berwarna pink yang berisi tulisannya. Cukup singkat memang meski di balik guratan huruf yang ia tulis kecil-kecil itu tersimpan sebuah kesungguhan yang begitu nyala. Senyala rona bunga Sakura yang sekarang terhampar begitu indah di depan mata.
Kupastikan, sudah kelima kali aku mengunjungi taman ini bersamanya (ya, aku bahkan sudah mencatatnya dalam sebuah buku diary pemberiannya lengkap dengan ungkapan-ungkapan yang kutulis sebagai pendar-pendar perasaanku kala itu). Bagiku, taman ini bukan hanya tempat menghindarkan pikiran dari kutukan rasa suntuk. Tapi, taman ini seakan menjadi awal mula bagiku untuk mengenal lebih jauh bahwa ternyata ada orang lain yang menaruh perasaannya terhadapku.
Di depanku, beberapa pasang remaja terlihat asyik mendayung perahu. Mungkin mereka tak peduli, bahwa Dewi Benzaiten yang berada dalam kuil tak jauh dari tempat mereka bermesraan sedang menatap mereka dengan tatapan mata penuh cemburu.
Angin berhembus perlahan-lahan. Membuat tangkai pohon bunga Sakura bergoyang-goyang lamban. Sebagian dari bunga-bunga itu berguguran dengan gerak yang lambat dan sedikit meliuk sebelum akhirnya air danau menyambutnya dengan ricik yang tenang sejuk. Kubaca kembali secarik kertas berwarna pink itu.
“Hen, kapan kau kembali?” tanyaku dalam hati.
Pertanyaan demi pertanyaan yang akhir-akhir ini terus mengental dalam perasaanku makin mendedah lembar-lembar memory yang pernah terjadi antara aku dan Hen. Aku tahu, diantara kami berdua memang ada jembatan panjang yang menguarkan baris demi baris perbedaan. Hen berasal dari Indonesia, sedang aku kelahiran Kichijoji asli. Di Inokashiralah kami berdua bertemu. Entahlah, aku rasa tidak mudah untuk menyimpulkan apakah pertemuanku dengannya merupakan suatu kebetulan belaka atau memang ada kekuatan lain yang mendorongku dan Hen saling bertegur sapa kala itu.
Semula, aku merasa aneh mendengar namanya; Hendi Tadashi. Seperti nama orang-orang di negaraku Jepang. Dan aku sendiri tak menyangka akan bisa bergaul begitu akrab dengan orang asing yang pertamakali kutemui. Dan itulah waktu. Selalu menyimpan rahasia-rahasia tak terduga bagi siapa saja yang berada dalam pusarannya. Saat kami menyusuri tepian Danau Inokashira, kulihat Hen begitu takjub melihat rimbunnya bunga Sakura, yang bergoyang perlahan diterpa angin. Ia kemudian mengeluarkan kamera dari dalam ranselnya dan mengabadikan pemandangan yang ia lihat itu beberapa kali.
“Ini sangat indah,” serunya sambil terus tersenyum.
“Ya. Aku sependapat denganmu,” kataku.
“Sayang. Bunga ini tak bisa tumbuh dengan baik di negaraku.”
“Karena itulah kamu harus sering-sering datang kemari.”
Hen menatapku. Masih dengan senyum khasnya. “Ya, aku rasa begitu,” katanya kemudian. Setelah merasa cukup puas menikmati semua keindahan yang dimiliki Inokashira, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Hen akan kembali ke asramanya sementara aku akan cepat-cepat pulang sebelum matahari benar-benar tenggelam.
***
“Ayah. Aku mohon ayah jujur. Ayah tidak sedang bercanda, kan? Jawab ayah?” isakku. Ibu hanya diam mematung sambil 
memegangi kedua pundakku.
“Tidak, Miy. Ayah tidak bercanda. Itu memang tulisan eyang buyutmu. Ayah pastikan tulisan eyang buyutmu di buku itu benar adanya. Maaf, Miy. Semalam, ayah juga sudah berbincang banyak dengan Hen lewat telephon tanpa sepengetahuanmu. Dan ayah yakin kalau dia...” jawab ayah.
“Tapi kenapa baru sekarang ayah memberitahukan ini padaku?”
“Awalnya ayah juga tidak tahu. Bagaimana hal ini bisa terjadi. Ini tampaknya memang kebetulan. Tapi itulah yang terjadi, dan ayah merasa sekaranglah waktunya kamu mengetahui yang sebenarnya.”
Aku segera pergi meninggalkan ayah dan ibu untuk mengambil tas di dalam kamar. Dan tanpa bicara sepatah katapun dengan mereka, aku langsung pergi kedepan ntuk memanggil taksi. Tak kuhiraukan suara ayah dan ibu yang memanggilku dari belakang. Di dalam taksi, aku masih tak kuasa menahan isak tangis sambil menggengam buku itu erat-erat. Ini benar-benar buku kutukan. Pikirku. Taksi membawaku ke asrama Hen. Setelah mengusap kedua mataku dengan tisue aku segera mencari laki-laki itu.
“Anda Nona Miyako?” tanya seorang pemuda di depan pintu asrama. Aku mengangguk.
“Kebetulan sekali. Maaf, hari ini saya berencana akan pergi ke rumah Anda untuk mengantarkan surat ini,” kata pemuda itu sambil menyodorkan sebuah amplop kecil dengan hiasan bunga Sakura yang sepertinya hasil lukisan tangan.
“Dari Hen?” tanyaku. Pemuda itu mengangguk. “Kemana dia?” tanyaku lagi.
“Mendadak semalam dia dipanggil untuk pulang ke Indonesia.”
“Pulang? Kenapa dia tidak mengabariku?”
“Maaf, dia bukannya tidak mau mengabari Anda Nona Miyako. Tapi katanya telephon Anda justru tidak aktif.”
Aku buru-buru mengambil telephon genggamku. Ya, Tuhan. Ada sepuluh panggilan masuk dari Hen di sana. Rupanya buku itu benar-benar telah menjadikan kutukan buatku. Semalam aku memang sengaja men-silent handphoneku gara-gara aku tak mau terganggu saat membaca buku itu. 
“Kenapa dia pulang lebih cepat?” tanyaku.
“Maaf, Nona. Keluarganya ada yang meninggal.”
“Anda yakin?”
“Hen sendiri yang bicara pada kami, Nona. Semalam, sepertinya dia mendapatkan sebuah interlokal. Katanya dari Indonesia. Wajahnya memang terlihat sedih setelah menerima telephon itu.”
“Oh...tidak...tidak,” kataku sambil mohon diri.
***
Aku menarik nafas dalam-dalam. Dan tanpa terasa, butir-butir air mataku kembali berjatuhan. Kubaca lagi secarik kertas surat yang diberikan Hen diantara lembaran-lembaran buku terkutuk itu. Sejuk angin taman Inokashira membelai wajahku yang mungkin terlihat kusut dan pucat.
“Hen, aku menunggumu,” aku kembali membatin diantara lalu lalang orang dan celoteh riang anak-anak. Aku ingin menjawab pertanyaannya. Namun aku ingin Hen juga tahu soal buku terkutuk ini, melihat sendiri dengan mata kepalanya, biarpun dia sudah mendengar dari ayah kalau nama Tadashi di belakang namanya itu adalah nama eyang buyutku yang dulu pernah ikut menjajah negaranya.
Aku kembali mengusap air mataku. Sulit bagiku untuk mempercayai, kalau Hendi Tadashi, laki-laki yang dengannya aku mulai belajar mengenal cinta, tidak lain adalah bagian dari keluarga besarku sendiri. saudaraku sendiri. Dia lahir dari rahim seorang wanita yang harus pasrah menerima dorongan hasrat keperkasaan eyangku sebagai seorang tentara yang pernah menjajah negaranya. Hasrat yang meluap-luap di tengah gemuruhnya perang, di tengah kerinduan membara kepada keluarga yang ditinggalkan. Aku tiba-tiba ingat dengan apa yang pernah kubaca dari sebuah buku, bahwa perang memang selalu menuntut keberanian, ketangguhan, jiwa patriot. Namun ia juga menuntut pemenuhan atas hasrat-hasrat primitif terpendam yang dimiliki oleh setiap manusia. Entah untuk tujuan apa eyang buyutku menulis siapa wanita yang telah dia paksa menjadi pelabuhan darurat atas hasratnya. Dan kenapa wanita itu justru mengabadikan nama lelaki yang barangkali saat itu amat dibencinya? Wanita memang terlalu berat melupakan kenangan-kenangannya.
Angin berhembus perlahan. Beberapa bunga Sakura tanpak berguguran. Kulihat lagi secarik kertas surat yang ditulis Hen.
“Kupikir, aku bisa menikmati bunga Sakura bukan karena warnanya yang indah itu. Namun itu karena aku telah menikmatinya bersama kelembutanmu, kehadiranmu. Aku telah mengetahui segalanya. Cukup pahit kurasa. Tapi, suatu saat nanti rasa cinta inilah yang barangkali akan mampu menetralkannya.”  
Jogjakarta, 2013.

Lebaran Marlam



“Sampaikanlah salamku kepada istri dan anak-anakku. Tahun ini, untuk pertamakalinya aku tidak berlebaran dengan mereka.”
Itulah pesan Marlam kepada rekan seselnya yang dibebaskan menjelang lebaran.
       “Pasti aku sampaikan, Marlam. Jangan khawatir,” ucap rekannya sambil menyalami dan memeluk tubuh Marlam sebelum dia meninggalkan ruang tahanan itu.
            Setelah tubuh rekannya menghilang di ujung koridor ruang tahanan, Marlam kembali ke pojok kamar yang akan mengurungnya untuk sepuluh tahun ke depan. Lalu Marlam merebahkan tubuhnya di atas selembar tikar kasar juga sebuah bantal yang bau dan berwarna kusam.
            Di dalam kamarnya tengah malam itu, Marlam seperti dikurung kesunyian tiada ampun.
            Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Marlam sadar hal itu. Apalagi waktu sepuluh tahun itu dihabiskan di balik tempok jeruji penjara. Tempat yang benar-benar tak pernah dibayangkan oleh Marlam sebelum-sebelumnya.
            Di atas selembar tikar pandan yang sebagian rajutannya sudah terlepas, pikiran Marlam mengembara menjumpai orang-orang yang dicintainya. Istri dan dua orang anaknya pasti sedih karena tahun ini dia tidak ikut merayakan lebaran bersama seluruh anggota keluarganya.
            Masih lekat dalam ingatan Marlam istri dan seluruh anggota keluarganya menangis tersedu-sedu saat hakim menjatuhkan vonis sepuluh tahun penjara kepada dirinya. Istrinya bersimpuh memeluk kedua kakinya. Juga kedua anaknya yang ikut meraung-raung meskipun mereka tidak benar-benar paham kenapa ayahnya bisa dipenjara.
            “Sudahlah. Jangan menangis. Air mata kalian hanya akan membuat pikiranku bertambah sumpek,” bujuk Marlam.
            Marlam pun memejamkan kedua mata saat semua anggota keluarganya diminta meninggalkan penjara. Marlam sadar, seiring langkah istrinya meninggalkan ruang penjara, hari-hari sepi akan segera dimulai. Semua yang dia miliki seperti tak ada artinya lagi. Rumah megah, mobil mewah, celoteh anak-anak dan kamar-kamar yang selama ini memberinya kesenangan, untuk sepuluh tahun ke depan hanya akan menjadi sebuah kenangan.
            Tanpa terasa, Marlam menitikkan air mata. Begitu hangat air mata itu membasahi kedua matanya. Mungkin itu disebabkan karena sudah lama dirinya tidak pernah menangisi apapun selama ini. Untuk apa menangis? Bukankah selama ini hidupnya bergelimang kemewahan. Sementara kemewahan seringkali membuat orang lupa untuk menangis.
            Namun, untuk waktu sepuluh tahun ke depan, Marlam harus melupakan semua kemewahan yang pernah diraihnya. Apalagi pengadilan juga sudah memutuskan untuk menyita semua harta kekayaannya.
            Tangis kesedihan Marlam semakin keras bersamaan dengan air matanya mengucur deras. Bukan hanya dirinya yang sedih, istri dan anak-anaknya pasti akan merasa ikut sedih. Kemewahan yang pernah mereka cicipi selama ini hanya akan menjadi sebuah cerita yang menyakitkan. Belum lagi pandangan orang-orang di sekitarnya yang akan melihatnya dengan tatapan penuh keburukan.
            “Kau menangis, Marlam?”
            Sebuah suara mengagetkan Marlam. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kedua matanya melihat sesosok tubuh dengan mata merah menatap tajam ke arahnya. Sosok itu berdiri diantara garis-garis cahaya kuning berasal dari lampu halaman penjara yang menerobos lewat celah-celah fentilasi yang sempit.
Marlam berusaha menatap sosok yang berdiri di depannya.
            “Siapa kau?”
            Marlam menyeret tubuhnya ke pojok kamar.
            “Kau bertanya siapa aku, Marlam. Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?”
            “Tidak!”
            “Sayang sekali, Marlam. Padahal aku selalu setia menemanimu selama ini meskipun kau sendiri tidak pernah mendengarkanku.”
            Marlam merasakan kedinginan mulai menguasai tubuhnya. Dia menarik sarungnya dan meringkuk di pojok kamar penjara. Keringat dingin mulai mengucur lewat pori-pori kulitnya.
            “Aku ucapkan selamat, Marlam. Sekarang kau benar-benar bebas,” kata sosok bermata merah yang berdiri diantara garis-garis cahaya itu.
            “Bebas! Aku bebas?” seru Marlam.
            “Ya, kau bebas, Marlam.”
“Kau gila. Aku baru saja dipenjara, tapi sekarang kau justru mengatakan aku bebas. Kau ingin menghinaku? Siapa kau sebenarnya?” teriak Marlam.
Sosok itu makin mendekat:
“Aku tidak menghinamu, Marlam. Yang aku katakan benar. Sekarang kau bebas. Benar-benar bebas. Justru seandainya kau tidak disini, kau akan semakin memenjarakan dirimu sendiri dengan perbuatanmu itu. Kau ingat, perbuatan apa yang sudah mengantarkanmu kemari, Marlam?”
“Brengsek. Kau tanya tentang itu untuk apa? Kau ingin mengatakan perbuatanku itu salah? Aku sudah habiskan banyak biaya untuk mendapatkan jabatan itu. Jadi apa salahnya kalau aku...”
“Marlam,” sosok itu memotong ucapan Marlam. “Bukankah aku sering mengingatkanmu, bahwa pikiran seperti itulah yang membuatmu terpenjara di luar sana. Dan kau tidak sadar bahwa dengan perbuatanmu itu kau juga ikut memenjarakan seluruh keluargamu.”
“Diammm..!!” teriak Marlam. “Sekarang kau pergi. Kalau kau peduli kepadaku, tolong kau bebaskan aku. Bebaskan aku.. Aku ingin pulang. Aku ingin berlebaran bersama istri dan anak-anakku. Aku ingin bebasss...” pekik Marlam.
“Sudah kukatakan, Marlam. Justru disinilah kau benar-benar mendapatkan kebebasanmu. Nikmatilah lebaranmu tahun ini disini. Di tempat yang benar-benar akan membuatmu merdeka. Siapa tahu dengan berlebaran disini, kau akan kembali menjadi manusia yang fitri, manusia yang memperoleh kemenangan sesungguhnya.”
“Bajingannn.”
Marlam bangkit. Dengan kalap ia menyerang sosok yang seketika menghilang dari hadapannya. Bagai orang kesurupan, Marlam menendang dinding kamar penjaranya dan meninjunya dengan keras. Tangannya berlumur darah. Tetapi Marlam seperti tak merasakan apa-apa. Dia terus mengamuk hingga petugas datang dan mengikatnya.
Penghuni penjara lain yang terbangun dari tidur mereka meneriaki Marlam dengan ejekan-ejekan, “Makanya kalau jadi pejabat jangan korupsi. Kualat lho makan uang rakyat. Belum seminggu sudah sinting begitu. Mampus.”
Di dalam sel penjaranya, serta dengan tubuh terikat dan berlumur darah, Marlam tertawa terbahak-bahak.

2014.