Diberdayakan oleh Blogger.

LELAKI FAKIR DAN USTADZ TERKENAL

http://cdn.klimg.com/dream.co.id/resources/news/2015/02/27/10824/664xauto-kisah-rasulullah-memandang-para-bangsawan-150227b.jpg
Ada seorang ustadz yang sangat popular. Hampir setiap hari wajahnya selalu muncul di televisi. Terkadang dia tampil sebagai penceramah dan di waktu berikutnya dia tampil sebagai bintang iklan suatu produk. Dari dua pekerjaannya itu, dia memperoleh bayaran yang sangat besar. Tak heran kalau rumah, kendaraan dan perabotan rumahnya serba terlihat lux dan mewah.

Suatu waktu sang ustadz mendatangi seorang lelaki fakir untuk menyerahkan santunan kepadanya. Sesampainya di rumah lelaki fakir yang biasa dikunjunginya itu, sang ustadz melihat kalau lelaki itu sedang melaksanakan shalat di teras rumahnya dengan selembar sajadah yang digelar di atas lantai tanah. Selesai shalat, sang ustadz menyerahkan santunannya dan tidak lupa dia memberikan nasihat kepada lelaki itu.
 
"Bapak. Beribadah itu memang wajib. Tapi jangan lupa juga untuk bekerja ya. Masak dari dulu-dulu saya lihat bapak belum ada perubahan. Hati-hati lo, pak. Sebab kefakiran itu dapat menjerumuskan kepada kekafiran. Begitu kata Nabi."
 
Selesai berkata demikian, si lelaki itu pun menjawab. "Aku percaya dengan apa yang dikatakan Nabi. Tapi aku akan bertanya kepadamu; apakah setiap kefakiran yang dialami seseorang dapat menjerumuskannya kepada kekafiran?"
 
"Tentu saja, Pak. Orang kalau fakir dapat dengan mudah melepas imannya. Bahkan dia rela menukar imannya dengan harga yang murah. Bahkan mereka menukar imannya hanya dengan sekardus mie instan dan sekarung beras. Sudah banyak buktinya yang begitu."
 
"Apa karena itu alasannya kau terlihat begitu sibuk bekerja. Jadi penceramah, jadi bintang iklan, jadi bintang tamu acara-acara talkshow murahan dan ikut-ikutan bertindak konyol dalam acara itu?"
 
"Saya bekerja agar saya tidak fakir sehingga saya selamat dari kekafiran."
 
"Kalau begitu, sabda Nabi yang kau ucapkan tadi hanya pantas bagi orang-orang sepertimu. Nak, telah bertahun-tahun aku melatih diri agar hatiku selalu menjadi 'tempat' bagi Allah semata. Selama bertahun-tahun aku hidup fakir seperti ini. Tetapi dalam hatiku, aku tak pernah kehilangan Allah dan tak terpikir untuk menukar-Nya dengan apa pun. Kalau kau khawatir kefakiran dapat membuat imanmu lepas, bekerjalah semau-maumu. Tetapi kalau kau yakin hatimu akan selalu terpaut kepada Allah meski dalam kondisi fakir sekalipun, kau tentu akan mensyukuri keadaan itu. Ingat, nak. Kalau seseorang sudah berhasil 'mendapatkan' Allah, hakikatnya ia mendapatkan segala-galanya, dunia dan seisinya. Sebaliknya, kalau orang hanya mendapatkan dunia dan seisinya, tapi gagal mendapatkan Allah, maka apa yang sesungguhnya dia dapatkan? Bukankah dunia dan seisinya ini hanyalah fatamorgana semata? Bila kau memberiku santunan hanya karena aku fakir dan kau khawatir aku akan jatuh pada kekafiran, maka ambil kembali santunanmu itu. Dan anggaplah itu pemberianku untukmu. Sebab saat ini, akulah yang justru mengkhawatirkanmu."


Kebumen, 8 Juni 2016

TUKANG TAMBAL BAN DAN MASJIDNYA

http://api.ning.com/files/UUHZoZFGT4ibPySXvcFwcUDnDu3dFddu8n0dbLd42F*6rcvjXbGwHiWfSAM4UXz-eDGv6goHTtVxsYLUMrNftsk3Z0cje2bR/268782_02193726062015_tukang_tambal_ban.jpg
Sebut saja namanya Moko. Sehari-hari pekerjaannya adalah sebagai tukang tambal ban. Dengan selembar terpal bekas, Moko mendirikan tenda untuk dijadikan sebagai bengkel sederhana di tepi jalan. Suatu waktu di hari Jum'at, Moko sambil terkantuk-kantuk mendengar sang khatib berkata dari atas mimbar bahwa umat Islam itu hatinya harus selalu condong ke masjid.
 
"Hanya mereka yang hatinya selalu condong ke masjid yang akan mendapatkan lindungan Rasulullah besok di hari kiamat."
 
Moko tersentak mendengar ucapan sang khatib. Sebab selama ini dia merasa kalau hatinya justru selalu teringat akan bengkelnya tempat dia mencari nafkah. Didorong antara keinginan mendapatkan lindungan Nabi dan kekhawatiran dirinya karena selama ini hatinya justru selalu teringat pada bengkelnya tempatnya bekerja, Moko memberanikan diri bertanya pada si khatib setelah shalat Jum'at selesai.
 
"Ustad. Saya ini harus bagaimana? Saya ingin mendapatkan perlindungan Nabi besok di hari kiamat. Tapi satu sisi setiap hari saya justru selalu ingat akan nasib bengkel saya. Apa yang harus saya lakukan, ustad?"
 
Si khatib muda yang berjenggot lebat dan ada tanda hitam di jidatnya itu dengan tegas menjawab, "Masjid lebih utama dari bengkel. Sebisa mungkin waktu Anda harus lebih banyak di masjid untuk berdzikir daripada di bengkel yang hanya ngurusi ban bocor. Atur saja waktunya, yang penting habiskan hari-hari Anda di masjid untuk berdzikir kepada Allah."
 
Moko semakin bingung. Ingin sekali dia menjadi orang yang hatinya selalu terpaut ke masjid, menghabiskan waktunya di masjid untuk dzikir. Tapi bagaimana dengan bengkelnya? Bukankah dari sanalah dia mendapatkan penghasilan? Atau jangan-jangan kalau dia lebih banyak menghabiskan waktunya di masjid rejekinya malah semakin bertambah. Ah.
 
Moko berjalan dengan langkah lesu menuju bengkelnya. 

Namun dia sangat terkejut sesampainya di bengkel, karena di sana sudah menunggu orang yang sangat istimewa yang mau memakai jasanya. Orang itu tak lain adalah Kiai Qosim. Kiai Qosim adalah guru ngajinya Moko yang masih kelihatan enerjik meski usianya sudah terbilang udzur. Serta merta Moko meraih tangan gurunya itu dan menciumnya dengan penuh takdzim.
 
"Ko, itu ontelku bannya yang depan bocor. Tolong kamu tambal ya."
 
"Iya, Pak Kiai."
 
Setelah ngobrol panjang lebar sambil tangannya cekatan membuka ban ontel Kiai Qosim, Moko kemudian teringat dengan masalahnya tadi sehabis shalat Jum'at. Moko pun berpikir untuk menanyakannya kepada guru ngajinya yang sangat sabar, santun dan murah senyum itu.
 
"Pak Kiai. Saya tadi di masjid mendengar khatib berkata bahwa orang yang akan mendapatkan lindungan Nabi besok di mahsyar salah satunya adalah orang yang hatinya selalu condong ke masjid. Saya sebenarnya ingin juga mendapatkan lindungan itu. Tapi sayangnya hati saya setiap hari malah selalu ingat bengkel ini. Mohon sarannya apa yang harus saya lakukan Pak Kiai."
 
Sambil membetulkan peci hitamnya, Kiai Qosim dengan bibir tersenyum menjawab pertanyaan salah satu murid ngajinya itu.
 
"Ko, Nabi Muhammad memang bersabda seperti itu. Tapi kamu tidak harus meninggalkan bengkelmu ini. Setidaknya, setiap masuk waktu shalat, usahakan kamu tinggalkan bengkelmu kalau memang tidak ada orang yang mau nembel dan pergi ke masjid untuk berjamaah. Itu juga termasuk orang yang hatinya condong ke masjid."
 
"Tapi Pak Kiai, tadi saya bertanya pada khatibnya katanya masjid lebih utama dari bengkel. Sebisa mungkin waktu saya harus banyak dihabiskan di masjid untuk dzikir daripada di bengkel yang cuma ngurusi ban bocor."
 
"Begini, Moko. Nabi juga pernah bersabda bahwa seluruh permukaan bumi ini tak lain adalah masjid yang bisa digunakan untuk mengingat Allah SWT. Artinya, dimana saja kamu berada, termasuk di bengkel ini, kalau hatimu senantiasa ingat kepada Allah, maka hakikatnya bengkelmu ini juga masjid. Masjid berbentuk bengkel...heheee."
 
"Apa bisa seperti itu, Kiai?"
 
"Bisa saja. Masjid itu jangan hanya dipahami dari bentuknya saja. Orang yang berada di dalam bangunan masjid, tapi kalau hatinya tidak juga ingat kepada Allah, maka masjid itu tidak ada pengaruhnya apa-apa. Malah lebih bagus orang yang berada di bengkel tapi hatinya selalu ingat kepada-Nya. Yaa...tentu makin bagus kalau orang datang ke masjid dan di sana makin ingat kepada Allah. Tapi banyak juga orang datang ke masjid tapi hatinya malah kemana-mana. Tidak ke Allah SWT."
 
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Kiai?"
 
"Ya, jaga bengkelmu. Kalau masuk waktu shalat ya sembahyang dulu. Kalau ada pelanggan, ajak ngobrol yang baik-baik biar menjadi silaturrahmi. Kalau lagi sepi, berdzikirlah kepada-Nya. Syukur bisa tetap ngaji. Kalau kamu bisa melakukan itu, bengkelmu ini hakikatnya adalah masjid."
 
Moko mengangguk-angguk.
 
"Satu lagi, Moko. Kalau seseorang hatinya selalu ingat kepada Allah dimana saja ia berada atau dimana saja ia bekerja, maka tempat itu laksana masjid baginya. Di tempat itulah hatinya rukuk dan sujud kepada-Nya. Kalau hatinya sudah seperti itu, tidak mungkin dia akan berbuat curang di mana saja dia bekerja."

Kini moko semakin terlihat girang mendengar pitutur guru ngajinya itu.


Kebumen, 8 Juni 2016  
   

NENEK, CUCU DAN SARAPAN PAGINYA


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFumq6Xt0kG9IYbNZtYbpXvABdXdj49zVOCHHzf-sjggm1MH2HEaJCn-2ztr0Htyo3mfg0t9qWqHQB2m6JcsWp_ndIshtvOm6zYIGwD29_Y5kb3eh3c69VFkKax5zElJHaDUwgpLZN1hj1/s320/cucu-dan-nenek.gif

Tersebutlah seorang nenek sedang menikmati sarapan paginya berupa nasi oyek bersama seorang cucunya. Nenek itu terlihat nikmat sekali mengunyah sarapannya. Dan setiap kali nasi oyek itu ditelan, sehabis itu pula dari mulutnya meluncur ucapan Subhaanallaah, Alhamdulillaah, Allaahu Akbar.
 
Melihat kebiasaan neneknya yang setiap kali sarapan pagi selalu mengucapkan kata-kata itu, cucunya kemudian bertanya;
 
"Kenapa nenek selalu mengucapkan kata-kata dzikir itu sehabis menelan makanan? Apa ada manfaatnya?"
 
Dengan bibir tersenyum, si nenek kemudian mengelus kepala cucunya sambil berkata;
 
"Nak. Meskipun yang kita makan ini nasi oyek dan mungkin bagimu terasa tidak enak, tapi ini juga nikmat Tuhan, kan. Kau harus ingat, ketika nikmat Tuhan yang kita rasakan ini kita sambungkan lagi dengan Dia, maka nikmat itu menjadi bisa dipertanggungjawabkan. Yang nenek lakukan, itu salah satu cara nenek, agar nikmat yang telah Tuhan berikan menjadi nikmat yang benar-benar berharga di hadapan-Nya."

Kebumen, 5 Juni 2016

Malaikat dan Lelaki Penebang Pohon

Konon, ada seorang suami kaya raya yang meninggal dunia. Namun harta kekayaan yang dia miliki diperoleh dengan cara-cara yang tidak benar menurut kacamata agama Islam. Dia mengkorupsi, menipu dan memalsukan apa saja demi mengeruk kekayaan. Saat kematiannya, Tuhan menimpakan hukuman dengan cara ditumbuhkannya kebencian yang amat parah di hati anak-anaknya sehingga mereka semua merasa jijik dan tak sudi mendoakannya.
 
Untuk itu, anak-anaknya yang mewarisi kekayaan ayahnya yang berlimpah itu kemudian membuat pengumuman bahwa siapa saja yang mau mendoakan almarhum ayahnya dan menjaga kuburannya selama empat puluh malam, maka dia akan diberi imbalan sebanyak Rp. 40 juta. Kabar ini pun sampai pada seorang penebang kayu freelance (heheee). Wah, ini peluang bagus nih. Demikian si penebang kayu itu membatin. Tanpa pikir panjang, si penebang kayu pun mendaftar. Karena tak ada pendaftar lain, jadilah lamaran si penebang kayu itu diterima dan mulailah malam-malam dia menjaga kuburan lelaki kaya tersebut. Tak ketinggalan dia membawa parang yang biasa digunakan untuk menebang kayu.
 
Malam pertama hingga malam kelima, semua berjalan biasa-biasa saja. Si penebang kayu berdoa agar lelaki itu diampuni dosa-dosa dan kesalahannya, dibebaskan dari siksa kubur betapa pun dia telah melakukan korupsi dan sebagainya. Usai berdoa, si penebang kayu itu pun tidur di sebelah kuburan tanpa rasa takut sedikitpun
 
Memasuki malam ketujuh, usai penebang kayu itu berdoa, datanglah seorang lelaki bertubuh tinggi mendekatinya.
 
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya lelaki itu.
 
"Aku menjaga kuburan si Fulan sambil mendoakannya," jawab si penebang kayu.
 
"Berapa lama kau akan melakukan pekerjaan ini?"
 
"Sampai empat puluh malam. Lumayan. Aku akan mendapatkan empat puluh juta hanya dengan menjaga kuburan ini dan mendoakan orang yang dikuburnya."
 
"Kau tahu, seperti apa orang yang dikubur itu?"
 
"Dia orang yang sangat kaya. Tapi denger-denger kekayaannya itu dia dapatkan dari korupsi, menipu dan sebagainya."
 
"Lalu, apa doamu untuknya."
 
"Ya, biasa. Saya mendoakan agar Tuhan mengampuninya. Meringankan hisab atasnya."
 
"Kau yakin usahamu akan meringankan apa yang harus mayit itu pertanggung jawabkan?"
 
"Moga-moga seperti itu."
 
"Kalau begitu, ketahuilah bahwa aku adalah malaikat yang diutus Allah untuk menanyaimu beberapa hal. Kau siap menjawab pertanyaanku?"
 
Si penebang kayu itu terperanjat. Keringat dingin mulai merembes dari jidatnya. Dengan bibir gemetar dia menjawab, "A....aku siap jawab."
 
"Baiklah. Aku tahu kau ini seorang penebang kayu panggilan. Dalam menebang kayu, kau gunakan parang itu, " kata malaikat sambil menunjuk ke sebilah parang di dekat si penebang itu. "Untuk itu aku ingin bertanya; dari mana kau dapatkan parang itu? gagangnya yang terbuat dari kayu, kayunya kau peroleh dari mana, dengan cara apa? Terus, tambang yang kau gunakan untuk menarik batang kayu yang hendak kau tumbangkan itu kau peroleh dari mana dan dengan cara apa pula kau mendapatkan semuanya itu? Bila parang dan gagangnya, serta topi yang biasa kau gunakan saat menebang, juga kaos, celana, ikat pinggang serta sepatu botmu itu kau dapatkan dengan cara membeli, lalu uang yang kau gunakan itu kamu dapatkan darimana. Dan terakhir, uang yang kau terima sebagai ongkos saat menebang kayu kau gunakan untuk apa? Demi mengabdi kepada Allah atau habis sia-sia? Ingat semua itu sebelum kau menjawabnya."
 
Lelaki penebang pohon itu makin gemetar. Tubuhnya sudah basah-lepos dengan keringat. Lelaki itu kemudian mengangkat parangnya dan memperhatikan benda tersebut dalam-dalam.
 
"Ya, Allah! Kalau urusan parang ini saja sedemikian rumit pertanggung jawabannya, apa lagi dengan mayat yang selalu kudoakan ini, yang hartanya melimpah karena korupsi, yang pendapatannya luar biasa karena manipulasi. Aduhh.....ampun. Ampun malaikat. Aku pulang saja. Tidak dapat empat puluh juta tak apa-apa daripada urusannya nanti berbelit-belit begini."
 
Seketika malaikat menghilang dan lelaki penebang pohon itu lari pulang meninggalkan parangnya.
 
Ya, Tuhan! Bagaimana dengan diriku. Apa yang kumiliki, apa yang kudapatkan selama ini, tak sepenuhnya suci. Tolong jangan adili aku dengan sifat-Mu yang Maha Mengadili karena rasa-rasanya aku tak bakal mampu mempertanggungjawabkan segala yang aku punya. Tapi adili aku dengan sifat Kasih-Sayang-Mu, Kelembutan-Mu dan ke-Maha Pengampunan-Mu.      

Kebumen, 2 Juni 2016

DUA KACAMATA TAKMIR

Suatu malam, seorang takmir masjid yang setiap saat menggunakan kacamata syariah melihat kedatangan seorang wanita bercelana pendek dan berkaos oblong tipis memasuki halaman masjid dan menuju kamar mandi. Wajahnya penuh riasan kosmetik. Bibirnya merah dalam balutan lipstik. Wanita itu sedang dalam perjalanan menuju lokalisasi tempatnya bekerja. "Mas, takmir ganteng. Numpang kamar mandi ya. Kebelet pipis banget nih," pamitnya. Melihat wanita yang biasa mangkal di lokalisasi yang tak jauh dari masjid itu, si takmir buru-buru mengunci pintu kamar mandi dan menghadang wanita itu sambil berkacak pinggang. "Kurang ajar. Pergi cari kamar mandi lain. Wanita pendosa. Wanita penuh maksiat. Neraka tempatmu. Itu kamar mandi untuk orang-orang yang mau ibadah, bukan untuk orang yang mau melakukan maksiat." Wanita itu gemetar dan pergi ketakutan.

Kemudian wanita itu datang ke sebuah mushalla, yang takmirnya menggunakan kacamata iradah berbingkai akhlak. Kepada si takmir, wanita itu mengutarakan maksudnya seperti saat datang ke masjid tadi. Si takmir kemudian membuka kunci pintu kamar mandinya dan buru-buru masuk ke dalam mushalla lalu bersimpuh sambil mengangkat kedua tangannya, "Ya, Allah! Wanita itu sesungguhnya adalah ayat-ayat-Mu juga. Dia telah dikucilkan dan dilecehkan sedemikian rupa. Rasa-rasanya, pintu-pintu kebaikan telah ditutup oleh anggapan dan tuduhan-tuduhan. Kalau bukan ke hadapan pintu-Mu, pintu mana lagi yang mau menerimanya. Dan apa susahnya bagi-Mu ya Allah untuk memberinya hidayah dan memanggilnya agar segera kembali ke jalan yang Kau ridhai. Tolong, jadikan air di rumah-Mu yang dia gunakan itu sebagai obat yang membuatnya sadar kembali. " Setelah itu, si takmir keluar bersamaan dengan keluarnya wanita itu dari kamar mandi. "Terima kasih, Mas takmir," katanya dengan suara manja. Si takmir membalas dan membiarkan wanita itu pergi dengan iringan doa-doa dalam hatinya. "Semoga engkau diberi hidayah, semoga engkau diampuni."

Cerita ini dibuat sebagai simpulan dari salah satu materi diskusi Cak Kuswaidi Syafiie bersama kelompok kajian pemuda Muhammadiyah Gombong.

Kebumen, 31 Mei 2016

Indonesia Darurat Mengaji

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmYqXyR0tw2qN3XiiyiRkDzC7AZCfXD7lQJsK5ZZdUla-SdbJQfxaKu0Q1VRSAuHLMIag9RIi_8tiJCYVxeQ9pfpTJg5gM_Ydxv_nfKjNYqn8F-ns_CJlOpfdNyl-HiYYRq_I2aPwmF5U/s1600/mengaji+3.jpg
Terdengar sangat manis ungkapan Muhaimin Iskandar mengenai gerakan Nusantara Mengaji yang diharapkan dapat membuat Bangsa Indonesia bebas dari segala persoalan yang menderanya. Sebagai sebuah ikhtiar, gerakan tersebut boleh saja kita amini meskipun dalam tataran praksisnya masalah yang dihadapi bangsa ini tak akan selesai hanya dengan dibacakan Al-Qur’an di seluruh Nusantara tercinta.
 
Kita tahu bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci, petunjuk dan pedoman hidup utama umat Islam di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Karena itu, idealnya seluruh umat Islam seharusnya bisa membaca kitab sucinya sendiri dan syukur-syukur bisa memahami dan mengamalkannya dalam laku hidup sehari-hari. Namun kalau mau jujur, banyak di antara umat Islam Indonesia yang tidak bisa membaca kitab sucinya sendiri.
 
Anehnya, belum banyak survei dilakukan demi mengetahui berapa persen dari umat Islam Indonesia yang tidak bisa membaca Al-Qur’an apalagi hingga level fasih membaca dan memahaminya. Ini masih belum termasuk orang-orang yang mengamalkannya, yang kemungkinan besar jumlahnya jauh lebih sedikit dari mereka yang mahir membacanya.
 
Dengan demikian, di luar sifatnya sebagai sebuah ikhtiar, gerakan Nusantara Mengaji menurut hemat penulis masih sangat dilematis. Satu sisi gerakan ini diharapkan dapat mengatasi persoalan bangsa, namun di sisi lain masalah kemampuan umat Islam dalam membaca kitab sucinya sendiri seakan tak terdedah sama sekali. Kalaupun gerakan Nusantara Mengaji ini berhasil diselenggarakan, bukankah yang terlibat hanya sedikit persen saja dari jumlah keseluruhan umat Islam di Nusantara? Dan mereka yang terlibat pasti hanya orang-orang yang sudah bisa atau mahir membaca Al-Qur’an.
 
Di tahun 2009 silam, penulis pernah mengikuti tes kemampuan membaca Al-Qur’an sebagai salah satu syarat kelulusan pendidikan jenjang S1 di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Ironisnya, tidak sedikit mahasiswa/i yang tidak mampu membaca Al-Qur’an meskipun mereka merupakan mahasiswa pada fakultas yang memiliki konsen besar terhadap ilmu-ilmu dasar agama Islam, dan sebagian dari mereka mengambil jurusan tafsir wa al-hadits. Fenomena ini jelas mengharukan dan sekaligus menyedihkan karena mahasiswa/i yang kuliah pada jurusan tersebut justru tidak bisa membaca materi utama yang mereka pelajari.
 
Gerakan Nusantara Mengaji jelas bukan program sepele. Apalagi ruang lingkupnya yang berskala nasional. Bagi sebagian kaum Muslimin, gerakan ini tentu saja akan disambut dengan antusiasme tinggi, terutama karena mereka merasa bakal mendapatkan apa yang oleh Gus Dur disebut sebagai ‘kompensasi psikologis’. Dan gerakan Nusantara Mengaji ini sepertinya berhasil menjanjikan kompensasi tersebut sehingga bisa disambut dengan hangat tanpa banyak kritik. 
 
Sebelum kita berharap terlalu banyak akan hasil dari gerakan Nusantara Mengaji ini, ada baiknya kita renungkan peristiwa menjelang wafatnya Nabi Muhammad Saw. Konon, menjelang wafatnya, Nabi Saw bertanya kepada Malaikat Jibril apakah malaikat penyampai wahyu tersebut masih berkenan turun ke bumi selepas kepergian Nabi menghadap Allah SWT. Jibril menjawab bahwa beliau akan turun sebanyak sepuluh kali, namun bukan dalam rangka membawa sesuatu, melainkan untuk mencabut sesuatu yang sekaligus menjadi pertanda akan makin dekatnya hari kiamat.
 
Salah satu hal yang akan dicabut adalah huruf-huruf Al-Qur’an. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kata-kata dicabutnya huruf Al-Qur’an. Sebagian mengatakan bahwa hal itu sebagai bahasa kiasan untuk menggambarkan keadaan dimana Al-Qur’an sudah jarang dibaca dan dipelajari. Sebagian yang lain mengatakan bahwa kelak huruf Al-Qur’an memang akan dicabut sehingga mushaf-mushaf hanya berisi halaman-halaman kosong belaka.
 
Atas dasar kisah tersebut, kita memang tidak bisa berasumsi bahwa gerakan Nusantara Mengaji dapat dimaknai sebagai upaya memperlambat ketentuan Allah akan datangnya hari kiamat. Tetapi gerakan Nusantara Mengaji justru di tengah-tengah banyaknya umat Islam yang tidak pandai mengaji menjadi semacam fenomena yang pantas membuat kita mengelus dada. Di masa-masa mendatang, barangkali penting juga menggagas gerakan Nusantara Belajar Mengaji sebelum gerakan Nusantara Mengaji, bukan?
 
Mengapa gagasan Nusantara Belajar Mengaji -hemat penulis- jauh lebih penting dari pada gerakan Nusantara Mengaji? Ada beberapa alasan, antara lain:
 
Pertama, terkait dengan Al-Qur’an, umat Islam Indonesia tampaknya akan semakin kehilangan lahirnya generasi-generasi “Utrujah”. Sebagian mungkin paham apa arti “Utrujah”. Istilah ini lahir dari lisan (hadis) yang mulia Nabi Muhammad Saw ketika beliau memberikan gambaran bahwa umat Islam yang membaca Al-Qur’an layaknya dia seperti buah Utrujah; buah yang memiliki keharuman memikat dengan cita rasa nikmat berlumur lezat.
 
Terkait hadis ini tak seorang pun yang berani menyangkal keshahihannya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan tak ketinggalan juga Imam Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi pada bagian Kitab Fadha’il al-Qur’an.
 
Masalahnya, bagaimana mungkin umat Islam akan membaca Al-Qur’an, kitab sucinya sendiri dan petunjuk Tuhannya, yang memungkinkan mereka terhimpun dalam generasi Utrujah tadi kalau mereka memang tidak bisa membacanya dengan fasih? Kita bisa mengukur kepada diri sendiri. Tatkala kita tidak lancar atau justru tidak bisa membaca Al-Qur’ang misalnya, maka yang terjadi selanjutnya adalah rasa malas membaca, jenuh dan bosan. Hal ini sangat masuk akal, sebab untuk apa membaca sesuatu yang kita sendiri tidak bisa atau tidak lancar membacanya. Buang-buang waktu. Begitulah keputusannya.
 
Lalu, yang lancar dan fasih membaca Al-Qur’an apakah ada jaminan mereka akan istiqamah membacanya, minimal satu juz dalam satu hari? Ya, tidak ada jaminan juga. Cuma kalau ini masalahnya sudah lain, karena sudah berhubungan dengan kesadaran, kecintaan dan mungkin juga hidayah. Gerakan Nusantara Mengaji barangkali lebih tepat untuk masalah ini, yakni untuk ‘menghardik’ kesadaran mereka yang sudah fasih mengaji tapi malah jarang mengaji.  
 

Kedua, gerakan Nusantara Mengaji pada dasarnya bukan gerakan baru di nusantara ini. Pesantren-pesantren di nusantara yang masih peduli dan perhatian terhadap kemampuan santrinya dalam membaca Al-Qur’an dengan benar, tak pernah sepi dari kegiatan tadarusan setiap saat. 
Lalu kenapa saya sebut ‘pesantren yang masih peduli dan perhatian’ yang memungkinkan munculnya tudingan bahwa dengan demikian ada pesantren yang tidak peduli dan tidak perhatian?.
 
Eitt… jangan salah sangka dulu. Meski lulusan pesantren sekalipun, tidak sedikit di antara mereka yang tidak lancar membaca Al-Qur’an. Saya punya banyak teman lulusan pesantren dan banyak di antara mereka yang tidak lancar baca Al-Qur’annya. Kalau mau, NU, Muhammadiyah, atau Kemenag sekalipun boleh melakukan survei ke pondok-pondok pesantren demi mengetahui adanya fakta bahwa santri sekalipun tak ada jaminan baca Al-Qur’annya fasih. Karena tidak fasih, akhirnya mereka jarang membaca Al-Qur’an selepas lulus dari pesantren. Satu lagi generasi Utrujah gugur selepas mereka lulus dari tempat yang seharusnya banyak menyemai lahirnya generasi tersebut.
 
Kemudian bagaimana dengan lulusan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, baik swasta atau negeri? Mengutip pernyataan KH. Hadidul Fahmi (Banyumas) yang mengatakan bahwa di Indonesia, lulusan MTs dan MA atau MTsN atau MAN, hanya 25% yang bisa membaca Al-Qur’an dengan fasih. Sementara 75% lainnya ada dua kemungkinan; bisa membaca tapi tidak fasih atau bahkan tidak bisa membaca sama sekali.
 
Barangkali kemudian ada yang berkomentar; “Tak bisa membaca Al-Qur’an tidak apa-apa, yang penting kelakuannya Qur’ani. Daripada fasih membaca Al-Qur’an tapi kelakuannya bejat, hayo pilih mana?”
 
Perbandingan seperti ini seakan-akan terlihat benar meskipun mengandung reduksi yang sangat fatal. Sebab dengan demikian, kita akan dengan mudah menyimpulkan bahwa tidak bisa membaca Al-Qur’an tidak apa-apa yang penting kelakuannya tidak bejat. Itu artinya, kita tidak perlu lagi belajar membaca Al-Qur’an, dan cukup baca buku-buku terjemah dan ulasan mengenai ayat-ayat Qur’an saja kalau begitu. Lalu, anjuran Nabi untuk belajar dan mengajar membaca Al-Qur’an, ujaran beliau tentang keutamaan membaca Al-Qur’an yang demikian banyak dalam hadis-hadisnya bahkan perintah Allah sendiri agar kita membaca Al-Qur’an sebagaimana salah satunya dalam surat Al-Muzammil itu mau dikemanakan? Diabaikan? Dilupakan? Dihapus?.
 
Melihat fakta-fakta sebagaimana saya uraikan di atas, saya jadi bertanya-tanya; Gerakan Nusantara Mengaji ini proyek atau apa? Sangat disayangkan kalau ini proyek karena gerakannya terlihat tanggung. Justru akan jauh lebih hebat menurut saya kalau proyek ini dinamai Gerakan Nusantara Belajar Mengaji dulu, baru kemudian Nusantara Mengaji.
 
Saya membayangkan, dengan menggagas gerakan Nusantara Belajar Mengaji, setidaknya banyak hal yang bisa dilakukan dan bahkan bisa melebihi sibuknya menyiapkan gerakan Nusantara Mengaji. Mungkin mushalla, langgar atau masjid-masjid yang semula sepi akan menjadi ramai dengan adanya orang-orang yang belajar mengaji. Sekolah-sekolah yang berasaskan Islam barangkali akan memasukkan kegiatan belajar mengaji sebagai materi tambahan eskul sehingga murid-muridnya yang notabene beragama Islam tidak hanya diajari main drum band. Para kiai di pesantren-pesantren lebih memiliki banyak waktu untuk duduk khusyuk menyimak santrinya yang belajar membaca Al-Qur’an ketimbang runtang-runtung diseret-seret para politisi. Ah….khayalan saya sungguh terlalu.
 
Syukur-syukur umat Islam yang kaya raya di nusantara ini kemudian bersatu dan menjadi founding untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan umat Islam yang sedang mengajar atau belajar mengaji. Apakah penting? Penting. Tahun 2015 lalu, di Panti Asuhan Amanah tempat saya mengajar mengaji anak-anak yatim dan dhuafa, diselenggarakan kegiatan belajar mengaji bagi para orang tua. Waktu itu ada sekitar 30-an orang yang ikut dengan usia rata-rata berkisar 50-an. Mereka datang dengan menenteng buku Iqro’ dan antusias belajar huruf-huruf Qur’an mulai dari A, Ba, Ta dan seterusnya. Saya senang melihat mereka yang dari tidak bisa mengaji sama sekali kemudian menjadi bisa mengaji. Setelah lulus, mereka diberi hadiah Al-Qur’an yang ada terjemahnya. Al-Qur’an itu dibeli dananya dari mana? Patungan sesama guru ngaji, bro. Itu dia kenapa saya katakan umat Islam yang kaya se-Nusantara harus bersatu dan menjadi donatur untuk acara beginian. Masak kita kalah sama saudara yang dari Kristiani?
 
Eeee….jangan bilang guru ngaji itu harus mau berkorban ilmu juga hartanya lho. Ini persoalan umat, jadi harus ditanggung bersama. Lagi pula, anak saya masih butuh susu dan saya tak menerima biaya buat beli susu itu di tempat saya mengajar mengaji. Tertarik..!? Mari hidupkan dilingkungan Anda semangat Nusantara Belajar Mengaji.  

Kebumen, 09 Mei 2016

MAALIKI YAUMIDDIN DAN NASIB AYAM-AYAM SAYA

Kalimat yang sudah pasti kita baca sebanyak 17 kali sehari-semalam dalam shalat itu sudah populer dengan terjemahannya sebagai "Yang Menguasai Hari Pembalasan". Dan hari pembalasan itu (yaum al-hisab) bagi sebagian orang dipahami sebagai 'yang nanti', bukan yang sekarang. Entah yang dimaksud 'yang nanti' itu menyangkut peristiwa di barzakh, mahsyar, surga-neraka dan seterusnya.
https://pixabay.com/static/uploads/photo/2013/07/13/12/08/rooster-159254_960_720.png

Lalu, apakah seseorang yang melakukan kebaikan atau keburukan itu harus menunggu 'nanti' untuk mendapatkan balasannya? Al-Biqa'i mengatakan, tidaklah demikian. Sebab, balasan itu sejatinya sudah diberikan sesaat setelah kebaikan atau keburukan itu dikerjakan. Hanya saja ada balasan yang ditampakkan sehingga bisa dirasakan oleh pelakunya, dan ada juga yang tidak ditampakkan sehingga tidak dirasa.
 
Nabi Saw bersabda, "Apabila seseorang melakukan dosa, maka diteteskan ke dalam hatinya satu titik hitam." Nah, satu titik hitam ini adalah wujud balasan itu yang barangkali merupakan balasan tersamar sehingga banyak orang tak sadar dan tak merasakannya. Dengan demikian, tidak ada istilah penundaan balasan yang akan diberikan Tuhan kepada pelaku kebaikan atau keburukan. Sekali berbuat baik, di saat itulah Tuhan membalas. Begitu juga sebaliknya.
 
Andai pembalasan Tuhan itu semuanya ditampakkan langsung sehingga bisa dirasakan wujudnya, mana ada orang berbuat dosa. Sekali sedekah seribu rupiah, lalu sedetik kemudian seratus ribu nongol dari lubang hidung. Sekali ngerasani keburukan orang lain, eh....tiba-tiba bibir keseleo dan kram.
 
Bahwa balasan itu tak pernah ditunda, baik cepat atau pun lambat, saya telah benar-benar mengalaminya. Dan kasusnya berkenaan dengan jamaah ayam-ayam saya.
 
Ceritanya, saya punya beberapa ekor ayam. Di antaranya enam ayam jago yang sudah besar-besar dengan bulu-bulu yang memukau serta empat ayam betina dengan kualitas super. Sedang beberapa ayam lainnya hanyalah sebatas ayam-ayam supporter. Mereka semua sehat-sehat dan siap memberikan banyak manfaat. Di saat yang bersamaan, ada juga tetangga saya yang memiliki banyak ayam. Hanya saja, ayam-ayam mereka mati mendadak. Si pemilik itu pun bercerita pada saya akan ayam-ayamnya yang mati mendadak itu.
 
"Kalau ayam-ayam saya, tak pernah sekalipun terkena penyakit. Apalagi mati mendadak," ucap saya mengomentari. Dan inilah pangkal masalahnya. Sungguh ucapan saya itu tak mencerminkan ketawadhu'an yang seharusnya, melainkan sejenis kesombongan yang mengundang binasa. Terbukti, keesokan harinya ayam jago dan betina yang saya eman-eman itu pun pada terkapar tanpa nyawa, mengalami kematian mendadak yang tak terduga.
 
Ya, Tuhan. Balasanmu memang tak pernah mengalami delay. Semoga saja mati satu netas seribu.

Kebumen, 6 Mei 2016