Diberdayakan oleh Blogger.

Substansi Kefakiran

Oleh Kuswaidi Syafiie

Hadits yang seringkali dikutip oleh para penceramah dalam berbagai pengajian mengenai kefakiran adalah bahwa kondisi pas-pasan dakam kehidupan itu akan senantiasa  menjerumuskan mereka yang mengalaminya pada jurang kelam kekafiran. "Kada al-faqru an yakuna kufran," begitulah sabda Baginda Rasulullah SAW.

Konotasi kefakiran pada hadits di atas tentu saja mengacu pada situasi keterdesakan seseorang secara ekonomi sehingga dia merasa terhimpit dan digebuk oleh kegetiran dalam kenyataan hidupnya sendiri. Dengan kadar dan frekuensi keimanan yang pas-pasan, getirnya kehidupan itu dikhawatirkan menggiring orang tersebut pada ambrolnya nilai-nilai religiusitas yang bersemayam dalam batinnya dan kemudian diganti dengan munculnya benih-benih kekafiran. Na'udzu billahi min dzalik!

Akan tetapi tentu saja kefakiran itu tidak serta-merta menjadi destruktif terhadap setiap tingkatan keimanan semua orang. Seseorang yang keimanannya telah sanggup mengantarkan pada kedudukan dan kesadaran spiritual tentang sankan paraning dumadi, mengenai asal-usul dan akhir dari segala sesuatu, termasuk juga dirinya, ia tidak akan tersentuh oleh destruksi kefakiran.

Malah yang seringkali terjadi justru sebaliknya: kefakiran itu lalu menjadi penegas terhadap kecemerlangan spiritualitasnya. Dengan kefakiran tersebut, dia justru akan dengan pasti mengalami dan merasakan kenikmatan transendental dari sebuah ayat keagungannpNya yang menyatakan: "Ya ayyuhan nas antumul fuqara ilallah/ Wahai manusia, kalian semua sungguh faqir (sangat butuh) kepada Allah," (QS. Fathir: 15).

Ketika kesadaran tentang awal dan akhir itu berkelindan secara solid dengan substansi kefakiran dalam diri seseorang, dia akan betul-betul mengenal siapa sesungguhnya dirinya. Akan menjadi begitu tampak di hadapan penglihatan batinnya bahwa dia sendiri, juga seluruh partikel yang mengapung dan bertebaran di segenap alam raya, ternyata "hanyalah" sebuah nuktah yang disebulkan oleh hadiratNya atas nama cinta dan kasih sayang yang senantiasa membahana.

Tidak boleh tidak, di saat kesadaran transendental itu membuncah, siapa pun yang telah mengalaminya akan memahami sekaligus merasakan bahwa kefakiran itu merupakan sesuatu yang akan senantiasa inheren pada sekuruh makhluk. Tidak akan pernah sejenak pun makhluk-makhluk terbebaskan dari cengkraman kefakiran, baik hal itu disadari maupun tidak.

Dalam konteks dan wacana sufisme, arti dan substansi kefakiran itu berkonotasi pada adanya dua pemaknaan. Yang pertama adalah kefakiran yang dipahami sebagai rasa butuh yang terus-menerus dan tak mengenal jeda kepada Allah SWT. Alasannya saya kira sudah jelas: seluruh makhluk tidak akan ada yang bisa eksis tanpa ditopang oleh pertolonganNya.

Sedangkan yang kedua adalah kefakiran yang dipahami dan dirasakan secara spiritual bahwa tidak tidak ada apapun yang betul-betul dimiliki oleh makhluk. Bahkan diri mereka sendiri, hidup dan mati mereka, sehat dan sakit mereka, muda dan tua mereka, jaga dan tidur mereka, dunia dan akhirat mereka: semua itu sama sekali bukanlah milik mereka, tapi milik Allah SWT semata.

Karena manusia merupakan makhluk yang paling mulia sebagaimana yang diisyaratkan oleh firmanNya, "Demi telah kumuliakan anak-cucu keturunan Adam," (QS. Al-Isra: 70), maka dimensi dan substansi kefakiran manusia menjadi lebih sempurna dan lebih mulia dibandingkan dengan kefakiran yang bersemayam pada makhluk-makhluk yang lain.

Jelas kemudian merupakan sesuatu pasti bahwa makin kuat kefakiran atau rasa butuh seseorang kepada Allah SWT, maka dia menjadi semakin mulia dan terhormat di hadapan hadiratNya. Hal itu tidak lain merupakan sebuah cerminan cemerlang dari kesadaran hakiki seseorang tentang kedudukan Allah SWT sebagai prima kausa di satu sisi, dan kedudukan dirinya sendiri sebagai efek semata dari kehendakNya pada sisi yang lain.

Dalam kitab Sirr al-Asrar fi Kasyf al-Anwar yang digubah Imam Ahmad al-Ghazali (wafat pada 520 H), ada tiga jenjang kefakiran yang mesti ditempuh secara spiritual oleh orang-orang beriman. Pertama, faqr al-dzat. Yaitu pengakuan mengenai adanya rasa butuh terhadap kemahaesaanNya dalam memberikan pertolongan terhadap seluruh makhluk. Dalam hal ini, baik orang beriman maupun orang yang kufur akan sama-sama menyeru Allah SWT ketika mereka merasa terdesak menghadapi kondisi getir yang menggocoh mereka.

Kedua, faqr al-shifat. Yaitu kefakiran yang dirasakan dan dialami para wali. Ketika dengan karunia Allah SWT mereka terbebaskan dari berbagai belenggu dunia ini dan jebakan akhirat nanti, lalu mereka sampai pada alam tauhid yang murni, maka semua sifat yang semula dinisbatkan kepada mereka seperti tamak, syahwat, menggebu terhadap pangkat dan kekuasaan: semua itu lenyap dari diri mereka.

Mereka laksana burung yang tidak sanggup terbang karena sayapnya tergunting habis. Mareka lalu merasa sangat membutuhkan sifat-sifat kemuliaan yang dikirim dari arah hadirat Allah SWT agar bisa melesat terbang menuju "alamatNya".

Ketiga, faqr al-af'al. Yaitu kefakiran yang disandang oleh para nabi. Pada setiap mau melakukan tindakan dan mengambil keputusan, mereka senantiasa membutuhkan izin Allah SWT terlebih dahulu. Andaikan izin itu tak ada, mereka tidak akan pernah lancang untuk melakukan sesuatu atau mengambil keputusan apapun.

Sungguh, itulah kehidupan rabbani yang amat cemerlang dan menawan. Wallahu a'lamu bish-shawab.


Kuswaidi Syafiie, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Rona Manusia

“Aku memahami seluruh nafasmu kekasih, mana yang hitam dan mana yang putih, lalu kuhitung-hitung pengkhianatan itu, tapi tak selesai juga,” (Tri Astoto Kodarie, "Hujan Meminang Badai," 1989).

Saya percaya, bahwa di setiap detik waktu yang kita punya, selalu ada kemungkinan kekecewaan yang akan kita rasakan. Sumber dan pelakunya bisa bermacam-macam. Dari mulai benda hingga manusia. Apa yang tampak kelihatan baik, tak sepenuhnya bisa dipercaya, dan apa yang tampak kelihatan buruk, tak seharusnya dicerca begitu rupa. Maka, bersikap sewajarnya namun juga kritis dan selalu waspada dapat menjadi pilihan terbaik sebelum kita terjebak pada dua masalah; kecewa dan buruk sangka.
 
Di samping dapat menjadi sumber kebaikan dan keburukan, manusia adalah segugus realitas yang juga dapat menjadi sumber kekecewaan dan sekaligus sumber buruk sangka. Dalam waktu yang bersamaan, manusia bisa tampak kelihatan baik sebelum kemudian terlihat begitu buruk. Dengan demikian, baik dan buruk, mengecewakan-membahagiakan merupakan dua potensi yang seluruhnya ‘mengumpul’ dalam diri setiap manusia.
 
Maka, tak usah kecewa ketika sesuatu yang sebelumnya terlihat baik kemudian berubah menjadi terlihat buruk. Dan tak perlu buruk sangka pada sesuatu yang terlihat jelek karena selalu ada peluang baginya untuk kembali menjadi baik. Itulah dunia. Itulah dialektika, yang dengannya kita tahu bahwa memang tak ada yang benar-benar ajeg-abadi dalam kehidupan ini.
 
Ketika saya memberikan jutaan pujian bagi seseorang karena sikapnya yang menyenangkan, maka bisa saja saya kehilangan kewaspadaan karena saya hanya melihat satu sisi dari bagian hidupnya saja. Tapi ketika saya begitu marah pada seseorang terhadap kelakuannya yang mengecewakan, itu tandanya saya masih belum mampu melihat secara total bahwa pada diri setiap orang itu memang telah melekat potensi-potensi keburukan yang bisa muncul kapan saja.
 
Pada setiap realitas, selalu ada pertentangan yang tak usai-usai. Termasuk dalam diri kita, setiap manusia. Dalam pertentangan itu, yang penting disoroti bukanlah apa yang dominan terlihat. Sebab yang dominan terlihat itu akan sangat mungkin dikubur oleh kenyataan-kenyataan lain sesudahnya.
 
Mungkin ada benarnya yang dikatakan Vernunft, bahwa melakukan identifikasi dengan adil merupakan cara yang tepat untuk memahami sebuah realitas, termasuk di dalamnya adalah manusia itu sendiri. Dan barangkali dengan identifikasi itulah kita dapat membuat semacam sintesis bahwa apa pun yang tampak dari setiap manusia, entah kebaikan atau keburukannya, keduanya sama-sama memiliki batasannya sendiri-sendiri.
 
Karenanya, saat manusia terlihat baik, jangan tergoda untuk mendewakannya karena kita tidak mengerti keburukan apa yang dia miliki yang akan menjadi pembatas bagi kebaikannya. Sebaliknya, saat manusia terlihat buruk, jangan terpancing untuk menistakannya sebab kita tidak tahu kebaikan apa yang dia miliki yang kelak akan menjadi pembatas bagi keburukannya.
 
Cintai yang kamu cintai, sekedarnya. Karena bisa jadi besok kau membencinya. Bencilah yang kamu benci sekedarnya juga. Siapa tahu besok kau mencintainya. Begitu kata Nabi. 

Kebumen, 15 April 2016

Cerita Bersama Anak (Bagian 1)

Ataka dan Najwa
Hampir semua buku cerita sudah saya bacakan untuk Aunillah.  Belum lagi cerita-cerita dadakan yang saya karang sendiri dengan tema-tema yang beragam. Mulai dari tema pohon, hewan, kendaraan, pesawat dan sebagainya. Cerita dadakan biasanya saya sampaikan kalau sebelumnya tidak sempat menyiapkan cerita baru untuknya.
 
Dan seperti biasa, tadi malam selepas Isya kami, Ataka, Najwa dan istri saya duduk-duduk di teras. Aunillah menyebut kegiatan itu sebagai kegiatan bersantai-santai sambil makan bersama. Setelah acara makan malam selesai, dia pun kembali meminta saya bercerita. Sayangnya saya tak memiliki persiapan bahan cerita.
 
Sebagai alternatifnya, saya ambil Al-Qur'an terjemahan dan mulai membaca ta'awwudz, basmalah hingga hamdalah. Saya bacakan terjemahnya dan saya rangkai-rangkai dengan cerita-cerita yang memungkinkan untuk dia pahami. Saat sampai pada bahasan tentang hamdalah, saya jelaskan kepada anak saya bahwa kita harus selalu banyak berterima kasih kepada Allah.
 
"Kenapa?" tanyanya sambil menikmati camilannya.
 
"Karena Allah-lah yang memberi kita banyak rizki. Salah satunya camilan yang kamu makan itu," jawab saya.
 
Sejenak saya lihat dia terdiam. Lalu kemudian meluncurlah dari mulutnya;
 
"Ohh, maksudnya begini ya. Misalnya ini Ata lagi makan camilan yaa. Nah, terus yang ngasih camilannya itu sebenarnya Allah? Cuma lewat bakul (penjual)?"
 
"Betul."
 
"Berarti kalau besok Ata dibelikan baju tentara sama tante Esti, itu yang ngasih juga Allah, cuma lewat Tante?" tanyanya lagi.
 
"Iya. Memang begitu?"
 
"Terus, sama bakulnya, sama Tante Esti, apa juga bilang terima kasih?"
 
"Ya, harus."
 
"Laa, kenapa harus berterima kasih. Kan yang ngasih Allah?"
 
"Soalnya tante Esti dan bakulnya itu sudah bantuin menyampaikan kiriman Allah sama Ata."
 
"Oohh."
 
"Menurut Ata, berterima kasih kepada Allah itu bagaimana caranya?"
 
"Ya, baca alhamdulillahi rabbil alamin. Terus shalat, terus ngaji, berdoa sama bantuin memadamkan api kalau ada orang yang rumahnya kebakaran."
 
Saya terdiam sebentar mendengar jawaban-jawabannya. Dalam hati saya berdoa, "Ya, Allah, jadikanlah dia anak yang shalih dan selalu memahami, menyadari dan mengetahui kehadiran-Mu dalam setiap peristiwa hidupnya kelak. Amin." 

Kebumen, 4 April 2016.

Jahiliyah; Periode atau Watak?

http://figures.boundless.com/24955/full/plate8cx.jpe
Seringkali kita mendengar -biasanya melalui mimbar khutbah atau ceramah, kata-kata seperti, “Mari bersyukur kepada Tuhan yang telah mengeluarkan kita dari alam jahiliyah menuju alam islamiyah, alam yang penuh dengan cahaya keimanan.” Dan jamaah pun tertunduk. Sebagian mengangguk-angguk.

Pernyataan seperti itu sejatinya tak banyak menjelaskan fakta apa pun yang tersimpan di balik kata-kata ‘alam jahiliyah’. Setidaknya kita bisa bertanya; apa alam jahiliyah itu dan apa alam islamiyah? kapan terjadinya situasi jahiliyah dan apakah ia seketika menghilang dengan datangnya islam?

Selama ini, kita memahami bahwa zaman jahiliyah sangatlah identik dengan masyarakat Arab pra-Islam yang doyan menyembah berhala, penjudi, pemabuk dan senang perang, terutama atas nama klan. Bahkan ia dipahami sebagai zaman kebodohan, yang barangkali pengertian tersebut diambil dari akar kata yang membentuk istilah jahiliyah itu sendiri, yaitu jahl.

Tetapi, menisbatkan kata jahiliyah pada masyarakat Arab pra-Islam dan memaknainya sebagai masyarakat yang hidup dalam kebodohan, tentu merupakan kekeliruan besar. Bila yang dimaksud kebodohan di situ adalah kebodohan dalam mengenal Allah atau bertauhid, mungkin argumen itu bisa diterima. Tapi tidak dengan lainnya.

Meski demikian, istilah tersebut tidak bisa dibatasi hanya pada keadaan masyarakat Arab Mekkah sebelum datangnya Nabi Muhammad. Sebab sebagian pendapat mengatakan bahwa zaman jahiliyah itu juga terjadi antara periode Nabi Adam sampai Nabi Nuh dan kemudian antara Nabi Isa sampai Nabi Muhammad Saw. Bila demikian, masa-masa transisi sejak wafatnya seorang nabi hingga lahirnya nabi berikutnya kemungkinan di masa-masa itu bisa juga terjadi zaman jahiliyah. 

Mengartikan istilah jahiliyah sebagai kebodohan secara tidak langsung telah menjadikan istilah tersebut berdiri sebagai lawan dari istilah ilmiyah. Kebodohan vs Pengetahuan. Dan kurang tepat apabila kita memahami kebodohan dalam istilah jahiliyah itu sebagai kebodohan sebagaimana yang kita bayangkan seperti kurang intelek, tidak kreatif dan semacamnya.

Terhadap masalah ini, para ilmuwan sebenarnya telah dengan tegas menepis adanya anggapan bahwa masyarakat Arab ketika itu adalah masyarakat yang bodoh, kurang intelek dan tidak kreatif sehingga mereka sering kita sebut sebagai masyarakat jahiliyah. Bukti betapa inteleknya masyarakat Arab waktu itu tercermin salah satunya dari tantangan yang diberikan Allah agar mereka membuat satu ayat yang serupa atau mirip dengan Al-Qur’an seandainya mereka ragu bahwa Al-Qur’an itu firman Allah, melainkan ciptaan Muhammad.

Hingga saat ini, tidak seorang pun dari pakar bahasa Arab paling super sekalipun yang mampu membuat ayat sebagaimana Al-Qur’an. Bila demikian, tantangan yang diberikan Allah kepada masyarakat Arab waktu itu bukanlah tantangan yang asal dilontarkan. Allah menantang mereka karena mereka merasa sangat pandai dalam ilmu bahasa dan sastra (kenyataannya memang demikian) meskipun kemampuan yang mereka miliki pada akhirnya tidak juga mampu menandingi keagungan bahasa atau firman Allah SWT. Bahkan hingga hari ini.

Sejarah mencatat bahwa masyarakat Arab ketika itu begitu piawai membuat syair, di samping berdagang. Bahkan setiap tahun selalu ada festival yang mereka sebut sebagai Festival Okadz, sejenis pekan raya atau pasar malam yang di dalamnya tidak hanya berlangsung transaksi jual beli semata. Dalam festival itu, semua penyair datang. Mereka mengadu karya sastra dan membacakannya di depan publik. Syair terbaik akan dipilih dan kemudian digantung di sisi Ka’bah.

Lalu, bagaimana kita memahami istilah jahiliyah? Apakah istilah itu berhubungan dengan tempo, zaman atau ia sesungguhnya merupakan watak, karakter dari sebuah kepribadian manusia dan akan selalu ada sepanjang sejarah hidup manusia?

Dalam Al-Qur’an, terdapat beberapa ayat yang secara tegas menyebut kata-kata jahiliyah. Pertama, dalam surat Al-Ahzab ayat 33, Allah berfirman agar para wanita (istri-istri Nabi) tidak berhias sebagaimana wanita-wanita jahiliyah. Setelah larangan itu kemudian Allah mengikutinya dengan perintah shalat. Dalam konteks ayat tersebut, Allah mempertentangkan tingkah laku wanita jahiliyah yang suka berhias dengan shalat, zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya.

Bila demikian ayat itu berkata, menurut hemat saya, jahiliyah itu bukan lagi soal tempo, waktu atau zaman tertentu. Ia bisa muncul dimana saja, kapan saja sebagai sebuah watak, karakter. Ayat tersebut hanya merespon kebiasaan masyarakat di zaman Arab pra-Islam, dan kebiasaan itu tidak otomatis terkubur hanya dengan datangnya Islam.

Masalahnya kemudian adalah, ayat di atas seringkali disitir oleh sebagian kalangan yang begitu getol menyuarakan pentingnya berbusana ‘sesuai’ syariat Islam dan membenturkannya dengan kebiasaan wanita jahiliyah dalam berhias tanpa mempertimbangkan informasi sejarah tentang bagaimana sebenarnya wanita Arab pra-Islam dulu berbusana sehingga disifati sebagai wanita-wanita jahiliyah. Akibatnya, muncul gerakan-gerakan yang lancang menuding bahwa cara berkerudung khas wanita Indonesia tempo dulu sebagaimana berkerudungnya ibu Shinta Nuriyah misalnya, sebagai kerudung yang tidak Islami, berkerudungnya Hughes sebagai kerudungnya ala jahiliyah karena ada benjolan mirip punuk unta sebagaimana sebuah hadis Nabi berkata demikian. Dan sebagai gantinya, dimunculkanlah busana yang menurut mereka ‘Islami’ dalam bentuk hijab, kerudung lebar plus cadar.

Salahkah pakaian seperti itu? Tentu saja tidak salah. Yang salah barangkali adalah ketika tidak ada upaya untuk mengkaji lebih dalam tentang kebiasaan wanita Arab tempo dulu dalam berhias sebagaimana disinggung oleh ayat ‘jangan berhias dan berperilaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu.’ Akibatnya kemudian tidak ada criteria yang jelas, yang bisa dipaparkan tentang berhiasnya wanita jahiliyah itu seperti apa, tingkah mereka seperti apa dan seterusnya. Karena tidak ada criteria yang jelas, maka siapa pun bisa dengan seenaknya memberikan statemen membabi buta.

“Pokoknya pakaian wanita yang selain hijab, tidak berjilbab, tidak bercadar, tidak memanjangkan baju hingga menutup kedua kakinya adalah gaya pakaiannya wanita jahiliyah, minimal bertingkap seperti wanita jahiliyah.” Yang begini ini kan parah. Apalagi bagi muslimah di Papua yang setiap hari bisa keluar-masuk hutan, gunung demi mencari sagu. Atau bagi muslimah pedesaan yang biasa ikut menanam padi di sawah. Mosok cadaran, hijaban, dengan baju lebar yang menutup kedua kaki?   

Uraian Fuad Hashem tentang kebiasaan dan perilaku wanita Arab pra-Islam barangkali dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan untuk memahami kebiasaan mereka sehingga Islam kemudian melarang istri-istri Nabi mengikutinya. Konon, para wanita Arab pra-Islam dinilai melalui fisiknya, mulai dari rambut, pipi, kelopak mata dan bibir. Selain itu, mereka juga dinilai dengan caranya berdandan. Mereka mengenakan wewangian dan selalu membawanya di dalam saku setiap kali pergi. Wewangian menyebar dengan lewatnya seorang wanita.

Tak cukup sampai di situ, mereka juga mengenakan pakain dengan asesoris yang mencolok. Pakaian mereka panjang menyapu-nyapu tanah, sangat longgar, bagian depan terbelah tetapi ada kancing di bagian leher. Sehelai selendang melilit di pinggang. Cadarnya dibuat dari tenunan tipis lagi jarang, terkait pada lingkaran di kepala, dirias dengan mata uang dan jalinan mutiara dan menggantung sampai kaki.

Bila mereka berasal dari keluarga bangsawan, pakaian yang dikenakan bukan dari sembarang bahan; baju sutera, linen dengan warna yang mereka sebut ‘lembayung raja’, warna yang diperoleh dari kelenjar kista kecil yang terdapat di dekat kepala kerang murex, dicampur air dan dibasahkan ke linen. Bila terkena sinar matahari warnanya berubah menjadi lembayung merah cerah dan ini biasanya dikenakan oleh mereka yang berasal dari bangsawan dan hartawan. Bahkan semua perhiasan paling mahal yang dimiliki mereka jalin dengan seutas benang sutera dan jadikan sebagai asesoris yang menempel di pakaian mereka, menjuntai-juntai dan mereka kenakan kemana saja mereka pergi. Entah ke pasar dan lebih-lebih ke tempat-tempat dimana mereka menyembah berhala.

Maka menurut saya (maaf, bukan manafsirkan) tak heran kalau ayat 33 dalam surat Al-Ahzab itu Allah mempertentangkan cara berhias dan perilaku wanita jahiliyah itu dengan perintah shalat yang tak memerlukan semua perhiasan macam itu. Cukup menutupi aurat dengan sempurna.

Kedua, dalam surat Al-Fath ayat 26, Allah juga berfirman, “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Tak jauh berbeda dengan surat Al-Ahzab, dalam surat Al-Fath ini Allah juga mempertentangkan kesombongan (kesombongan jahiliyah) dengan ketenangan. Bila demikian, seperti apakah sesungguhnya kesombongan jahiliyah itu?

Ignaz Goldzhiher, salah satu pemikir yang banyak mengkaji Al-Qur’an, menaruh perhatian salah satunya pada istilah jahiliyah ini. Menurutnya, jahiliyah bukanlah lawan kata dari ilmiyah, ‘ilm (kepintaran, kepandaian) melainkan sebagai sikap kejiwaan dan watak yang tidak dengan sendirinya mati hanya oleh datangnya Islam. Perwujudannya antara lain dengan adanya sikap congkak, sombong, arogan dan membangga-banggakan klan, suku, dan kelompok mereka. Kemudian juga semangat balas dendam, semangat kasar dan kejam kepada orang atau klan lain yang tak sepaham dengannya yang semuanya mereka tuangkan dengan semangat perang tak berkesudahan demi menunjukkan bahwa mereka yang terbaik, terkuat.

“Kalau tak kami temukan klan musuh, kami perangi saja tetangga dan sahabat, supaya nafsu perang kami jadi reda.” Begitu bunyi sebuah syair Arab kuno. Dengan pemahaman seperti itu, saya yakin bahwa sampai saat ini tidak ada jaminan kalau kita telah benar-benar dikeluarkan dari ‘alam’ jahiliyah, karena jahiliyah itu sendiri bukan soal tempat, zaman, melainkan watak atau karakter kejiwaan seseorang atau golongan.

Pertanyaannya kemudian; apakah saat ini ada orang-orang yang begitu membangga-banggakan klan atau kelompoknya sendiri, yang tercermin dari kebiasaan mereka memerangi klan atau kelompok lain dengan cara menjelek-jelekkan dan menghinanya dengan sedemikian keras dan kasarnya? Ada tidak? Kebiasaan seperti itu, jahiliyahkah atau islamiyahkah?.

Mari renungkan, teman!

TAUBATAN NESSU-HA

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeo6XVmyMXhDT9ZGnbnz24KHEttxawmS7eC13Qw7uts3JP_oiCrfiXguPLfAEtfEW_eYri_UVQ71PLci0-0z-I6IwnI2RWOu0xAnRQ-P70Cvpzcfu7-7CMnjOtdOxcRrBKxxmmAf9BKE2l/s1600/kartun+berdoa+untuk+dirinya+dan+kedua+orang+tuanya.jpg
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan Kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
 
Diserunya orang-orang yang beriman agar bertaubat dalam ayat di atas tentu bukan tanpa maksud. Setidaknya kita bisa bertanya, kenapa dalam ayat tersebut Tuhan hanya menyeru orang yang beriman untuk bertaubat? Bukankah yang paling pantas untuk bertaubat adalah mereka yang tidak beriman, yang sudah pasti ketidakberimanan mereka merupakan sebuah dosa dan dapat menjadi alasan yang sangat tepat untuk bertubat?
 
Menurut Imam Ghazali, hakikat taubat adalah kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari jalan yang jauh menuju jalan yang dekat. Karena itu, taubat mencakup ilmu pengetahuan, perilaku, amal.
 
Ada dua hal kata Al-Ghazali yang menghantarkan seseorang untuk bertaubat. Pertama, mengenal dosa sebagai suatu dosa. Kesadaran ini akan menyebabkan seseorang menyadari bahwa tindakannya berbuat dosa merupakan suatu kesalahan kepada Tuhan dan karenanya dia harus meminta maaf kepada-Nya.
 
Kedua, keinginan bertaubat bukanlah keinginan yang muncul dengan sendirinya pada manusia. Sebab Tuhanlah 'pencipta' taubat dan sekaligus penggerak sebab-sebab terjadinya taubat itu sendiri yakni adanya keimanan kepada-Nya. Hemat penulis, dengan kesadaran seperti ini, maka ketika di dalam hati kita muncul keinginan untuk bertaubat, maka keinginan itu harus disadari sebagai keinginan yang tidak bersifat otonom atau murni berasal dari diri kita sebagai manusia. Tapi sebaliknya, itu semua merupakan kehendak Tuhan yang menginginkan agar kita kembali ke jalan yang benar.
 
Dengan demikian, maka akan terasa sekali di sini betapa kasih sayang Tuhan begitu luar biasa besarnya pada manusia. Dia seakan mengingatkan manusia untuk segera insaf dengan dimunculkannya keinginan bertaubat dalam diri mereka. Bila kita menyadarinya seperti itu, tentu tak akan ada perasaan sebutir debupun dalam jiwa bahwa kita jauh lebih suci dan terampuni dari orang lain karena selalu bertaubat setiap saat. Mosok rajin taubat tapi kok masih songong, kok masih nessuan sama orang lain!? Berarti taubatan nessuha dong. Bukan nasuha...nye'
 
Lalu kenapa hanya orang beriman yang diseru dalam ayat di atas?
 
Bila kita kembalikan lagi pada pendapat Al-Ghazali, mungkin kita akan mendapatkan gambarannya. Mengapa Allah menyeru orang yang beriman untuk bertaubat? Salah satu alasannya adalah karena sebab-sebab yang memunculkan keinginan bertaubat itu haruslah keimanan. Bila masih ada iman yang mantap dalam hati seseorang, maka taubat yang dilakukan orang itu akan selalu dilandasi oleh kesungguhan yang tercermin dalam sikapnya yang penuh harap (raja’) dan sekaligus takut (khauf) kepada-Nya.
 
Paduan antara kedua sifat yang melandasi taubat ini akan memberikan implikasi atau pengaruh yang luar biasa dalam jiwa. Bertaubat yang dilandasi oleh harapan yang besar untuk memperoleh ampunan-Nya akan membuat yang bersangkutan tidak putus asa untuk selalu memohon ampun kepada-Nya. Sebaliknya, taubat yang dilandasi oleh rasa takut kepada-Nya akan membentuk satu sikap pertahanan dan kewaspadaan diri agar yang bersangkutan tidak kembali lagi terjatuh pada dosa-dosa yang sama.
 
Cuma masalahnya, saat saya bertaubat (beristighfar), hati saya rasanya hambar dari dekapan rasa takut dan penuh harap semacam itu. Keadaan ini sudah pasti karena iman saya yang masih belum mantap. Duh Gusti! Astaghfirullooooh....!

HIDUP ITU TURNAMEN ABADI

https://www.pixoto.com/images-photography/news-and-events/world-events/lomba-lari-5772749444218880.jpg
Dalam suatu kesempatan mengikuti acara darling-an (tadarus keliling) yang waktu itu dilaksanakan di Asrama Garawiksa, seperti biasa, Romo Kiai Edi Mulyono memberikan kulsum alias kuliah sepertinya sepuluh menit dengan menyitir beberapa ayat dalam Al-Qur'an. Kamis malam, 11 Februari 2016 lalu, beliau membahas surat Al-Hadid ayat 21-24.
 
Tentu banyak hal yang dibahas saat itu. Tetapi sepertinya saya tertarik untuk memahami idiom perlombaan sebagaimana menjadi frasa awal pada ayat 21. Di sana Allah berfirman, "Berlomba-lombalah kamu kepada -mendapatkan- ampunan Allah yang luasnya seluas langit dan bumi...." 

Sependek pengetahuan penulis, dalam Al-Qur'an setidaknya terdapat 7 ayat yang berisi idiom lomba/perlombaan, yakni dalam surat Al-Baqarah: 148, Al-Maidah: 48, Yusuf: 17 & 25, Yasin: 66, Al-Hadid: 21 dan Al-Muthaffifin: 26. Enam di antaranya menggunakan kalimat yang berakar pada kata sabaqa, sementara satu menggunakan kalimat yang berakar pada kata tanafasa. Keduanya diterjemahkan sebagai berlomba-lomba/berlomba-lombalah dan seterusnya.
 
Apakah antara sabaqa dan tanafasa merupakan dua kata yang mengandung murádif atau sinonim? Kalau melihat dari hasil terjemahnya, sangat tampak bahwa keduanya memang seperti dua kata yang bersinonim. Namun dalam kajian hermeneutika kontemporer, terutama melalui kajian linguistik disebutkan, bahwa tidak ada sinonimitas dalam Al-Qur’an. Menganggap ada sinonimitas dalam Al-Qur’an sama saja dengan membuka peluang bagi terjadinya reduksi terhadap konsep-konsep yang terkandung dalam setiap term-term kunci dalam Al-Qur’an.
 
Tak percaya..!? Tanya saja Muhammad Syahrur. Dia salah satu pemikir controversial asal Syiria yang tidak setuju bahwa kata-kata seperti Al-Kitab, Al-Furqan dan Al-Dzikr adalah sinonim dari Al-Qur’an. Bagi Syahrur, Al-Kitab, Al-Furqan dan Al-Dzikr adalah term-term yang mengandung konsep sendiri-sendiri. Demikian halnya dengan Al-Qur’an. Tapi, selama ini kita sudah terlanjur memahami bahwa Al-Kitab itu ya maksudnya Al-Qur’an, begitu juga dengan term Al-Furqan, Al-Dzikr. Tapi sudahlah, kita kembali saja pada soal perlombaan tadi.
 
Pertama, hidup ini sesungguhnya merupakan arena tempat manusia berlomba-lomba. Dari keenam ayat di atas, setidaknya ada tiga poin penting berkaitan dengan perintah berlomba-lomba, yaitu berlomba melakukan kebaikan, berlomba memperoleh ampunan Tuhan dan berlomba menggapai surga-Nya. Menariknya, ketiganya saling berkaitan erat sebagai suatu aktivitas yang harus dilakukan manusia untuk memperoleh ridha dan pertolongan-Nya.
 
Ibnu Katsir memahami ayat beromba-lombalah dalam kebaikan pada surat Al-Maidah: 48 misalnya sebagai perintah agar manusia bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan kepada Tuhan dengan mengikuti semua aturan (syariat) yang tertera dalam Al-Qur’an. Titik tekannya di sini ada pada keberadaan Al-Qur’an yang telah mengganti dan menyempurnakan syariat-syariat sebelumnya. Jadi, maksud berlomba dalam kebaikan di sini adalah kebaikan-kebaikan yang didasarkan pada semangat dan spirit moral Al-Qur’an.
 
Sementara At-Thabari menjelaskan bahwa perintah berlomba dalam kebaikan sebagaimana tertera pada surat Al-Maidah di atas akan tercermin dengan cara membiasakan diri secara konsisten melakukan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan dalam Al-Qur’an (biidmánil ‘amali bimá fí kitábikum alladzí anzalahú ilá nabiyyikum). Gagasan At-Thabari ini, hemat saya, lebih menekankan pada metode akan terwujudnya perlombaan itu sendiri. Sementara Ibnu Katsir pada gagasan tentang dari mana konsep kebaikan itu harus diperoleh.
 
Kedua, perintah agar manusia berlomba dalam kebaikan secara tidak langsung juga memberi peluang pada kita untuk memahami tentang gagasan-gagasan mengenai kebaikan itu sendiri. Kata al-khairat (jamak dari khair) pada petikan ayat yang berbunyi fastabiqu al-khairat jelas mengindikasikan betapa sesungguhnya ada banyak jenis kebaikan di dunia ini yang tersebar dimana saja serta bisa kita pelajari substansi pesan moralnya dan kemudian kita jadikan sebagai inspirasi untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan kita sendiri.
 
Dugaan saya, mungkin inilah alasannya kenapa dalam surat Al-Maidah ayat 48 itu, sebelum Allah berfirman fastabiqu al-khairat, Dia lebih dulu menegaskan, ‘untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang,’ (lukullin ja’alna minkum syir’atan wa minhaja). Wallahu A’lam, saya hanya menduga-duga saja, bukan menafsir atau menta’wil. Namun bila dugaan saya bisa diterima, maka sesungguhnya kedua kalimat dalam satu ayat itu (likullin ja’alna….hingga… fastabiqu al-khairat) dapat dijadikan sebagai penguat terhadap gagasan akan pentingnya saling melakukan proses pembelajaran dan dialektika dengan siapa saja di dunia ini sehingga pada akhirnya akan tercipta apa yang oleh Bassam Tibbi disebut sebagai moralitas internasional, suatu parameter teoritis yang awalnya digunakan untuk mengatasi konflik peradaban antara Islam dan Barat.
 
Ketiga, luasnya gagasan-gagasan tentang kebaikan juga sebanding dengan luasnya pengampunan Tuhan sebagaimana tersirat dalam surat Al-Hadid ayat 21. Di dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan agar manusia berlomba mendapatkan ampunannya (maghfiratin). Di situ Allah menggunakan frasa maghfiratin yang merupakan bentuk kalimat isim. Dalam studi Ulumul Qur’an disebutkan bahwa kaidah isim mengandung pengertian sebagai tetapnya sesuatu atau berlangsungnya sesuatu secara terus-menerus. 
 
Implikasi dari kata maghfirah yang berbentuk isim menegaskan betapa ampunan Allah akan selalu ada dan terbuka sampai kapan pun pada manusia selama mereka belum sakarat, dunia belum kiamat serta mereka tidak terjerumus dalam kemusyrikan. Maka berlomba-lombalah dalam menggapai pintu ampunan Tuhanmu, karena pintu ampunan-Nya selalu terbuka terus menerus sepanjang waktu. Sih!
   
Kebumen, 16 Februari 2016.
 

  

Aku, Kamu, Kita dan Syiah...

Coba pikirkan. Saat ke hadapan orang-orang yang bernaung di bawah bendera Sunni, Pendekar Khilafah dan Ahlul Cingkrang disodorkan kata Syiah, apa kira-kira yang terletup di benak mereka? Banyak letupan tentu, mulai dari 'mereka bukan Islam, rayap agama, musuh yang harus dibasmi' dan masih banyak lagi letupan-letupan lain yang intinya menempatkan si Syiah sebagai yang tidak baik. Demon. Dan itulah prejudice.
 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7qGfUsRUeASP6btq17TWNodk1EFcF2t_I0blOyDc1zzDsUHM3C7cCFgT6qRH4cvAVb0WDpPHmvLc68YHmbDv2oXuO_4cjJZklPJffqrxDUaaq3E9d22Mr9goCV3Gza4KQEP2pdla40n1i/s1600-h/1Bedaween.jpg
Gampangnya, prejudice itu adalah gambaran-gambaran kesimpulan yang sudah diambil seseorang saat melihat/menilai sesuatu jauh sebelum dia meneliti tentang sesuatu itu dengan detil. Dan seandainya diteliti dengan detil, sangat mungkin ada banyak hal yang tidak sepenuhnya sama dengan kesimpulan awal yang dia buat.
 
Sama seperti ketika orang mendengar kata Syiah tadi. Yang muncul pertama kali di benak mereka adalah, mereka bukan Islam, harus ditumpas, harus dibenci sampai ke akar-akarnya dan seterusnya. Prejudice awal yang dibangun bahwa Syiah bukan Islam tentu menegaskan satu kenyataan bahwa yang bersangkutan memandang Syiah hanya dari sisi ideologisnya semata. Wajar saja begitu. Apalagi sikap alergi akan Syiah sudah dibangun mulai dari kegiatan-kegiatan intelektual beserta produk-produknya. Termasuk dalam wacana hukum Islam.
 
Contoh.  Saat Abdul Wahhab Khalaf dalam 'Ilmu Ushúli al-Fiqhi menguraikan tentang rukun ijma', beliau mengajukan untuk semata mempertimbangkan para mujtahid Haramain, Iraq, Hijaz, Alul Bait dan Ahlussunnah. Lalu menutupnya dengan kalimat Dúna Mujtahidi al-Syí'ah. Efeknya sungguh luar biasa. Karena kitab tersebut dipelajari secara suntuk di pesantren, tak ayal para kalangan pesantren yang nota bene Ahlussunnah seperti merasa terteror saat kata Syiah disebutkan.
 
Bolehlah Syiah dipandang demikian dari kacamata ideologisnya. Tapi Syiah apakah hanya memiliki sisi ideologi untuk diteliti? Tentu tidak. Syiah itu sebuah organisme yang hidup. Kita bisa mempelajari banyak aspek dari mereka seperti bagaimana cara mereka sekarang berpolitik, cara mereka berekonomi,  cara mereka belajar dan sebagainya. Dan untuk yang saya sebutkan terakhir ini saya sungguh kagum pada Syiah. Konon, salah satu kebijakan dalam dunia pendidikan yang diterapkan di Iran adalah melarang para pelajar mengutip buku apabila pengarangnya sudah mati. Alasan mereka simpel. Kalau ada kesalahan, kita tidak bisa melakukan konfirmasi.
 
Sepintas kebijakan itu terdengar konyol. Kalau tak boleh mengutip buku karena pengarangnya sudah mati, berarti di sana banyak sekali buku-buku terbuang percuma. Bagus tuh seandainya pergi kesana untuk jadi tukang rongsok kertas. Tapi selain terkesan konyol, saya justru melihat bahwa di balik kebijakan itu mungkin ada semacam harapan agar para pelajar di sana tidak terlalu bergantung pada pemikiran tokoh-tokoh sebelumnya yang sudah mati sehingga mereka tergerak untuk mencipta penemuan dan pemikiran yang baru. Selain itu, disarankannya untuk hanya menggunakan referensi buku yang penulisnya masih hidup mungkin agar dengan demikian para pelajar dapat selalu bertukar pikiran, saling melakukan koreksi, saling bertukar wacana dengan si pengarang sehingga buku itu dapat selalu menemukan pengkayaan demi pengkayaan pemahaman yang bisa terjadi akibat terciptanya suasana dialogis yang terus menerus. Itu sih dugaan saya. 
 
Intinya, ada banyak sisi dari Syiah yang bisa kita pelajari selain hanya memandangnya dari aspek ideologi mereka. Dan tidak menutup kemungkinan dengan mempelajari sisi-sisi Syiah lainnya, kita justru bisa mendapatkan ilmu, pengalaman dan inspirasi positif dari mereka yang bakal berguna untuk kita. Dan itu bisa terjadi kalau kita tidak menyimpulkan tentang Syiah hanya berdasarkan prejudice belaka. Siapa tahu kan..!?
 
Kesadaran-kesadaran seperti ini saya rasa penting kita miliki. Setidaknya dengan begitu hati kita tidak hanya terisi oleh semata-mata kebencian demi kebencian. Saya terkesan ketika istri mendiang Gus Dur ditanya oleh Andy dalam acara Kick Andy; "Lebih senang mana, menjadi istri Gus Dur sebagai presiden, sebagai ulama, sebagai kiai atau apa?"
 
"Mau Gus Dur presiden, ulama, kiai atau orang biasa, saya selalu senang menjadi istrinya Gus Dur."
 
Dari jawaban itu mungkinkah kita bisa membuat analog yang hampir sama? Setidaknya kita bisa berkata misalnya, "Mau ada Syiah, Khawarij, Mu'tazilah, Sunni, saya akan selalu senang bila kita bisa hidup tenang berdampingan, saling mempelajari dan memahami untuk menguatkan dunia kemanusiaan."
 
Terus, kalau saya berbicara begini kamu akan menyebut saya sebagai Syiah? Ya, monggo. Tak tahlilan sik, nyong.
 
Kebumen, 13 Februari 2016