Diberdayakan oleh Blogger.

Hahh....!! Selametan Itu (Tak) Perlu….??!!

Pagi tadi, saya mengikuti pengajian yang dibawakan oleh seorang ustadz yang entah siapa namanya, saya lupa. Dalam pengajian itu, sang ustadz menyampaikan sebuah materi tentang perlu tidaknya atau benar tidaknya seseorang mengadakan selametan untuk mohon keselamatan.
http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2012/09/Selametan-bangunan-putri.jpg


Melihat penampilan sang ustadz, saya bisa menebak apa tanggapan beliau tentang selametan itu. Dan sebenarnya tema yang dibawakannya itu sangatlah sensitive karena mencoba melawan suatu tradisi yang sudah lama dilakukan oleh masyarakat dimana ia menyampaikan dakwahnya.
 
Hati saya ketar-ketir menanti bagaimana kelanjutan sang ustadz dalam memberikan ceramahnya, walau sebenarnya saya sudah bisa memahami apa kesimpulan beliau pada akhirnya. Dan….benarlah dugaan saya. Dengan mantap sang ustadz berkata;
 
“Selametan itu tidak perlu. Sebab tidak ada hubungannya dengan keselamatan yang kita harapkan. Di Barat, di Timur Tengah, tidak ada orang yang mengadakan selametan tapi mereka selamat. Itulah suatu bukti bahwa selametan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan selamat. Karenanya selametan itu tidak perlu dilakukan. Bukannya selamat yang kita dapatkan, malah bisa jadi celaka karena dapat membuat kita melakukan syirik kepada Allah.”
 
Saya senyam-senyum saja mendengar ceramah sang ustadz yang usianya barangkali terpaut sedikit lebih tua dari saya. Saya mencoba husnudzdzan pada beliau bahwa beliau berkata demikian karena barangkali beliau tidak memahami siapa audiensnya. Atau bisa saja dia sudah paham namun dia sekadar belajar menerapkan apa kata Nabi, qulilhaqqa walau kána murran.
Lalu, benarkah selametan itu salah dan karenanya tidak perlu dilakukan? Benarkah selametan itu dapat membuat seseorang jatuh kepada kemusyrikan sebagaimana yang ustadz tadi sampaikan?
 
Dalam pandangan saya, selametan itu adalah bagian dari ikhtiar seseorang dalam rangka memohon keselamatan kepada Allah. Sebagai sebuah ikhtiar, selametan itu barangkali sama dengan peristiwa dimana seorang shahabat datang kepada Nabi dan kemudian dia biarkan untanya tanpa diikat. Nabi berkata, “Kenapa tidak kau ikat untamu itu?” Si shahabat menjawab, “Saya tawakkal kepada Allah.” Dengan tersenyum Nabi menjawab, “Ikat dulu untamu. Barulah setelah itu kau tawakkal.” Artinya, ikhtiarlah dulu dan urusan hasilnya, biarlah takdir Allah yang menentukan.
 
Sebagai sebuah ikhtiar, selametan itu juga tak jauh berbeda dengan seseorang yang membiarkan api kompor di dapurnya tetap menyala di malam hari. Kemudian orang itu pergi tidur sambil berkata, “Kalau Allah tak menghendaki rumahku terbakar, maka tidak akan terjadi kebakaran meski api kubiarkan tetap menyala semalaman.”
 
Dalam kasus ini, niat tawakkal orang tersebut benar. Tetapi sayangnya  tidak dibarengi dengan ikhtiar yang sempurna. Itulah sebabnya kenapa Nabi mengatakan, “Janganlah kalian meninggalkan api dalam keadaan menyala di rumah ketika kalian hendak tidur.”  Artinya, jangan buru-buru meninggalkan ikhtiar sesuai kemampuan kita dengan semata-mata berdalih bahwa kita tawakkal kepada Allah. Sebab kita tidaklah tahu seberapa tangguhnya kadar keimanan dan ketawakkalan kita kepada-Nya.
Beda halnya dengan Abu Bakar yang ketika ditanya oleh Nabi, “Seberapa banyak harta yang akan kau sumbangkan untuk Islam, wahai Abu Bakar?” Dengan mantap ia menjawab, “Seluruhnya.” Lalu Nabi kembali bertanya, “Bagaimana dengan urusan keluargamu?” Dengan kemantapan yang sama Abu Bakar menjawab, “Urusanku dan keluargaku, biarlah kuserahkan pada Allah dan Rasul-Nya.”
 
Level keimanan dan ketawakkalan Abu Bakar kepada Allah jelas tak akan mungkin terkejar oleh siapapun di antara kita. Orang semacam beliau seakan mengacuhkan pentingnya ikhtiar berkaitan dengan urusan-urusan duniawi karena begitu jumbuh, kuat dan menyatunya keimanan dan ketawakkalan beliau kepada-Nya. Tak heran kalau Nabi pernah berkata, “Suatu malam aku menimbang imannya Abu Bakar dengan imannya umat Islam di seluruh dunia. Ternyata, imannya Abu Bakar jauh lebih berat.”
Lalu, apakah ikhtiar memohon keselamatan dengan mengadakan selametan itu salah dan tidak perlu?
 
Saya tidak ingin menyalahkan dan membenarkan tradisi itu. Tapi,  barangkali penting dilihat terlebih dahulu seperti apa tata cara pelaksanaannya. Sejauh yang saya tahu, selametan di beberapa daerah itu memiliki tata cara yang bermacam-macam. Di Madura, selametan dilakukan salah satunya dengan menyediakan sepiring nasi tumpeng, air bunga, lentera mengambang (dhamar kambhang), kue-kue serta menyisipkan uang di atas piring yang dijadikan tempat kue-kue tersebut. Kemudian orang yang mengadakan selametan mengundang seorang guru ngaji yang diminta untuk membacakan surat-surat dalam Al-Qur’an dan kemudian berdoa.
 
Nasi tumpeng itu kemudian diberikan kepada si guru ngaji, sementara kue-kue dan uangnya biasanya diberikan terutama kepada anak-anak yatim seraya yang bersangkutan berkata, “Doakan saya sekeluarga semoga selamat ya..” Kemudian air bunga itu diminum oleh semua anggota keluarga dengan membaca basmalah terlebih dahulu. Terkait dengan apa yang terjadi dengan air yang dibacakan kalimat-kalimat yang baik semisal Al-Qur’an, penelitian modern sudah menemukan hasilnya.
 
Sampai di sini, saya tidak menemukan sesuatu yang patut dipersalahkan terkait dengan selametan sebagaimana di atas. Niatnya baik, tata caranya baik, dan kepada siapa kita memohon keselamatan juga benar karena semata-mata ditujukan kepada Allah SWT.
Tradisi selametan barangkali patut dikoreksi kebenarannya apabila tata caranya sudah agak menyimpang dari aturan Islam, apalagi sasaran dari doa keselamatan yang kita harapkan tidak murni ditujukan kepada Allah. Misalnya mengadakan selametan dengan pesta pora dimana banyak makanan yang terbuang-buang (mubadzir) percuma, selametan dengan hura-hura dan sebagainya. Tradisi selametan semacam itu memang perlu dikoreksi, namun harus tetap menggunakan tata cara yang santun serta harus dicarikan penggantinya sebagai sebuah solusi alternative. Kurang arif rasanya apabila kita hanya bisa melarang sesuatu tetapi kita tidak bisa memberikan alternative lainnya. Kita mungkin perlu meneladani bagaimana para wali penyebar agama Islam di tanah Jawa melakukan upaya-upaya kreatif sebagai sebuah alternative dalam merubah tradisi Jawa yang menyimpang menjadi selaras dengan kaidah Islam.
 
Kemudian apakah selametan itu dapat menyebabkan seseorang terjatuh dalam kemusyrikan atau tidak, hal ini juga perlu penelitian yang serius dan bijaksana. Menurut saya, kemusyrikan itu tidak semata-mata terletak pada seperti apa bentuk perbuatan yang dilakukan oleh seseorang, melainkan juga harus dikembalikan pada hati si pelakunya, yakni kepada siapa dia bergantung. Karena itu, sangatlah berbahaya menghukumi seseorang sebagai orang yang musyrik apabila hanya melihat pada perbuatannya semata di samping yang benar-benar memahami apakah seseorang itu musyrik atau tidak hanyalah Allah semata. Kemusyrikan adalah urusan keimanan dari masing-masing pribadi dengan Tuhannya. Sementara kita hanya berhak mengingatkan, tanpa harus memberikan hukuman yang berlebihan.
 
Karena itu, sangatlah berlebihan apabila kita menilai orang yang mengadakan selametan sebagaimana di kampung saya itu sebagai perilaku musyrik mengingat kami tetap memohon dan bergantung kepada Allah. Selametan itu hanyalah ikhtiar fisik semata yang dengannya kami belajar menggugah kekhidmatan di dalam berdoa kepada-Nya. Persoalan ikhtiar fisik berupa selametan itu perlu dilakukan atau tidak, kita kembalikan lagi kepada yang bersangkutan tanpa mereka harus dipaksa untuk meninggalkan tradisi itu. Sejauh dalam tradisi selametan itu kita tetap bergantung kepada Allah, serta tidak ada perilaku yang menyimpang dari tuntunan agama, menurut saya tidak ada salahnya selametan dilakukan. Tetapi kalau sudah menyimpang, maka disitulah diperlukan adanya koreksi dan sekaligus kita harus dibuatkan alternative lain yang tetap dapat menjamin kekhidmatan mereka dalam beribadah kepada-Nya. Dengan kata lain, jangan sekadar mampu melarang namun lemah dalam memberikan metode dan cara-cara yang lain. Sebab semua orang pasti mampu kalau sekadar melarang-melarang tetapi tidak semua orang mampu memberikan lain tawaran.
 
Selanjutnya, apabila kita menilai bahwa seseorang itu musyrik hanya berdasarkan pada cara mereka berbuat sesuatu, maka sangatlah besar peluang kita untuk terjatuh dalam buruk sangka (husnudzdzan). Kalau saya duduk bersila di depan sebatang pohon besar yang oleh orang lain dianggap keramat, apakah kemudian saya dianggap musyrik hanya karena saya berada di situ? Belum tentu, bukan. Padahal bisa jadi saya berada di situ tidak lain hanya sekadar mengagumi keagungan Allah, betapa kuasanya Dia yang telah menciptakan pohon sebegitu besarnya dan memberikan kehidupan hingga ratusan tahun lamanya. Atau saya di situ sedang membaca ayat kursi sambil berdoa kepada Allah agar jin-jin dan setan yang ada di pohon besar itu segera dijauhkan agar masyarakat di sekitarnya tidak lagi takut karena menganggapnya angker. Kalau begitu, Anda kecele, bukan? Buruk sangka, bukan?
Maka sekali lagi, kemusyrikan itu jangan hanya dinilai dari apa dan bagaimana perbuatan seseorang mengingat kemusyrikan itu adalah wilayah hati, wilayah keimanan yang tak seorang pun sanggup memahaminya selain Allah. Tabayun-lah terlebih dahulu, koreksilah terlebih dahulu, lakukan konfirmasi dan penelitian mendalam agar kesimpulan yang diambil tidak bersikap serampangan dan benar-benar mencerminkan bahwa kita ini benar-benar seorang ulama.
 
Seorang sufi di suatu hari sedang menimang-nimang batu akiknya. Lalu datanglah seseorang yang bertamu kepadanya. “Apa yang kau lakukan dengan batu itu?” tanya si tamu. Si sufi menjawab, “Batu ini sungguh memberikan berkah yang luar biasa kepadaku,” jawab si sufi sambil terus menimang-nimang batu akiknya. Si tamu kemudian berkata, “Kau musyrik, Syekh. Kau telah percaya pada batu, bukannya pada Allah. Padahal kau ini guru sufi dan memiliki banyak murid pengikut.” Dengan tersenyum, si sufi menjawab, “Kau ini yang bodoh. Coba kau lihat batu ini. Lihat…dan katakan apa yang kau lihat di dalam batu itu?” kata si sufi sambil menyerahkan batu akiknya pada si tamu. Setelah lama si tamu melihat batu akik itu, ia kemudian berkata bahwa dia tidak melihat apa pun selain warna biru batu itu. “Kau benar-benar bodoh. Padahal dengan melihatnya, aku merasakan kebesaran, kekuasaan dan keindahan Allah yang tak terhingga meski hanya lewat sebongkah batu ini. Lihat ran rasakanlah kebesaran Allah pada setiap sesuatu yang kau pandang, niscaya tauhidmu akan tegak menjulang.” Begitulah kata si sufi. Sementara si tamu hanya tertunduk dalam. Ia terkecoh karena melihat dan menilai si sufi hanya dari perbuatannya semata sebelum ia sempat mengoreksinya.
 
Jadi, renungkanlah Allah berfirman;
 
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. An-Nisa’ : 94).  
 
Kepada pak ustadz, saya akan lakukan selametan khusus buat panjenengan agar panjenengan sekeluarga selamat.

  

Didik Karyadik; Pegawai Pemda yang Hatinya Bertabur Cinta

Sesungguhnya saya tidak cukup memiliki kesanggupan untuk memulai dan menyelesaikan tulisan mengenai Didik Karyadik, seorang sahabat semasa kuliah asal Medan yang kemarin saya dapatkan kabarnya telah menghadap Allah akibat penyakit kanker otak yang menimpanya. Kabar itu saya dapatkan pertama kali dari sahabat saya, Mursyidi Lathif (09 Agustus 2015/05:26:45), kemudian Aat Hidayat (10 Agustus 2015/02:46:55).
Didik Karyadik


Saya memaksakan diri meluangkan waktu untuk secara khusus menulis tentang dia karena dia adalah sosok yang istimewa bagi saya. Ya, Allah! Ampunilah dosanya dan terimalah dia sebagai hamba-Mu yang kembali kepada-Mu dengan ridha dan kebahagiaan. Amin.

Kisaran tahun 2004, tepatnya pada saat liburan semester, saya berniat pulang ke Sumenep, Madura. Didik kemudian datang ke pondok. Dia menyatakan keinginannya untuk ikut saya ke Sumenep. Tentu saya sambut keinginannya dengan hati gembira. Dalam hati saya ingin memperlihatkan bahwa orang-orang Madura tidak seperti yang pernah dia bayangkan sebelum-sebelumnya sebagai pribadi yang kasar, keras dan kurang ramah.

Saat sampai di Sumenep, Didik pun memperlihatkan sikapnya kepada keluarga dan tetangga-tetangga saya sebagai sosok yang ramah, humoris dan senang ngobrol. Gayungpun bersambut. Keluarga dan tetangga saya benar-benar welcome dan menunjukkan sikap mereka sebagai pribadi-pribadi yang tak kalah ramahnya dengan Didik sehingga dia pernah minta diantar ke toko untuk membeli buku dan menulis catatan harian di bawah pohon mangga di tengah halaman. Semoga buku hariannya itu masih tersimpan.

Masih lekat dalam ingatan saya, bagaimana selama seminggu Didik selalu mendapat undangan sarapan pagi, makan siang dan makan malam, baik dari family-famili saya maupun dari tetangga-tetangga saya yang lain. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana hampir setiap malam selalu ada saja tetangga-tetangga yang datang bermain ke rumah sekadar untuk bertukar cerita dengan Didik yang menurut mereka sangat hangat dan menyenangkan. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana Didik selalu cerewet pada ibu saya karena jarang memakai sandal yang menurutnya tidak baik bagi kesehatan. Masih lekat dalam ingatan saya ketika suatu hari para tetangga memiliki inisiatif untuk mengajak Didik berpelesir ke pantai bersama-sama dengan menaiki pik-up ramai-ramai. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana para family dan tetangga saya selalu datang ke rumah membawa berbagai macam makanan untuk Didik cicipi sampai dia sering berkata, “Orang sini parah. Masak tamu disuruh makan terus sampai kekenyangan begini.” Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana Didik pernah terlibat debat urusan ilmu ushul fiqh dengan guru saya yang mengajar materi itu. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana Didik menitikkan air mata ketika dia hendak pulang ke Jogja dan diantar ke terminal oleh para tetangga hingga dua mobil (L 300 & Pick-Up) yang jauhnya sekitar 30 kilometer dari rumah saya. Masih lekat dalam ingatan saya bahwa tak hanya Didik yang menitikkan air mata, tetapi adik saya, ibu saya dan beberapa tetangga saya pun ikut menitikkan air mata sambil berkata, “Kembali lagi…kembali lagi,” sampai Didik mengurungkan niatnya menaiki bis yang hendak berangkat dan menunggu bis berikutnya. Masih lekat pula dalam ingatan saya bahwa seringkali ibu dan beberapa tetangga saya selalu bertanya perihal Didik. Terakhir mereka bertanya perihal Didik pada lebaran tahun 2015 kemarin.

Didik Karyadik dan Keluarga Tercintanya
Didik memang telah menaburkan rasa cintanya ketika dia ikut ke rumah saya beberapa tahun yang lalu. Dan itu bukanlah sikap yang dibuat-buat. Sebab tak mungkin tetangga-tetangga saya akan bersikap sedemikian cintanya juga pada Didik kalau apa yang ditunjukkan Didik hanyalah kamuflase semata. Ya, Allah! Cintailah dia, sayangilah dia.   

Sebelum bulan puasa kemarin, Allah SWT mempertemukan saya dengannya. Dan saya benar-benar tidak menyangka bahwa itulah pertemuan terakhir saya dengan Didik. Banyak hal yang kami ceritakan saat itu. Di antara sekian banyak cerita yang dia omongkan, ada satu cerita Didik yang membuat saya geleng-geleng kepala. Di tempat dia bekerja (Didik adalah pegawai Pemda dan juga dosen), Didik seringkali menerima amplop berisi uang dari bendahara kantornya.

“Saya tidak tahu pasti status uang itu. Tapi saya sudah bertekad bahwa saya tidak akan menerima uang di luar uang gaji saya. Tapi sikap saya ternyata membuat teman-teman kerja saya merasa tidak senang. Saya tak peduli. Saat mereka memberikan uang ceperan lagi, saya terima uang itu. Saya kumpulkan dan kemudian saya kembalikan lagi ke bendahara tanpa serupiahpun yang saya ambil.”  

Kurang lebih demikian yang Didik sampaikan pada saya malam itu sambil kami mengelilingi jalanan Jogja. Saya benar-benar takjub dengan sikap sahabat saya yang termasuk salah satu lulusan terbaik di UIN Sunan Kalijaga itu. Ini sikap yang langka tentu. Dan barangkali hanya sedikit orang yang berani mengambil keputusan heroic sebagaimana telah dilakukan oleh Didik itu.

Oh, Didik! Jauh di dalam lubuk hati, saya meyakini bahwa engkau kembali menghadap Allah dengan membawa kemenangan setelah engkau berhasil mengalahkan besarnya godaan materi yang justru membuat pegawai lain sepertimu banyak yang terlena dan gelap mata dan kemudian lungkrah derajatnya. Engkau telah mengajarkan satu hal berarti buat saya dan teman-temanmu yang lain bahwa jangan pernah coba-coba mengambil sesuatu yang tidak jelas apakah sesuatu itu memang pantas kita terima atau tidak. Engkau benar-benar belajar mematuhi apa kata Nabimu, da’ má yaríbuk ilá má lá yaríbuk. Jadi, pantaslah engkau memilih menjadi mahasiswa jurusan tafsir hadis semasa kuliah dulu.
Didik Karyadik dan Istri


Dalam keyakinanku yang lain, engkaupun adalah pribadi yang tangguh yang memiliki kesabaran teruji waktu. Masih aku ingat bagaimana engkau selalu tak lepas dari alat hirup pereda sesak nafas yang kau hirup ketika asmamu kambuh dulu. Di tengah gempuran asma yang tak putus-putus, yang katamu sudah diderita sejak masih sekolah dulu, engkau masih begitu tekun menyelesaikan S1-S3-mu dengan predikat lulusan terbaik pula. Hanya orang-orang yang sabar, yang masih mampu menorehkan prestasi di tengah ringkihnya tubuh akibat penyakit sebagaimana yang kau derita itu.

Didik! Saat tulisan ini aku publikasikan, engkau memang sudah tak mungkin lagi turut membacanya. Tapi biarlah tulisan ini menjadi sarana bagi saya, bagi teman yang lain untuk membaca lagi jejak-jejakmu yang barangkali hanya sedikit orang yang tahu. Semoga anak-anakmu kelak pun menemukan tulisan ini, membaca tulisan ini hingga ia mengerti bahwa mereka beruntung memiliki seorang ayah yang hebat sepertimu. Selamat jalan, Didik Karyadik. Aku mencintaimu.

Lahulfatihah!   

Cabeyan, 10-8-2015/14:44

Manfaat Makan Sayur Kelor

Mungkin sudah banyak yang mengenal atau paling tidak mendengar tentang daun kelor. Di kampung halaman saya, Madura, tepatnya di Desa Candi Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep, daun kelor merupakan sayuran favorit yang tidak boleh ketinggalan saat makan.
https://sowolo.files.wordpress.com/2013/02/manfaatdaunkelor.jpg

Di sana, daun kelor dikenal dengan nama Marongghi, mirip sekali dengan nama latinnya, Moringa Oleifera atau Moringaceae. Atau jangan-jangan nama latin kelor itu berasal dari Madura ya....capa tau.

Tapi, saat saya hijrah ke Jawa Tengah, tepatnya di Desa Banjareja Kuwarasan Kebumen, saya mulai jarang menikmati sayur daun kelor. Bukan karena pohonnya tidak ada, melainkan karena masyarakat tidak banyak mengenal bahwa daun kelor ternyata bisa dijadikan sebagai sayuran. Selama ini mereka hanya tahu bahwa daun kelor itu adalah makanan favorit kambing dan daunnya hanya digunakan sebagai alat untuk membersihkan kuku orang yang sedang meninggal ketika mereka dimandikan. Hiiii....!

Karena sudah begitu kangennya saya dengan sayur daun itu, akhirnya suatu waktu saya masak sendiri daun kelor dengan bumbu yang sangat sederhana. Bawang merah, bawah putih, kencur, garam, sedikit penyedap dan gula. Bumbu itu diuleg dan kemudian di rebus bersama daun kelornya, terutama yang masih muda. Sedaaapp...memang. Tak kalah dari daun bayam dan katu.

Daun kelor tak hanya enak dimakan, tapi juga menyehatkan karena berbagai kandungan yang dimilikinya. Bahkan pohon kelor juga berguna untuk menjaga kondisi tanah dan sumber mata air. Silahkan baca  Manfaat Daun Kelor  dan segeralah menanam pohon kelor dan nikmati daunnya sebagai sayuran pelengkap menu makan harian Anda.

Ada Aki Raksasa di Mekkah

Sebut saja namanya Marhamo. Ia Madura tulen. Usianya lima puluh tahun lebih. Seumur-umur belum pernah bepergian ke luar Madura kecuali pada saat naik haji.
Gian Lugi
Add caption

 
Saat sampai di tanah suci, Marhamo dibuat takjub oleh keadaan yang terjadi di seantero lingkungan Masjidil Haram. Bukan pada keadaan masjidnya, ornamen-ornamennya, melainkan pada situasi Mekkah yang menurutnya selalu terlihat terang.
 
"Addoo...kok begiiini Mekkah ya, Ji!" serunya pada salah seorang temannya yang bernama Kaji.
 
"Begini kenapa, Cak?" tanya Kaji.
 
"Luu...tak liat kamu ini. Mekkah ini, tak siang tak malam, teraaanng terus. Kayak siang terus."
 
"Ya, kan banyak lampunya, Cak."
 
Ketika mereka berdua sampai di pelataran Masjidil Haram, si Marhamo kembali berseru dengan lantangnya.
 
"Ji...ji. Pantesan sajja Mekkah ini terang terus. Akinya itu loh. Besaaar sekali. Lihat...lihat," kata Marhamo sambil menunjuk ke arah Ka'bah.

(kisah ini penulis terima dari Bapak Edi Mulyono dengan beberapa revisi)

Makna Puasa dalam Puisi Rumi



Substansi Puasa dalam Puisi Rumi

Judul Buku    : Pesona Pantai Keabadian
Penulis            : Kuswaidi Syafi’ie
Penerbit         : Mitra Pustaka, Yogyakarta
Cetakan          : Pertama, Juni 2015
Halaman        : v-177 hlm
ISBN               : 9-786028-480765
Peresensi       : Salman Rusydie Anwar*

Menurut pengertiannya yang umum, makna puasa adalah al-imsák, yakni menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan suami-istri di siang hari sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Dalam konteks ini, makna puasa masih berorientasi pada segala ihwal yang ‘berbau’ materi duniawi.
 
Namun sesungguhnya teramat sepele apabila seseorang hanya mencukupkan diri memahami makna puasa dalam perspektif yang demikian. Sebab hakikatnya ada pemaknaan lain mengenai puasa yang lebih sublim dan filosofis, yang dengannya seseorang diharapkan mampu untuk benar-benar meraih manfaat dari puasa, yakni ketakwaan itu sendiri.
 
Dibanding ibadah lainnya, ibadah puasa merupakan sebujur ritual yang paling rahasia. Berbeda dengan ibadah shalat, zakat dan haji yang merupakan ritual yang dengan sendirinya selalu ‘terpublikasikan’ karena banyak bersinggungan dengan orang-orang sekitar.
Sementara puasa sepenuhnya merupakan ibadah yang meniscayakan ‘perjumpaan aku-Engkau’ yang tidak mungkin terendus oleh siapa pun kecuali kalau perjumpaan sakral itu memang sengaja dipamerkan, (hlm. 56).
 
Buku yang ditulis oleh Kuswaidi Syafi’ie ini mengupas perihal makna puasa melalui sudut pandang yang tidak biasa. Di dalamnya, Kuswaidi menjlentrehkan pemahaman puasa melalui kacamata sufistik yang digali dari bait-bait puisinya Jalaluddin Rumi, seorang sufi-penyair paling tersohor kelahiran Afganistan.
 
Berkaitan dengan puasa, Rumi dalam puisinya berkata, “Kosongkan perutmu! Merataplah seperti sebuah kecapi dan sampaikan keinginanmu kepada Tuhan. Kosongkan perutmu dan bicaralah tentang misteri-misteri bagai ilalang” (hlm. 52).
 
Idiom perut sebagaimana dalam puisi di atas tidak hanya merujuk kepada bagian tertentu dari tubuh manusia yang berfungsi menampung dan mencerna serta mengolah asupan gizi sehingga menghasilkan energy atau tenaga, yang bisa digunakan untuk mengerjakan berbagai ihwal pekerjaan.
 
Namun perut bisa merupakan sebuah symbol yang bisa bermakna sebagai kehendak untuk menerima segala sesuatu selain-Nya. Dengan demikian, berpuasa adalah sebentuk usaha menahan diri dari segala sesuatu yang memalingkan hati kita kepada Allah. Di hadapan orang yang benar-benar berpuasa, Allah SWT benar-benar diposisikan sebagai Al-Shamad, yakni satu-satunya tempat bergantung. Sementara kepada selain diri-Nya, kita dengan tegas berpuasa (menahan, menolak).
 
Mengosongkan diri (puasa) dari beragam godaan dan hal-hal yang tidak hakiki dan semata-mata mengutamakan hadirat-Nya adalah modal utama untuk menjadikan kondisi ruhani dan spiritualitas kita semakin jernih. Sebaliknya, membiarkan diri kita diperangkap oleh nafsu syahwat dan berbagai hal lainnya yang nisbi akan membuat ruhani kita sedemikian keruhnya. Sama halnya dengan kecapi yang tidak akan pernah mampu mengeluarkan suaranya yang jernih manakala ia tidak dibiarkan kosong dari apa pun.
 
Manakala puasa tidak sekadar dipahami sebagai upaya menahan diri dari makan dan minum, tapi secara sublim dihayati sebagai kesanggupan menolak keberpihakan diri kepada selain Allah, maka di situlah potret kemuliaan (ketakwaan) akan terlihat dengan jelas. Dan potret kemuliaan itu tidak lain adalah aktualisasi konkret dari nilai-nilai keyakinan, amal shaleh dan cinta yang menyala-nyala pada hadirat-Nya semata, (hlm 35).
 
Hal menarik lainnya dari puisi Rumi terkait puasa adalah ungkapannya seperti, kosongkan perutmu, dan bicaralah tentang misteri-misteri bagai ilalang. Bagi Rumi, ketika seseorang mampu berpuasa dari segala sesuatu selain Allah serta mampu menahan diri untuk tidak bergantung kepada selain-Nya, maka di saat itulah orang tersebut akan memiliki kualitas ketauhidan yang lurus.
 
Pelaku puasa yang seperti ini, keimanan dan ketauhidan mereka tidak bercabang, tidak terkotori oleh apa pun melainkan runcing hanya menuju Allah semata. Orang-orang seperti inilah yang akan fasih mengetahui rahasia-rahasia keilahian serta rahasia dari segala ibadah yang dilakukannya.
 
Puisi Rumi di dalam buku ini menawarkan pemahaman yang begitu luas mengenai puasa. Dengan menggunakan metafor-metafor yang mudah, siapa pun dapat dengan leluasa memahami apa yang diinginkan Rumi dalam memberikan pemahaman puasa pada kita. Di akhir bait puisinya ia bertutur, ketika perut kecapi telah terisi, ia tidak dapat bersuara, dengan nada rendah ataupun tinggi.
 
Itulah sebabnya mengapa dalam hadis qudsi Allah menganggap betap pentingnya puasa. Semua amal ibadah anak Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Puasa itu ‘untuk-Ku’ dan aku sendiri yang akan memberikan balasan bagi pelakunya.” Wallahu A’lam.

Sumenep, 12-07-2015 (01:49)

Puasa dan Kebangkitan Kaum Hawa

Suatu ketika, tepatnya di bulan Februari lalu, penulis bersua dengan salah seorang teman yang saat ini sedang menekuni usaha penerbitan buku di Yogyakarta. Dalam pertemuan itu, dia berbicara panjang lebar mengenai seluk beluk dunia perbukuan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiLdXPnqrtXZWQXqSbT96D7TxF4wljMwdH9RcfFV1Fv-6Ksn2PGU4DJpwuzz79B4Slwj8uOWmnFVlXJH5qHTHEvvUs5HMXIj7xv3p2iWhYeHrzA93VttnMO9BalAa1vFSx0TnZBx9ZTvsA/s1600/wanita+shalat.jpg

Dari berbagai macam hal yang diutarakan, ada satu pernyataan menarik yang masih penulis ingat hingga saat ini. Menurutnya, di antara buku-buku agama yang dia terbitkan, kebanyakan buku-buku yang secara khusus ditujukan kepada kaum perempuan jauh lebih laris dibanding buku-buku yang ditujukan kepada kaum laki-laki.
 
Salah satu contoh misalnya buku berjudul Menjadi Muslimah Sejati yang dari judulnya saja sudah sangat jelas ditujukan kepada kaum wanita. Ada juga buku berjudul Menjadi Muslim Sejati yang juga sangat jelas ditujukan kepada kaum laki-laki. Di pasaran, ternyata buku Menjadi Muslimah Sejati jauh lebih laris dibanding buku yang satunya meskipun diterbitkan oleh penerbit yang sama.
 
Berangkat dari fakta ini, teman penulis tersebut berkesimpulan bahwa ternyata kaum wanita memiliki antusiasme tinggi untuk menjadi lebih baik ‘dibanding’ kaum laki-laki.  Salah satunya dilihat dari semangat mereka untuk belajar dengan cara membeli buku.
 
Meskipun kesimpulan ini bersifat subjektif dan tidak bisa digeneralisir, namun berangkat dari fakta tersebut, setidaknya di satu sisi ada kebanggaan tersendiri yang harus disyukuri oleh kaum wanita meskipun pada sisi yang lain ada juga stigma kurang menyenangkan terhadap kaum wanita terkait kebiasaan-kebiasaan negative yang mereka perbuat.
 
Namun bila dihubungkan dengan fakta-fakta lainnya, tampaknya anggapan teman di atas ada benarnya juga. Sebut saja misalnya dengan adanya acara-acara di bulan Ramadhan tahun ini seperti acara kultum menjelang buka puasa (takjilan), kultum shubuh dan sebagainya.
 
Bila kita menghadiri masjid-masjid, baik yang ada di kota maupun di desa-desa, terasa sekali bahwa seringkali peserta yang paling banyak memenuhi masjid atau mushalla adalah kaum ibu atau kaum perempuan. Mereka, baik tua ataupun muda, begitu antusias mengikuti jalannya acara. Sementara kaum laki-laki seringkali terlihat hanya beberapa orang saja.
 
Tanpa bermaksud menyepelekan kaum laki-laki, penulis di sini hanya ingin menegaskan bahwa puasa sepertinya dan sewajarnya harus menjadi momentum kebangkitan bagi kaum hawa. Di tengah kesibukan mereka menyiapkan segala sesuatu berkaitan dengan kebutuhan puasa, mereka masih antusias mengikuti program Ramadhan yang diadakan oleh para pengurus masjid dan mushalla di tempat mereka berada.
 
Fenomena seperti ini barangkali jarang diapresiasi. Tapi setidaknya, ada beberapa catatan penting yang harus dipahami bersama terutama oleh kita sebagai sesama kaum wanita. Pertama, puasa memang tidak ada hubungannya dengan kemalasan. Justru sebaliknya, puasa harus menjadi pemicu dan pemacu diri untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 
Namun seringkali ada kesalahan pandangan terhadap kaum wanita terutama dengan datangnya bulan puasa. Anehnya, kesalahan pandangan seperti ini kerap dilontarkan oleh para pendakwah yang notabene berasal dari kaum laki-laki. Mereka berpandangan bahwa puasa acapkali menumbuhkan nafsu konsumerisme dimana sasaran dari pelaku konsumtif ini lebih banyak dialamatkan kepada kaum wanita.
 
Tapi perlu digarisbawahi, bahwa meningkatnya sikap konsumtif di bulan puasa sebenarnya merupakan persoalan individual yang bisa dilakukan oleh tiap-tiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Tentu sangat tidak adil apabila sikap konsumerisme yang dinilai negative itu hanya ditimpakan kepada kaum wanita (istri) sementara kaum laki-laki (suami) ikut menikmati di dalamnya.
 
Akan lebih bijak apabila kaum laki-laki (suami) memberikan pengarahan yang tepat kepada kaum wanita (istri) tentang bagaimana seharusnya menekan nafsu konsumerisme di kala kita sedang menjalankan ibadah puasa.
 
Kedua, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa tidak banyak yang mengapresiasi antusiasme kaum wanita dalam mengikuti berbagai macam acara yang dilakukan selama bulan puasa. Untuk itu, sebagai sesama kaum wanita, penulis merasa perlu untuk memberikan penghargaan kepada kaum ibu, kaum wanita yang tetap survive mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang tentu saja sangat positif manfaatnya bagi mereka.
 
Bila kita mengacu kepada firman Allah SWT berkaitan dengan puasa, maka sudah jelas Allah menyatakan di dalam Al-Qur’an bahwa tujuan utama dari puasa adalah untuk meraih derajat takwa di sisi-Nya. Sementara ketakwaan itu ada di dalam hati; Al-Taqwá há huná…Al-Taqwá há huná, kata Nabi Saw sambil menunjuk ke dada beliau.
 
Artinya, hakikat ketakwaan itu hanya diketahui oleh Allah dan yang bersangkutan. Jelasnya, ketakwaan itu tidak bisa dipamerkan. Bila kita melakukan puasa, menghadiri majlis taklim dan mengerjakan ibadah-ibadah lainnya, itu hanya salah satu cara atau upaya yang bisa kita lakukan demi meraih ketakwaan itu sendiri.
 
Akan tetapi, cara mendapatkan ketakwaan di bulan puasa tidak hanya diperoleh dari puasa semata. Seorang perempuan atau seorang istri yang menyiapkan buka dan sahur untuk keluarganya dengan hati yang tulus dan ikhlas, hal itu juga dapat bernilai sebagai ibadah yang sangat mungkin dapat menyempurnakan pahala puasanya.
 
Oleh sebab itu, kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi kepada kaum wanita yang di bulan puasa ini masih begitu bersemangat mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan di tengah-tengah kesibukan mereka menyiapkan keperluan puasa untuk keluarganya.

Tulisan ini sudah dipublikasikan di harian Suara Merdeka, Juni 2015.

Lebaran di Awal Puasa

Sebenarnya hakikat lebaran sudah terkandung sejak awal kita berpuasa. Dan sebagaimana diyakini khalayak umum, bahwa lebaran selalu dipahami sebagai ajang silaturrahim serta kesempatan untuk saling meminta maaf dan sekaligus saling memaafkan. Dalam Islam, sikap saling memaafkan dipandang sebagai salah satu sikap terpuji, bahkan Allah SWT mengkatagorikannya sebagai salah satu sikap yang disukai oleh-Nya (QS. 5:13).
http://imm.ftumj.ac.id/wp-content/uploads/2014/03/011.jpg


Dalam konteks pertobatan misalnya disebutkan sebuah ketentuan, bahwa Allah SWT tidak akan memaafkan dosa hamba-Nya yang telah melakukan kesalahan kepada orang lain selama dia tidak memintaa maaf terlebih dahulu kepada orang tersebut.
 
Hal ini mengindikasikan betapa meminta maaf kepada sesama, baik atas kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja merupakan penentu bagi diperolehnya pengampunan Allah atas kita. Namun demikian, memberikan maaf terhadap orang yang meminta maaf juga dinilai sebagai perbuatan mulia mengingat memaafkan adalah cara terbaik demi tegaknya silaturrahim yang merupakan hal tak terpisahkan dari peristiwa lebaran.
 
Ibnu Husain As-Sulami (937-1021 M), seorang ulama sufi kelahiran Khurasan, Iran, pernah mengisahkan peristiwa menggetarkan berkaitan dengan pemaafan terhadap seorang pembunuh di masa Khalifah Umar bin Khattab ra.
 
Konon ada laki-laki datang mengadukan seorang pemuda akibat kasus pembunuhan. Setelah Umar bertanya kebenarannya, si pemuda itu membenarkan bahwa dia memang telah membunuh ayah laki-laki yang melaporkan dirinya itu. Berdasarkan hukum yang berlaku, maka si pemuda harus dibunuh (qishash).
 
Namun sebelum qishash dilaksanakan, si pemuda meminta tempo tiga hari kepada Umar demi memenuhi amanah yang telah dia terima sebelumnya. Umar pun menerima permintaan pemuda tersebut dengan syarat dia harus mengajukan orang lain sebagai jaminan. Konsekuensinya, bila si pemuda tidak datang pada saat akan qishash, maka orang yang menjadi jaminan itulah yang harus diqishash.
 
Dengan acak si pemuda itu akhirnya menunjuk Abu Dzar. Shahabat Nabi Saw yang mulia itu tidak menolak dijadikan jaminan meskipun harus menanggung resiko dibunuh manakala si pemuda itu ingkar janji.
 
Ketika hari pelaksanaan qishash tiba, si pemuda itu datang seraya berkata bahwa dia tidak mungkin ingkar janji atas hukuman yang akan ditimpakan kepada dirinya. Dia beralasan bahwa dirinya tidak ingin masyarakat menilai betapa tidak ada yang bisa dipercaya lagi dalam Islam.
Mendengar perkataan pemuda itu, Abu Dzar pun memberikan komentar bahwa dia tidak keberatan saat pemuda itu menunjuknya sebagai jaminan karena dia tidak ingin masyarakat menilai betapa tidak ada lagi kasih sayang dalam Islam.
 
Mendengar pernyataan kedua orang ini, lelaki yang melaporkan pemuda itu akhirnya mencabut semua tuntutannya kepada Umar. Dia melakukan itu dengan alasan karena dia tidak ingin masyarakat menilai betapa tidak ada lagi rasa memaafkan di dalam Islam.
 
Peristiwa di atas mengajarkan tiga hal penting, yakni tentang perlunya memenuhi janji dan menunaikan amanah, bersikap ramah dan kasih sayang serta saling memaafkan kepada sesama. Dan ibadah puasa sejatinya adalah fase mewujudkan ketiganya.
 
Inti dari ajaran puasa tidak hanya berorientasi pada kemampuan menahan dari makan dan minum. Akan tetapi pelaku puasa (sháim) juga harus mampu menahan diri untuk tidak berkhianat, tidak berbohong, tidak bersikap kasar, tidak sombong dan selalu bersikap pemaaf kepada siapa saja.
Apabila puasa dipahami seperti itu, maka kita tidak perlu menunggu lebaran untuk meminta maaf dan memaafkan serta tidak perlu menunggu Ramadhan untuk bersikap ramah, santun dan peduli kepada sesama. Sebab hakikat puasa bisa diwujudkan kapan saja dan dimana saja. Wallahu A’lam.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir Batin.

Sumenep, 12-07-2015 (01:25)