Diberdayakan oleh Blogger.

Tenong

http://202.67.224.136/pdimage/14/5341914_p1290982.jpg
Malam demi malam bagai hanya serpihan kesedihan. Dan semua itu bersijingkat dengan bulir-bulir air mata yang terus menghujan. Mengguyur sudut-sudut relung hati Munah yang selalu terjerumus dalam ketidakpastian. Yah, ketidakpastian yang runcing, yang siap menusuk bahkan merobek kebahagiaan yang selama ini masih terasa sebatas impian.
 
“Malam ini Kakakmu, Musahru, bakal lalamaran. Sebagai adiknya, kau harus pergi ke sana. Lekaslah berkemas, Munah. Sebelum hari terlalu malam.”
 
Munah yang kering kurus itu hanya melenguh. Seperti lenguhan kerbau yang terlunta-lunta di hamparan sawah-sawah kering tiada lumpur dan rumputan. Oh, tidak. Dia melenguh bukan karena tak taat suami. Dua puluh lima tahun yang lalu, saat Rahwan membawanya ke hadapan penghulu, tak satupun lenguhan ia keluarkan dari bibirnya yang kering dan hitam. Lahir batin ia mengikrarkan diri untuk hanya bersetia kepada suaminya. Yang kini menganugerahkan dua puteri dengan tiga orang putera sesudahnya.
 
Hanya saja untuk malam ini, atau bahkan mungkin untuk malam-malam berikutnya, Munah merasa perlu untuk melenguh. Bukan sekadar mengeluh. Keluhan itu dalam hati tempatnya. Sedang hatinya sudah terlalu keropos untuk menampung keluhan demi keluhan yang datang bertubi dan hanya bisa ia simpan rapat dalam hati. Itu sebabnya ia butuh melenguh agar suaminya benar-benar mengerti kalau dirinya sedang terperangkap jaring-jaring kegundahan.
 
“Sedari tadi kau hanya diam, Munah. Bicaralah. Kau punya mulut, bukan?”
 
Dari luar, kesiur angin menampar dinding gubuk berlapis koran. Dingin yang menelusup diantara celah-celahnya sampai juga di wajah tirus Munah. Bagi Munah,  elusan dingin angin itu tak ubahnya usapan tangan-tangan kesedihan yang makin menguliti nganga duka yang terlalu pongah untuk hengkang dari hatinya.
 
Di bawah cahaya lampu neon yang redup, Munah menatap Rahwan. Sebuah tatapan yang dipaksakan untuk memastikan bahwa ia masih sanggup melihat dan mendengar perintah suaminya. Hanya mendengar. Tak lebih. Sebab untuk menjawab dan mengatakan apa yang dia alami, rasanya masih terlalu sulit dan berat.
 
Kelima anaknya sudah terlelap. Mungkin terlalu lelah untuk ikut merasakan gondola kesedihan yang menindih hari-hari mereka. Dan untuk kedua kalinya, Munah kembali melenguh. Hmmm... Berharap Rahwan akan bertanya mengapa ia berbuat begitu. Tetapi seperti yang sudah ia duga, lelaki itu seakan memang dicipta untuk hanya menjalani dua tugas saja. Memberinya perintah dan membuntinginya. Selebihnya, diam.
 
Rahwan yang dahulu perkasa, yang dia impikan sanggup merubah hidupnya menjadi bahagia, ternyata tidak lebih dari lelaki pesakitan yang menghabiskan hari-harinya dalam balutan khayal yang kosong. Setiap hari, ia bergumul dengan angka-angka. Mengotak-atiknya menjadi rumus-rumus yang tak pernah berhasil memecahkan masalah apapun dalam keluarganya.
 
Munah melihat ke luar rumah. Dan malam semakin pekat. Ia yakin kalau kakaknya pasti akan bertanya-tanya mengapa sampai selarut ini dia tak juga muncul. Setidaknya datang untuk memberikan ucapan selamat atas puteri kakaknya yang sudah mendapatkan calon pendamping. Tentu. Tentu kakaknya sudah sangat matang mempertimbangkan lelaki macam apa yang pantas mendampingi keponakannya itu.
 
Maka seketika, terkuaklah lembar-lembar masa lalunya. Masa-masa dimana Musahru dengan begitu keras melarangnya berhubungan dengan Rahwan. Tetapi rasa cintanya kepada pemuda itu sudah terlalu mengakar kuat dan dalam. Melampaui segala kekhawatiran yang dirasakan oleh kakaknya. Yang disadari Munah ketika itu adalah ia sudah terlanjur mencintai Rahwan sebagaimana juga Rahwan mencintai dirinya. Dan Munah percaya, bahwa cinta adalah kekuatan terbesar yang dapat menjadikan seseorang sanggup bertahan. Yah, dulu dirinya begitu bangga dengan cintanya. Dengan kekokohan perasaannya, meski saat ini bangunan cinta itu perlahan pudar. Berguguran bersama bulir-bulir air mata kesedihannya.
 
“Munah. Ingat. Cuma orang bodoh yang mempercayakan kelangsungan dan kebahagiaan hidupnya pada kata cinta saja. Dan aku percaya kau tidak terlalu bodoh untuk berbuat seperti itu. Pikirkanlah, Munah. Aku tahu siapa itu Rahwan. Dan aku lebih tahu apa yang terbaik buatmu sebagai adikku,” kata-kata Musahru kembali terngiang.
 
Angin malam terus menderu. Menggempur dinding gubuk berlapis koran yang using itu. Untuk kedua kalinya Munah menatap kelima wajah anaknya yang terlelap. Lalu berganti menatap Rahwan yang terus sibuk mengotak-atik angka, merenungkannya meski tak pernah sampai pada kesimpulan yang nyata.
 
Di bawah sorot lampu yang rasanya makin temaram, Munah teringat kembali akan almarhum Eppak-Embuk-nya. Dua sosok yang tak berdaya saat ia meminta mereka untuk menerima Rahwan menjadi suaminya. Andai saja dulu ia mau sedikit mendengar nasehat kakaknya. Andai saja waktu itu ia mematuhi petuah kedua orangtuanya, mungkin ia akan selamat dari rumitnya hidup yang tak disangka.
 
Tetapi tidak. Ini bukan waktu yang tepat untuk mengeluh. Keluhan hanya akan memperpanjang penderitaan. Dan tak diragukan lagi, orang yang telah membuatnya menderita selama ini adalah suaminya sendiri. Rahwan. Dialah lelaki yang sudah mengubur mimpi kebahagiaannya hingga yang tersisa hanyalah tangis ratap kesedihan.
 
“Dasar perempuan laknat. Tak menggubris perintah suami. Tahukah kau, Munah. Istri sepertimu bakal hangus tergerus api neraka. Buktikan saja ucapanku nanti. Dan ingat, jangan salahkan aku kalau Kak Musahru murka karena kau tak datang ke acaranya. Aku sudah menyuruhmu. Berkali-kali. Dan kau hanya diam saja sedari tadi.”
 
Ini kata-kata ancaman yang kesekian kalinya Munah dengar. Awalnya ia merasa ngeri dan khawatir bila harus membayangkan kulitnya akan meleleh bagai lilin saat api neraka datang menyerang. Tetapi ia sudah terlalu sering menjalani hidup di bawah ancaman, di bawah gertakan, juga rasa sakit yang tak tertanggungkan. Karena itu, Munah merasa kalau dirinya sekarang ini bukan lagi Munah seperti dua puluh lima tahun yang lalu. Saat ini, yang ia takuti bukan lagi gertakan Rahwan. Tetapi raibnya Tenong yang selama dua puluh lima tahun ia jaga dengan penuh kesetiaan.
 
“Kak Musahru akan lebih murka lagi jika aku datang tak membawa Tenong itu.”
 
“Bahh! Apa gunanya kamu ungkit-ungkit masalah Tenong itu lagi, hah. Tenong itu masa lalu. Dan aku sangat membencinya.”
 
“Kamu bukan membencinya, Mas. Tapi kamu membutuhkannya dan sekarang kamu telah menghabiskannya. Kamu telah menjualnya. Itu satu-satunya warisan berharga untuk aku.”
 
Rahwan menatap tajam ke arah Munah. Sebuah tatapan ketersindiran. Sementara Munah pun melakukan hal serupa. Bagi Munah, yang harus ia lakukan sekarang ini adalah keberanian untuk tegak mendongak. Biar dengan begitu Rahwan jadi tahu bahwa ia bukan lagi perempuan yang mudah ditundukkan seperti dulu-dulu.
 
“Ahaa. Luar biasa. Kau mempersoalkan Tenong itu lagi rupanya. Ternyata benda itu begitu berharganya buatmu. Ahh, ini pertanda bagus. Akan aku lihat, berapa angka untuk benda terkutuk itu. Kali ini aku pasti akan berhasil. Kau tenang saja, Munah. Tenong itu akan kubeli lagi. Tenang saja. Malam ini aku pasti akan menang, dapat banyak uang. Asal kau tahu, mungkin Tenong-mu itu tak bakal muat menampung uang-uang yang akan aku dapatkan.”
 
Sambil terkekeh-kekeh, Rahwan membuka kembali buku kecil tebal yang penuh dengan gambar dan angka-angka yang sedari tadi tergeletak di depannya. Munah tahu, buku terkutuk itulah yang selama ini telah memikat perhatian suaminya sehingga ia lebih senang bergulat dengan alam khayal daripada menyaksikan keadaan keluarganya. Dan buku itu pula yang membuat lelaki itu sibuk mencipta rumus-rumus kosong yang semakin menyorongnya ke dalam kegelapan. Deretan angka telah banyak dia tuliskan. Namun sama sekali tak mampu merangkum jumlah kesedihan yang makin menyengsarakan. Angka yang penuh teka-teki itu, bagai pusaran kegelapan yang menjadikan kebahagiaan hidupnya raib bersama benda-benda berharga di rumahnya. Termasuk Tenong itu.
 
“Padahal itu satu-satunya peninggalan Embuk. Sebelum meninggal, dia pernah memintaku agar tidak menjual benda itu. Tapi apa yang sudah kamu lakukan, Mas? Kamu telah menjualnya tanpa sepengetahuanku. Kamu telah menggunakan uang hasil menjual Tenong itu untuk memburu angka-angka sialan itu.”
 
“Eh, jangan banyak mulut. Lihat, sudah aku dapatkan angkanya. Sudahlah, kalau kamu memang tidak mau pergi ke rumah Kak Musahru, sebaiknya kamu tenang saja disini. Tunggu rumah. Jaga anak-anak. Aku mau keluar sebentar.”
 
Munah hanya bisa memandangi kepergian Rahwan dengan dada yang bergemuruh. Ia marah. Pasti. Sebab perempuan mana yang sanggup hidup dengan lelaki yang hanya bisa memberinya perintah dan amarah. Malam terus beranjak. Angin yang dingin leluasa masuk lewat pintu rumah yang dibiarkan Munah tetap terbuka begitu saja. Sendirian Munah tercenung. Ingin sebenarnya ia datang ke acara lalamaran puteri Kakaknya. Tetapi ia tak mungkin melakukan itu. Tak mungkin ia datang dengan tangan kosong, tanpa membawa Tenong dan segala macam isinya sebagai persembahan.
 
Biarpun Musahru adalah kakak kandungnya sendiri, namun sudah menjadi hal yang tak boleh dilanggar, bahwa setiap yang datang pada sebuah hajatan harus membawa sesuatu sebagai pemberian. Tapi apa yang bisa ia bawa malam ini? Tak ada. Dan ia tak mungkin memaksakan diri untuk datang tanpa menyunggi Tenong kalau tidak ingin menerima cibiran sinis orang-orang.
 
Munah menatap ke dalam lemari, tempat semula Tenong itu tersembunyi. Kosong. Yang tersisa hanyalah tumpukan kertas penuh angka sialan ciptaan suaminya. Bersusun-susun menjadi semacam kitab paling durjana. Perlahan Munah bangkit. Mendekati lemari. Merogoh tumpukan kertas dengan tangan gemetar.
 
Diliputi pikiran yang kalut, ia bawa kertas-kertas itu ke dapur.
 
Tepat di depan tungku yang masih menyisakan sedikit keredip api bara di dalamnya, satu persatu kertas itu ia masukkan. Apipun terpercik dengan perlahan. Lalu kertas demi kertas berikutnya menyusul, menambah kobaran api yang terus mengunggun. Lidah api yang merah, menyambar-nyambar tak tentu arah. Bersamaan dengan datangnya angin yang menderu, lidah api itu bergerak ke satu arah tertentu. Ya, tak salah lagi. Dinding dapur berlapis koran usang itu pun menjadi sasaran empuk lidah api yang mengamuk. Perlahan, namun pasti, tubuh api makin membesar. Terus membesar. Membubung dan terus membubung. Malam lengang. Sementara semua orang di rumah Musahru, sedang asyik menikmati hiburan kerawitan.
 
Munah terpaku di depan api yang begitu cepat membubung. Sempat terlintas untuk berteriak. Minta pertolongan. Tapi percuma saja ia kira. Bukankah selama ini ia kerap sekali melakukan itu. Namun teriakannya hanya membawa pada kebuntuan demi kebuntuan. Setenang mungkin Munah mendekati kelima anaknya. Ditatapnya anak-anak yang terlelap itu. Begitu tenang. Tak terusik keadaan. Munah tersenyum. Ia merasa bahwa dirinya telah berhasil menjadikan mereka berlima sebagai manusia-manusia tanpa ketakutan. Sama seperti dirinya malam ini. Perlahan, Munah ikut rebah di antara mereka. Memeluk erat tubuh mereka, sebelum akhirnya lidah api yang menggunung membuat mereka sempurna jadi terkepung.
 
Dari kejauhan, pada waktu yang hampir bersamaan, Rahwan datang dengan hati girang. Bersama empat orang kawannya, ia datang menjinjing Tenong. Seperti yang sudah ia janjikan, Tenong itu pasti akan bisa dibelinya kembali. Angka Tenong yang dibelinya pada seorang bandar benar-benar memberinya kemenangan. Semula, Rahwan mengajak keempat temannya untuk sekadar berpesta di rumahnya yang sederhana. Tapi..
 
“Heh. Ada kebakaran. Tapi... bukankah itu rumahmu?” kata seorang temannya. Rahwan yang terkejut segera saja lari melompat meski usahanya sudah jelas sangat terlambat. Di depan unggun api yang menggulung rumahnya, Rahwan terngungun. Tubuhnya gemetar. Tak dijumpainya Munah dan kelima anaknya di sekitaran. Bahkan tak seorangpun tetangganya yang tampak datang untuk menolong. Tak butuh waktu lama bagi si lidah api untuk melalap habis rumah kecil dengan dinding bambu berlapis koran usang itu. Dan dalam hitungan detik, nyala api itupun mulai mengecil, namun masih sanggup menerangi enam sosok hitam kaku yang berpeluk erat dalam balutan bara yang masih mengepul. Rahwan limbung. Tenong di tangannya jatuh melayang.
 
Percayalah, Tenong itu memang tak akan bisa menampung uang yang Rahwan menangkan. Melainkan sebagai wadah mengemasi sisa abu jasad Munah dan kelima anaknya yang terlambat untuk ditolong.

Cerpen ini dipublikasikan di Majalah Arena 2014.

Inokashira

http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2013/04/16/bsakura9.jpg
Aku masih menggenggam erat selembar kertas berwarna pink yang berisi tulisannya. Cukup singkat memang meski di balik guratan huruf yang ia tulis kecil-kecil itu tersimpan sebuah kesungguhan yang begitu nyala. Senyala rona bunga Sakura yang sekarang terhampar begitu indah di depan mata.
Kupastikan, sudah kelima kali aku mengunjungi taman ini bersamanya (ya, aku bahkan sudah mencatatnya dalam sebuah buku diary pemberiannya lengkap dengan ungkapan-ungkapan yang kutulis sebagai pendar-pendar perasaanku kala itu). Bagiku, taman ini bukan hanya tempat menghindarkan pikiran dari kutukan rasa suntuk. Tapi, taman ini seakan menjadi awal mula bagiku untuk mengenal lebih jauh bahwa ternyata ada orang lain yang menaruh perasaannya terhadapku.
Di depanku, beberapa pasang remaja terlihat asyik mendayung perahu. Mungkin mereka tak peduli, bahwa Dewi Benzaiten yang berada dalam kuil tak jauh dari tempat mereka bermesraan sedang menatap mereka dengan tatapan mata penuh cemburu.
Angin berhembus perlahan-lahan. Membuat tangkai pohon bunga Sakura bergoyang-goyang lamban. Sebagian dari bunga-bunga itu berguguran dengan gerak yang lambat dan sedikit meliuk sebelum akhirnya air danau menyambutnya dengan ricik yang tenang sejuk. Kubaca kembali secarik kertas berwarna pink itu.
“Hen, kapan kau kembali?” tanyaku dalam hati.
Pertanyaan demi pertanyaan yang akhir-akhir ini terus mengental dalam perasaanku makin mendedah lembar-lembar memory yang pernah terjadi antara aku dan Hen. Aku tahu, diantara kami berdua memang ada jembatan panjang yang menguarkan baris demi baris perbedaan. Hen berasal dari Indonesia, sedang aku kelahiran Kichijoji asli. Di Inokashiralah kami berdua bertemu. Entahlah, aku rasa tidak mudah untuk menyimpulkan apakah pertemuanku dengannya merupakan suatu kebetulan belaka atau memang ada kekuatan lain yang mendorongku dan Hen saling bertegur sapa kala itu.
Semula, aku merasa aneh mendengar namanya; Hendi Tadashi. Seperti nama orang-orang di negaraku Jepang. Dan aku sendiri tak menyangka akan bisa bergaul begitu akrab dengan orang asing yang pertamakali kutemui. Dan itulah waktu. Selalu menyimpan rahasia-rahasia tak terduga bagi siapa saja yang berada dalam pusarannya. Saat kami menyusuri tepian Danau Inokashira, kulihat Hen begitu takjub melihat rimbunnya bunga Sakura, yang bergoyang perlahan diterpa angin. Ia kemudian mengeluarkan kamera dari dalam ranselnya dan mengabadikan pemandangan yang ia lihat itu beberapa kali.
“Ini sangat indah,” serunya sambil terus tersenyum.
“Ya. Aku sependapat denganmu,” kataku.
“Sayang. Bunga ini tak bisa tumbuh dengan baik di negaraku.”
“Karena itulah kamu harus sering-sering datang kemari.”
Hen menatapku. Masih dengan senyum khasnya. “Ya, aku rasa begitu,” katanya kemudian. Setelah merasa cukup puas menikmati semua keindahan yang dimiliki Inokashira, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Hen akan kembali ke asramanya sementara aku akan cepat-cepat pulang sebelum matahari benar-benar tenggelam.
***
“Ayah. Aku mohon ayah jujur. Ayah tidak sedang bercanda, kan? Jawab ayah?” isakku. Ibu hanya diam mematung sambil 
memegangi kedua pundakku.
“Tidak, Miy. Ayah tidak bercanda. Itu memang tulisan eyang buyutmu. Ayah pastikan tulisan eyang buyutmu di buku itu benar adanya. Maaf, Miy. Semalam, ayah juga sudah berbincang banyak dengan Hen lewat telephon tanpa sepengetahuanmu. Dan ayah yakin kalau dia...” jawab ayah.
“Tapi kenapa baru sekarang ayah memberitahukan ini padaku?”
“Awalnya ayah juga tidak tahu. Bagaimana hal ini bisa terjadi. Ini tampaknya memang kebetulan. Tapi itulah yang terjadi, dan ayah merasa sekaranglah waktunya kamu mengetahui yang sebenarnya.”
Aku segera pergi meninggalkan ayah dan ibu untuk mengambil tas di dalam kamar. Dan tanpa bicara sepatah katapun dengan mereka, aku langsung pergi kedepan ntuk memanggil taksi. Tak kuhiraukan suara ayah dan ibu yang memanggilku dari belakang. Di dalam taksi, aku masih tak kuasa menahan isak tangis sambil menggengam buku itu erat-erat. Ini benar-benar buku kutukan. Pikirku. Taksi membawaku ke asrama Hen. Setelah mengusap kedua mataku dengan tisue aku segera mencari laki-laki itu.
“Anda Nona Miyako?” tanya seorang pemuda di depan pintu asrama. Aku mengangguk.
“Kebetulan sekali. Maaf, hari ini saya berencana akan pergi ke rumah Anda untuk mengantarkan surat ini,” kata pemuda itu sambil menyodorkan sebuah amplop kecil dengan hiasan bunga Sakura yang sepertinya hasil lukisan tangan.
“Dari Hen?” tanyaku. Pemuda itu mengangguk. “Kemana dia?” tanyaku lagi.
“Mendadak semalam dia dipanggil untuk pulang ke Indonesia.”
“Pulang? Kenapa dia tidak mengabariku?”
“Maaf, dia bukannya tidak mau mengabari Anda Nona Miyako. Tapi katanya telephon Anda justru tidak aktif.”
Aku buru-buru mengambil telephon genggamku. Ya, Tuhan. Ada sepuluh panggilan masuk dari Hen di sana. Rupanya buku itu benar-benar telah menjadikan kutukan buatku. Semalam aku memang sengaja men-silent handphoneku gara-gara aku tak mau terganggu saat membaca buku itu. 
“Kenapa dia pulang lebih cepat?” tanyaku.
“Maaf, Nona. Keluarganya ada yang meninggal.”
“Anda yakin?”
“Hen sendiri yang bicara pada kami, Nona. Semalam, sepertinya dia mendapatkan sebuah interlokal. Katanya dari Indonesia. Wajahnya memang terlihat sedih setelah menerima telephon itu.”
“Oh...tidak...tidak,” kataku sambil mohon diri.
***
Aku menarik nafas dalam-dalam. Dan tanpa terasa, butir-butir air mataku kembali berjatuhan. Kubaca lagi secarik kertas surat yang diberikan Hen diantara lembaran-lembaran buku terkutuk itu. Sejuk angin taman Inokashira membelai wajahku yang mungkin terlihat kusut dan pucat.
“Hen, aku menunggumu,” aku kembali membatin diantara lalu lalang orang dan celoteh riang anak-anak. Aku ingin menjawab pertanyaannya. Namun aku ingin Hen juga tahu soal buku terkutuk ini, melihat sendiri dengan mata kepalanya, biarpun dia sudah mendengar dari ayah kalau nama Tadashi di belakang namanya itu adalah nama eyang buyutku yang dulu pernah ikut menjajah negaranya.
Aku kembali mengusap air mataku. Sulit bagiku untuk mempercayai, kalau Hendi Tadashi, laki-laki yang dengannya aku mulai belajar mengenal cinta, tidak lain adalah bagian dari keluarga besarku sendiri. saudaraku sendiri. Dia lahir dari rahim seorang wanita yang harus pasrah menerima dorongan hasrat keperkasaan eyangku sebagai seorang tentara yang pernah menjajah negaranya. Hasrat yang meluap-luap di tengah gemuruhnya perang, di tengah kerinduan membara kepada keluarga yang ditinggalkan. Aku tiba-tiba ingat dengan apa yang pernah kubaca dari sebuah buku, bahwa perang memang selalu menuntut keberanian, ketangguhan, jiwa patriot. Namun ia juga menuntut pemenuhan atas hasrat-hasrat primitif terpendam yang dimiliki oleh setiap manusia. Entah untuk tujuan apa eyang buyutku menulis siapa wanita yang telah dia paksa menjadi pelabuhan darurat atas hasratnya. Dan kenapa wanita itu justru mengabadikan nama lelaki yang barangkali saat itu amat dibencinya? Wanita memang terlalu berat melupakan kenangan-kenangannya.
Angin berhembus perlahan. Beberapa bunga Sakura tanpak berguguran. Kulihat lagi secarik kertas surat yang ditulis Hen.
“Kupikir, aku bisa menikmati bunga Sakura bukan karena warnanya yang indah itu. Namun itu karena aku telah menikmatinya bersama kelembutanmu, kehadiranmu. Aku telah mengetahui segalanya. Cukup pahit kurasa. Tapi, suatu saat nanti rasa cinta inilah yang barangkali akan mampu menetralkannya.”  
Jogjakarta, 2013.

Lebaran Marlam



“Sampaikanlah salamku kepada istri dan anak-anakku. Tahun ini, untuk pertamakalinya aku tidak berlebaran dengan mereka.”
Itulah pesan Marlam kepada rekan seselnya yang dibebaskan menjelang lebaran.
       “Pasti aku sampaikan, Marlam. Jangan khawatir,” ucap rekannya sambil menyalami dan memeluk tubuh Marlam sebelum dia meninggalkan ruang tahanan itu.
            Setelah tubuh rekannya menghilang di ujung koridor ruang tahanan, Marlam kembali ke pojok kamar yang akan mengurungnya untuk sepuluh tahun ke depan. Lalu Marlam merebahkan tubuhnya di atas selembar tikar kasar juga sebuah bantal yang bau dan berwarna kusam.
            Di dalam kamarnya tengah malam itu, Marlam seperti dikurung kesunyian tiada ampun.
            Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Marlam sadar hal itu. Apalagi waktu sepuluh tahun itu dihabiskan di balik tempok jeruji penjara. Tempat yang benar-benar tak pernah dibayangkan oleh Marlam sebelum-sebelumnya.
            Di atas selembar tikar pandan yang sebagian rajutannya sudah terlepas, pikiran Marlam mengembara menjumpai orang-orang yang dicintainya. Istri dan dua orang anaknya pasti sedih karena tahun ini dia tidak ikut merayakan lebaran bersama seluruh anggota keluarganya.
            Masih lekat dalam ingatan Marlam istri dan seluruh anggota keluarganya menangis tersedu-sedu saat hakim menjatuhkan vonis sepuluh tahun penjara kepada dirinya. Istrinya bersimpuh memeluk kedua kakinya. Juga kedua anaknya yang ikut meraung-raung meskipun mereka tidak benar-benar paham kenapa ayahnya bisa dipenjara.
            “Sudahlah. Jangan menangis. Air mata kalian hanya akan membuat pikiranku bertambah sumpek,” bujuk Marlam.
            Marlam pun memejamkan kedua mata saat semua anggota keluarganya diminta meninggalkan penjara. Marlam sadar, seiring langkah istrinya meninggalkan ruang penjara, hari-hari sepi akan segera dimulai. Semua yang dia miliki seperti tak ada artinya lagi. Rumah megah, mobil mewah, celoteh anak-anak dan kamar-kamar yang selama ini memberinya kesenangan, untuk sepuluh tahun ke depan hanya akan menjadi sebuah kenangan.
            Tanpa terasa, Marlam menitikkan air mata. Begitu hangat air mata itu membasahi kedua matanya. Mungkin itu disebabkan karena sudah lama dirinya tidak pernah menangisi apapun selama ini. Untuk apa menangis? Bukankah selama ini hidupnya bergelimang kemewahan. Sementara kemewahan seringkali membuat orang lupa untuk menangis.
            Namun, untuk waktu sepuluh tahun ke depan, Marlam harus melupakan semua kemewahan yang pernah diraihnya. Apalagi pengadilan juga sudah memutuskan untuk menyita semua harta kekayaannya.
            Tangis kesedihan Marlam semakin keras bersamaan dengan air matanya mengucur deras. Bukan hanya dirinya yang sedih, istri dan anak-anaknya pasti akan merasa ikut sedih. Kemewahan yang pernah mereka cicipi selama ini hanya akan menjadi sebuah cerita yang menyakitkan. Belum lagi pandangan orang-orang di sekitarnya yang akan melihatnya dengan tatapan penuh keburukan.
            “Kau menangis, Marlam?”
            Sebuah suara mengagetkan Marlam. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kedua matanya melihat sesosok tubuh dengan mata merah menatap tajam ke arahnya. Sosok itu berdiri diantara garis-garis cahaya kuning berasal dari lampu halaman penjara yang menerobos lewat celah-celah fentilasi yang sempit.
Marlam berusaha menatap sosok yang berdiri di depannya.
            “Siapa kau?”
            Marlam menyeret tubuhnya ke pojok kamar.
            “Kau bertanya siapa aku, Marlam. Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?”
            “Tidak!”
            “Sayang sekali, Marlam. Padahal aku selalu setia menemanimu selama ini meskipun kau sendiri tidak pernah mendengarkanku.”
            Marlam merasakan kedinginan mulai menguasai tubuhnya. Dia menarik sarungnya dan meringkuk di pojok kamar penjara. Keringat dingin mulai mengucur lewat pori-pori kulitnya.
            “Aku ucapkan selamat, Marlam. Sekarang kau benar-benar bebas,” kata sosok bermata merah yang berdiri diantara garis-garis cahaya itu.
            “Bebas! Aku bebas?” seru Marlam.
            “Ya, kau bebas, Marlam.”
“Kau gila. Aku baru saja dipenjara, tapi sekarang kau justru mengatakan aku bebas. Kau ingin menghinaku? Siapa kau sebenarnya?” teriak Marlam.
Sosok itu makin mendekat:
“Aku tidak menghinamu, Marlam. Yang aku katakan benar. Sekarang kau bebas. Benar-benar bebas. Justru seandainya kau tidak disini, kau akan semakin memenjarakan dirimu sendiri dengan perbuatanmu itu. Kau ingat, perbuatan apa yang sudah mengantarkanmu kemari, Marlam?”
“Brengsek. Kau tanya tentang itu untuk apa? Kau ingin mengatakan perbuatanku itu salah? Aku sudah habiskan banyak biaya untuk mendapatkan jabatan itu. Jadi apa salahnya kalau aku...”
“Marlam,” sosok itu memotong ucapan Marlam. “Bukankah aku sering mengingatkanmu, bahwa pikiran seperti itulah yang membuatmu terpenjara di luar sana. Dan kau tidak sadar bahwa dengan perbuatanmu itu kau juga ikut memenjarakan seluruh keluargamu.”
“Diammm..!!” teriak Marlam. “Sekarang kau pergi. Kalau kau peduli kepadaku, tolong kau bebaskan aku. Bebaskan aku.. Aku ingin pulang. Aku ingin berlebaran bersama istri dan anak-anakku. Aku ingin bebasss...” pekik Marlam.
“Sudah kukatakan, Marlam. Justru disinilah kau benar-benar mendapatkan kebebasanmu. Nikmatilah lebaranmu tahun ini disini. Di tempat yang benar-benar akan membuatmu merdeka. Siapa tahu dengan berlebaran disini, kau akan kembali menjadi manusia yang fitri, manusia yang memperoleh kemenangan sesungguhnya.”
“Bajingannn.”
Marlam bangkit. Dengan kalap ia menyerang sosok yang seketika menghilang dari hadapannya. Bagai orang kesurupan, Marlam menendang dinding kamar penjaranya dan meninjunya dengan keras. Tangannya berlumur darah. Tetapi Marlam seperti tak merasakan apa-apa. Dia terus mengamuk hingga petugas datang dan mengikatnya.
Penghuni penjara lain yang terbangun dari tidur mereka meneriaki Marlam dengan ejekan-ejekan, “Makanya kalau jadi pejabat jangan korupsi. Kualat lho makan uang rakyat. Belum seminggu sudah sinting begitu. Mampus.”
Di dalam sel penjaranya, serta dengan tubuh terikat dan berlumur darah, Marlam tertawa terbahak-bahak.

2014.

Anjing Itu Menyerbu Masjid Kami



Tiba-tiba masjid kami jadi riuh. Bukan oleh suara dzikir yang biasa kami lantunkan. Melainkan oleh gonggongan suara anjing yang begitu memekakkan. Entah dari mana anjing-anjing itu berasal dan bagaimana mereka bisa dengan mudah memasuki masjid kami yang biasanya rapat terkunci.
“Coba kau ingat lagi, Marlam. Mungkin semalam kau lupa mengunci pintu masjid sehabis kita melaksanakan shalat isya,” tegur ketua takmir dengan wajah gusar.
“Tidak mungkin. Seandainya saya lupa mengunci pintu masjid, kunci-kunci ini tidak mungkin saya bawa. Pasti kunci-kunci ini masih tergantung di pintu,” jawab Marlam sambil menunjukkan kunci-kunci itu pada kami.
Matahari hampir terbit. Orang-orang yang sedianya mau melakukan shalat Shubuh berjamaah hanya berdiri di luar pagar. Mereka sama-sama memandang ke dalam masjid.
Kemudian pandangan kami terarah ke atas mimbar. Seekor anjing berbulu hitam dan bertubuh besar sedang duduk dengan gagahnya di atas sana. Ia melolong-lolong sambil menjulurkan lidahnya dengan air liur yang menetes ke atas lantai.
Aneh sekali. Seketika anjing-anjing lain yang berada di depannya ikut melolong bagaikan suara koor yang sangat panjang. Kami semua bergidik melihat pemandangan yang baru kali ini kami saksikan.
“Meskipun kita usir anjing-anjing itu sekarang, tetap saja kita tidak bisa melakukan shalat di sini. Semua tempat di masjid ini sepertinya sudah najis. Jadi sebaiknya kita shalat sendiri-sendiri saja di rumah. Nanti jam tujuh kita kembali berkumpul. Kita usir anjing-anjing itu dan lalu kita sucikan masjid kita ini bersama-sama.” Ketua takmir memberikan instruksi.
            Rupanya, kabar mengenai serbuan anjing-anjing ke dalam masjid kami sudah menyebar dengan cepat. Saat kami kembali untuk mengusirnya, sudah banyak orang berkerumun di sekitar masjid.
“Sepertinya itu bukan anjing sungguhan.” Sebagian orang mulai berkomentar.
“Jadi menurut kalian itu makhluk jadi-jadian?” sela ketua takmir masjid kami dengan ekspresi wajah setengah tidak percaya.
“Bisa jadi, Pak.”
Kami, para warga yang setiap saat rajin melakukan shalat wajib berjamaah menarik nafas panjang. Sungguh sulit menerima kenyataan kalau masjid yang kami jaga kesuciannya tiba-tiba disatroni gerombolan anjing. Apalagi kalau sampai benar mereka adalah anjing jadi-jadian. Mungkin sebelumnya mereka manusia biasa yang kemudian berubah menjadi anjing. Entahlah.
“Kita harus cari tahu siapa dalang di balik semua ini.”
“Kalian semua tenang dulu,” kata ketua takmir masjid kami. “Tugas kita yang terpenting sekarang adalah mengusir anjing-anjing itu dari dalam masjid.”
“Percuma kita usir anjing-anjing itu kalau ternyata mereka adalah makhluk jadi-jadian. Mereka bisa lebih galak dari anjing sungguhan.”
Akhirnya kami semua kembali pulang. Hingga dua hari berikutnya, tak satupun diantara kami yang benar-benar berani memasuki masjid. Sementara tingkah anjing-anjing itu makin menjadi-jadi. Mereka melolong-lolong dengan suara yang memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Tak hanya itu, anjing-anjing yang menguasai masjid kami makin berulah. Mereka sudah berani berkeliaran hingga ke luar masjid. Bahkan tanpa rasa takut sedikitpun mereka mendatangi rumah-rumah penduduk. Meski tak sampai menggigit, ekspresi wajahnya yang terlihat kaku, sangar dan galak tetap membuat kami merasa ngeri bila berdekatan dengan mereka.
***
            Dan ternyata dugaan kami benar. Anjing itu memang makhluk jadi-jadian. Mereka sebenarnya manusia biasa yang bisa berubah menjadi anjing. Entah apa yang  terjadi dengan mereka dan mengapa mereka menguasai masjid kami dengan merubah diri mereka menjadi makhluk galak seperti itu?
Meskipun sekarang mereka lebih banyak menampakkan diri sebagai manusia biasa, kami tetap tidak bisa bergaul akrab dengan mereka. Namun setidaknya, dengan menampakkan diri sebagai manusia, pelan-pelan kami bisa mendatangi masjid lagi. Melaksanakan ibadah bersama mereka. Mendengarkan semua yang mereka ujarkan pada kami.
Tapi mereka juga masih sering mengeram sambil memelototkan kedua matanya yang merah bila kami melakukan hal yang tidak mereka sukai. Cara mereka menatap kami seakan menampakkan ketidaksenangan. Persis seekor anjing yang selalu curiga saat ada orang asing mendatangi rumah tuannya.
Kami tertekan? Pasti. Tapi kami tak memiliki keberanian untuk melawan keadaan itu.
Walau pada akhirnya kami dapat berhubungan baik dengan mereka, namun tetap ada sesuatu yang terasa hilang dalam diri kami. Kami tak bisa lagi merasakan keindahan berdzikir bersama di masjid itu sebagaimana dulu sering kami lakukan. Kebiasaan kami membaca shalawat perlahan-lahan juga sudah kami tinggalkan.
“Itu tidak perlu. Lebih baik kalian dengarkan saja apa yang kami ajarkan pada kalian,” demikian kata mereka.
Sampai waktu yang kami takutkan itu pun tiba. Apa yang pernah dikatakan oleh ketua takmir masjid kami beberapa waktu lalu sepertinya akan menjadi kenyataan;
“Pelan tapi pasti. Kita semua para warga akan menjadi anjing jadi-jadian seperti mereka.”
Dan memang seperti itulah yang kami rasakan. Tanpa kami sadari, oleh kata-kata mereka kami telah dirubah menjadi manusia bertabiat anjing. Kami jadi gampang curiga, mudah marah dan bisa merasakan adanya naluri kebuasan yang bersemayam dalam otak kami.
Celakanya lagi, kami sepertinya tidak bisa lagi berpikir jernih dan dewasa. Setiap kali melihat ada orang-orang yang berbeda cara pandang dan perbuatannya dengan kami, kami seperti mendengar ada teriakan keras dalam diri kami yang memerintahkan kami untuk menyerang dan mencabik-cabik mereka. Memusnahkan mereka dengan segenap kemarahan dan rasa buas yang aneh. 
 2014.        

Tuan Netanyahu dan Obama

Tuan Obama dan Netanyahu!

Sulit saya membayangkan Anda berdua bisa tidur nyenyak di tengah kecamuk perang atau lebih tepatnya pembantaian yang dilakukan terhadap warga Gaza, Palestina. Setiap saat, warga Gaza bertarung melawan kematian yang dapat dengan begitu mudah menyergap mereka kapan saja, dimana saja. Apa yang Anda berdua lakukan, Tuan?

Sulit saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi warga Gaza, Palestina, yang sedang berpuasa menahan lapar dan dahaga di tengah guyuran peluru, rudal, taburan bom-bom yang berhambur meruntuhkan rumah-rumah mereka yang semula mereka bangun dengan susah payah. Tak sampaikah tuan berdua berpikir ke sana?

Begitu jauh jarak membentang antara kami dengan Palestina, Tuan. Tetapi rasa solidaritas kemanusiaan kami disini yang menciptakan munculnya rasa haru di hati menjadikan kami merasa begitu dekat hingga seakan-akan tangis duka mereka adalah tangisan kami pula. Memang hanya doa dan sedikit sumbangan yang kami berikan untuk mereka. Selebihnya, kami mengetuk hati Anda berdua, Tuan.

Tuan, Obama. Negara Anda dikenal sebagai polisi dunia, menjunjung tinggi hak asasi dan demokrasi. Begitu mentereng sebutan ini. Tetapi kenapa Anda dan negara Anda terlihat begitu ringkih menyikapi arogansi Israel terhadap warga Gaza di Palestina? Dan Anda, Tuan Netanyahu, bagaimana bisa menganggap negara Anda sebagai negara bermoral dan suci dengan membiarkan tentara Anda membantai disana-sini.

Tuan Netanyahu! Kami buta akan politik internasional. Kami tidak mengerti siapa yang bersalah diantara Israel dan Palestina. Kami sungguh tidak paham motif kecamuk perang yang begitu berkepanjangan. Kami hanya menyadari satu hal bahwa terlalu banyak nyawa meregang di bumi para Nabi ini dan ini harus segera dihentikan.

Tuan Obama! Lihat apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu Anda. Kecerobohan mereka ikut campur tangan urusan negara lain menyebabkan Baghdad makin sekarat. Juga negara-negara Arab lainnya yang dibuat centang perenang. Semua itu adalah prestasi buruk yang jangan sampai Anda lanjutkan dalam pemerintahan Anda.

Tuan berdua yang terhormat. Pernahkah Anda bayangkan, suatu pagi Anda bercengkerama dengan sanak famili, anak dan istri. Lalu satu jam berikutnya Anda sudah kehilangan mereka semua dalam sebuah pembantaian yang membabi buta. Pernahkah Anda melongok sebuah rumah sakit penuh ceceran darah dan potongan tubuh, ditingkahi erangan rasa sakit dan tangisan kehilangan yang menyayat. Pernahkah Anda menghayati tatapan seorang bocah kecil berlumur darah, dengan nafas terengah menunggu ajal kematian yang hampir tiba, menatap wajah ibunya yang terisak?

Tuan Obama dan Netanyahu. Perang bukan saja adu kekuatan tentara. Kesedihan yang menguras air mata justru adalah perang yang lebih hebat dari segalanya. Sementara Anda berdua telah melakukan keduanya. Anda bekerjasama memuntahkan peluru dan alat peledak untuk menciptakan tangis kesedihan bagi Palestina.

Tuan! Yang Anda lakukan saat ini sama sekali bukanlah peperangan. Tetapi pembantaian. Anda telah merenggut paksa keceriaan anak-anak, ketulusan para orangtua, kehangatan sanak saudara. Anda berdua telah menanam kehancuran, bukan pada masa depan Palestina, melainkan pada anak-anak dan generasi masa depan Anda berdua. 

Jika Anda percaya bahwa Tuhan akan membalas kebiadaban manusia atas manusia lainnya, maka saat ini Anda sedang menempuh jalan untuk menantang perang dengan-Nya.

Indonesia, 22 Juli 2014.