Diberdayakan oleh Blogger.

Sastra dan Dunia Anak

Anak-Anak
Hari itu, Yasnaya Polyana -sebuah kota kecil yang terletak di selatan kota Moskow Rusia- tampak ramai oleh anak-anak. Mereka bermain di sebuah rumah yang di dalamnya berdiam seorang sastrawan besar Rusia; Leo Toltoy. Yang menarik adalah bahwa anak-anak itu bukan berasal dari keluarga para sastrawan, bangsawan, apalagi orang kaya. Akan tetapi mereka berasal keluarga para budak.

Mungkin sulit dipercaya, sastrawan kelas dunia sekaliber Leo Tolstoy bersedia secara jumawa menjadikan rumahnya yang rimbun dan teduh itu sebagai sarana yang memberikan keleluasaan kepada anak-anak budak untuk belajar dan bermain menikmati dunianya sendiri. Dunia yang penuh keceriaan. Tetapi fakta dan realitas sejarah tentang itu tak bisa dibantah.

Leo Tolstoy menempati rumahnya di Yasnaya Polyana sejak tahun 1856 hingga 1910. Dan pada tahun 1859 ia mendirikan sekolah yang secara khusus didedikasikan kepada anak-anak budak. Sekolah itu berdiri tepat dua tahun sebelum Pemerintahan Tsar Aleksandr II secara resmi menghapus sistem perbudakan (Krespotnoye Rusia) di Rusia pada tahun 1861.

Ini sungguh luar biasa. Atas inisiatifnya memberdayakan anak-anak kaum budak, Leo Tolstoy telah menggetarkan kesadaran Tsar Aleksandr untuk menghapus segala macam bentuk deskriminasi atas nama apapun. Kebijakannya menjadi langkah awal yang mengantarkan rakyat Rusia memperoleh kesempatan yang sama untuk berdaya.

Sementara bagi Leo Tolstoy, nama besar yang disandangnya tidak menjadi penghalang untuk menerjemahkan ide-ide dan naluri kesastrawanannya dalam merangkul, memberdayakan dan membela siapa saja. Termasuk anak-anak dari kalangan budak dan kaum papa.

Mungkin tidak banyak yang menyadari, bahwa Tolstoy yang lahir dari keluarga bangsawan kaya itu adalah sosok humanis yang sangat dekat dengan anak-anak. Tolstoy tidak hanya mahir menganalisa kehidupan konflik batin tokoh-tokoh ciptaannya. Di balik keseriusannya mencipta karya-karya yang monomental, Tolstoy ternyata juga menghikmati kesederhanaan dan keluguan dunia anak-anak.

Hal ini bisa dimaklumi mengingat karya pertama Tolstoy yang kemudian mengantarkannya berkubang dalam dunia kesusastraan sangatlah dekat dengan dunia anak. Dalam Detstvo (Masa Kecil) misalnya, Tolstoy berbicara tentang perasaan cinta kepada Tuhan dan orang-orang terdekat berdasarkan sudut pandang seorang anak. Dan ini merupakan karya pertama Tolstoy yang sekaligus mengantarkannya menjadi sastrawan besar dunia.

Ada satu prinsip yang menjadi motif utama Tolstoy sampai harus menjadikan rumahnya sebagai sekolah bagi anak-anak budak waktu itu. Menurutnya, setiap orang memiliki kebebasan berimanjinasi dan berekspresi. Dua hal ini merupakan hak setiap manusia, termasuk anak-anak.

Bahkan Tolstoy dengan tegas menentang institusi sekolah yang dalam keadaan tertentu sering melakukan pembelengguan terhadap keleluasaan anak untuk membangun imajinasi mereka dan berekspresi. Bagi sastrawan beraliran realisme dan master “dialektika jiwa” ini anak-anak harus bebas mengekspresikan masa kanak-kanaknya sesuai dengan dunia dan jiwa mereka.

Setiap ada kesempatan bertemu dengan anak-anak didiknya, Tolstoy sering melakukan dialog bersama mereka. Hal ini mungkin benar-benar berada di luar dugaan kita. Sebab barangkali selama ini kita mempersepsikan sosok Tolstoy sebagai tokoh yang hampir tak memiliki waktu bercengkerama dengan anak-anak.

Dalam sebuah pesan yang disampaikan Tolstoy atas pertanyaan anak didiknya mengenai nilai moral, ia pernah berkata, “Kita semua tahu bahwa kita menjalani hidup bukan sebagaimana seharusnya, tetapi bagaimana agar bisa hidup. Karena itu haruslah selalu diingat, bahwa hidup kita bisa dan harus lebih baik. Dengan mengingat hal itu, kita tidak boleh lalu menyalahkan kehidupan orang lain dan kehidupan sendiri tanpa memperbaikinya. Tapi kita harus berusaha setiap hari dan setiap saat untuk sedikit lebih baik dan terus memperbaiki diri. Inilah yang paling penting dan paling menyenangkan dalam hidup ini.”

Tak hanya itu. Untuk memperteguh prinsip pembelaannya terhadap anak-anak, Tolstoy menyisihkan waktunya untuk menorehkan karya-karya sastra yang secara khusus diperuntukkan untuk anak-anak. Sekitar tahun 70-an di abad XIX ia membuat beberapa karangan seperti Azbuka, Novaya Azbuka. Bahkan karyanya yang berjudul Pervaya Russkaya Kniga dlya Cteniya dan Vtoraya Russkaya Kniga dlya Cteniya ia tulis ditengah upayanya menyelesaikan salah satu karya besarnya “Anna Karenina.”

Demikian besar perhatian Tolstoy terhadap masa depan anak-anak sampai ia mengungkapkan sebuah pesan khusus kepada saudaranya A.A Tolstoy, “Setelah menulis Azbuka tersebut, saya baru bisa mati dengan tenang.”

Sungguh beruntung anak-anak Rusia yang mengetahui kepedulian sastrawan besar mereka. Kita juga berharap meski tak habis pikir, karena tidak banyak dijumpai sastrawan terkemuka negeri ini yang mencoba memberikan pengayoman, pembelaan dan penyadaran terhadap anak-anak lewat buah karya mereka. Sehingga kelak kita tak perlu terhenyak lagi oleh kejadian yang membuat suram masa depan anak-anak negeri ini seperti kasus JIS dan kasus-kasus anak lainnya. Semoga.   

 

Mawar Dalam Gelas

Mawar dalam Gelas
Kebiasaan Rico yang hingga kini tetap tak bisa kumengerti adalah kesukaannya menaruh setangkai bunga mawar dalam gelas. Pagi hari, sebelum bergegas ke tempat kerja, Rico selalu sibuk di halaman belakang rumahnya. Memilih-milih bunga mawar. Lalu memetiknya. Lalu memasukkannya ke dalam gelas di atas meja dekat jendela.

Sepetak tanah di belakang rumah Rico memang dipenuhi dengan pohon bunga mawar. Ada beberapa aneka warna mawar yang tumbuh dan dipelihara di sana. Merah, pink, putih dan ungu. Ketika mawar-mawar itu mekar, maka halaman belakang rumah Rico akan tampak seperti kebun mawar saja. Tak jarang orang akan berdecak-decak kagum saat melintas di samping halaman belakang rumahnya, dan ada juga yang sampai meminta barang setangkai dua tangkai kepadanya. Dan dengan senang hati Rico akan selalu memberikannya.

“Manusia harus sesering mungkin melihat bunga. Dan kalau perlu mereka harus memilikinya.”

Begitulah alasan Rico setiap kali aku bertanya mengapa ia dengan begitu bangga mempersilahkan orang-orang yang datang meminta bunga untuk memetik sendiri di halaman belakang rumahnya. Kebanggaan yang jujur, yang jauh dari polesan kepalsuan dan pura-pura.

Sebagai kekasihnya yang sudah menjalin hubungan sejak tiga tahun yang lalu, aku tahu betul bagaimana Rico begitu perhatian terhadap kebun bunga mawarnya. Bahkan hampir melebihi perhatiannya kepadaku. Setiap pagi selepas bangun tidur, ia menyirami bunga-bunga itu sambil mendendangkan lagu Bunga Mawar yang pernah dipopulerkan Novia Kolopaking. Awalnya, itu kuanggap sebagai kebiasaan yang aneh. Bagaimana seorang lelaki dapat menyanyikan lagu wanita dengan penghayatan yang begitu dalam. Tak kalah mendalam dari penyanyi aslinya sendiri. Tetapi keanehannya itulah yang justru membuatku sulit berpaling darinya. Semakin kuat menyukainya.

Pun juga aku tahu betul apa yang terjadi dengan Rico jika ada orang datang dan meminta setangkai mawar kepadanya. Kedua matanya tampak begitu teduh seketika, senyumnya tulus mengembang. Dan satu lagi, selalu terlihat cahaya putih keperakan yang memancar dari sekujur wajahnya yang sepintas mirip anak keturunan China.

Demikian juga ketika ia hendak berangkat kerja. Setelah menaruh mawar-mawar itu di dalam gelas, Rico akan pergi ke tempat kerja dengan gairah yang tanpa batas. Langkahnya tegap. P andangannya lurus ke depan. Lengkap dengan sungging senyum yang tak pernah padam. Bahkan di meja kerjanya, ia juga menyediakan sebuah gelas khusus yang setiap pagi selalu ia isi dengan mawar-mawar baru, yang dibawanya dari rumah.

“Ia lelaki romantis Selly. Bersyukurlah kau memiliki pasangan seperti Rico,” ujar Mila, teman kerja Rico suatu waktu. 

“Tentu. Tentu aku merasa sangat beruntung, Mila. Terima kasih.”

Kebanggaanku kepada Rico makin tak terbatas, ketika suatu waktu ia dengan jujur mengatakan sendiri kepadaku kalau diantara rekan kerja wanitanya di kantor banyak yang berusaha mencuri-curi perhatiannya. Minta dibawakan bunga mawar. Mengajaknya makan siang dan entah apalagi.

“Apa tanggapanmu?” tanyaku saat mengajaknya makan siang di hari Minggu.

“Aku hanya penuhi satu hal.”

“Apa?”

“Aku hanya mau membawakan mereka bunga. Tapi tidak dengan permintaan lainnya.”

“Kenapa kamu mau melakukan itu, Rico?” tanyaku dengan hati cemburu.

“Manusia harus sesering mungkin melihat bunga, Selly. Bahkan kalau perlu, mereka harus memilikinya. Menanamnya sendiri di rumah mereka.”

Itu alasan yang sama, yang selalu Rico kemukakan saat aku bertanya. Betapapun aku tetap tidak mengerti dengan alasan demi alasan yang ia kemukakan, tapi aku tak pernah bertanya lebih jauh. Sebab tiap selesai ia memberiku alasan seperti itu, maka memancarlah cahaya putih keperakan dari sekujur wajahnya. Begitu memukau. Membuatku hanya bisa terdiam menyaksikan parasnya yang seketika menjadi teduh dan menenteramkan.

“Tapi mawar adalah bunga yang paling tidak kusukai. Mengapa kau lebih memilih bunga itu?”

Rico tersenyum. Dengan perlahan ia meraih tanganku. “Justru aku ingin bertanya, kenapa kamu tidak suka bunga mawar?”

“Tangkainya penuh duri. Aromanya kurang memikat hati.”

“Sudah kuduga. Pasti itu alasanmu. Dan itu sebabnya aku tak pernah memberimu bunga mawar kesukaanku. Bukan aku tak ingin memperlakukanmu dengan romantis sebagaimana pasangan yang lain. Justru aku akan berbuat begitu kalau engkau sudah tahu mengapa aku lebih suka mawar daripada bunga yang lain.”

Aku menarik nafas dalam-dalam. Menekan rasa kesal yang hampir tak bisa kutahan. Namun anehnya rasa kesal itu begitu saja sirna saat kulihat Rico tersenyum dengan pancaran cahaya putih keperakan di wajahnya.    

Suatu senja. Sehabis pulang dari bekerja, aku segera pergi menyambangi rumah Rico yang hanya berjarak tiga ratus meter dari rumahku. Seharian tadi, entah mengapa, aku selalu saja teringat kepadanya. Sebuah ingatan yang tak wajar. Sebab tiap kali mengingatnya, aku seperti didera kegelisahan. Lebih tepatnya ketakutan.

Semilir angin senja membelai-belai wajahku yang tegang. Dan lima puluh meter menjelang tiba di rumahnya, semerbak mawar tercium begitu nyata. Menusuk-nusuk hidung bangirku. Menimbulkan debaran-debaran yang makin tak menentu dalam jantungku. Kupercepat langkah hingga sesampainya aku di depan rumah Rico, aku melihat sekumpulan manusia berdiri dalam antrean. Sepuluh. Dua puluh. Oh tidak. Hampir seratusan orang lebih berdiri dalam sebuah barisan yang teratur. Laki-laki dan perempuan. Tua, muda hingga anak-anak berbaris jadi satu.

“Apa yang terjadi? Apa yang kalian semua lakukan di sini?” tanyaku. Dengan rasa penasaran tentu.

Seorang perempuan paruh baya. Dengan bayi kecil dalam gendongannya, menoleh ke arahku. Ia adalah orang terakhir dalam panjangnya sebuah antrean di rumah Rico senja itu.

“Kami semua ingin bunga.”

“Bunga..!?”

Perempuan itu mengangguk.

“Untuk apa?”

“Kami ingin menikmati keindahan warna yang sesungguhnya.”

Aku tidak percaya dengan jawaban misterius yang diucapkan perempuan itu. Jawaban yang sama misteriusnya dengan alasan-alasan yang dikemukakan Rico setiap kali kutanyakan apa yang membuatnya merasa begitu bergembira ketika ada orang datang meminta bunga mawar kepadanya. Aku tidak mengerti bagaimana orang-orang ini bisa terpengaruh kata-kata Rico. Aku segera beranjak. Melewati deretan orang-orang dan segera pergi menuju halaman belakang rumahnya.

Ia hanya menoleh sebentar ke arahku. Dengan senyum senang. Dan seperti biasa, pancaran cahaya putih keperakan yang memancar dari parasnya makin terang saja di bawah redup matahari senja. Dengan cekatan, kedua tangan Rico mencabuti satu persatu benih-benih pohon mawar yang tersebar di sana-sini. Lalu menyerahkannya kepada orang-orang yang berdiri antre, yang dari kedua mata mereka memancar tatapan penuh takjub kala melihat wajah Rico di depannya.

“Wajahnya begitu sempurna,” kudengar bisik mereka.

“Ia seperti wajah bunga,” bisik yang lain sambil menunggu tiba giliran.

“Ya. Jauh dari pura-pura. Atau mungkin ia bukan lagi manusia.”

Aku hanya terdiam mendengar bisik orang-orang itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada diri Rico? Bagaimana bunga mawar itu menarik perhatiannya begitu rupa? Menimbulkan keajaiban-keajaiban yang terus terang saja sulit kupercaya? Pertanyaan demi pertanyaan itu selalu saja menguntitku. Menuntut jawaban lunas yang barangkali dapat membebaskan rasa penasaranku dengan tuntas.

***
 
Setahun berlalu, kujalani kehidupanku yang baru. Bersama Rico yang sudah resmi menjadi suamiku. Selain aku bisa terus bersama, tak ada perubahan lain yang terjadi pada dirinya. Rico yang sekarang sudah jadi suamiku masih saja sebagaimana Rico di tahun-tahun yang lalu. Lelaki yang di waktu pagi akan langsung pergi ke halaman belakang rumahnya, yang dengan khusyuk menyirami bunga mawar kesukaannya, memetiknya dan lalu menaruhnya di dalam sebuah gelas di atas meja dekat jendela.

Seiring waktu berjalan, aku pun jadi terusik keadaan. Rasa penasaran yang sudah lama berjibaku dengan kekesalanku memunculkan ketegangan-ketegangan yang terus mengganggu. Maka pecahlah pertengkaran itu di sebuah pagi yang masih beku. Saat Rico buru-buru bangun untuk pergi ke halaman belakang, tanpa bisa kutahan, meluncurlah sergahan-sergahan penuh kemarahan.

“Rico. Kau suami tergila yang lebih mementingkan bunga daripada istrinya,” hardikku dengan sengit.

“Hei, jaga mulutmu. Lebih baik kau perhatikan apa yang aku lakukan,” jawab Rico tak kalah sengitnya.

“Bangsat. Sudah kuhabiskan tiga tahun lamanya sejak kita pacaran dulu untuk mencari tahu penyebab kegilaanmu itu. Tapi sampai sekarang aku sudah jadi istrimu, kau tak kunjung waras-waras juga.”

“Diaaammm,” teriakan Rico begitu menggema. Hampir memecahkan gendang telinga. Seiring dengan itu, kulihat keteduhan dan ketenangan wajahnya perlahan sirna. Ketegapan dan kegagahannya seperti menyusut. Pagi itu, Rico terlihat limbung. Dengan kedua tangan memegang dada, ia ambruk seketika. Aku panik. Dan buru-buru melompat. Tak tahu apa yang harus kulakukan, aku menghambur ke halaman depan. Berteriak-terik minta pertolongan.

“Apa yang terjadi? Kenapa dengan Rico?” satu persatu tetangga sekitar berdatangan. Merubung tubuh Rico yang sudah diangkat ke pembaringan.

“Cepat panggil ambulan,” teriak yang lain.

Raungan bunyi sirine dari kejauhan tak juga menghalau kegelisahanku. Bahkan saat tubuh Rico dimasukkan ke dalam mobil, tangisku tak kunjung bisa ditahan. Ada penyesalan. Tetapi itu tak akan cukup membantu memulihkan keadaan. Sampai di rumah sakit, saat dokter memintaku menunggu di ruang tunggu, beberapa tetangga mencoba menghiburku. Sebagian mereka bertanya, apa yang sebenarnya terjadi diantara kami berdua. Dengan suara terbata, aku mulai bercerita.

“Mari ikut denganku. Kurasa sekaranglah waktunya kuceritakan semuanya kepadamu,” terdengar suara Hendi, lelaki yang sering menjadi teman ngobrol Rico malam-malam. Aku hanya mengangguk, mengikuti Hendi ke ujung koridor rumah sakit ini.

“Rico adalah sahabatku sejak kecil,” kata Hendi memulai ceritanya. “Sejak lulus kuliah, entah mengapa, ia begitu menyukai bunga-bunga. Mawar khususnya. Aku pernah bertanya tentang hobi barunya itu. Dia bilang, kalau bunga mawar adalah lambang keteguhan. Ia mungkin dicaci karena batangnya penuh duri. Namun cacian itu tak pernah menyurutkan nyalinya untuk memberi keindahan warna pada bunganya. Sama seperti Rico. Semenjak dia diterima bekerja di kantornya, ia kerap dicaci karena sering memprotes atasannya dan juga rekan-rekannya yang ketahuan sering berbuat curang. Tapi ia teguh. Ia bertahan. Tak mau terlibat berbuat curang dan memilih bekerja dengan penuh kejujuran. Sama dengan jujurnya warna mawar. Indah, menenangkan, namun tidak boleh dipermainkan kalau tidak ingin tertusuk durinya yang tajam. Satu hal lagi. Kalau dia meninggal karena komplikasi penyakit jantung yang sudah lama dideritanya, dia minta kepadaku agar kau menanami kuburannya dengan bunga mawar. Bunga yang sebenarnya. Ia menolak menerima karangan bunga. Sebab menurut dia, karangan bunga itu hanya kebohongan, mudah gugur, rapuh dan tidak teguh.”

Dari ujung koridor, seorang dokter berpakaian putih datang mendekat. Saat dari bibirnya terlontar kata “Maaf, nyawa suami Nyonya tak dapat ditolong,” maka seketika itu pula dunia menghilang dari pandangan.   

Lelaki Di Taman

Taman
Setiap kali melintasi taman kota yang rindang itu, aku selalu melihatnya sendirian. Duduk di kursi bagian utara, persis pojokan timur dekat jalan. Kedua lututnya ditekuk dalam peluk. Bagai sosok yang selalu kedinginan biarpun matahari begitu panas terik.

Awalnya, aku melihatnya tak lebih sebagai lelaki biasa. Mungkin gelandangan. Atau manusia buangan yang tak memiliki tempat hunian. Apalagi dalam berpakaian, hanya itu-itu saja yang dikenakan. Celana panjang hitam dengan kaos putih kusam berlengan pendek. Kepalanya yang ditumbuhi rambut jarang-jarang, hampir tak pernah lepas dari selembar kain warna merah terang yang dibebatkan dengan kuat-kuat. Persis Ibuku kalau sedang mengeluh pusing karena kecapekan.

Tentang siapa dia. Dari mana asalnya. Mengapa beberapa hari ini selalu duduk di pojok taman kota, adalah sederet pertanyaan panjang yang entah mengapa tiba-tiba mengusik pikiranku.

Bahkan kian hari pertanyaan yang menumbuhkan rasa penasaran itu kian menggumpal saja dalam dada. Awalnya, aku hanya memikirkannya di waktu malam. Persis saat tubuh sudah telentang di pembaringan. Dan kalau sudah begitu, aku bisa memikirkannya hingga jauh tengah malam sampai-sampai di pagi hari aku harus tergopoh pergi ke kantor karena bangun kesiangan.

Namun sialnya, rasa penasaran itu terlintas juga hingga tempat aku bekerja. Maka demikian sempurnalah sosok lelaki yang biasa duduk di pojok taman kota itu menyita hampir seluruh waktuku. Di rumah, di kantor. Ah..

“Isna. Pak Asrul memanggilmu.”

Suara Marni membuyarkan lamunanku. Dan aku bergegas menuju ruangan Pak Asrul. Dia atasanku di kantor ini. Sekelebat aku bertanya-tanya apa keperluan Pak Asrul memanggilku datang ke ruangannya. Sesuatu yang tidak biasa ia lakukan sebelum-sebelumnya. Perlahan kudorong pintu ruangannya yang dingin dan harum itu.

“Isna, silahkan duduk,” perintahnya saat melihatku berdiri di mulut pintu.

“Isna. Dari laporan rekan-rekanmu, beberapa hari ini kamu sering melamun. Bahkan seringkali datang terlambat ke kantor.”

“Iya, Pak. Saya minta maaf,” jawabku dengan suara pelan.

“Satu lagi. Hasil kerjamu juga tidak seperti biasanya. Dan ini salah satu hasilnya,” Pak Asrul menyodorkan beberapa lembar kertas berisi laporan dari hasil sidang yang baru aku tulis kemarin hari.

“Ada banyak kesalahan dalam laporanmu. Sebagai seorang staf, kamu harusnya lebih teliti dalam bekerja. Kesalahanmu akan menimbulkan dampak buruk buatku, buat lembaga kita.”

Aku hanya diam sambil menatap kertas-kertas itu dengan tatapan kosong.    

“Ada apa dengan kamu, Isna?”

“Tidak apa-apa, Pak. Memang beberapa hari ini saya kurang sehat. Tapi sekarang kondisi saya sudah agak membaik,” jawabku.

“Baiklah. Sekarang kamu benahi laporan ini dan nanti serahkan padaku,” kata Pak Asrul sambil memberikan penjelasan tentang beberapa letak kesalahan yang harus kuperbaiki.

“Baik, Pak.”

Aku menarik nafas dalam-dalam saat kembali ke tempat kerjaku. Kulirik sebentar kertas-kertas berisi laporan yang mesti kuperbaiki hari ini. Malas sebenarnya. Tapi seorang staf sepertiku tidak boleh memiliki rasa malas. Dengan sisa semangat yang ada, kuselesaikan laporan itu dan segera kuserahkan hasilnya sama Pak Asrul.

***

“Isna. Kamu punya masalah? Bicara, dong?” bujuk Marni saat kami sedang berjalan pulang dari kantor. Aku dan Marni hampir selalu berangkat dan pulang kerja bersama. Dan kami berpisah di persimpangan utara taman kota.

“Pertanyaanmu persis Pak Asrul tadi,” jawabku sambil tersenyum.

“Aku serius, Isna.”

“Beberapa hari ini aku hanya kurang sehat. Tapi sekarang sudah baikan.”

“Kau yakin?”

Aku mengangguk dan segera berpamitan saat sampai di pertigaan. Aku melangkah ke arah selatan, melintasi taman kota, sementara Marni melangkah ke arah timur. Kuperhatikan jam tangan. Setengah lima sore.

Suasana taman kota terlihat mulai ramai dengan orang-orang yang meluangkan waktunya untuk bersantai. Melepas penat setelah lelah bekerja seharian. Keberadaan taman ini seperti menegaskan sebuah kepastian, bahwa di tengah keriuhan kota dengan warganya yang bergesa, manusia tetap memerlukan sebuah ruang untuk berteduh. Menikmati kesejukan. Memulihkan kesuntukan dengan sejenak menikmati elus lembut tangan angin.

Mungkinkah ini alasan lelaki yang setiap hari kulihat di taman itu?

Aku tak senang berbicara kemungkinan. Akan lebih baik seandainya aku mengenal siapa dia sebenarnya agar pikiranku tidak selalu terganggu karenanya. Setelah berpikir sejenak, kuputuskan untuk menemui lelaki itu sambil sekalian ikut bersantai. Apalagi masih tersisa beberapa menit waktu sebelum matahari benar-benar surup di ufuk barat.

Dari jarak beberapa meter, aku malihat lelaki itu seperti sedang terpekur. Kepalanya tertunduk dalam-dalam dengan kedua kaki dibiarkan menjuntai kedepan. Kedua tangannya bersedekap erat. Di tengah lalu-lalang orang-orang, ia terlihat seperti patung batu taman. Dingin, diam dan tak peduli dengan apa saja yang terjadi di sekitarnya. Padahal tidak jauh di sebalahnya, nampak sepasang muda-mudi sedang asyik bercakap sambil berangkulan. Membicarakan sesuatu yang menurutku sangat serius. Mungkin keduanya sedang serius membicarakan pernikahan mereka nanti.

Sejenak aku ragu untuk menyapanya. Apalagi ia terlihat seperti orang yang sedang pulas tertidur.

“Kenapa berdiri saja. Mari duduk disini.”

Ia tiba-tiba sudah duduk tegak dengan tatapan lurus ke arahku. Seiris senyum tersungging di bibirnya. Kutaksir usianya lima puluh tahunan meski paduan antara senyum dan keramahan suaranya membuatnya terkesan lebih muda dari itu. Didorong rasa penasaran yang amat sangat, tanpa canggung aku mengikuti perintahnya. Pelan-pelan kuhempaskan tubuhku pada sisi kiri kursi itu.

“Kau baru pulang kerja, Nak?” Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Berapa tahun kau bekerja?”

“Hampir satu tahun,” jawabku dan dia mengangguk.

Aku diam saja. Lelaki tua ini menarik nafas dalam-dalam. Saat kuperhatikan raut wajahnya dari samping, tampak beberapa lembar janggut dan bulu alisnya sudah mulai memutih. Sebuah bukti bahwa ia memang sudah benar-benar tua.

“Sepertinya Bapak bukan warga sini.” Kuberanikan untuk bertanya agar bisa lebih banyak mengetahui siapa dia sebenarnya. Lelaki itu kembali tersenyum dan menghela nafas dalam-dalam.

“Bagaimana kamu tahu kalau aku bukan warga sini?” Kali ini ia menatapku dengan tatapan tajam. Sebuah tatapan yang memunculkan berbagai macam gambaran tentang kegelisahan dan kesedihan yang sudah terlalu lama bersarang.

Oh, tidak. Tatapannya juga justru mengingatkan aku akan mendiang almarhum ayahku, yang meninggal dalam usia tepat lima puluh tahun. Persis lelaki yang sedang berada di depanku kali ini.

“Sebab baru beberapa hari ini saya lihat Bapak disini. Duduk sendirian di kursi ini.” Jawabku dengan suara datar.

“Bukan beberapa hari ini, Nak. Justru aku sudah sering disini. Sejak beberapa tahun yang lalu. Sayangnya, kamu tak melihatku. Tapi aku melihatmu tiap hari melewati taman kota yang indah ini.”

Lelaki itu diam sejenak. Lalu, lagi-lagi ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian tanpa diminta ia mulai bercerita tentang masa mudanya dulu, tentang keluarganya bahkan tentang sebuah peristiwa yang dia alami hingga membuat ayahnya meninggal dunia.

“Dan sejak kematian ayahku, kehidupanku berubah,” katanya dengan suara berat.

“Kehilangan orang-orang yang kita cintai memang membuat seseorang jadi berubah,” jawabku menanggapi.

“Kau benar, Nak. Tapi bukan kematiannya yang membuatku sedih. Ayahku mati saat ia melawan orang-orang yang hendak merebut tanah miliknya. Ayahku seorang pekerja keras meski sebenarnya ia bodoh. Ia tidak tahu apa-apa. Ketika orang-orang itu menunjukkan dokumen palsu saat hendak merebut tanah ayahku, ayahku hanya bisa melawan dengan kemarahan dan kekesalannya. Sumpah serapah dan kutukannya. Tapi apa hasilnya? Tidak ada. Ayahku meninggal dan kami semua sekeluarga kalah. Orang-orang itu dilindungi negara, sementara negara tak pernah peduli akan kutukan apalagi kutukan yang keluar dari mulut pekerja keras dan bodoh seperti ayahku.”

“Boleh saya bertanya, Pak?”. Di menoleh ke arahku sejenak dan kemudian mengangguk.

“Setiap hari Bapak selalu duduk di sini. Apa yang Bapak pikirkan?” tanyaku hati-hati.

Tiba-tiba dia tertawa sampai tubuhnya terguncang-guncang.

“Maaf, Nak. Sebenarnya tidak ada yang aku pikirkan. Orang kalah sepertiku ini tak perlu berpikir, apalagi memikirkan kekalahan. Yang mengalahkan kami adalah negara. Sementara negara itu tak boleh kalah? Apalagi kalah terhadap rakyatnya yang kecil, yang papa. Negara harus selalu menang, Nak. Kalau aku selalu berada disini, di taman ini, aku hanya menikmati sisa-sisa hidup diantara kekalahan itu.”

“Apa yang sudah negara ambil dari, Bapak?”

“Banyak. Ayahku, dan yang terpenting adalah harapan-harapan kami sekeluarga.”

Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali bertanya, “Lalu apa sisa harapan Bapak sekarang?”

“Tak banyak, Nak. Tak banyak. Aku hanya ingin memperoleh apa yang memang menjadi hakku atas tanah yang sekarang di atasnya telah dibangun gedung itu,” katanya sambil menunjuk ke arah utara, ke sebuah gedung pengadilan megah yang tidak lain adalah kantor tempat aku bekerja kini.

“Bapak yakin bisa berhasil?” tanyaku memancing dan dia menggeleng. “Mengapa Bapak tidak yakin?”

Lelaki itu menatapku dengan tatapan santun layaknya seorang ayah yang hendak berdongeng pada anaknya. Lalu kemudian, “Kuberitahu kau, Nak. Itu gedung pengadilan. Orang-orang yang masuk ke sana sebagian datang untuk diadili. Kalau aku datang untuk menyampaikan gugatan dan harapanku, pasti aku juga akan diadili. Tapi, apakah setiap orang yang diadili bakal mendapat keadilan? Aku khawatir, kalau aku datang dan menggugat akan hak-hakku yang sudah dirampas oleh negara, aku takut hanya dijadikan sebagai orang yang diadili namun tidak diberi keadilan.”

Aku tersentak. Tiba-tiba ada yang terasa nyeri dalam hatiku. Sekian macam peristiwa yang terjadi dan pernah kusaksikan sendiri di dalam kantor pengadilan itu, terdedah dengan sejelas-jelasnya.

Belenggu

Belenggu
Kusandarkan tubuhku di kursi rotan. Kursi itu berderit seperti sudah terlalu ringkih menampung berat badanku yang kelimpungan. Dan di wajah, butiran-butiran keringat bercampur debu kemarau masih lengket tersisa. Hari itu, pikiranku terasa lelah. Bahkan benar-benar lelah.
 
Sejak di sekolah tadi, aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi saat mengajar. Di dalam kelas aku lebih banyak terdiam. Murid-murid yang biasanya selalu menanti cerita-ceritaku terpaksa harus menelan kekecewaan. Sebab tadi aku hanya memerintahkan mereka untuk menyelesaikan latihan-latihan soal. Apalagi ini sudah menjelang ujian. Selebihnya, aku murung saja di belakang meja.
 
Pikiranku tersita oleh satu persoalan yang membuatku harus memilih antara tetap mengajar atau keluar. Dua pilihan itu sama beratnya bagiku untuk diambil. Lima belas tahun aku mengajar di sekolah itu tentu bukan waktu yang singkat. Bahkan aku berjanji akan tetap membantu mengajar di sana meski sampai tua usiaku.

Tugas sebagai seorang guru sepertinya sudah mendarah daging di tubuhku. Aku bahkan tak pernah mempersoalkan gaji mengajarku yang tak seberapa. Sedari awal, aku sudah meyakinkan diri bahwa aku mengajar bukan untuk sebuah pekerjaan. Aku mengajar sebagai bentuk kerinduan orangtua akan kehadiran anak-anaknya. Maklum, hingga setua ini aku masih belum dikaruniai seorangpun anak. Maka saat mengajar, aku merasa seperti orangtua yang sedang mengunjungi anak-anaknya.

Terus terang ada rasa bangga saat aku melihat murid-murid yang datang ke sekolah begitu antusias saat mengikuti pelajaranku. Dalam mengajar, aku memang memiliki cara sendiri yang berbeda dari guru yang lain. Aku selalu menyisipkan cerita-cerita menarik pada saat menyampaikan materi pelajaran pada mereka. Maka dapat kumaklumi kekecewaan murid-muridku siang tadi saat mereka tak mendapatkan cerita dan hanya kuperintahkan mengerjakan latihan soal sejak awal pelajaran hingga waktu mengajarku habis.

“Kenapa tidak cerita saja sih, Pak!” seru mereka.

“Sebentar lagi ujian. Kalian harus fokus dulu pada ujian. Makanya dari sekarang kerjakan dulu soal-soal di buku itu sebagai latihan,” jawabku.

“Masak dari kemarin latihan terus,” mereka menggerutu.

Aku hanya diam saja dan pura-pura tidak mendengar ucapan mereka. Apalagi pikiranku benar-benar suntuk. Tak bisa berpikir jernih. Bahkan kedatanganku ke dalam kelas seakan tanpa semangat sama sekali. Itu semua jelas bukan tanpa sebab. Kata-kata Pak Heru tadi pagi seakan melucuti semua semangat mengajarku yang sudah kupertahankan selama lima belas tahun yang lampau.

“Kalau Pak Kussno tidak bisa bekerjasama dengan kami, berarti kita sudah tidak sevisi lagi dalam menjalankan tugas kita di sekolah ini. Sayangnya, sayalah yang punya wewenang penuh di sini. Coba Bapak pikirkan sekali lagi.”

 “Saya tetap tidak setuju Pak Kepala Sekolah. Kalau kita memberikan bocoran jawaban kepada murid-murid, itu sama saja dengan mengajari mereka berbuat tidak jujur. Apa jadinya mereka nanti. Coba Pak Kepala Sekolah pikir sekali lagi. Kalau sejak sekarang murid-murid kita diajari berbuat curang, nanti mereka akan terbiasa melakukan hal yang sama. Saya tak dapat berpikir bagaimana jika diantara mereka nanti ada yang jadi pejabat,” kataku dalam rapat tertutup dengan kepala sekolah dan beberapa guru lainnya pagi tadi.

“Pak Kussno terlalu jauh berpikir. Lagi pula ini bukan masalah jujur atau tidak, Pak Kussno. Ini soal reputasi sekolah kita dan kepercayaan masyarakat. Kalau sampai anak didik di sekolah ini tidak mencapai angka kelulusan yang sempurna, siapa lagi yang percaya pada sekolah kita. Tidak ada lagi yang mau menyekolahkan anaknya di sini. Apalagi persaingan antar sekolah sekarang semakin ketat. Sudahlah, Pak. Kita tidak usah mempersulit murid-murid untuk lulus,” jawab Pak Heru.

“Tetapi kita bisa memberikan bimbingan dan latihan pada mereka, Pak,” kata saya.

“Memang bisa. Tapi hasilnya tetap diragukan. Sebab latihan soal yang dikerjakan murid tidak akan sama dengan soal-soal yang diujikan nanti. Dan itu buang-buang waktu. Saya tidak suka jika waktu kita terbuang percuma untuk sebuah kegiatan yang sebenarnya kita memiliki alternatif lain yang jauh lebih efektif dan mudah.”

“Salah, Pak Kepala. Jika kita meluangkan waktu untuk melatih murid, itu sama sekali bukan kesia-siaan. Tidak ada yang percuma kalau kita melakukan yang terbaik untuk murid-murid kita.”

“Jadi kesimpulannya, Pak Kussno tetap tidak setuju dengan rencana kita?”

“Benar, Pak Kepala. Saya tidak setuju,” jawabku tegas.

“Berarti kita tidak sevisi lagi. Sebuah pekerjaan tidak akan berjalan baik jika antara satu karyawan dengan karyawan lain, apalagi dengan kepala karyawannya tidak lagi satu visi. Kesimpulannya adalah, agar pekerjaan tetap berjalan dengan baik maka karyawan yang tidak sevisi itu harus memilih: tetap bekerja atau keluar.”

Aku lihat Pak Heru benar-benar serius dengan ucapannya. Sebenarnya bukan kali ini saja aku berbeda pendapat hingga bersitegang dengannya. Banyak kebijakan Pak Heru yang aku tentang karena memang tidak sesuai dengan reputasinya sebagai seorang guru dan Kepala Sekolah. Tapi tragisnya aku selalu kalah. Dia yang punya wewenang di sini. Sedangkan guru-guru yang lain selalu membela kebijakannya walaupun banyak yang menyimpang dari peraturan.

***

Hari itu adalah hari pertama murid-muridku menjalani ujian nasional. Aku berangkat lebih pagi dari biasanya karena di hari pertama itu aku mendapatkan tugas untuk mengawasi mereka dalam mengerjakan soal ujian. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Saat aku sampai di sekolah dan melihat pengumuman tentang siapa saja yang bertugas mengawasi ujian, ternyata namaku tak ada di sana. Aku perhatikan sekali lagi daftar nama guru yang bertugas mengawasi ujian hari itu. Namaku tak tertera. Saat kutanyakan pada petugas tata usaha, kenapa tidak ada namaku di sana, dia hanya menjawab,

“Saya tidak tahu, Pak. Semalam Pak Heru hanya menyuruh saya untuk menulis ulang nama-nama pengawas ujian. Saya juga heran kenapa nama Pak Kussno tidak ada. Tapi saya tidak berani bertanya, Pak. Pak Kussno kan tahu sendiri bagaimana Pak Heru. Perintahnya tak bisa dibantah.”

Tubuhku lemas. Perlahan aku keluar dari ruang tata usaha. Sudah jelas sekarang bahwa Pak Heru diam-diam telah memecatku secara sepihak meski sebelumnya dia masih sempat memberi tawaran; tetap mengajar namun menyetujui kebijakannya memberikan bocoran soal atau keluar karena aku sudah dianggapnya tidak sevisi lagi dengannya.

Di luar, terlihat beberapa murid mulai berdatangan. Mereka tampak bersemangat sekali. Sedikitpun mereka tidak menampakkan rasa khawatir sebagaimana biasanya anak-anak yang mau ujian. Melihat mereka, aku paksakan untuk tetap tersenyum.

“Selama pagi, Pak Kussno,” sapa mereka dengan wajah riang. Aku membalas sapaan mereka dengan datar. Agar mereka tak curiga saat aku mengambil sepeda untuk pulang, aku pura-pura bertanya tentang kesiapan mereka menghadapi ujian.

“Tenang Pak. Semalam Pak Heru datang ke rumah kami dan kami sudah diberitahu kunci jawaban soalnya. Kami sudah menghapal semua kunci jawaban untuk soal-soal hari ini,” jawab mereka setengah berbisik.

Ada yang terasa remuk di dadaku saat mendengar jawaban mereka. Pak Heru benar-benar hanya mementingkan reputasi namanya meski harus mengorbankan kejujuran.

“Kenapa kau begitu jujur mengatakan hal itu kepadaku, Nak? Apa kau tidak takut?”

“Kenapa harus takut, Pak. Bukankah Pak Kussno sendiri yang mengatakan pada kami agar kami selalu berkata jujur. Kapan saja. Dimana saja. Tanpa rasa takut.”

Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku tidak tahu apakah harus bersedih karena dipecat dari sekolah. Atau sebaliknya merasa bangga karena kejujuran yang selalu kuajarkan selama ini telah mereka perlihatkan dengan nyata meskipun di balik kata-kata jujur mereka tetap tersirat sesuatu yang berlainan dengan yang aku harapkan.

Kukayuh sepeda tuaku perlahan-lahan. Sengaja aku tidak langsung pulang ke rumah agar istriku tak banyak bertanya; kenapa aku pulang lebih cepat dari biasanya. Aku mengarahkan sepedaku ke arah pasar dan menghabiskan waktu hingga tengah hari di warung kopi. Menjelang tengah hari aku pulang. 

“Bu, tolong buatkan secangkir kopi,” pintaku sambil menghempaskan diri di atas kursi rotan.

“Kopi!?”

“Ya. Tapi jangan terlalu banyak gulanya.”

“Tumben mau minum kopi. Bukannya Bapak sudah tiga tahun ini berhenti ngopi?”

“Nggak apa-apa. Hanya sekali ini saja,” ucapku. Tidak lama kemudian istriku datang membawa segelas kopi yang kupesan. Dia ikut duduk di sebelahku. Dan seperti biasanya, dia selalu memijit lenganku saat aku pulang mengajar. Aku menikmati kebiasaannya yang tak pernah absen dia lakukan.

“Bagaimana, Pak. Tadi soal-soal ujianya mudah tidak? Kira-kira murid-murid Bapak bisa nggak mengerjakannya?”

Aku terhenyak mendengar pertanyaan istriku. Entah bagaimana aku menjawabnya. Haruskah aku jujur hingga membuatnya bersedih, atau malah berbohong agar dia tetap percaya kalau semuanya berjalan baik-baik saja. Tiba-tiba aku teringat kembali apa yang dikatakan Pak Heru, “Ini bukan soal jujur atau tidak. Tapi bagaimana menjaga reputasi.”

Tapi untuk sebuah nama baik dan reputasi, apakah semua seseorang harus mengorbankan kejujuran? “Ah, lebih baik aku jawab saja dengan jujur. Tidak usah takut,” bisikku dalam hati.

Matahari siang terik membakar. Dan suara adzan dhuhur terdengar syahdu di pendengaran.

Latar UAD-5-2014.

Menanti Surat Balasan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5R1HGZDjBqkSo_E38y_pWnjuKoqIgLjAmSAd0IeqJPyZ_oaszN6YXBocmEeI3mqiWk10v6E8ZhedOuCL1UOAMG7_80ZmyEh0RBIwj3l3h1Sam4xLx3EAZn1dgyzuHH8xe33wJhdDDQzbR/s400/tukang+pos.jpg
Hujan tak kunjung reda. Sudah dua jam lebih kira-kira. Di depan jendela yang kain kordennya dibiarkan terbuka, Farida menatap ke luar. Gelap. Pucuk-pucuk daun kelapa di kejauhan sesekali terlihat bersama cahaya kilat yang menerobos dari balik gumpalan mendung yang menghitam.

 “Aku ingin sekali menulis surat untuknya, Ina,” seru Farida kepada sahabat satu kosnya yang sedari tadi memainkan gitar kesayangannya di atas kasur.

“Untuk apa. Dia sudah memiliki kehidupan yang lain sekarang. Jangan kau ganggu dia lagi.”

Farida menarik nafas. Hujan di luar semakin deras. “Kau benar, Ina. Tetapi aku harus tetap menulis surat untuknya.”

“Kau jangan keras kepala. Suratmu hanya akan mencairkan kembali luka di hatinya yang sudah mulai mengering. Jangan memaksa, kasihan dia.”

“Kau tidak tahu apa-apa, Ina,” Farida menoleh ke arah Ina. Menatap sahabatnya itu dalam-dalam. “Kau tidak akan pernah tahu. Sebaiknya kau bantu aku saja.”

Ina duduk dan meletakkan gitarnya.

“Memangnya apa yang bisa kubantu?”

“Mainkan untukku nada instrumentalia

“Yang mana?”

“Moon Dance. Kau bisa?”

“Bisa.”

“Nah. Mainkan sekarang.”

Suara nada pun melantun dari petikan jemari lentik Ina yang putih. Di dekat jendela yang kacanya kian basah oleh kaki-kaki hujan, di atas meja belajarnya yang penuh dengan buku-buku kuliah, Farida mulai merangkai kata-katanya di atas selembar kertas berwarna hijau muda. Farida begitu bergairah meski kemudian dia harus berkali-kali mengumpat dirinya sendiri sambil melumat-lumat kertas surat itu dengan tangannya;

“Sialan!” gerutunya sambil melempar lumatan kertas itu ke dalam tempat sampah.

“Kenapa?” tanya Ina.

“Tidak apa-apa.”

Ina menghentikan permainan gitarnya. Di luar hujan makin deras. Menjadikan dinginnya cuaca malam kian merasuk hingga ke tulang. Ina menarik selimut tebalnya, membiarkan Farida bergelut dengan pikirannya sendiri.

“Dari mana harus kumulai,” guman Farida sambil memainkan pensil dengan jari-jarinya. Ingin sekali ia memulai suratnya dengan menuliskan peristiwa-peristiwa menggelikan yang pernah ia rasakan bersama kekasihnya itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tetapi itu tak mungkin ia lakukan.

Farida memejamkan kedua matanya. Hening. Dan beberapa lama kemudian dia merasa menemukan sesuatu yang begitu mendesak untuk dituliskan. Segera ia mengambil kertas dan mulai tertulislah surat itu:

Kepada engkau.

Jika surat ini sampai kepadamu, aku tidak ingin kau terkejut. Apalagi setelah engkau tahu bahwa akulah pengirimnya. Aku ingin kau menerimanya dengan biasa-biasa saja. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelum-sebelumnya diantara kita. Kalau ada pertanyaan dalam benakmu, “Untuk apa aku berkirim surat kepadamu?” aku rasa itu wajar. Sebab berpuluh-puluh tahun lamanya kita hidup dengan dunia kita masing-masing, meniti pada jalan yang kita rintis sendiri-sendiri sehingga kita telah melupakan kebiasaan-kebiasaan lama yang pernah membuat kita begitu bergairah menyambut datangnya hari-hari.

Kau masih menyimak, kan? Terima kasih kalau begitu.

Pada suratku yang pertama kali kukirimkan ini, sesudah berpuluh-puluh tahun lamanya aku tak pernah melakukannya, ada hal yang ingin aku katakan dan sekaligus ingin aku tanyakan.

Bagaimana kalau terlebih dahulu aku mulai dari hal yang ingin kutanyakan? Kau setuju, kan?

Saat kau membaca surat ini dan tahu bahwa akulah pengirimnya, apa yang ada dalam benakmu? Kau tak perlu mengerutkan kedua alismu untuk bisa menemukan jawabannya karena aku yakin kau sudah memiliki kesimpulan cukup kuat untuk menilaiku, menganggapku bahkan menvonisku. Terutama sewaktu aku memutuskan untuk menapaki jalanku sendiri. Meninggalkanmu pada jalan yang sepi mengiris hati.

Aku sadar bahwa tindakanku benar-benar kejam karena telah berbuat demikian.

Tetapi tahukah kau, sesudah berpuluh-puluh tahun aku berdiam pada sebuah dunia baru yang tak mungkin kau jangkau, benih-benih dari rasa bersalahku kian hari kian bertumbuh. Aku tidak bisa menghindar dari anggapan yang kubuat sendiri mengenaiku bahwa aku benar-benar manusia tak berperasaan karena telah meninggalkanmu pada sebuah jalan yang buram, menjerembabkanmu pada kebimbangan, kemarahan dan keputusasaan.

Mungkinkah Tuhan akan mengampuni dosaku?

Aku rasa tidak, karena dalam keyakinanku engkaulah saat ini satu-satunya orang yang  memegang kunci atas seluruh pengampunanku. Karena itu aku berkirim surat kepadamu, sesuatu yang sudah tidak mungkin lagi kulakukan setelah berpuluh-puluh tahun aku jauh meninggalkanmu.

Kau tahu maksud dari kiriman suratku ini, kan?

Ya, hal yang ingin aku katakan dengan mengirim surat ini tidak lain adalah aku ingin minta maaf kepadamu. Aku minta maaf atas nama diriku sendiri juga atas nama semua orang yang dunianya kesinggahi kini. Aku ingin minta maaf atas keputusanku meninggalkanmu di tengah jalan dan telah memberimu luka dan putus asa. Aku ingin minta maaf  atas semua perlakuan yang telah menyisakan kenangan-kenangan buruk jika diingat. Sungguh aku minta maaf. Dengan sepenuh hati dan perasaanku.

Apa kau bersedia memaafkanku?

Mungkin sulit bagimu. Tetapi apa yang bisa kuperbuat lagi? Tak ada. Engkaulah penentu nasibku di hadapan pengadilan Tuhan nantinya. Begitupun juga dengan nasib orang-orang yang kini bersama-sama dalam kehidupanku. Benar kata orang, bahwa penyesalan akan selalu datang di hari kemudian. Dan pada hari ini, bersama surat yang sudah kau terima ini, aku nyatakan penyesalanku bersama keinginanku mendapatkan pemaafanmu.

Demikianlah suratku kuakhiri. Semoga engkau tidak hanya menerima surat ini sebagai seratan di atas lembaran kertas belaka. Namun sekaligus mau menerima permohonan maafku agar hari ini dan masa depan nanti hatiku menjadi jauh lebih lega karena tiada lagi beban dosa dan barangkali engkaupun menjadi lebih tenang karena tak lagi dibayangi kenangan pemantik dendam dan kemarahan.

Aku yakin Tuhan Maha Baik, Maha Pemaaf. Dan aku ingin sekali melihat buktinya dari kebaikanmu memaafkanku.

***

            Sudah hampir dua bulan Farida menanti kabar tentang surat yang ia kirimkan. Tetapi belum juga ada tanda-tanda balasan. Beberapa kali ia juga bertanya kepada pemilik kos apakah ada petugas kantor pos yang menitipkan surat untuknya. Tetapi ia harus kecewa setelah mengetahui bahwa tak ada petugas pos selama dua bulan terakhir yang datang ke tempat itu.

Beberapa waktu berikutnya, pemilik kos datang mencarinya.

“Ada surat, Pak?”

“Bukan. Ada yang ingin ketemu kamu.”

“Dia tidak bawa surat?”

“Dia tidak bawa surat. Tapi katanya bawa pesan khusus.”

“Pesan khusus..!?”

Farida masih berpikir saat pemilik kos itu meninggalkan kamarnya. Lalu ia segera bergegas ke ruang tamu. Di sana, seorang perempuan duduk menunggu.

“Mbak Farida ya,” sapanya sambil mengulurkan tangan. Farida mengangguk sambil menerima uluran tangan perempuan tomboy dan sedikit berotot itu. Dilihat dari caranya duduk, perempuan itu seperti ahli bela diri.

“Maaf, Mbak bawa titipan surat untuk saya?” tanya Farida.

“Bukan. Perkenalkan, saya adalah istri dari orang yang Mbak kirimi surat beberapa bulan yang lalu.”

“Apa!?”

Farida terperanjat dan salah tingkah. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Wajahnya tegang. Hatinya berdegup kencang dan dia merasa kalau nyalinya tiba-tiba terasa ciut dan menghilang. Perempuan itu kemudian membuka ranselnya dengan sikap tenang dan perlahan-lahan.

Satu hal yang ada di benak Farida ketika itu. Bagaimana kalau ia mengeluarkan senjata tajam dan kemudian dengan kemampuan bela dirinya dia mengarahkan senjata itu ke lehernya. “Ah…tidak. Ampun..ampun. Saya tak akan mengganggu kalian lagi. Ampun..ampunnnnn…!!!” teriak Farida sambil bermaksud lari dari hadapan lelaki itu.

“Husyy…ada apa sih menggelepar-gelepar kayak orang kesetanan gitu,” bentak Ina. “Makanya jangan tidur sebelum maghrib. Kata orang bisa kerasukan jin. Bangun, mandi sana! Kusut banget wajahmu.”


Minggu Pagi, 2014

Antara Kiai Ali dan Saadah

https://sintayudisia.files.wordpress.com/2013/01/karikatur-kita1.jpg
Seperti Ramadhan sebelum-sebelumnya, Kiai Ali menyambut gembira datangnya Ramadhan tahun ini. Berbagai persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari, seperti rajin olah raga jalan pagi, dan terutama minum ramuan-ramuan tradisional yang berkhasiat menjaga stamina tubuh. Semua itu dilakukan karena biasanya ketika memasuki Ramadhan aktivitas Kiai Ali semakin bertambah padat. Ia harus mengimami shalat taraweh, menghatamkan Al-Qur’an dan beberapa kitab bersama hampir dua ratus orang santri-santrinya.

            Dan khusus Ramadhan tahun ini Kiai Ali berencana akan membuat agenda kegiatan baru yang akan dilakukan bersama santri-santrinya itu.

            “Ramadhan tahun ini, tidak ada seorangpun yang boleh pulang kecuali setelah idul fitri. Itu artinya, selama bulan puasa kalian semua harus di pesantren.”

            Demikianlah pengumuman yang baru disampaikan oleh Kiai Ali sehabis mengimami shalat isya’ malam itu. Dan pengumuman itu sontak membuat semua santri terkejut. Mereka tidak menyangka akan ada peraturan baru seperti itu. Biasanya, lima belas hari sebelum idul fitri, aktivitas pesantren sudah mulai diliburkan dan para santri dengan gembira akan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Tetapi pengumuman yang baru saja disampaikan oleh Kiai Ali sungguh berada di luar dugaan para santri.

            Bermacam-macam tanggapan mulai bermunculan di benak santri. Mereka benar-benar tidak menduga Kiai Ali membuat ketentuan baru yang bagi mereka sungguh tidak diharapkan. Bagaimana mungkin selama bulan Ramadhan mereka harus berada di pesantren. Bukankah bagi santri menjalankan ibadah puasa bersama keluarga jauh lebih mengesankan?

            “Ini tidak adil,” bisik Sami’un kepada Zhairi di sampingnya.

            “Ya. Benar. Ini ketentuan yang tidak adil,” tanggap Zhairi, “masak kita sebulan penuh harus berpuasa disini. Bisa stress kita?”

            Sekalipun kedua santri ini sangat keberatan dengan perintah baru Kiai Ali, tetapi sebagaimana santri-santri lainnya, keduanya tetap tidak memiliki keberanian untuk membantah. Keduanya tahu dengan siapa berhadapan. Di pesantren, tak ada yang berani membantah kata-kata Kiai Ali. Ia sangat dihormati dan tak satupun santri yang tidak merasa segan berhadapan dengan beliau.

            Sami’un menghela nafas. Terasa ada yang mengganjal di dadanya. Diantara para santri lainnya, dialah yang merasa paling dirugikan dengan ketentuan baru itu. Bagaimana tidak, jauh-jauh hari ia sudah membuat rencana yang akan dilakukan bersama keluarga saat pulang di bulan puasa tahun ini. Apalagi sudah hampir lima tahun ia tidak pulang kampung dan rencananya Ramadhan tahun ini ia baru akan pulang. Tetapi, apa yang baru saja disampaikan Kiai Ali itu membuatnya lemas namun juga geram. Ahh..payah. Gagal sudah rencanaku. Gerutu Sami’un dalam hati.

            “Nah, saya yakin kalian semua akan senang dan saya jamin kalian juga akan mendapatkan banyak pengalaman baru pada Ramadhan tahun ini. Sebab saya akan membuat sebuah kegiatan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.”

            Suara Kiai Ali dari tempat imam seperti jarum yang menusuk-nusuk perasaan Sami’un. Ia hanya tertunduk. Namun hatinya penuh gemuruh. Ada keinginan untuk mengutarakan keberatannya dengan keputusan itu, namun lagi-lagi ia tak berani. Terlalu kuat kharisma kiainya itu untuk dibantah sebagaimana terlalu tajam sorot kedua matanya untuk ditatap. Maka tak heran kalau setiap santri yang berbicara dengan beliau akan tertunduk-tunduk bagai ilalang layu kekurangan air.

            Sampai semua santri bubar dan kembali ke bilik pondok masing-masing, Sami’un masih tetap tertunduk di atas sajadahnya. Pikirannya masih terus dihantui oleh pernyataan yang baru saja disampaikan Kiai Ali. Pernyataan itu, benar-benar telah mengubur impiannya untuk pulang kampung. Menuntaskan segala dendam kerinduannya kepada keluarga setalah lima tahun lamanya tak bersua. Namun di balik itu semua, ada alasan lain bagi Sami’un yang membuatnya benar-benar keberatan dengan perintah Kiai Ali.

Ya, Ramadhan tahun ini dia sudah berjanji untuk menemui Sa’adah. Perempuan sekampung yang sedang belajar di Kairo. Ramadhan tahun ini Sa’adah mendapatkan libur panjang. Melalui media facebook, perempuan itu mengutarakan keinginannya untuk bertemu Sami’un. Betapa girang hati Sami’un mendengar keinginan perempuan yang selama ini diidam-idamkan itu.

“Sejak berangkat ke Kairo, sudah hampir tujuh tahun aku tidak bertemu dengan dia,” kata Sami’un dengan suara berat. Dan Zhairi hanya mengangguk-angguk mendengarkan.

“Jadi itu alasannya kamu memutuskan untuk tidak pulang selama lima tahun?”

Sami’un mengangguk. “Salah satunya. Dan kau tahu kan, apa yang sudah kucapai selama ini? Aku salah seorang santri yang oleh Kiai Ali disebut-sebut sebagai santri paling mahir baca kitab kuning. Aku kan, yang sering dipercaya menggantikan beliau kalau sedang berhalangan memberi pengajian. Dan aku berusaha keras untuk itu. Aku mati-matian belajar untuk bisa baca kitab agar aku bisa mengimbangi kecerdasaan Sa’adah.”

“Untuk apa?”

“Ah..kau ini bodoh sekali. Ya jelas, agar aku tidak malu seandainya ngobrol dengan dia. Kau tahu, kan, dia sekolah di Kairo. Pasti baca kitabnya jago. Terus apa yang harus aku perbuat jika dia ingin menjajal kemampuan baca kitabku. Setidaknya, meski aku tidak sekolah di Kairo, aku masih bisa menjawab tantangannya.”

Zhairi hanya senyum-senyum. “Ah, kamu terlalu berlebihan. Iya kalau dia sampai mengujimu. Kalau tidak? Atau jangan-jangan kamu naksir dia, ya?”

“Ah, sudahlah. Tak perlu dibahas. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya agar rencana Kiai Ali tidak jadi terlaksana.”

“Kau apa-apaan. Bagaimana mungkin. Memangnya kamu berani mengajukan keberatanmu sama Pak Kiai?”

Mendengar pertanyaan Zhairi, Sami’un kembali terdiam. Apalagi pada saat itu juga Junaidi, teman sekamarnya memanggil-manggil dan mengajaknya makan. Dengan langkah gontai Sami’un berjalan keluar dari dalam masjid. Baginya, pernyataan Kiai Ali barusan benar-benar membuatnya kehilangan semangat. Ia bahkan tidak bisa menikmati makan malamnya meski perutnya terasa lapar. Setelah makan, Sami’un hanya tiduran di depan kamar pondoknya. Pikirannya selalu tertuju pada Sa’adah. Ah, seperti apa gadis yang sejak dulu selalu menghiasi mimpi-mimpinya itu sekarang?

Dan kenangan itu pun kembali terlontar ke dalam benak Sami’un. Ia tak akan pernah lupa betapa dulu ia sangat mengagumi Sa’adah. Sejak SMP, perempuan itu selalu mencuri perhatiannya. Sikapnya yang lembut dan dewasa membuat Sami’un selalu berpikir bahwa perempuan seperti itulah yang pantas mendampingi hidupnya kelak. Dulu ia sendiri sendiri merasa heran. Mengapa di usianya yang masih belia ia sudah berpikir tentang kehidupan rumah tangga. Namun akhirnya ia sendiri tahu alasannya. Semua karena kesempurnaan Sa’adah itu di matanya.

            Lembar demi lembar kenangan terus berlesatan memenuhi benak Sami’un. Dan kenangan yang paling tidak bisa ia lupakan adalah ketika sekolah mengadakan liburan bersama ke sebuah pantai. Entah jodoh atau kebetulan, di dalam bis, Sa’adah duduk bersebelahan dengan dirinya. Ini kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pikir Sami’un waktu itu. Maka sepanjang perjalanan, di saat teman-temannya yang lain sibuk melihat-lihat pemandangan di luar, Sami’un justru asyik berbagi cerita dengan Sa’adah. Perempuan yang telah membuat hidupnya terasa berwarna.

            “Kemana kau akan melanjutkan setelah lulus nanti?” tanya Sa’adah sambil mulutnya mengunyah permen sehingga bibirnya yang selalu bergerak-gerak itu membuat Sami’un tertarik untuk terus melihatnya.

            “Ke pesantren,” jawab Sami’un sambil tetap mencuri-curi pandang agar terus dapat melihat bibir Sa’adah di sampingnya.

            “Ke pesantren? Kok sama?” 

            “Benarkah. Kau juga ke pesantren. Pesantren mana?” tanya Sami’un dengan girangnya. Dia berharap Sa’adah akan dikirim ke pesantren yang sama dengan pesantrennya tempat ia mondok nanti.

            “Kiai Muhammadun.”

            “Kamu?”

            Sami’un membuang nafas setelah mendengar jawaban Sa’adah barusan. Ada rasa kecewa di hatinya. Namun Sami’un berusaha untuk menyembunyikan perasaan itu. Sami’un tidak ingin Sa’adah mengetahui kalau dia kecewa. Lebih-lebih ia tidak ingin Sa’adah mengetahui kalau diam-diam ia menaruh hati padanya. Biarlah perasaan itu ia pendam. Pikir Sami’un. Ada waktu tersendiri yang lebih tepat untuk mengutarakan perasaannya pada perempuan itu. Begitulah hibur Sami’un pada dirinya. Tetapi sebenarnya ia tidak berani. Sama seperti Faki teman sebangkunya.

Sa’adah...Sa’adah. Andai saja kita bisa sekolah di pesantren yang sama, tentu aku memiliki waktu yang cukup untuk selalu melihatmu.

            “Heh...melamun. Sudah sampai nih.”

Sami’un tergeragap. Lengan kanannya terasa sakit. Namun ia segera menyadari bahwa ternyata Sa’adah baru saja mencubitnya. Sambil senyum-senyum Sami’un bergegas untuk turun dari dalam bis.

“Ingat ya. Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

“Nanti aku akan memberitahumu.”

Perasaan kecewa yang dialami Sami’un makin lengkap saja. Di pantai, ia berusaha agar bisa selalu dekat dengan Sa’adah. Tetapi perempuan itu malah asyik bersama teman-teman perempuan yang lain. Maka untuk mengobati rasa kecewanya ia ikut masuk ke laut. Setelah merasa lelah bermain air bersama teman-temannya, Sami’un memutuskan untuk menyendiri. Sengaja ia memilih tempat yang agak jauh dari rombongan agar ia bisa leluasa mengingat kembali peristiwa yang dialaminya bersama Sa’adah di dalam bis tadi. Tetapi tak lama berselang Sami’un akhirnya dikejutkan oleh suara Sa’adah.

Rupa-rupanya, Sa’adah tadi melihat ketika ia mendatangi tempat itu. Di bawah sebatang pohon bakau yang jarang-jarang daunnya, keduanya kembali terlibat dalam sebuah percakapan yang membuat Sami’un kembali terbuai. Meskipun Sami’un belum berani mengutarakan perasaannya, tetapi kedatangan Sa’adah menemuinya di saat seperti itu bagai sebuah pertanda bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Begitu yang terlintas dalam benak Sami’un.

Maka meluncurlah obrolan-obrolan ringan dari mulut Sami’un yang tak pernah lelah mengumbar senyum di hadapan Sa’adah. Saat kehabisan bahan untuk diceritakan, Sami’un mencoba untuk sedikit bersikap romantis.

“Kalau kamu lihat bentangan laut di depan kita ini, -kata Sami’un memulai cerita romantisnya- maka gemuruhnya seperti perasaan seseorang ketika sedang jatuh cinta atau sedang rindu pada orang lain.”

Meski Sa’adah menanggapinya dengan sikap biasa-biasa saja namun selalu ada tafsiran-tafsiran baru dalam benak Sami’un yang membuatnya semakin yakin bahwa gadis di sampingnya ini juga menaruh hati padanya. Dan tafsiran-tafsiran itulah yang selalu membuat Sami’un tak henti-hentinya mengumbar senyum. Bersemangat memberikan cerita. Ia ingin menumpahkan kegirangannya, perasaannya kepada gadis yang begitu ia kagumi.

“Heh, senyam-senyum sendirian. Dengar tidak sih. Tuh dipanggil Romo Kiai,” suara Zhairi membuyarkan lamunan Sami’un. Di ujung deretan pondok yang ditempati, ia melihat Kiai Ali berdiri, melambaikan tangan padanya. Dengan langkah penuh hormat dan tersipu, Sami’un pergi mendekat.

“Mi’un. Kamu tidak keberatan kalau besok nemani Chairil?” tanya Kiai Ali.

“Saya mbah Kiai. Memang Gus Chairil hendak pergi kemana?”

“Begini, -Kiai Ali kemudian bercerita kalau puteranya yang bernama Chairil itu sudah waktunya untuk menikah. Sudah banyak calon yang ditawarkan, namun semuanya ditolak oleh Chairil. Menurut Chairil, hanya ada satu orang yang membuatnya benar-benar tertarik. Tetapi ia tidak tahu seperti apa keluarganya.

“Nah, aku minta tolong kamu nemani Chairil untuk melihat lebih dekat seperti apa keluarganya. Atau mungkin keluargamu bisa menjelaskan seperti apa kedua orangtua perempuan yang disukai Chairil itu. Kamu tidak keberatan, kan?”

“Sama sekali tidak, Kiai.”

“Oh..ya. Kalau tidak salah nama kampungnya sama dengan nama kampungmu lho. Ya. Benar. Nama perempuan itu...Sa’adah. Ya, Sa’adah. Sekarang dia sekolah di Kairo dan katanya Chairil pernah ketemu dia disana.”

Seperti dentuman dinamit, perkataan Kiai Ali bagi Sami’un seperti melengkapkan kehancuran perasaannya. Dan malam itu, ia langsung berkemas untuk segera hengkang dari pesantren dan berniat meminta ayah-ibunya melamar Sa’adah malam itu juga. Sami’un tak peduli, demi Sa’adah, ia siap berhadapan dengan siapa saja. Termasuk Kiai Ali yang selama ini sangat dia segani.

Minggu Pagi, 2013

Peret Kandung

http://i1345.photobucket.com/albums/p673/humorbendol/ibu_hamil_zps5fceedee.jpg
Arnami, inilah saat yang pernah aku tunggu-tunggu. Melihatmu dalam balutan baju harian sedang duduk khusyuk menghadap ke arah barat. Menjalani sebuah upacara yang konon oleh ayah, ibu, kakek, dan nenekmu dianggap begitu sakral dan mulia. Mungkin karena kesakralannya itulah, sampai-sampai mereka tak pernah menemukan kata selesai membicarakannya. Hampir setiap malam. Saat kita semua berkumpul di teras depan.

            “Pokoknya, upacara ini harus dilakukan. Harus. ”

            Begitulah ucap nenek dengan penuh keyakinan. Aku hanya diam pasrah. Menerima keinginannya yang tak mungkin lagi bisa dibantah. Lagi pula, katamu, tak ada salahnya memberi kesempatan pada orangtua kita itu untuk mengungkapkan kebahagiaan mereka tentangmu. Juga tentang janin yang sekarang bersarang dalam rahimmu.

            “Kau tak perlu khawatir soal biaya, Badri,” hibur kakekmu juga waktu itu.

            Ya, inilah alasan sebenarnya, kenapa diawal-awal aku pernah menolak rencana mereka. Kau tahu kan, untuk upacara semacam ini banyak hal yang mesti harus kita beli. Dan aku pikir saat itu, akan lebih baik jika tabunganku yang tidak seberapa digunakan untuk biaya persalinanmu. Menyambut bayi kita yang pasti lucu. Seperti kamu.

            “Pakdemu akan nyumbang dua ayam putih untuk Rebba. Sementara beras, telur dan bumbu dapur lainnya ditanggung oleh bibinya Arnami.”

            Aku tertegun. Ada rasa malu yang menyelinap dan seketika perasaan itu terbaca juga oleh nenekmu.      

“Tak apa-apa, Badri. Tak perlu sungkan menerima pemberian orang. Itu sudah rejeki anakmu. Nah, kalau aku, kakekmu, bapak dan ibunya Arnami, akan menanggung semua sisa biaya upacara ini. Alhamdulillah kami ada sedikit rejeki.”

Terus terang, Arnami, meski ada perasaan malu, tapi aku juga tak bisa menyembunyikan secuil kebahagiaan yang tiba-tiba ikut lebur dalam kegembiraan yang membuncahi wajah-wajah mereka, orangtua kita. Namun sayang, ibu dan bapakku sendiri tak mungkin datang, ikut merayakan upacara yang sudah lama ditunggu-tunggu keluarga besarmu ini. Atau mungkin saja sebaliknya. Mereka datang, namun kita sendiri tidak merasakan.

Tapi sudahlah. Lebih baik berdoalah untuk kebahagiaan mereka di alam sana. Sekarang yang terpenting adalah dirimu dan calon bayi kita yang makin bertumbuh dan tak lama lagi akan lahir melengkapi hidupmu.

Sekarang dapat kurasakan, Arnami, kebahagiaan yang juga memendar-mendar di raut wajahmu. Binar kedua matamu seperti menyorotkan satu harapan yang sangat besar. Harapan yang barangkali selalu engkau sematkan pada janin kita, bersama lantunan doa-doa panjangmu di setiap malam yang dingin. Sepi.

Dan aku tak ragu lagi untuk mengakui, betapa aku teramat bahagia karena telah memutuskan untuk memilihmu dan menjadikanmu sebagai tempat peraduan paling tepat untuk anak-anakku. Penerus riwayat hidupku. Aku pun yakin engkau pasti berpikir sama sepertiku.

Bukankah begitu, sayang?

Ah, kenapa aku jadi melankolis begini? Tapi biarlah. Mungkin ini adalah akibat dari kebahagiaan yang tak bisa lebih lama lagi kusimpan-simpan.

“Selain itu, anggap saja ini tanda syukur kamu pada Yang Maha Kuasa. Kau sudah menunggu kehamilan istrimu ini begitu lama, kan. Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar, Badri. Sudahlah, kita tetap adakan upacara Pérét Kandung ini,” kata nenekmu meyakinkan.

Aku pun hanya bisa mengangguk. Tak bisa lagi menolak.

Dan akhirnya, seperti sekarang inilah yang aku rasakan, Arnami. Kebahagiaan dan keharuan yang teramat mendalam. Mungkinkah perasaan ini merupakan wujud nyata dari kesakralan upacara Pérét Kandung-mu? Entahlah. Aku hanya bisa menghayatinya. Perlahan-lahan.

//

Saat Nyi Asromo, calon dukun persalinanmu kelak, mulai menutupkan kain putih dari atas kepala hingga pundakmu, aku merasakan aura kesucianmu. Engkau seperti diselubungi oleh semacam kebeningan yang kudus. Engkau terlihat bersih. Putih. Suci.

Aku jadi ingat yang dikatakan ayahmu di suatu malam dulu, “Saat Pérét Kandung, si calon ibu akan ditutupi kain putih. Itu pertanda wanita hamil itu mulia, bersih, suci. Seperti kain putih yang menutupinya.”

Ya, perlahan aku mulai percaya akan kata-kata ayahmu. Arnami, betapa beruntungnya dirimu menjadi seorang wanita mengandung yang sekarang sedang menjalani upacara Pérét Kandung. Engkau dimuliakan, disucikan. Dan kain putih itu seperti menyiratkan sebuah pesan berarti bahwa engkau memang pantas diperlakukan demikian. Atau mungkin itukah sebabnya, Arnami, kenapa Nabi menjamin pahala syahid bagi wanita yang ditakdir tiada saat berjuang melahirkan buah hatinya. Ya, mungkin karena mereka suci, mulia. Seperti yang aku lihat sekarang pada dirimu yang berselubung kain putih itu. Aku rasa, ini benar-benar sakral, Arnami.

Lalu bagaimana dengan pendapatmu? Apa yang kamu rasakan?

Lihat, perlahan Nyi Asromo mulai mengangkat gayung. Gayung yang terbuat dari batok kelapa yang isinya dibiarkan utuh. Putih. Aih, putih lagi. Aku rasa ini seperti sebuah penegasan bahwa wanita mengandung sepertimu memang benar-benar mulia dan pantas disucikan.

Adakah makna lain selain itu, Arnami? Aku ingat lagi apa yang dikatakan nenek saat menyambung perkataan ayahmu malam itu, “Harus pake gayung dari kelapa. Biarkan isinya tetap utuh. Kau tahu, Badri, itu mengandung harapan agar janinmu tumbuh laksana pohon kelapa. Lurus dan kukuh. Semoga anakmupun kelak lurus dan kukuh pendirian sehingga menjadi orang yang suci, bersih, putih hatinya seperti daging kelapa.”

“Selain itu, Badri,” kata kakek menimpali, “gagang gayung itu harus dibuat dari ranting pohon beringin sebesar ibu jari dan panjangnya kira-kira selengan. Ya, selengan. Tapi daun-daunnya tidak boleh dicabut. Itu juga mengandung harapan agar anakmu kelak jadi manusia yang bisa melindungi banyak orang. Seperti pohon beringin itu. Bisa membuat teduh orang yang kepanasan.”

Terus terang, Arnami, aku tak bisa lagi menahan kegembiraan yang terasa makin lengkap. Satu lagi aku merasakan kesakralan dari upacara Pérét Kandungmu ini. Aduh, betapa senangnya janin kita itu, ya. Dia seperti tak putus-putus menerima anugerah berupa harapan-harapan yang baik. Bukan hanya dari kita dan keluarga kita. Tapi dari benda-benda yang sepintas lalu seperti tak mengandung makna apa-apa.

Aku bahagia, Arnami. Bahkan teramat bahagia. Lalu bagaimana denganmu? Aku yakin kau pun tak kalah bahagianya. Iya, kan?

Tapi tunggu. Kenapa sedari tadi kau hanya diam saja, Arnami. Menundukkan kepala seperti sedang menyimpan suatu duka? Ah, mungkin kau tak ingin terlalu mengungkapkan kebahagiaanmu secara berlebihan. Aku tahu itu. Kau memang pendiam. Tak apa, Arnami. Itu memang sifatmu. Aku memaklumi.

Perlahan, Nyi Asromo mencidukkan gayung dari batok kelapa itu ke dalam Kelmo’ yang berisi air penuh bunga. Bunga tujuh rupa yang dibeli dari tujuh tempat yang tak sama. “Langit lapis tujuh, Badri. Bumi juga lapis tujuh. Anakmu harus mandi air bunga tujuh rupa dengan air dari tujuh sumur yang berbeda. Itu semua agar keelokan, kesejukan dan keharuman budi anakmu kelak menyebar ke seluruh semesta.” Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, Arnami, saat nenekmu menafsir sedemikian rupa.

Arnami, aku lihat tangan Nyi Asromo gemetaran saat dia mengangkat gayung penuh air bunga itu dari dalam Kelmo’. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tapi sesaat kemudian, kedua mata perempuan tua itu rapat terpejam. Bibirnya bergerak-gerak seperti sedang merapal suatu mantera. Begitu magis kurasa. Dia terlihat seperti seorang resi yang sedang memasuki kesunyatan alam nirwana. Kupikir ini lebih dari sekadar sakral, Arnami. Ya, lebih dari sekadar sakral.

Kau seakan tersentak saat Nyi Asromo menyiramkan air bunga ke atas tubuhmu yang berbalut kain putih itu. Apakah air itu terasa lebih dingin dari air yang ada di kamar mandi kita, Arnami? Mungkin begitu. Tapi jangan lupa, seperti perintah nenekmu, elus-eluslah perutmu saat air bunga tujuh rupa itu mulai membasahi tubuhmu, membasahi perutmu.

Jangan lupa pula untuk berkata kepada janin kita, “Sejuklah. Sejuklah seperti sejuknya air sumur. Sejukkan hati orangtuamu. Sejukkan hati sesama manusia.” Ya, bukankah seperti itu yang diajarkan nenekmu dulu? Aku yakin kau masih mengingatnya, Arnami.

//

Lihat juga itu, Arnami. Ternyata bukan hanya Nyi Asromo yang memandikanmu dengan air bunga tujuh rupa itu. Melainkan semua. Semua saudara dan tetangga kita yang ikut hadir menyaksikan upacara Pérét Kandung-mu, mereka semua turut pula memandaikanmu. Aku lihat betapa gembiranya wajah mereka.

            Lidahku tiba-tiba kelu menyaksikan semua itu. Tak ada ungkapan apapun yang bisa kuucapkan untuk menyatakan kebahagiaanku yang berlapis-lapis. Mungkin sampai lapis tujuh. Sekarang, aku juga merasakan tentang dirimu yang utuh, Arnami. Engkau bukan lagi sosok wanita yang menjadi istriku, calon ibu anakku, seorang perempuan yang sedang mengandung. Bukan. Kau sudah melampaui semua itu. Kau utuh, dan karena keutuhanmu itulah kau diperlakukan dengan begitu hormatnya.

            Seandainya bukan karena keutuhanmu, Arnami, tak mungkin mereka dengan bangga akan berebut gayung batok kelapa untuk bisa memandikanmu. Menyirami tubuhmu dengan bunga tujuh rupa.

            “Jika bunga yang berhasil kuciduk kebayakan mawar, berarti anakmu perempuan, Arnami,” seru mereka.

            “Haa...tapi lihat, yang banyak kau dapatkan malah bunga melati. Berarti anakmu laki-laki,” timpal yang lain.

            “Siur....siur....siuuurrr,” teriak mereka sambil tertawa-tawa.

            Lelaki atau perempuan, bagiku sama saja. Tapi dulu kau pernah bilang kalau kau ingin anak pertamamu yang lahir itu laki-laki. “Anak laki-laki bisa diandalkan,” ucapmu memberi alasan. Aku hanya tersenyum tanpa komentar.

//

Hampir semua orang yang hadir sudah sama-sama memperoleh bagiannya memandikanmu, Arnami. Dan wajahmu terlihat pucat. Bibirmu gemetar. Kau tampak seperti kedinginan. Namun senyummu yang tiba-tiba mengembang dan hangat itu seperti hendak menyampaikan rasa terima kasihmu pada mereka.

            “Mana Nyiur Gaddhing. Bawa kemari,” pinta Nyi Asromo saat melepas kain putih yang menyelubungi tubuhmu. Kakek yang sedari tadi memegang kelapa berwarna kuning itu langsung mendekat dan menyerahkannya pada perempuan tua itu.

            Aku lihat Nyi Asromo kembali memejamkan kedua matanya. Bibirnya juga bergerak-gerak. Membaca doa, mantera atau entah apa. Kelapa berwarna kuning keemasan itu dielus-elusnya seperti seorang ibu sedang mengelus kepala bayi. Setelah selesai, dia lalu menancapkan biting lidi yang pada ujung atasnya sudah ditancapi bunga kantil yang berwarna kuning semerbak. Awalnya aku tak mengerti, Arnami, arti semua itu, seandainya tidak kuingat lagi apa yang pernah dikatakan nenek padamu.

            “Nanti sehabis kamu mandi, Nyai dukun akan menyerahkan Nyiur Gaddhing yang sudah ditancapi bunga kantil. Ingat, kamu terima kelapa kuning itu dengan hati-hati, ya. Lalu gendong seperti halnya seorang ibu menggendong bayi.”

            “Ya, benar,” timpal kakek, “tapi awas lho. Jangan sampai.....”

            “Huss, jangan dilanjutkan,” potong nenek dengan raut wajah seperti orang sedang ketakutan.

            Aku penasaran waktu itu, Arnami. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan kakek dan kenapa nenek justru melarang dia melanjutkan ucapannya. Namun sekarang aku baru mengetahuinya. Ya, saat Nyi Asromo berbisik di telinga kananmu.

            “Gendong Nyiur Gaddhing ini dengan hati-hati, ya, Nak. Bunga kantil ini juga harus tetap menghadap ke atas, jangan sampai berubah arah agar posisi janinmu juga tidak berubah. Ya, seperti itu. Benar...benar. Nah, sekarang jalan ke kamarmu dengan hati-hati. Jangan sampai kelapa ini terjatuh. Nanti bisa-bisa kamu keguguran dan janinmu tak bisa tertolong.”

            Aku tersentak mendengar perkataan Nyi Asromo itu, Arnami. Dan kaupun terlihat seperti orang yang gugup. Tapi aku rasa, tak ada salahnya kau ikuti saja perintah calon dukun persalinanmu itu. Ini demi keselamatanmu. Demi calon buah cinta kita yang sudah kita tunggu sekian lama.

            Tak terasa, aku senyum-senyum sendiri saat melihatmu melangkah sambil menggendong kelapa kuning itu, Arnami. Kau benar-benar terlihat pantas menjadi seorang ibu. Caramu menggendong buah kelapa itu sudah tidak menampakkan rasa canggung sama sekali. Sama seperti para ibu yang menggendong bayinya.

Saat kau melangkah meninggalkan halaman menuju kamar, Arnami, sanak saudara dan keluarga besar kita ikut berjalan mengiringi di belakangmu. Dengan tubuh basah tertutup pakaian yang kau gunakan saat mandi tadi, juga sisa-sisa bunga yang menempel di rambutmu, kau seperti seorang puteri raja yang baru saja dimandikan oleh para inang pengasuhnya.

Apa kau tidak merasakan itu, Arnami? Bagiku, ini benar-benar luar biasa. Aku bahkan sempat berpikir, tak ada satupun tempat di dunia ini yang memperlakukan wanita mengandung sepertimu dengan perlakuan begitu mulia seperti ini. Aku yakin tak ada, Arnami. Hanya di sini. Ya, hanya di sini. Di negeri ini.

Coba kau perhatikan. Kau berjalan ke kamar, menggendong Nyiur Gaddhing berwarna kuning keemasan, sambil diiringi oleh sanak familimu. Kau benar-benar seperti tuan puteri yang diiringi oleh para dayangnya.

Sesampainya di dalam kamar, dengan dibimbing oleh Nyi Asromo yang ramah dan penyabar, kau diminta meletakkan Nyiur Gaddhing itu di atas kasur. Persis di samping nampan besar yang berisi Jhajan Ghenna’, Dhemar Kambhang, beras dan telur mentah, juga sepotong bajumu dan bajuku.

“Letakkan Nyiur Gaddhing itu pelan-pelan, Nak. Bayangkan kau seperti sedang meletakkan bayi untuk ditidurkan. Ya...seperti itu. Sekarang, elus-eluslah dan ucapkan dalam hati semua harapanmu pada bayi yang ada di dalam perutmu itu.”

Kali ini, aku saksikan semua yang kau lakukan, Arnami. Kau pejamkan kedua matamu. Begitu khusyuk rupanya kau mengucapkan harapan-harapanmu pada bayi kita yang makin membesar di dalam rahimmu itu. Sematkanlah pada bayi kita semua harapan-harapan baikmu, istriku. Semuanya. Jangan ada yang tersisa.

Tiba-tiba, aku merasakan waktu mendadak hening. Semua sanak familimu yang ikut masuk ke dalam kamar kita itu pun jadi terdiam. Raut wajahmu, juga seketika menjadi murung. Perlahan-lahan, tubuhmu bergetar bersama tangismu yang pecah mengabarkan keharuan pada seisi kamar.

“Andai saja,” katamu dengan suara tertahan, “Andai saja, Mas Badri masih hidup....”

          

Madura, 24 Oktober 2013.

Cerpen ini terpilih sebagai juara ke-2 dalam lomba Tulis Nusantara Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia 2013