Diberdayakan oleh Blogger.

Dalam Sunyi Kusapa Munir

Foto Munir
Namamu, Munir
Munir Said Thalib Al-Kathiri

Kau lahir sebagai bukti nyata
betapa Tuhan memang tak pernah bosan dengan manusia 

Itulah sebabnya, kelak
bila ada kabar mengenai seseorang
yang nyawa kehidupannya sengaja dihilangkan
kau tak akan pernah berhenti, menuntut penuh teriak

Dengan kumis
bertengger di atas bibirmu yang tipis
(mungkin) kau terlihat sebagai lelaki manis
meski hidupmu harus berakhir dengan tragis

Tanggal 8 Desember 1965
pada sebuah kota dingin
kota Batu namanya
kau dilahirkan

Dan sungguh merupakan pilihan yang tepat
saat kedua orangtuamu memberi nama “Munir”
sebuah kata bermakna ‘yang terang’
pengusir selubung kegelapan
penerang dan pembuka segala yang ditutup-tutupi dan coba dirahasiakan

Nama itulah yang membuatmu seperti dituntun
untuk menjadi penasehat hukum,
advokat dan sekaligus pengungkap kasus-kasus pembunuhan penuh selubung

Munir! Meski dengan tubuh kurus kecil dan sederhana
namun teramat besar rasa cintamu pada keadilan sesama manusia
bila kedua matamu melihat orang-orang ditindas hak-haknya
kau sanggup menghapus kata jeda dari seluruh waktu yang kau punya
kau akan terus meradang
berdiri pada garis garda paling depan
menabik dada pada pongahnya kekuasaan

Tak peduli meski ke dadamu diarahkan
moncong senapan terkokang

Andai semua orang bisa mendengar
degup dada tipismu itu, Munir
gentanya mungkin hanya melantangkan sebuah gema
“Jangan ada kedzaliman, ketidakadilan dan penindasan bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Tahun demi tahun
kau lalui untuk menyuarakan
keadilan yang terngungun-ngungun

Pada kasus Nipah 1993 di Sampang
kau tak tinggal diam
empat orang petani yang mati ditembak
karena menolak lahannya dirampas untuk sebuah proyek waduk
bagaimana mungkin kejahatan itu akan kau biarkan
berlalu begitu saja tanpa ada kejelasan?

Bagimu, ketika Tuhan memberikan nyawa pada seseorang
maka adalah kejahatan besar bila ada pihak lain
apalagi hanya atas nama kepentingan pembangunan
berusaha merenggutnya
secara paksa
 
Kau hibahkan seluruh waktumu
untuk menguak kasus itu
dan seperti yang kita ketahui hari ini
ketika ambisi kekuasaan telah sempurna kawin
dengan aparat bermental preman
kebenaran dan ketidakbenaran
bukan soal yang diutamakan

Di tahun 1994
kau pun lantang berteriak
meradang atas Marsinah yang terkapar
oleh kekejaman yang diduga dilakukan meliter

“Oh, Marsinah
kau memang seorang buruh rendah
kau hanya coba berjuang
meminta kejelasan atas rekanmu yang dipecat sewenang-wenang,
tetapi tangan-tangan kekar yang mencekik jiwa juangmu itu
telah menyarangkan ngilu ke ulu hatiku”

Munir! Kau yang mengerti hukum
kau yang memahami bagaimana mendudukkan keadilan
di atas singgasana yang bernama kemanusiaan
benar-benar tak mau hanya duduk berpangku tangan”

Kami tahu, sepenuh hati kau membela yang lemah
segelegak darah juangmu kau marah
telunjukmu selalu mencari sasaran kepada siapa saja
yang jadi penyebab atas kematian Marsinah salah satunya

Lalu, kami pun ingat akan peristiwa
yang pernah terjadi di tahun 1995
beberapa orang di Pasuruan
ditangkap aparat keamanan
mereka yang hanya sebagai rakyat petani biasa
diduga dalang pengerahan massa
mereka dituduh otak pengrusakan
beberapa fasilitas perusahaan asing

“Tetapi tunggu, gertakmu
ketika rakyat bergerak dengan kekuatan penuh gelombang
pasti ada motif mendasar yang jadi alasan
aparat atau siapapun tak bisa menuduh semaunya
tanpa mau mengerti fakta yang sebenarnya”

Itulah sebabnya kau kembali bergerak
bukan atas suruhan berbagai pihak
melainkan atas nama kebenaran
yang memang selalu kau perjuangkan

Tetapi lihatlah, Munir
mereka rupanya terlalu takut dengan kebenaran
yang coba kau perjuangkan

Dengan berbagai macam cara
mereka mencoba menghentikan langkahmu

Teror demi teror mereka lancarkan
namun, apakah kau jadi keder jiwa?

Tidak, Munir
di depan matamu yang bulat itu, teror dan ancaman
jauh lebih kecil dibanding kebenaran

Kami tahu, ketika kau memutuskan berdiri di pihak yang benar
ancaman dan teror tak akan sanggup membuatmu gemetar

Teror-teror itu seperti peluru-peluru tajam kecil
yang di tembakkan ke dalam lautan
sedang kau, Munir
dengan lautan yang bernama kebenaran itu
telah bertekad untuk menyatu

Maka bagaimana mungkin tajamnya peluru yang kecil itu
sanggup melukai laut kebenaran perjuanganmu?

Munir, setelah melewati tahun demi tahun
yang demikian penting dan menegangkan
kau mungkin berharap agar tak ada lagi kejadian
yang menguras rasa sedih dan pedulimu atas nama tragedi kemanusiaan

Tetapi rupanya tidaklah demikian

Antara tahun 1997 hingga 1998
perjalanan bangsa ini kembali mengurai dosa-dosa barunya
Tuhanpun seperti meneteskan setitik ilham kepadamu
untuk kembali bergerak dan lantang berbicara

Kali ini, atas kasus menghilangnya 24 aktivis kita

Dimana mereka?
bagaimana mereka?
siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya mereka?
atas alasan apa mereka dilenyapkan?
demi kepentingan siapa mereka dikorbankan?
itulah sederet pertanyaan yang selalu mengejar
batin benakmu, Munir

Pertanyaan-pertanyaan itu
seperti terus mengganggu hari-harimu
melalui Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS)
yang kau dirikan sejak 16 April 1996
kau bertekad menyingkap tabir kejahatan
yang membuat bangsa ini berkubang dalam jurang kenistaan

Masih jelas terngiang orasimu di telinga kami, Munir

“Mereka menenteng senjata
mereka menembak rakyat, tapi kemudian
bersembunyi di balik keteng kekuasaan
apakah akan kita biarkan orang-orang itu tetap gagah?
mereka harus bertanggung jawab, sampai detik manapun”

Munir, kata-katamu yang sederhana ini
menggema hingga ke seantero hati nurani
ucapanmu menebarkan kengerian
bagi mereka yang telah mengotori kedua tangannya
dengan kejahatan tak berperikemanusiaan

Tak heran kalau kemudian kau pun didaulat
bukan hanya sebagai pejuang HAM yang giat
melainkan kamera tajam bagi dunia meliter
dan sekaligus ‘anjing’ penjaga korban kultur
arogansi kekuasaan yang maha pandir
dan atas alasan itu pula
kau pun dijadikan buruan layaknya rusa di hutan belantara

Munir! Ketika semua orang berusaha mencintai bangsanya
dengan merajut mimpi-mimpi masa depannya
kau justru melakukan hal sebaliknya
kau menunjukkan kecintaanmu pada bangsa ini
dengan cara yang berbeda sama sekali

Kau seperti melangkah ke belakang
mencari hal-hal yang coba dan sengaja dilupakan
kau ungkit kasus Tanjung Priok 1984
dimana rakyat sipil terkapar
dengan tubuh penuh lubang peluru, penuh darah dan penuh memar

Dengan keyakinan dan kesungguhan yang gagah
kau juga jadi penasehat hukum atas kasus penembakan mahasiswa di Semanggi
menjadi anggota komisi penyelidikan pelanggaran HAM di Timor Timur
menjadi penggagas komisi perdamaian dan rekonsiliasi di Maluku
menjadi penasehat hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion
menjadi penasehat hukum dan koordinator advokat HAM dalam kasus-kasus Aceh dan Papua
serta banyak kasus lain masa lalu
yang selalu menunggu petuah dan nasihatmu
agar tak buntu

Sebelumnya
kami sempat bertanya-tanya, Munir;

Untuk apakah kau lakukan semua itu, Munir?
untuk apakah kau memposisikan diri sebagai martir
yang membuat blingsatan para petinggi meliter?
untuk apakah kau mengorbankan ketenangan hari-harimu
setelah penghargaan demi penghargaan telah kau raih sebagai prestasi atas hidup
dan perjuanganmu?
penghargaan apa lagi yang kau cari dengan mengorek-orek
luka kemanusiaan yang pernah menggenangi tanah air ini, Munir?

Dalam hening, Munir
kami bayangkan kau menjawab tanya kami

“Aku teramat mencintai bangsa ini
bangsa yang di atas buminya aku lahir
dan di bumi yang sama ini pula
kelak aku akan dikubur

Namun kecintaanku bukanlah rasa cinta yang buta
kebanggaanku atas bangsa ini bukanlah rasa bangga yang palsu belaka

Aku berharap
masa depan bangsa ini akan lebih bermartabat
namun harapan-harapan itu harus kubangun
di atas keberanian
untuk menghargai dan menyuarakan hak-hak kemanusiaan

Bangsa macam apakah yang akan kita bangun
bila darah rakyatnya dibiarkan tumpah menggenang
roda pemerintahan seperti apakah yang akan dijalankan
bila menjadikan rakyatnya tiarap di bawah bayang-bayang moncong senapan
kepemimpinan seperti apakah yang kita impikan
bila nyawa demi nyawa harus ditumbalkan

Tidak!
aku tidak menyukai keadaan itu

Tak peduli siapapun yang ada di hadapanku
bila mereka dengan lancang mencerabut hak-hak kemanusiaan
lewat kekuatan yang sewenang-wenang
aku akan selalu menjadi runcing duri kemaru
aku akan menjadi jalan menyakitkan
bagi kaki-kaki kekuasaan yang tiran

Kau bertanya, untuk apakah aku lakukan semua ini?

Jangan bermimpi
penghargaan demi penghargaan tak akan sanggup membuatku lupa diri
saat kudeklarasikan untuk berjuang menyuarakan keadilan
seribu dentum moncong meriam tak lebih dari suara tepukan tangan”

Tetapi, Munir
dengan prinsipmu itu
kau telah menjadikan dirimu
sebagai sasaran utama yang paling diburu
tiap jengkal dari langkahmu seakan menjadi kabar buruk
bagi kekuatan dan kekuasaan yang kehilangan hasrat menjadi baik
kau diintai
kau diancam
di tengah perjuanganmu yang tak main-main

Namun kami tahu, Munir
ancaman sebesar apapun tak akan sanggup
membuatmu bertekuk lutut
dan diam-diam kami memahami arti perjuanganmu
diam-diam kami menaruh harap atas keberhasilanmu
diam-diam kami membanggakan keberadaanmu
tapi, diam-diam kami juga mengkhawatirkan keselamatanmu

Entah kenapa, Munir
tiba-tiba kami merasa takut kehilanganmu
meski tak ada jalinan persaudaraan
yang membuat rasa takut kami tak bisa disembunyikan
namun perjuanganmu atas nama keadilan dan kemanusiaan
menjadikan kita seperti satu jiwa yang rekat dalam jalinan

Hingga kemudian
kabar yang tak kami tunggu itu benar-benar datang
Selasa 7 September 2004
kaupun akhirnya dikabarkan wafat

Racun arsenik yang bersarang di dalam ususmu itu, Munir
sungguh tak bisa kami bayangkan rasa sakitnya

Kesendirianmu saat ajal menjelang
tanpa keberadaan istri dan anak-anakmu di kiri-kanan
membuat hati kami terasa sepi, dirundung kesedihan

Di atas pesawat GA-974 yang akan membawamu ke Belanda
kau pun meregang nyawa
kau meninggal dunia di ketinggian langit angkasa raya
dan itu bagi kami seakan menjadi pertanda
bahwa bukan hanya kehadiranmu, tapi kepergianmu juga
begitu tinggi nilai derajatnya

“Lihatlah, mereka sudah melakukan
muslihatnya yang begitu lama direncanakan
mereka telah menambah daftar kejahatannya
dengan membunuhku, seorang manusia biasa
bernama Munir

Mereka boleh berbangga
biarkanlah mereka berpesta penuh tawa

Tetapi
bila mereka mengira
bahwa aku adalah pohon yang berhasil ditebang
atau batu yang berhasil dihancurkan
maka kukatakan kepada kalian
kalau anggapan itu adalah benar-benar kebodohan”

Ya, kami tahu, Munir
boleh saja tubuhmu diracun
nyawamu dihilangkan
tetapi kau bukanlah pohon yang bisa ditebang
kau adalah benih yang sudah disemai di ladang-ladang kesadaran
sedang kami akan setia menyiraminya sepanjang zaman
kau bukanlah batu yang mudah dihancurkan
namun kau adalah mata air yang memberi harapan kehidupan
sedang kami akan selalu mengalirkannya ke setiap penjuru peradaban

Kelak, bila anak cucu kami bertanya perihal dirimu, Munir;
“mengapa engkau berani mengorbankan diri
demi memperjuangkan suara keadilan rakyat bangsamu?”
kami akan menjawab;
“karena engkau teramat mencintai setiap nafas kehidupan
yang harus berdenyut di atas irama keadilan dan kebenaran”

Selamat jalan, Munir
tubuhmu boleh pergi
namun semangat perjuanganmu bersama kami
abadi


Kebumen, 2014. 

3 EPISODE MENJELANG TIDUR

http://id.inter-pix.com/db/art/painting/impressionists/b-523051.jpg
Sebelum dia tidur, biasanya dia minta cerita tentang apa saja. Mulai dari cerita para nabi, dunia binatang hingga soal daun dan kerikil. Dus, saya harus pandai-pandai mengarang cerita yang tetap tidak saya biarkan konyol apalagi bohong meski tema yang dimintanya hanya masalah daun dan kerikil itu. Seperti semalam, dia minta diceritakan tentang kenapa ada duri pada daun nanas. Apa nggak puyeng menjawabnya!! Karena saya tak punya jawaban dan masih berusaha mendapatkannya, akhirnya saya yang balik bertanya dengan hal lain. Maka terciptalah tiga episode ini:

Episode I
"Kenapa kalau mau tidur harus berdoa?" tanya saya.
"Biar dapat pahala dan tidak diganggu setan," jawab anak saya.
"Bagus."
"Tapi harusnya kalau mau tidur itu bawa pedang-pedangan," kata dia.
"Loh, kenapa?" tanya saya.
"Biar bisa buat gelitiki ketek setannya. Lalu dia lari ketakutan. Iya, kan?"
"...:(... :)...."

Weh....setan ternyata punya ketek.

Episode II
"Yah, di laptop itu Raja Namrud katanya ada di kegelapan."
"Memang iya." jawab saya
"Kenapa?"
"Kenapa ayo?" saya balik tanya.
Dia diam sejenak. Lalu, "Soalnya di rumahnya tidak masang listrik."
Heemmmmzzz


Episode III
"Yah, setan itu makanannya apa sih?"
"Ya sama dengan kita. Kalau kita makan nasi tapi tidak berdoa, maka setan ikut makan."
"Oh, tak kira makan roti bakar."
"Roti bakar?" tanya saya agak terkejut.
"Iya, setan kan dibuat dari api, kan. Makanannya itu pasti dibakar kayak roti bakar. Nggak direbus."
 

Daftar Guru Saya Sejak Guru Ngaji, MI, MTs dan MA




Karena ini Hari Guru, saya akan coba mengingat guru-guru saya

GURU NGAJI:
a. Nyi. Duriah Jailani
b. H. Arifin
c. KH. Ihsan (alm)

GURU MI:
a. KH. As’adi (guru tauhid)
b. Pak Mahrus/H. Idris
c. Pak Tayyib/H. Hanafi
d. Pak Rukib/H. Hefni
e. Pak Darwan/H. Habibi
f. Pak Amrin/H. Amrin Rouf
g. Pak Mahlawi
h. Pak Akrimuni
i. Pak Syahri (alm)
j. Pak Anwar Rouf (alm)
k. Pak H. Hannan (alm)
l. Pak H. Mahmudi (alm)
m. Pak Muhammad I
n. P. Muhammad II
o. Pak Abdus Salam
p. Pak H. Halil
q. Pak Amin
r. Pak Huri
s. Pak Hasuk
t. Pak Shaleh
u. Pak Atnayu
v. Pak Darsono
w. Pak Hamid Sahyo

GURU MTS:
a. KH. As’adi
b. Pak Atma/K.Haeni (alm)
c. Pak H. Hefni
d. Pak H. Arifin
e. Pak H. Muslim
f. Pak Safnawi
g. Pak Atnabi
h. Pak Anwar
i. Pak Ahmad Fadlan
j. Pak Rimawi
k. Pak Mujibto
l. Pak Mahruwi
m. Pak Syafiq/H. Syafiq
n. Pak Asmuni

GURU MA:
a. KH. Zubairi Marzuqi (alm)
b. KH. Khairul Umam (alm)
c. KH. Afif Ma’ruf (alm)
d. KH. Hasani
e. KH. Ma’ruf
f. KH. Kamalil Irsyad
g. K. Munif Zubairi
h. Pak Haris
i. Pak Dardiri Zubairi
j. Pak Masdur
k. Pak Mursyidul Umam
l. Pak Fathol Bari
m. Pak Darwis Ghalib
n. Pak Syahid Munawar
o. Pak Azhari

Karena Dia Saudara Kita Juga

Amar
Amar
Namanya Amar. Entah apa nama panjangnya, saya sendiri kurang tahu. Namun satu hal yang pasti, dia termasuk salah seorang yang terbilang rajin datang ke mushalla rumah saya setiap malam untuk belajar mengaji bersama teman-temannya yang lain.
Perlu Anda tahu, si Amar ini tinggal di sebuah rumah berukuran sangat kecil yang letaknya di sebelah selatan dari rumah saya. Ada lima orang yang tinggal dalam rumah itu. Si Amar sendiri yang sekarang kelas 1 SD, dua orang kakaknya yang sudah duduk di kelas 5 dan 6 SD, seorang kakaknya yang lebih besar yang duduk di kelas 1 MTs serta juga neneknya yang saat ini sudah mengalami tanda-tanda stroke.
Saya pernah bertanya, dimana kedua orangtua Amar dan saudara-saudaranya itu berada. Namun jawaban orang-orang sungguh membuat saya tercengang. “Tidak ada yang tahu, Mas. Dulu kabarnya mereka kerja di Jakarta, ada juga yang bilang di Kalimantan. Tapi sudah lima tahunan lebih mereka tak pulang.”
Saya tak bertanya lebih banyak lagi. Namun ingatan saya tiba-tiba terlempar pada awal-awal pertemuan dan perkenalan saya dengan Amar dan juga seorang kakaknya yang bernama Rama. Waktu itu, dua orang anak ini datang mengetuk pintu rumah saya sembari mengucap salam. Pakaian mereka berdua lusuh dengan wajar kotor penuh debu. Bau tubuh mereka yang tak sedap juga meruap memenuhi hidung. Saat saya tanya ada apa, kakak Amar, Rama, menjawab singkat;
“Njaluk (minta) duit.”
Kemudian saya sodorkan uang seribuan pada mereka berdua dan mereka begitu girang menerima uang itu sembari berlalu pergi dengan berlari dan tertawa-tawa. Keesokan harinya, mereka berdua datang lagi ke rumah. Caranya masih sama seperti sebelumnya. Dia mengucap salam sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah. Saya berpikir, entah siapa yang mengajari mereka berdua mengucap salam sebelum mengutarakan maksudnya minta belas kasihan. Dengan basa-basi saya bertanya, ada apa. Rama yang kembali menjawab;
“Njaluk makan?”
Saya lihat wajah kusut mereka. Lalu segera pergi ke dapur, mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk serta membawakannya dua gelas berisi air minum. Mereka berdua makan dengan lahapnya. Setelah selesai, mereka pergi. Masih dengan cara yang sama dengan sebelumnya; berlari sambil tertawa-tawa.
Keesokan harinya mereka berdua datang lagi. Setelah mengucap salam, mengetuk pintu dan saya pun bertanya penuh basa-basi, Rama lagi yang menjawab;
“Njaluk jajan.”
Saya berpikir sejenak sambil menatap wajah mereka berdua. Lalu saya teringat dengan jajan kepunyaan anak saya yang disimpan dalam kaleng. Saya ambil dua bungkus roti dan memberikannya pada mereka. Mereka tersenyum dan segera pergi sambil berlari.
Begitulah dari hari ke hari, Rama dan Amar seperti menjadi tamu rutin harian saya. Mungkin mereka juga punya rasa tahu diri karena tidak setiap hari mereka minta uang. Hari ini minta uang, besok minta makan, besoknya lagi minta jajan dan terkadang datang hanya untuk minta minum. Bahkan sekarang si Amar, saat hendak pergi ke sekolah, rupanya sudah berani datang sendiri kerumah, menyempatkan diri untuk mengucapkan satu kata yang barangkali efek dari kata itu baginya sangatlah menyenangkan, “Njaluk duit.”
Tetangga sebelah saya yang mengetahui bahwa hampir tiap hari Rama maupun Amar bergantian datang ke rumah pernah berucap;
“Mas, nggak usah dikasih kalau minta apa-apa. Nanti kebiasaan.”
Saya tersenyum meski dalam hati saya tak setuju dengan sarannya. Seandainya tidak terpaksa, mereka tentu memilih bermain bersama teman-temannya daripada pergi meminta-minta.
Suatu waktu, saya pernah mencermati kedua anak ini. Dari hasil pengamatan yang saya lakukan, ternyata mereka berdua tidak pernah atau jarang saya lihat meminta-minta ke rumah tetangga-tetangga saya yang lain. Saya mencoba mencari tahu alasannya. Ternyata, sebagian besar tetangga saya memiliki persepsi yang sama sebagaimana tetangga yang ngasih saya saran di atas itu. Mungkin karena alasan itu si Rama dan Amar jadi malu atau mungkin takut seandainya datang meminta-minta pada mereka sehingga mereka lebih sering mendatangi rumah saya untuk urusan “Njaluk duit, njaluk makan, njaluk jajan.” Saya berpikir, sepertinya rumah saya menjadi tempat yang paling menjanjikan bagi mereka untuk mendapatkan apa yang mereka minta.
Amar dan Ataka
Amar dan Ataka

Mohon maaf, saya bukannya sombong mengatakan hal ini. Tetapi saya berpikir, bahwa saya pun pasti akan melakukan hal yang sama seandainya saya berada di pihak mereka berdua. Waktu terus berjalan. Amar dan Rama masih sering menjadi tamu harian saya meski sekarang ini Amarlah yang paling getol datang ke rumah. Agar kedatangan mereka ke rumah tidak hanya untuk urusan ‘njaluk-njaluk’, mereka berdua saya sarankan untuk datang ke mushalla, ikut mengaji bersama teman-teman lainnya.
Alhamdulillah mereka mau mengikuti saran saya. Terkadang sehabis mengaji, saat teman-temannya yang lain pada pulang, mereka berdua masih duduk saja di teras mushalla. Berbisik-bisik penuh malu sambil sesekali melirik ke arah saya atau istri saya. Saya berusaha memahami apa yang mereka pikirkan dengan bertanya;
“Sudah makan?”
Mereka menggeleng. Lalu saya ajak mereka berdua makan bersama di rumah dan kemudian sesudah itu mereka pulang. Bahkan seringkali ketika saya, simbah dan bapak datang dari kenduri, membawa bungkusan kue dan juga nasi, satu bungkus berkat komplit saya berikan untuk mereka bawa pulang. Dan tahukah Anda, bila nasi-nasi yang saya bawakan ternyata tak habis dimakan dan kemudian basi, mereka menjemurnya menjadi aking. Lalu mereka membawanya ke warung untuk dijual buat jajan. Miris, bukan?
Melihat nasib miris yang menimpa mereka, saya termotivasi untuk melatih rasa peduli anak saya. Amar yang saat ini paling sering datang ke rumah, saya minta untuk bermain bersama anak saya mengingat teman-teman lain seusianya justru lebih banyak yang menjauhinya. Dia tampak begitu senang menerima tawaran saya. Maka jadilah si Amar itu sekarang teman akrab anak saya, Ataka. Bahkan anak saya tak jarang menanyakannya serta menangis bila Amar sedang kurang move on untuk diajak bermain.
Sekarang Amar benar-benar telah menjadi sahabat dekat anak saya meskipun terkadang mereka terlihat kurang akur karena soal sepele. Maklum anak-anak. Tetapi saya bersyukur karena dia rajin mengaji dan sudah mulai bisa membaca huruf A sampai Ta setelah sebelumnya saya  merasa kerepotan karena dua hal. Pertama, dia susah mengingat huruf dan kedua saya tak bisa berlama-lama berada di dekatnya karena (maaf) dia bau. Bau karena baju yang sudah seminggu dikenakan untuk bermain, dipakai juga untuk ngaji yang mungkin saja tanpa dicuci. Barangkali karena alasan bau itu pula, ketika di mushalla, dia banyak diajuhi teman-temannya. Namanya juga anak-anak, padahal dia sudah saya kasih kaos dan baju sebelumnya, namun tetap saja yang dipakai malah baju yang mungkin menurutnya sangat nyaman dipakai.
Dan karena alasan bau itu juga saya minta agar dia datang ke mushalla lebih awal. Sekitar jam setengah enam. Sebelum ke mushalla saya perintahkan dia untuk mandi dan saya berikan sarung dan kaos untuk dipakai hanya saat mengaji. Setelah selesai mengaji, sarung dan kaos itu dilepas kembali dan ditinggal untuk kemudian saya cuci.
Bagi saya, urusan Amar saya anggap selesai. Sekarang dia rajin mengaji, bermain di rumah, makan di rumah, beli jajan ke warung bersama anak saya . Namun selepas memperhatikan Amar, kakaknya yang paling tua (Evan) ternyata juga butuh perhatian. Lulus kelas enam, dia menganggur. Sehari-hari hanya nongkrong di pinggir jalan. Melihat kenyataan itu, saya bilang pada istri;
“Evan daftarkan saja di sekolahmu,” kata saya suatu malam.
“Memang dia mau?” jawab istri saya.
“Kita panggil kesini dan kita tanya, apa dia mau seadainya melanjutkan sekolah.”
“Kalau mau?”
“Ya didaftarkan. Kau bilang saja sama kepala sekolah seperti apa kondisi keluarganya. Sekarang kan ada dana BOS. Jadi gratis kan?” kata saya.
“Memang gratis. Tapi uang gedungnya? Uang buat beli bahan seragamnya?. Lagi pula, tiap Jum’at ada olahraga. Dia harus punya uang saku lebih dari hari biasanya.”
Mendengar ucapan istri, saya hanya berucap lirih. “Uang gedung, uang buat beli bahan seragam sama uang saku tambahan setiap hari Jum’at itu biar jadi urusan kita. Semoga ini jadi amal kita.”
Istri saya diam. Besoknya sepulang mengajar, dia bilang bahwa Evan sudah didaftarkan. Bahkan dia sudah membelikan juga kain seragam lengkap untuknya. Saya tersenyum meski waktu itu mulut saya sepet karena tak merokok akibat dompet yang lagi darurat. Saya berusaha mensyukuri kabar yang dibawa istri. Alhamdulillah Evan sekarang sudah sekolah. Sesekali uang sangu hariannya selain hari Jum’at juga bisa kami penuhi.
Dalam hati saya berdoa, semoga ini jadi ladang perjuangan kami meskipun lingkupnya kecil dan sederhana. Saya berharap, baik Amar, Evan dan Rama (kakak Amar yang satu bernama Elsam justru jarang ke rumah saya) akan tumbuh menjadi anak-anak yang berhasil, sukses dan optimis meskipun sejak kecil mereka hidup dalam rumah tangga yang miris-tragis.
Sahabatku!
Setelah Anda semua membaca cerita saya di atas tentang Amar dan keluarganya, saya harap Anda mau ikut mendoakan mereka berdua sebagai bukti rasa cinta Anda pada nasib sesama. Syukur Anda tergerak untuk mewujudkan rasa cinta Anda itu dalam bentuk yang nyata  seperti baju-celana bekas anak Anda, buku atau bahkan sekeping uang agar mereka bisa ikut jajan.
Kebumen, 24 November 2014. 

MegaProku Melibas Daendles


Jalan Daendels
Jalan Daendels

Setelah merasa yakin hujan benar-benar reda, tadi sekitar jam 14:09, saya memutuskan untuk segera pulang. Terbayang sudah bentang jalan Jogjakarta (Cabeyan) - Kebumen (Banjareja) yang kira-kira jaraknya mencapai 130-an Km.

Saya nyalakan starter MegaPro yang setia menemani saya selama kurun waktu 3 tahun ini. Namun baru mencapai 2 Km perjalanan, tepatnya ketika hendak memasuki Pintu Gerbang Alun-Alun Kabupaten Bantul, hujan seperti menunjukkan tanda-tandanya akan turun. Gerimis sebesar biji belimbing berubah menjadi butiran hujan sebesar biji kacang tanah. Setidaknya seperti itu yang saya rasakan berdasarkan suara gemeretapnya pada helm yang saya pakai.

Mau kembali lagi ke Cabeyan? Tak mungkin saya lakukan. Kepada istri saya sudah berjanji bahwa akan pulang hari ini. Maka saya hentikan motor di tepi jalan, mengeluarkan mantel hujan yang terpaksa bagian atasnya harus dipasang terbalik karena resletingnya sedang bermasalah. Saya sadar, hujan pasti akan sedikit membasahi punggung saya yang terbuka. Tapi tak masalah. Barangkali hujan tak akan berlangsung lama.
 
Saya jalankan kembali motor menerobos curah hujan yang terlihat seperti serat-serat yang berjuntaian sepanjang jalan. Kudendangkan lagu "Biarlah Bulan Bicara" sambil meniru suara penyanyinya, Broery Marantika. Setidaknya dengan begitu, saya masih bisa merangkai rasa senang dibawah terpaan hujan yang makin deras dan jauhnya jarak perjalanan yang harus saya libas.

Hingga memasuki wilayah Purworejo, hujan seperti menunjukkan tanda-tanda bahwa dia bakal tetap setia menemani perjalanan saya. Entah hingga kapan. Sampai di ujung Barat Wates, sebelum batas DIY-Jateng, saya belok kiri menuju jalur selatan untuk kemudian menapak di Jalan Daendels.

Di atas, awan makin tebal. Di ujung barat, mendung makin menggumpal. Dan hujan membuat saya menyanyikan lagu-lagu nakal. Karena kaburnya pandangan dari balik kaca helm saya yang hitam gelap, motor terpaksa saya pacu perlahan-lahan. Dan itu berarti, akan ada tambahan waktu cukup banyak untuk sampai di rumah menjumpai istri yang setia membuatkan kopi dan teriakan anak yang tingkah dan bahasanya makin konyol dari hari ke hari.

Saya tersenyum mengenang itu semua. Di atas motor ini, lembaran-lembaran peristiwa terjadi silih berganti. Bayangan keluarga, rasa dingin, gemeretap air hujan, suara motor dari knalpot kendaraan lain yang berpapasan, aksi meliuk-liuk menghindari batu dan lubang di tengah jalan, cahaya petir di langit yang menyulut rasa takut, semua berkelindan dalam diri. Entah berapa lagu dan bunyi-bunyian lainnya yang sudah meluncur dari mulut saya sejak dari Jogja. Dangdut, Pop, Marawis, Shalawat, Doa, Qira'ah, Sajak, Ceramah, semuanya menggema dari lubang mulut yang sama. Saya berpikir, perangkat audio motor saya ini sepertinya jauh lebih lengkap dan lebih canggih dari mobil apapun.

Mungkin ini terdengar gila. Tetapi saya mencoba menikmatinya. Seseorang yang menempuh perjalanan sepanjang 130 Km dengan motor, menerobos lebatnya hujan dan petir yang menyambar-nyambar, menahan dingin hanya dengan mantel tipis yang bagian atasnya dipasang terbalik, itu semua hanya dapat dilakukan dengan dua hal; nekat dan 'gila' yang keduanya harus dinikmati. Entah sebagai sebuah petualangan, pengalaman atau justru kegilaan itu sendiri.

Lalu tiba-tiba saya teringat Daendels. Jendral Hindia Belanda yang namanya disematkan pada jalan yang saya lalui ini samar-samar mengisi benak. Saya bertanya-tanya; apakah ide Daendels untuk melindungi Jawa dengan membangun banyak jalan walaupun banyak rakyat yang jadi korban ini sebenarnya merupakan idenya yang nekat atau gila?
 
Ah, tangan saya gemetar. Dingin makin menggempur. Saya mencoba untuk tak peduli pada keduanya. Bahkan mungkin pada si Daendels sendiri. Sebab akhirnya saya sampai juga di rumah. Istri membuatkan kopi dan menyediakan air hangat untuk mandi. Anak saya pun datang menyambut sambil berteriak-teriak, "Ayah pulaaaannnnnggggg...."

Saya tersenyum. Mereka berdua tersenyum. Apakah Anda juga mau ikut tersenyum?


Kebumen, 15 November 2014, 23:31 WIB.






Kenangan Pada Sebuah Pohon

Pohon itu akhirnya tumbang juga. Setelah melewati tahun demi tahun di tepi jalan yang makin sesak oleh berbagai macam kendaraan, akhirnya ia sampai pada batas kemampuannya untuk tegak. Aku yakin, sebelumnya tak ada yang pernah benar-benar peduli pada kehadirannya di tepi jalan kota yang ramai ini. Padahal ia tumbuh di sana bukan oleh keinginannya sendiri. Ia ada di sana, lesap di kasar tanah, tumbuh dan berbuah hanya oleh kehendak Tuhan semata.
Pohon


Mungkin pohon itu selama ini telah menyaksikan bagaimana deru perubahan di sekitarnya berlangsung dengan begitu dahsyatnya. Gedung-gedung baru, besar dan tinggi, bermunculan dari hari ke hari. Menggusur gedung-gedung lama yang suram walaupun sangat mungkin di gedung-gedung yang suram itulah tersimpan memori-memori masa lalu kota ini yang tak kalah mewah untuk dikenang.
 
Dibanding beberapa rekan lainnya, mungkin pohon itu sedikit lebih beruntung karena selamat dari tebasan mesin-mesin pemotong kayu yang dengan beringas dan tanpa ampun akan memenggal pohon apa saja. Ya, pohon apa saja akan dengan mudah ditebang demi memberi ruang bagi berdirinya bangunan-bangunan baru yang konon dianggap sebagai lambang dari kemajuan sebuah zaman.
 
Sebagaimana ia tumbuh di sana tanpa kehendaknya, sekarang pohon itu juga tumbang hanya oleh kehendak Tuhan semata. Aku berpikir, mungkin pohon itu girang dengan ketumbangannya kini. Sebab ia tumbuh dan rubuh hanya oleh kehendak penciptanya. Atau mungkin saja ia sedih, karena tumbangnya justru membuat orang-orang menahan nafas geramnya di atas kendaraan mewah mereka yang hendak mereka pacu dengan keterburu-buruan yang aneh.
 
Duh! Aku tiba-tiba jadi teringat dengan Yus. R Ismail yang dengan bagusnya menulis cerpen Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-Gesa. Ya, pohon memang tumbuh dengan tidak tergesa-gesa. Ia setia pada proses bertumbuhnya. Memang terkesan lamban, tetapi ia konsisten. Karenanya ia kuat, liat.
 
Justru manusialah yang paling sering akrab dengan ketergesa-gesaan itu. Ketergesa-gesaanlah yang membuat manusia lemah, bahkan untuk menandingi "kekuatan" sebatang pohon sekalipun. Maka kunyalakan rokokku. Kuredam ketergesaan yang sedari tadi efeknya hendak menyalak dalam dada. Kubiarkan orang-orang di ujung depan sana itu menyelesaikan tugasnya. Membawa pohon yang tumbang itu ke tempat peristirahatan terakhirnya.
 
(Catatan ini semacam oleh-oleh setelah berusaha menikmati macet akibat tumbangnya sebatang pohon di jalan Kalasan)

Sudah Waktunya Puasa Lagi..!


http://www.mediabaca.com/wp-content/uploads/2012/08/memahami-pengertian-hilal.jpg
Sering kita mendengar celotehan orang-orang di sekitar, “Wah, ini sudah bulan Sya’ban. Sudah itu bulan Ramadhan lagi. Puasa lagi.” Sungguh ini celotehan yang sederhana atau bahkan biasa saja kedengarannya. Tapi pernahkah kita menyadari kalau celotehan seperti itu seakan menggambarkan rasa ketidakpercayaan kita tentang begitu cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin kita berpuasa, tiba-tiba sekarang Ramadhan sudah kembali hadir di depan mata.

Ya, waktu memang begitu cepat berganti. Apalagi bagi kita yang bergelut dengan rutinitas pekerjaan setiap hari. Dengan rutinitas pekerjaan seperti itu, kita seringkali terperangah oleh bergantinya bulan yang begitu cepat berlalu. Dari Januari ke Februari, lalu dari Maret ke Mei dan dari Mei hingga sekarang Juni, semua berjalan seakan dalam sekilatan mata memandang.

Benar kata pepatah yang mengatakan, bahwa sesuatu yang tak bisa dikalahkan di samping Tuhan dan kematian adalah waktu itu sendiri. Siapa yang bisa menghambat laju waktu? Tak ada. Siapa yang bisa memutar waktu hingga kita bisa kembali lagi kepada nostalgia masa lalu? Tak ada. Waktu terus berjalan dan kita ‘dilibas’ di dalamnya.

Konon, Imam Ghazali pernah memberi dua pertanyaan kepada muridnya, “Muridku, apa yang paling jauh dan sekaligus paling dekat di dunia ini?” Si murid menjawab, “Yang paling dekat adalah urat leher sedang yang paling jauh adalah bintang-bintang.” Imam Ghazali tersenyum sambil mengangguk. Tapi kemudian dia berkata, “Ingat, yang paling dekat adalah kematian sebab kita mendekatinya. Sementara yang paling jauh adalah sejarah karena kita meninggalkannya.”

Jika kita renungkan, sungguh benar apa yang dikatakan sang imam. Kematian memang merupakan peristiwa yang sangat dekat kepada kita karena usia kita berjalan mendekatinya. Sebaliknya sejarah merupakan sesuatu yang jauh dari kita karena kita memang bergerak menjauhinya. Dari masalah ini, kita secara tidak langsung dituntut untuk mengoreksi tentang apa sudah kita lakukan dalam rangka mengisi waktu-waktu kita selama ini.

Kalau kita berbicara waktu, sebaiknya kita perhatikan baik-baik apa yang pernah disabdakan Rasulullah Saw. Dalam salah satu sabdanya beliau pernah berkata, bahwa keberuntungan seseorang adalah apabila hari ini dia jauh lebih baik dari hari sebelum-sebelumnya. Sebaliknya, kerugian seseorang adalah apabila hari ini dia sama saja atau bahkan lebih buruk dari sebelum-sebelumnya.

Sabda Rasulullah Saw ini secara tidak langsung memberikan motivasi kepada kita untuk tidak membiarkan waktu atau kesempatan yang kita miliki berlalu dengan sia-sia. Kita perlu berusaha memastikan, bahwa harus ada kebaikan-kebaikan yang kita perbuat dalam detik-detik waktu yang kita miliki. Waktu merupakan sesuatu yang teramat mahal dan tak bisa dihargai dengan harta benda yang kita punyai. Kita tidak bisa mengulang waktu, mengatur perputarannya sesuai selera kita dan apalagi melompatinya. Yang bisa kita lakukan adalah mengisi waktu kita hari ini, entah dengan kebaikan atau sebaliknya keburukan.

Kita tidak perlu risau jika memang belum mampu melakukan amal kebaikan yang besar demi menghargai waktu yang kita miliki. Mari kita lakukan amal baik meski menurut pandangan orang lain terbilang kecil dan sederhana. Sebab amal kebaikan yang sederhana sekalipun tetap akan mendapatkan perhatian dari Allah SWT. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Begitulah janji Allah dalam surat Al-Zalzalah ayat 7. 

Oleh sebab itu, kita patut bersyukur karena Allah SWT memperkenankan kita untuk menjumpai kembali dengan hadirnya waktu bulan Ramadhan tahun ini. Namun kita perlu bertanya apakah bulan Ramadhan tahun ini akan kita sambut dengan penyambutan dan amalan yang sama seperti Ramadhan tahun lalu? Atau kita sudah mempunyai rencana untuk menyambut dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang melebihi dari Ramadhan-Ramadhan yang sudah pernah kita lalui?